
Pantai Tangsi atau yang sering dikenal dengan Pantai Pink di pulau Lombok adalah sebuah destinasi hiburan yang memanjakan mata. Pulau indah dengan pasir putih kemerah-merahan. Namun bukan berarti saat dibawa pulang warnanya tetap begitu. Tidak ya saudara-saudara sekalia. Pasir di sana menjadi berwarna karena tercampur dengan serpihan karang yang berwarna merah hingga terciptalah warna pink.
"Sayang, sini! Gak capek berdiri terus!" seru Chandra setelah selesai memasang tenda di bantu oleh Willy—orang kepercayaan Frans sekaligus pengemudi private board.
Namun, yang diseru tak menyahut. Masih asyik membentangkan tangan menghadap laut. Udah kayak film Titanic.
"Litania!"
Masih tak ada respon.
"Bundaaa ...."
Panggilan terakhir sedikit dibuat-buat imut. Berharap yang dipanggil membalik diri dan menghampiri, tapi tak berhasil. Si Litania bergeming dengan posisi yang sama.
"Kebiasaan banget."
Chandra yang gemas langsung menghampiri. Mengalungkan kedua belah lengan ke perut besar Litania lantas mengecup pucuk kepalanya. "Dipanggil kok gak nyahut, sih. Gak denger apa suami kamu ini teriak-teriak dari tadi, hmm."
Litania mengulas senyuman. "Bukannya gak denger. Cuma aku terlena di sini," jawabnya dengan mata yang masih terpejam. Tangan yang membentang lebar kini terturun dan mengelus punggung tangan Chandra. "Makasih ya udah mau ngajakin ke sini. Makin cinta, deh, sama kamu. Love love love love sekebon pokoknya."
Chandra terkekeh geli. "Emang kamu punya kebon?"
"Punyalah. Buktinya Abang garap hampir tiap hari sampe jadi begini ni." Litania terkekeh seraya menunjuk perutnya. "Liburnya pas lagi banjir bandang, sisanya garaap teroos," lanjutnya lagi. Perkataan yang juga direspon Chandra dengan gelak tawa. Bisa-bisanya bermetafora dengan kebun yang jelas tak ada bunga dan rumputnya tak berwarna hijau. Ada-ada saja.
"Ya udah kita ke sana yuk. Duduk sambil makan. Willi dan Tari sudah menyiapkannya untuk kita."
Litania mengikuti langkah Chandra. Duduk di kursi yang sudah tersedia. Senyumnya terkembang lebar, begitu menikmati kebersamaan yang ada. Suaminya itu selalu bisa membuatnya merasa disayang dan berharga. Tak pernah membentak dan selalu mengalah. Babbymoon pun serasa honeymoon. Ini semua tak lepas dari kebaikan ayahnya Kinar. Villa besar dan private board beserta dua asisten yang membantu mereka. Baik di Villa maupun di sini.
"Yang, coba liat. Mereka kayaknya saling suka," ucap Litania ketika matanya menangkap sosok Tari—wanita 21 tahun yang mengurus Villa Frans—yang sedang bermain pasir dan Willi memandangi wanita itu dari kejauhan.
"Ah, masa. Gak deh kayaknya." Chandra cuek menjawabnya. Sementara tangan begitu cekatan mencampurkan buah potong ke dalam mangkuk untuk Litania.
"Ye gak percaya. Mau bukti?"
Chandra tak menanggapi. Toh bukan urusannya. "A dulu," ucap Chandra seraya menyodorkan buah ke mulut Litania.
__ADS_1
Euleh manja bener. Author juga pen disuap donk.
Litania menganga dan mengunyah buah segar itu, tapi mata tetap tertuju pada dua makhluk di sana. Rasanya ada yang menggelitik saja. Ia gemas ingin melakukan sesuatu.
Tari, wanita baik yang sudah ia kenal dua tahun yang lalu ketika pertama kali datang bersama keluarga Kinar. Gadis asli Lombok yang bekerja di rumah Frans. Dan Willi, ia juga mengenalnya cukup baik. Pria yang juga bertugas mengurus Villa besar Frans.
"Mbak Tari! Mas Will! Sini!" Litania menyeru dengan nyaring hingga Chandra yang sedang menatap laut jadi berjengket kaget. Belum lagi kuping yang serasa berdenging. "Astaga, Litan. Kenapa teriak-teriak sih."
Litania merespon dengan cengiran sedangkan tangan tetap melambai Tari dan Willi.
"Emang mau ngapain sih manggil mereka?" Chandra tampak tak suka. Kebersamaannya dan Litania menjadi terganggu.
"Gak ngapa-ngapain. Aku cuma mau mastiin aja."
"Mastiin apa?" Chandra mulai kesal. Istrinya itu mulai suka bermain teka-teki. Sekalinya ngisi TTS, salah semua. Dasar!
Tari dan Willi mendekat. Gadis berambut panjang dan menggunakan blazer toska itu tampak kebingungan. "Kenapa, ada yang perlu saya bantu?"
"Gak ada. Aku cuma mau kita makan bareng." Litania menarik kursi lipat di sebelahnya lantas menepuk dua kali. "Duduk sini, Mbak."
"Udah." Litan tarik paksa pergelangan tangan Tari hingga wanita itu terduduk juga. "Tinggal duduk doang kok gak bisa. Emang ada bisulnya? Gak, 'kan?"
Tari tersenyum canggung. Begitu pula Willi yang tampak mengulum senyuman.
"Mas Willi juga," ucap Litania.
"Saya." Willi berucap tanpa mengeluarkan suara. Telunjuk tangannya mengarah ke wajah sendiri. Seakan-akan tak percaya diajak bergabung.
Dilihatnya sekilas wajah Chandra. Wajah yang tampak tak senang.
"Iya, duduk Will," ucap Chandra dengan wajah datar. Sebenarnya tak senang akan kehadiran Willi. Willi tampan dan muda. Hm ... jiwa cemburunya meronta. Ada gak sih caranya biar umur kembali muda? Kalo ada, sok kasih tau Chandra.
"Ayo, Mbak, Mas di makan juga kudapannya. Sayang, banyak banget ini." Litania berkata dengan senyum tulus. Ia dorong semangkuk besar buah yang sudah tercampur. Bahkan ada sambal kacangnya. Hanya saja, Chandra melarang dan sengaja memisah sambal dengan buah. Tega bener. Entar kalau mereka rindu, bagaimana?
Keduanya pun mengikuti perintah Litania. Menikmati buah di bawah pohon rindang dan menghadap laut. Santai dan nyaman.
__ADS_1
"Mbak, Mas. Kita main game, yuk. Bosan, nih. Tapi kalau pulang jam segini sayang," usul Litania dan direspon dengan dahi mengernyit Chandra, Willi dan Tari.
"Game? Game apaan, sih. Jangan yang aneh-aneh, deh," ujar Chandra yang mulai curiga.
Litania cubit paha Chandra. "Siapa juga yang aneh-aneh. Curigaan mulu ni orang."
"Ya udah game apaan. Asal jangan lomba renang. Aku gak setuju. Kamu lagi hamil gini," sungut Chandra.
"Enggak. Bukan renang. Lagian aku lagi malas renang."
"Lalu?" tanya Chandra lagi.
"Kita main truth or dare."
Chandra terdiam, berpikir sejenak dan berakhir mengangguk. Perasaannya lega, ia kira Litania akan mengusulkan game yang aneh-aneh. Intinya ia tak suka kemolekan tubuh Litania terekspos jika berenang di laut.
"Gimana?" tanya Litania dengan mata berbinar. Tari dan Willi tampak canggung, tapi berakhir setuju.
"Oke, kita main, ya. Jangan ada dusta diantara kita," ucap Litania menirukan dialog si pria di iklan obat batuk.
Fix. Meja sudah bersih dari makanan. Hanya tertinggal botol mineral dengan isinya yang tinggal setengah.
"Oke, kita mulai. Aku yang putar," ucap Litania dengan semangat 45.
Botol terputar dan apes, ia yang pertama.
"Wah ini namanya senjata akan tuan. Dasar botol gak punya akhlak," sungut Litania. Ocehan yang tentu saja mengundang senyum tiga orang yang di sana.
"Oke, kalau gitu. Suamimu yang duluan. Kamu pilih apa? Truth or dare."
"Truth aja, deh."
*** Maafkan part ini agak gaje. heheh
Bagi yang penasaran dengan kisah Rania. Udah lonching ya. 5 bab. Cek di profil. Dan jangan lupa favorit kan biar gak ketinggalan certa.
__ADS_1