
"Mbak, ayahnya anak-anak ada di dalam?" tanya Litania. Sebenarnya niat hati ke kantor sebelumnya karena Kinar, tapi setelah melihat gadis centil itu tak berulah, ia memutuskan menghampiri Chandra.
Ara mengangguk. "Ada, beliau baru saja masuk ke ruangan."
Berancang-ancang ingin keluar dari meja kerja, Ara dikagetkan dengan Litania yang mendadak menghadang jalan.
"Biar kami langsung masuk saja, Mbak," ucap Litania, senyumnya merekah. Sementara kedua belah tangan masih menggenggam tangan si kembar. "Tapi dia lagi gak ada pertemuan, 'kan? Aku takutnya kami nanti malah mengganggu waktu kerjanya."
Ara menggeleng, senyumnya terbit seperti biasa—meneduhkan. "Pak Chandra masih free sampai jam dua nanti. Jadi saya rasa dia lagi istirahat di ruangannya," balas Ara. Nada bicaranya terdengar formal karena memang tengah berada di kantor. Jika hanya berdua, kedua wanita selisih usia sepuluh tahun itu pasti akan bersenda gurau. Bak saudara kandung.
"Kalau begitu Mbak Ara lanjut saja kerjanya. Biar kami langsung masuk ke dalam."
Ara lagi-lagi hanya mengangguk, matanya menatap duo tampan dengan senyum terkembang, gemas melihat wajah unyu dan pipi gembul Dafan dan Dafin. Ah ... andai bisa. Ingin ia memaksa Tuhan agar diberi hadiah high class seperti D twin itu.
Menyembulkan kepalanya, Litania melihat pucuk kepala sang suami yang kebetulan duduk dan membelakangi pintu.
"Kalian jangan berisik, ya? Kita coba kagetin Ayah," ucap Litania berbisik.
Kedua bocah itu mengangguk, cengengesan. Mereka berjalan berjinjit, tapi baru saja mendekati meja kerja, tawa renyah Chandra terdengar. Litania baru sadar kalau suaminya tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon.
__ADS_1
"Nelepon siapa dia?" tanya Litania kepada kedua anaknya. Namun, bukannya menjawab, duo bocil itu malah mengerjapkan mata. Litania bingung, sang anak malah lebih bingung.
Tawa Chandra terhenti. "Baiklah, Pak Frans. Saya jamin rencana kita sukses. Bapak tidak akan menyesal."
"Tidak perlu sungkan, Pak. Saya maklum, kita ini pebisnis yang memang harus bisa memperhitungkan segala sesuatunya.
Tawa Chandra terdengar lagi. "Ya ya ya. Saya paham betul itu. Saya akan selalu mendukung Bapak."
Ucapan Chandra terjeda lagi, Litania makin menajamkam kuping.
Apa ini? Pak Frans, siapa? Apa mungkin ayahnya Kinar. Jadi, selama ini dia berhubungan sama Om Frans? Kok aku gak dikasih tau? Dia ngerencanain apa ini sebenarnya? Batin Litania bertanya-tanya. Namun, ingatan berputar lagi ke beberapa tahun silam. Saat dirinya dan Arjun kelabakan karena tak bisa menghubungi sahabat karibnya itu dan Chandra hanya diam saja. Apa ini ada sangkut pautnya sama dia?
"Baiklah, kalau begitu saya tutup teleponnya," ucap Chandra lagi. Kekehannya masih terdengar hingga Litania tak bisa menghapus kecurigaan dari benak.
"Siapa Pak Frans? Apa mungkin Frans Darmawan ayah Kinar? Ada apa ini sebenarnya?" Litania mencecar pertanyaan dengan menekan suara. Harus menjaga image baik karena kedua jagoannya ada di sana.
Chandra yang kaget langsung memutar kursi. Mata membola saat melihat tiga orang terkasihnya ada di belakang. Dua jagoan tersenyum dan tanpa aba-aba menghamburkan diri memeluk serentak.
"Kalian sejak kapan ada di sini?" tanya Chandra gugup saat wajah marah Litania tertangkap mata. Ia peluk tubuh si kembar dan mengecup kepalanya secara bergantian. "Kok gak ada suaranya?"
__ADS_1
"Sudah lama, Yah. Kata Bunda kita gak boleh berisik," jawab si sulung. "Oiya, Yah, temenin kita ke taman bermain, ya."
Dafin mengangguk. Pelukannya makin erat. "Iya, Yah. Dafin juga mau ke sana. Kita pergi sekarang, ya?"
Litania yang sudah terlanjur penasaran mendekat, ingin tahu maksud dari obrolan Chandra barusan. Jadi, sebelum mengorek lebih jauh, ia harus bisa berbicara empat mata tanpa ada si kembar di antara mereka.
"Dafan, Dafin. Soal taman bermain 'kan sudah Bunda bilang, kita perginya hari Minggu. Ini baru hari apa?" tanya Litania seraya mengusap rambut hitam pekat sang anak.
Kedua jagoannya langsung cemberut. "Hari Kamis, Bun," jawab Dafan.
"Jadi masih tersisa berapa hari lagi?"
"Dua hari." Kini Dafin yang menjawab lesu.
"Nah kalau begitu jangan ngeyel. Bunda sama ayah pernah gak ingkar janji?" tanya Litania lagi.
Kedua bocah itu kembali menggeleng.
"Kalau begitu, kalian main sama Tante Ara dulu, ya? Bunda mau ngomong sama Ayah," lanjut Litania, lembut. Semenjak menjadi ibu, jiwa barbar yang ada dalam diri padam dengan sendirinya.
__ADS_1
Setelah kedua makhluk kesayangannya itu pergi, Litania mendekati Chandra dan duduk di meja. Wajahnya serius dengan tangan bersedekap. "Cepat jelasin. Pak Frans yang kamu telepon tadi apa ayahnya Kinar?"