
Yang semalam baca di bawah jam 2 bisa diulang lagi ya baca part sebelum ini. udah saya revisi.
***
"Ya sudah," ucap Dafin lalu berdiri.
"Ya sudah apa Pak?" Fia yang tak paham melongo melihat sang bos memakai kembali jas-nya, "Bapak udah selesai makan?" lanjut gadis itu.
Dafin berdengkus, ia ambil buket bunga lalu meletakkannya di pangkuan Fia secara kasar. "Iya kita pulang. Mood saya sudah hancur karena kamu. Lagian kalau dipaksa makan nanti malah jadi masalah pencernaan. Saya gak mau hanya karena sakit perut kerjaan jadi terbengkalai, besok itu kerjaan kita lumayan banyak."
Astaga orang ini keterlaluan banget, sih. Tau gitu kenapa tadi nelfon? batin Fia, ia benar-benar dongkol. Namun ada sesuatu dalam hidung yang membuatnya tak bisa merutuki Dafin lebih lama. Ia ingin bersin tapi tak jadi. Sumpah, kesalnya sampai langit ke tujuh apalagi saat melihat Dafin melotot ke arahnya.
"Kamu kenapa diem dan masih duduk di kursi? Kita pulang, se-ka-rang," ucap Dafin penuh penekanan. Fia yang posisinya sebagai bawahan terpaksa mengekor juga meski rasanya hidung tak nyaman dan mata mulai berkaca-kaca. Ia alergi bunga.
"Pak, kuncinya ...." Fia berkata seraya mengulurkan tangan ketika mereka sudah tiba di parkiran.
Dafin yang melihat ada perubahan di wajah Fia mengernyit sebentar. "Sudahlah, biar saya saja yang nyetir. Kamu duduk sana," perintahnya bernada datar.
Di mobil.
Fia duduk gelisah dengan tetap memangku bunga. Lisan ingin sekali mengatakan kalau dirinya alergi bunga, tapi entah kenapa ragu karena tau perasaan sang bos tengah tak karuan. Ia takut akan berefek pada kesan Dafin dan menyebabkan pemberhentian kontrak kerja.
Sementara Dafin, mata pria itu selalu melirik Fia jika ada kesempatan.
"Fia kamu nangis?" tanya Dafin yang penasaran. Sudah lima menit di dalam mobil tapi air mata gadis itu makin banyak, meluber membasahi wajah. Ia tak bisa mengabaikan apalagi posisi mereka duduk saling bersebelahan.
"Jangan bilang kamu terharu. Masa iya hanya karena saya kasih bunga kamu sampe nangis begitu, norak sekali. Walaupun belum pernah pacaran seenggaknya jaga martabat kamu sebagai perempuan. Jangan karena sebuket bunga kamu langsung terharu," papar Dafin bernada rendah dengan mata tetap terarah ke jalanan yang basah karena hujan.
Fia menggeleng lalu cepat-cepat mengelap wajah. "B-bukan begitu, Pak. S-se-benarnya ...."
"Kenapa? Kamu baru sadar kalau bunga dari saya lebih bagus daripada obat-obatan dari Dafan?" tanyanya, ia tarik sebelah bibir lalu kembali berucap, "ya iyalah, jelas lebih saya ke mana-mana. Saya itu mengerti perempuan, saya pastikan istri saya akan merasa dicintai setiap harinya. Gak kaya Dafan, orang itu kaku dengan perempuan."
Seketika Dafin menutup bibir. Ia baru sadar mengatakan hal yang ... entahlah. Ia bingung dengan cara kerja otak yang mulai tak singkron dengan keinginan.
Kenapa aku bisa bandingin diri dengan Dafan, sih? Ya Tuhan, Dafin ... jangan sampe dia beranggapan kalau aku naksir dia, batin Dafin seraya melirik Fia. Gadis itu masih saja menangis. Bahkan airnya makin banyak hingga Dafin terpaksa menepikan kendaraan.
"Hey, Fia. Kamu kenapa nangis? Bukankah kamu kemarin bilang menyukai Kevin, lalu kenapa hanya gara-gara bunga dari saya kamu menangis?" Jeda sejenak. Dafin tatap lekat wajah Fia. "Jangan bilang kamu baper? Maaf, Fia. Di hati saya hanya ada satu nama, yaitu Sisi Maharani."
Fia lagi-lagi menggelang. "Pak Dafin, sebenarnya Bapak dari tadi ngomong apaan? Saya gak ngerti," ujar Fia seraya menyeka air yang keluar dari mata dan hidung dengan tisu.
"Lah, itu kamu nangis ...."
"Maaf, Pak. Saya nangis bukan karena terharu atau menyukai Bapak. Sebenarnya saya sa-sa-ya ....
Hasyim!
Dafin menyapu wajah yang terkena semburan dari mulut Fia dengan telapak tangan. Matanya menatap nyalang.
Fia yang ditatap setajam itu sampai gemetaran. Berani-berani takut ia pun menyeka air yang keluar bersamaan dengan bersin tadi, tapi sialnya kembali bersin hingga Dafin kembali menutup mata.
"Fia!" seru Dafin yang sudah tak bisa mentolerir lagi.
"M-maaf, Pak. Saya gak sengaja. Sebenarnya saya tidak suka Bapak. Eh ... maksud saya, saya suka Bapak tapi ... duh, gimana jelasinnya ya Pak?" papar Fia terbata, sementara tangan tetap telaten mengelap wajah pria itu. "Sebenarnya saya alergi bunga."
Krik!
Krik!
Krik!
Krik!
Mendadak terdengar jangkrik tak kasatmata berbunyi dalam mobil. Cepat-cepat Dafin mengambil bunga itu lalu membuangnya. Tanpa banyak bicara ia hidupkan mesin mobil dan kembali berkendara membelah jalanan ibu kota.
Sialan, gara-gara tu bunga sialan aku ngoceh gak jelas, rutuknya dalam diam.
****
Di rumah.
Dafin tiba tepat pukul sebelas malam. Bersamaan dengan itu Dafan turun dari lantai atas. Dafin yang teringat ucapan Fia langsung mencekal lengan Dafan saat keduanya berselisih.
"Kamu tadi ada ke kontrakan Fia?" tanya Dafin dengan tatapan penuh keseriusan.
Dafan yang baru saja habis mandi menepis tangan Dafin lalu kembali mengelap rambutnya dengan handuk. "Iya, kenapa? Ada masalah?"
"Aku peringatkan, jangan ganggu dia. Dia seorang sekretaris. Jadi jangan ganggu konsentrasi dia dengan dalih berteman dari kamu," jelas Dafin dengan nada datar tapi jelas meninggalkan kegondokan di diri siapa saja yang mendengar. Perkataan itu seolah menuding.
"Lah, emang salahnya di mana? Dia saja fine fine aja kok. Terus kenapa kamu yang sewot?" balas Dafan tak terima.
"Sewot? Aku gak sewot." Dafin berdeham. Mendadak salah tingkah.
"Lalu barusan itu apa namanya? Bukankah dia berhak bergaul sama siapa saja. Termasuk aku." Mata Dafan menyipit. Ia maju hingga dada mereka hampir menyatu. "Jangan bilang kamu cemburu," lanjut Dafan.
"Ya enggakah." Dafin mendorong dada Dafan. Ia betulkan jas serta dasi yang masih terkalung di leher. Entah kenapa pernapasan mulai sesak. "Aku nganggep dia cuma sebagai karyawan, gak lebih. Lagian aku punya pacar. Dan pacarku itu gak lama lagi akan jadi ipar kamu."
"Terus, kenapa aku denger sesuatu yang sumbang, ya? Nada suara kamu kek bukan sekedar mengingatkan." Dafan tersenyum sinis setelah mengatakan itu. Ia awalnya tak mencurigai apa pun, tapi setelah mendengar tudingan Dafin, rasa curiga mulai menyerang benak. Ia pindai terus wajah saudaranya dan mendapati ada gelagat mencurigakan di sana. "Ayo ngaku, kamu main hati. Bukankah kamu udah janji bakalan setia sama Sisi. Apa sekarang kamu mulai tergoda lagi?"
"Jangan asal bicara!" Dafin menggenggam baju Dafan. Dafan meringis sebentar lalu mencengkeram tangan saudaranya.
"Aku gak asal bicara. Nada bicara kamu menunjukkan kamu punya rasa ke dia," ujar Dafan dengan perasaan mulai kesal. Tak biasa saudaranya itu main tangan terlebih dulu. "Apa aku salah?" lanjutnya seraya melepaskan cengkeraman tangan Dafin.
__ADS_1
"Salah. Salah besar!" sanggah Dafin. Matanya bahkan melotot dengan deru napas yang mulai kasar. Keduanya sama-sama menunjukkan sinar yang seolah tengah melakukan pertarungan tak kasatmata.
"Lalu kenapa kamu keberatan aku berteman sama dia?"
"Sudah aku katakan. Ini demi profesionalitas," balas Dafin penuh penekanan.
"Bukankah itu antara kalian berdua. Aku gak termasuk dalam sana. Aku manusia bebas. Aku pria yang berhak deket dengan wanita mana pun. Termasuk Fia. Dan kamu gak berhak ngelarang aku maupun Fia."
Dafin bergeming, ucapan Dafan menyadarkannya dari pikiran yang tak jelas. Entah kenapa ia mulai kesal membayangkan Fia dekat dengan laki-laki lain dan berakhir mempermalukan diri sendiri.
Membetulkan lagi dasinya, Dafin pun berucap, "Terserah. Tapi aku beritahu kamu, kalau kamu gak bakalan bisa masuk ke dalam hati dia. Dia sudah punya orang yang disuka. Jadi lebih baik nyerah saja."
"Nyerah?" Dafan terkekeh, "kata itu gak pernah ada dalam kamusku. Kalau ada gak mungkin aku bisa seperti sekarang. Dan aku yakin kamu juga sama. kita punya pemikiran dan tujuan hidup masing-masing.'
Dafin bergeming. Ia mati kata.
"Lagian, kalau dia punya someone. Ya gak masalah. Selama bukan kamu aku siap berusaha keras," tandas Dafan lagi.
Mendengar penuturan Dafan entah kenapa Dafin mulai tersulut padahal tak ada api, ia pun merasa dada mulai terbakar.
"Itu artinya kamu beneran suka sama dia?" Telunjuk Dafin sudah terarah ke hidung Dafan.
Namun, Dafan menurunkannya lalu menggidikkan bahu. "May be yes. May be no," balas Dafan kemudian tersenyum ambigu.
"Jangan jadikan dia objek coba-coba kamu, Fan," papar Dafin lagi, ia merasa tak senang
"Objek coba-coba?" Dafan lagi-lagi menarik sebelah bibir, "kenapa kamu bilang begitu? Aku bukan playboy?"
"Tapi tetep saja jangan ganggu dia. Dia punya keluarga yang harus ditanggung. Dan aku gak mau kamu mengganggu konsentrasinya dalam bekerja," ujar Dafin yang masih bernada sama.
Akan tetapi, Dafan meresponnya dengan smirk. "Apa sekarang kamu jadi tukang ramal? Dari mana kamu tau aku bakalan mengganggu konsentrasi dia? Sudah aku katakan itu terserah kami."
Sialan. Darah Dafin mendidih. Seakan ada yang mendorong, ia cengkeram lagi kaus putih polos yang Dafan kenakan hingga membuat Litania yang ada di lantai dasar menjerit memanggil nama mereka.
Keduanya langsung melepaskan cengkeraman dan kembali menetralisir ekspresi.
"Kenapa ini?" tanya Litania yang ikutan naik ke tangga. Matanya secara bergantian memandang sang anak. Akan tetapi saat tak mendapat jawaban, Litania kembali bertanya, "Kalian kenapa? Berantem?"
"Iya, Bun. Bang Dafan sama Bang Dafin berantem karena perempuan," celetuk Anya yang memang sedari tadi melihat dan mendengar pertengkaran mereka.
Dafan dan Dafin sontak mendongak dan mendapati sang adik tengah tersenyum sinis ke arah mereka.
"Bener begitu Dafan, Dafin?" tanya Litania lagi yang sudah tak ramah seperti biasa. Ada penekanan dan bentakan dalam nada bicara.
"Ya benerlah, Bun. Aku denger dari tadi kok. Bang Dafan sama Bang Dafin itu berantem soal Kak Fia."
"Anya!"
"Bun, keknya Bunda bakalan ngadepin hal rumit, deh. Jaga-jaga aja kalau ada artikel yang menyebutkan satu menantu untuk kedua anakku."
"Anya!" Kini Litania yang bersuara. Mata melotot ke Anya lalu kembali ke kedua putranya.
"Kamu, Fin. Bener yang dibilang Anya? Kamu naksir Fia?"
"Ya enggak lah, Bun. Aku udah punya Sisi. Anya aja tu yang melebihkan sesuatu. Dia itu sotoy."
"Maling mana ada yang mau ngaku sih," celetuk Anya yang tentu saja mendapat bentakan lagi dari Litania dan Dafin.
Kini mata Litania terarah ke anak sulung. "Dan kamu, Fan. Apa bener kamu suka Fia?"
Dafan mengangguk. "Iya. Aku suka dia," jawab Dafan mantap. Sebuah statement yang membuat Dafin dan Litania cengo secara bersamaan.
"Bunda gak masalah kan kalau aku nikah sama orang biasa dan bukan dari keluarga pengusaha?" tanya Dafan lagi.
Litania menelan ludah. Ia tak pernah mempermasalahkan status, kasta atau latar belakang calon menantu, tapi jika kalau anaknya sampai rebutan, itu sudah lain cerita.
"Sudahlah, sudah. Sekarang sudah malam. Jangan bikin keributan. Ayah kalian lagi istirahat. Jadi sekaran mending kalian istirahat," perintah Litania.
Kedua anak kembarnya pun bubar. Dafan turun ke bawah, sedangkan Dafin naik ke atas. Di atas si Dafin melihat sengit sang adik yang mengejek dengan memeletkan lidah. Dafin yang kepalang kesal ingin menghardik tapi keburu Litania menghalangi. Mata wanita yang sudah melahirkannya kini melotot. Mau tak mau pria itu berbalik arah dan menuju kamar.
Tinggallah Litania, ia hampiri Anya yang sedang sandaran di teralis pembatas. Matanya tak kalah garang memandang sang anak gadis yang cantik tapi biang rusuh di mana-mana.
"Anya, kamu sebenernya ada masalah apa sih? Kenapa setiap hari ada ... aja ulah kamu? Kamu gak bosen apa bikin orang lain kesal? Gak malu di cap sebagai biang masalah?" cecar Litania yang sudah naik spaning.
"Maksud Bunda apaan, Anya gak ngerti," balas anak itu dengan wajah datar.
Litania menarik napas panjang, ia berkacak pinggang, sangat berharap emosinya tak meledak karena Anya.
"Kamu jangan kira Bunda gak tau ya, kamu bikin masalah kan sama anaknya kepala komite sekolah. Kamu bener-bener, deh. Apa sih kurangnya Bunda? Bunda udah ngerawat kamu, jagain kamu dengan bener, tapi kenapa tingkah kamu gak ada yang bener? Kekeh pengen pindah sekolah, padahal kamu udah bikin masalah, 'kan?"
Seketika mimik wajah tak berdosa yang Anya pakai luntur dalam sedetik. Ia resah bahkan beberapa kali membasahi bibir dengan saliva. Mata Litania benar-benar tak menunjukkan kelembutan. Ia jadi bergidik dan bergeser dua langkah ke samping.
"D-dari mana Bunda tau?" tanyanya terbata.
"Tentu saja dari kepala sekolah, Anya!"
Anya sampai menutup kuping, teriakan Litania lumayan membuat kuping berdenging. Ia tak tau ada sisi galak dari penampilan feminim ibunya itu.
"Kamu ini, belum selesai masalah skorsing malah nambahin masalah. Gak capek apa hidup cari masalah. Bok sekali-kali santun, hidup tenang. Jangan bikin masalah apalagi cari susah. Orang itu masalah dihindari. Lah kamu, masalah dicari," omel Litania, Anya bahkan menunduk dan diam.
"Kalau bukan karena Ayah kamu, kamu udah dikeluarin secara gak hormat tau gak. Tapi karena orang tua kamu ini." Litania memukul dadanya sendiri karena geram, "karena Bunda kamu yang gak becus mendidik kamu ini, kamu bisa keluar sekolah dengan alasan pindah. Bukan dikeluarkan," lanjut Litania masih dengan nada geram.
__ADS_1
"T-tapi bukan aku Bun yang mulai. Aku cu—"
"Stop!" Litania sengaja memotong lisan Anya. Ia tahu pasti anak bungsunya itu ingin membela diri. "Pokoknya selesai pesta perusahaan, kamu pindah sekolah."
Alih-alih sedih, muka Anya berseri luar biasa. Ia dekati Litania dan mengalungkan lengan di tangan yang sedang berkacak pinggang itu. Ia bahkan bergelayut manja.
"Makasih, Bun. Bunda yang terbaik," ujarnya seraya menunjukkan dua belah jempol.
Akan tetapi respon Litania tetap sama. Embusan napas frustrasi menengahi kelakuan Anya. Ia tepis tangan Anya lalu menatap lekat manik bola mata gadis itu. "Bunda udah daftarin kamu ke sekolah baru. SMA 4 di Semarang."
Senyum semringah Anya langsung luntur. "Loh, kok Semarang? Jauh banget itu. Bunda mau kita LDR-an?"
Sebuah keplakan terdengar. Anya meringis karena kening telah menjadi area sasaran Litania. Gadis itu bersungut-sungut dengan bibir komat-kamit.
"Kenapa? Mau protes?" ujar Litania yang masih di mode kesal.
Anya langsung menciut. Ia kembali memeluk Litania dari samping. "Tapi kan jauh, Bun. Nanti di sana aku sama siapa? Terus kalo aku kangen Bunda, gimana?"
"Jangan alasan kangen Bunda. Benerin dulu tingkah kamu itu. Jangan jadiin Bunda alasan. Karena gak bakalan mempan."
"Tapi, Bun—"
"Yes or no?" Sebuah ancaman yang berkedok pertanyaan. Anya yang paham mengangguk lesu.
"Nanti di sana kamu tinggal sama temen Bunda. Namanya Lita. Dia juga punya anak, namanya Livia. Livia ini guru tempat kamu bersekolah. Jadi pastikan bertingkah yang bener. Karena Bunda punya mata-mata di sekolah kamu itu," papar Litania yang masih bernada tegas.
Anya lagi-lagi mengangguk. Tak setuju sebenarnya akan keputusan Litania, tapi daripada bertemu Jimi dan Shireen lebih baik ia pergi biar tidak bertemu mereka lagi.
"Tapi jangan harap kamu bisa semena-mena di sana. Mulai sekarang kamu berangkat sekolah gak pake supir ataupun motor. Gak pake taksi."
"Yah, Bunda ... kok gitu."
"Jangan protes. Kok gitu kok gitu. Ini semua karena kamu yang kek gini. Makanya Bunda ambil keputusan kek gitu," omel Litania lagi.
"Kalau Anya gak di anterin, lalu perginya pake apa, Bunda?" rengek Anya. Wajah sengaja dibuat se-memelas mungkin. Berharap ibunya iba. Namun tak sesuai harapan, Litania malah melayangkan cubitan di lengannya hingga gadis itu meringis.
"Otak dipake. Kalau takut telat bangunnya harus subuh. Naik ojol kan bisa."
"Bunda gak takut apa aku diapa-apain orang?" rengek gadis berpiama Barbie itu lagi.
Litania menggeleng tegas. "Bunda lebih takut kalau kamu masih bertingkah begini. Dan satu lagi. Jatah jajan kamu seminggu cuma seratus ribu. Dan jatah transportasi kamu juga seratus ribu."
"Lah lah lah. Kok makin kejem sih. Ini Bundanya Anya, apa bosnya tirani?"
Sebuah ucapan yang dibalas Litania dengan cubitan di bibir Anya. "Ni mulut gak ada akhlak sama sekali. Ngatain ibu sendiri bos tirani."
"Habisnya Bunda gitu sih," sungut Anya lagi seraya mengusap bibirnya yang serasa memble.
"Udah. Gak ada protes-protes lagi. Keputusan udah final. Sekarang mending kamu masuk terus belajar.
"Bunda jahat, ih ...." Seraya mengentak kaki, Anya pun membalik diri masuk ke kamarnya.
Di kamar Litania.
Chandra yang tengah tiduran membenarkan posisi saat melihat sang istri masuk dengan wajah manyun.
"Kenapa, masalah Anya?" tanya Chandra saat Litania baru saja merebahkan diri di sisi-nya.
"Ya begitulah. Aku udah nggak tahu lagi cara ngurus tuh anak. Kelakuannya minta ampun, bandungnya nggak ketulungan. Heran, padahal abang abangnya enggak kayak gitu deh. Rerasaan cara ngurusnya, kasih sayangnya juga sama, tapi kok tu anak bandelnya melebihi lagi anak laki-laki," sungut Litania.
Candra tersenyum, ia genggam tangan sang istri yang sedang terlihat gusar. "Sudahlah, jangan di pikirin. Nanti lama-lama juga dia bakalan ngerti. Aku yakin nanti dia bakalan bisa berubah sendiri kayak kamu."
Mata Litania langsung menjadi tajam. Namun sedetik kemudian mendesah lirih. Mau bagaimanapun Anya benar-benar duplikatnya kala muda.
Chandra yang paham langsung meraih tubuh istrinya, ia peluk erat. "Jangan marah-marah terus, entar ceper tua. Yang tua cukup aku aja kamu harus selalu muda," papar Chandra yang tentu saja direspon Litania dengan cubitan. Geram karena suaminya itu terus saja membahas soal umur, sedangkan ia sendiri tak pernah menganggap suaminya tua. Ia selalu mencintai Cjandra dari dulu hingga sekarang. Suaminya tetap saja berjaya dalam dada dan selalu perkasa jika di atasnya.
***
Tibalah di hari jadi Big Grup Company yang ke-100.
Para tamu undangan terlihat berlalu lalang di convention hall gedung menara Big Grup itu sendiri. Semuanya terlihat menikmati suasana yang sudah di disain sedemikan apik oleh karyawan. Semua pihak bekerja keras demi pesta agar bisa berjalan lancar. Bahkan Dafin memerintahkan menambah beberapa pengawal agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan terlebih lagi ini adalah malam yang menentukan awal mula karirnya sebagai pemimpin.
Tibalah jam yang ditentukan. Semua orang penting dari dewan, pemegang saham, manager bahkan petinggi perusahaan lain ikut duduk tenang menikmati hiburan dari band kenamaan yang memang sudah menjadi bagian dari tubuh Big Grup Company. Semuanya menikmati suguhan acara tapi tidak untuk Dafin. Pria ber-tuxedo hitam pekat itu tampak gelisah. Ia menunggu kehadiran sang kekasih yang tak kunjung tiba padahal sebelumnya sudah mengatakan tengah berada dalam perjalan.
Situasi juga sama untuk Fia. Gadis bekuncir kuda dengan dress hitam selutut itu juga beberapa kali menghubungi Sisi. Namun, nihil.
Gegas ia hampiri sang bos yang tengah duduk gelisah di kursi. "Pak, bisa kita bicara sebentar," bisiknya.
Dafin yang semeja dengan keluarga besar berbisik sebentar pada sang ayah lalu mengikuti Fia dan berhenti di dinding dekat bunga.
"Gimana, kamu bisa ngubungin Sisi?" tanya Dafin. Kegelisahan begitu kentara di wajahnya yang tampan.
Fia menggelang. "Jadi bagaimana, Pak? Apakah pengumuman soal pertunangan akan tetap dilakukan?"
Dafin terdiam. Ia usap wajah cemas dengan sebelah tangan. Mata pun lantas melihat sang ayah yang sudah naik ke podium. "Untuk sekarang kamu hubungi pembawa acara. Katakan soal pengumuman pertunangan kita coret dari daftar acara."
"Baik, Pak."
Fia pun memutar tumit, tapi baru beberapa langkah gawainya bergetar dan tertera nama Nona Sisi di sana. Cepat-cepat ia menerimanya dan sebuah kabar dari seberang telepon membuatnya terdiam, matanya membulat dan ponsel hampir saja terlepas dari genggaman. Bergegas ia hampiri Dafin.
"Pak Dafin, Nona Sisi ...."
__ADS_1