
[Arjun beneran udah pulang, 'kan?] Kinar.
[Iya, udah. Tadi sekitar jam tiga dia udah pulang. Ini aku sama My Bebh lagi keluar. Mau dinner.] Litania.
[Oo sukurlah. Ini aku lagi otewe ke apartemennya Arjun. Tapi ngomong-ngomong hari ini beneran ultahnya Arjun? Kamu gak lagi ngerjain aku, 'kan?] Kinar.
[Iye, Ropeah ... gak percayaan banget, sih. Aku sampe berkali-kali nanya sama Mbak Ara, loh.] Litania.
[Hahaha iya ... iya, aku percaya. Baperran banget, sih. Jangan galak-galak lah. Entar anak kamu mirip aku loh.] Ada emotikon gambar bakso tertawa di ujung pesan Kinar. Membuat Litania sedikit kesal lantas kembali membalas.
[Idih! Amit amit. Harus mirip suami aku lah. Ya kali mirip kamu] Send.
Litania kembali mengetik pesan. Rasa penasarannya mencuat. Ingin tau bagaimana hasil diskusi Kinar dan Frans. [Betewe, gimana hasilnya? Dibolehin kawin?] Send
[Ya, gitu. Hasilnya masih ghoib] Kinar.
Litania yang tengah duduk di kursi samping kemudi, mengernyitkan dahi. Sedetik kemudian kembali mengetik. [Jelasin tu yang full. Jangan setengah-setengah. Dah kayak Kang Panci aja. Bayar setengah, setengahnya nyusul.]
[Jiah. Kalo ngomong sekate-kate ni orang. Gak tau apa kalo aku ini keturunan horang kaya. Aku ini Sultini masa depan, Cin. Hahaha] Kinar.
Litania terbahak. Membaca pesan Kinar serasa melihat gimik bule sedang kebelet pipis. Astogeh!
"Siapa? Dari tadi sibuk main HP mulu," sungut Chandra yang sudah bermuka masam. Namun Litania yang masih membayangkan wajah absurd Kinar hanya bisa menggeleng dengan bibir berkedut—menahan tawa.
"Jangan marah-marah gitu, ah. Gak ganteng lagi nanti."
Chandra mendengkus halus, tapi berakhir tersenyum juga. Ia abaikan Litania yang kembali sibuk dengan ponsel karena tahu pasti yang membuat Litania sibuk adalah Kinar. Jadi untak apa dicemburuin. Ye, kan?
[Mana ada Sultini yang kayak Tarzan. Anak horang kaya itu anggun dan berkelas. Gak kayak kamu, Sudra.] Send.
[Jiah, beneran minta pecat jadi temen keknya.] Kinar.
Ada emot marah di ujung pesan itu. Pesan yang membuat Litania kembali tertawa.
__ADS_1
[Mana bisa kamu pecat aku. Aku kan separuh hidupmu. Eaak. Hahaha. Udah cepetan, apa maksudnya dan apa kata papa kamu?] Litania mulai tak sabar.
[Maksud aku. Aku juga gak tau hasilnya. Ini lagi otewe tempat Arjun. Papa bilang, aku boleh nikah dan netap di Jakarta kalau Arjun mau nikahin aku. Tapi kalau enggak, aku mau gak mau harus balik.] Kinar
[Semongko.] Litania
[Serasa masang togel aku. Berjudi dengan nasib. Kalau gak untung ya pasti buntung] Kinar.] Kinar.
Tawa Litania kembali pecah. Tangannya bahkan makin cepat mengetik pesan. [Hah! Mana ada horang kaya masang togel?]
[Eh Maemunah, aku lagi bermetafora.] Kinar. Ada emot pisau di ujung pesannya.
[Hahaha. Tumben bermetafora. Bukannya isi kepala kamu itu taunya cuma bereproduksi.]
Litania tersenyum. Menggoda Kinar adalah kebahagiaannya. Karena perempuan itu digoda seperti apa pun tak akan pernah marah. Bahkan makin hari makin menempel padanya.
[Dasar Ulet Bulu. Kalo ngomong suka bener. Hahaha] Kinar.
Litania kembali mengetik pesan. [Semoga sukses. Ada pepatah mengatakan, cinta di tolak, ranjang bergerak]
[Hahaha. Semongko.]
Isi pesan itu terlihat sekilas menyemangati. Namun, ia juga tak tau perasaan apa yang menyerangnya sekarang. Satu sisi ia ingin Kinar sukses mengejar cinta tapi satu sisi inginkan sahabat terbaiknya itu menyelesaikan kuliah terlebih dahulu.
Mendesah panjang, Litania masukkan kembali gawai hitamnya dalam tas saat tidak ada lagi balasan dari Kinar.
"Kenapa?" tanya Chandra yang sadar akan raut wajah Litania yang sudah berubah.
Litania mengeleng pelan lantas kembali tersenyum. "Ngomong-ngomong kita mau ke mana? Masih jauh gak. Aku kebelet pipis."
"Sebentar lagi. Sabar, ya." Chandra pengan tangan Litania dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih memegang setir kemudi. Pria itu makin tampak sempurna. Balik dari Semarang langsung mengajaknya makan di luar. Katanya kangen. Ya elah. Auto baper, 'kan?
Tibalah di tempat tujuan. Chandra buka pintu mobil di sebelah Litania. Ia tuntun wanita tercintanya itu dengan pelan.
__ADS_1
Sementara Litania terdiam, ia terkesiap menatap sebuah kafe dua lantai yang terlihat asri karena dihiasi begitu banyak tanaman. Bahkan dinding kafe yang terbuat dari kayu pun dijalari tanaman melata jenis Vernonia Elliptica atau yang sering dikenal dengan Tanaman Janda Merana. Eits! Ini tanaman ya gaes.
Litania mengerjap, terpesona akan keindahan bangunan sederhana tapi memberikan efek mewah dalam netra. Apalagi terpampampang jelas tanaman jenis Melati Irian yang menyambutnya. Tanaman menjuntai berwarna merah tertata indah di kenopi pergola.
"Udah, nganga-nya jangan lama-lama. Entar keselek lalat," goda Chandra sesaat setelah menutup pintu. Lantas merangkul Litania dan mengajaknya melangkah bersama.
Litania yang awalnya kesal berakhir pasrah saja. Ya karena memang sudah tak tahan ingin berkemih.
Seorang karyawan kafe datang menyambut mereka, tersenyum ramah lalu menggerakkan tangan dengan sedikit membungkuk. "Reservasi atas nama siapa?" tanya karyawan itu ramah.
"Chandra Bagaskara," jawab Chandra sekenanya.
"Kalau begitu ikut saya, Pak. Meja Anda ada di lantai dua."
Namun, Litania yang sudah tak bisa menahan hajat langsung menginterupsi dengan raut wajah meringis "Aku ke toilet dulu, ya. Udah di ujung ni.
Chandra mengangguk lantas melepaskan rangkulan. Ia tersenyum melihat punggung istrinya hilang ditelan belokan sudut kafe.
"Semuanya sudah siap, 'kan?" tanya Chandra pada karyawan itu.
Si karyawan yang berpenampilan rapi mengangguk. "Sudah, Pak. Semuanya sudah diatur sama menejer."
Chandra mengangguk lantas menepuk pundak si karyawan. "Terima kasih banyak."
Melangkahkan kaki menuju ke atap, Chandra berharap kejutan kecil ini bisa menyenangkan Litania. Ia bahkan bertanya pada Ara, bagaimana caranya agar bisa memberikan kesan baik dan dicap sebagai pria romantis oleh Litania. Kesibukannya di perusahaan ditambah masalah akhir-akhir ini membuatnya lupa untuk berperilaku manis pada istrinya.
Sementara itu, di lantai dasar, Litania tampak lega dengan senyum sedikit mengembang. Akan tetapi sang suami sudah tak nampak batang hidungnya. Hanya satu pikirannya yaitu atap gedung.
"Apa dia udah naik ke atas?" Litania bergumam pelan seraya berjalan santai melewati para pengunjung yang melihatnya. Ada yang speechless ada juga yang masa bodoh. Whatever, lah. Toh, hatinya sudah tertaut pada si bangkotan kaya raya.
Satu persatu anak tangga Litania tapaki sampai tibalah ia di atas. Namun sesuatu seperti mencuri pikirannya selama beberapa detik. Gadis itu melongo dengan mata sedikit terbuka. Bagaimana tidak kaget bila melihat pria mapan nan tampan tengah memegang bunga mawar merah dan merentangkan tangan ke arahnya? Omegot omegot omegot. Ish! Dalam sekejap suaminya mendadak berubah bentuk menjadi Ji Chang Wook.
Menggeleng-geleng, Litania sadarkan dirinya dan berjalan pelan. Tak mungkin juga berlarian ke dalam pelukan kayak film-film India, ye khan? Ya ... walaupun sikon mendukung untuknya berlagak seperti itu. Ruang terbuka dengan banyak tanaman hias mengelilinginya. Bahkan hanya ada satu meja di sana. Seperti sudah tersetting sebelumnya. Aigoo ... Bang Kocan, bisa ae bikin hati Author mengap-mengap. Eh!
__ADS_1
Heheh maafkan part ini agak gaje ya. entar author up lagi. Semongko!