
"Kalau mau mesra-mesraan, cari hotel sana! Dasar gak punya ahlak. Bisa-bisanya bertingkah seperti itu di depan umum," celetuk seorang wanita tua yang melewati mereka.
Ya, siapapun berpikiran mereka adalah pasangan kekasih. Tinggi badan serta penampilan tak menunjukkan bahwa Kinar baru delapan belas tahun.
Tentu saja ucapan itu membuat senyum smirk Alex makin menakutkan. "Nah, orang lain aja paham. Jadi ayo kita cari tempat yang nyaman buat mengobrol. Bagaimana, Kinar?"
Ketakutan Kinar makin menjadi, kakinya melemas dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Alex. Alex rangkul paksa tubuh lunglai Kinar seraya menunjukkan senyum ramah pada siapa saja yang melihat. Persis seperti pasangan kekasih kebanyakan yang mengumbar kemesraan.
Kinar tak berdaya, ia menjadi bodoh karena ketakutan. Beruntung sosok Arjun tertangkap matanya. Arjun, lelaki itu mendekat dengan wajah heran. "Kinar, kamu ...."
Lisan Arjun terjeda saat melihat Kinar menitikkan air mata. Arjun yang paham dengan gimmicks wajah cemas Kinar langsung menatap Alex yang memasang wajah biasa, seperti tak berdosa.
"Kinar, siapa dia?"
Kinar menggeleng cemas, suaranya masih tak bisa keluar. Ia hanya berharap Arjun mengerti dan menolongnya dari genggaman Alex.
Perasaan Arjun menjadi tak enak. Jangan-jangan pria ini yang ....
Melepas dengan paksa rangkulan Alex, Arjun lalu menarik Kinar dan mengarahkannya ke belakang punggung.
"Tenanglah," bisik Arjun pada Kinar.
Sementara Alex mulai meradang. "Memangnya kamu siapanya Kinar?" tanya Alex yang merasa harga dirinya mulai tercoreng. Orang-orang yang mulanya acuh tak acuh kini fokus pada mereka bertiga.
"Saya yang bertanya lebih dulu, Anda siapanya Kinar?" tanya Arjun tak kalah galak.
Arjun lihat wajah Kinar yang ketakutan. "Mawar?" tanyanya untuk memastikan dugaan. Ia sudah mencurigai Alex saat melihat wajah Kinar yang ketakutan. Hanya saja butuh kepastian agar dirinya tak salah hajar.
Kinar mengangguk, air matanya meluruh tak terkendali. Ia bersembunyi di punggung seraya memegang ujung jaket yang ada di badan Arjun. "Arjun, tolong aku ...."
Suara Kinar yang bisa cempreng menjadi lirih bukan main. Kalau saja ia tak mendekatkan wajah, mungkin saja suaranya tak akan terdengar oleh Arjun.
"Tenanglah. Ada aku."
Sedetik kemudian Arjun tatap tajam wajah pria brengsek itu. Jadi ini orangnya yang udah bikin Kinar jadi kayak begini. Dasar bedebah sialan.
Tangan Arjun mengepel kuat. Ia masih setia dengan tatapan tajam.
Sementara Alex yang mendapat tatapan menghunjam seperti itu hanya menyeringai. Ia masukkan tangan ke saku celana seraya berucap, "Kamu gak perlu tau saya siapa. Saya ini—"
Belum sempat Alex menyelesaikan kata sebuah bogeman mentah melayang ke pipi kirinya. Alex terhuyung.
__ADS_1
"Hei, apa kau gila?" hardik Alex seraya memegang pipinya yang berdenyut. Ia buang darah dari dalam mulut dan kembali berdiri tegak. Rasanya kulit dalam rongga mulutnya koyak.
Namun, tinju Arjun kembali mendarat di tempat yang sama. Alex tersungkur ke lantai, ia tatap lagi orang yang tanpa aba-aba telah memukulnya. "Brengsek! Apa maumu? Kenapa memukulku?"
Akan tetapi, Arjun yang sudah kadung diselimuti kemarahan tak memberikan kesempatan untuk Alex berdiri. Ia kungkung pria bajingann itu dengan garang.
"Dasar laki-laki brengsek!" umpat Arjun seraya menarik kerah jaket Alex. "Laki-laki kayak kamu ini harusnya mati."
"Kau gila. Aku gak punya masalah denganmu!"
"Kita emang gak saling kenal. Tapi kelakuanmu ini bikin aku kesal. Dasar bedebah!" Arjun murka, ia seperti siap menelan orang sekarang. Rasa kesal menyelimuti pikiran. Tak menyangka ternyata orang yang berpenampilan rapi dan berpendidikan tinggi ternyata menyimpan bangkai dalam diri. Busuk!
"Kau benar-benar gila. Aku pria baik-baik!"
Mendengar itu Arjun semakin meradang. Ia kepalkan tinju dan tanpa permisi melayangkannya secara membabi buta.
Bugh!
"Ini untuk masa kecil Kinar yang hancur karenamu."
Bugh!
Bugh!
"Ini untuk rasa sakit Kinar dan juga ketakutannya."
Arjun makin mengepalkan tinju. "Dan ini ... ini untuk kemarahanku," ucap Arjun seraya melayangkan pukulan terakhir.
Seolah belum puas, Arjun tarik kerah kemeja yang Alex kenakan, pria itu tampak lemas tak bertenaga. Darah segar bahkan sudah mulai keluar dari hidung, ujung bibir kiri dan kanan, pelipis pun juga sudah tampak memar. Namun, parahnya si Alex malah tersenyum mengejek.
"Kamu harusnya mengayomi bukan melecehkan anak dibawah umur seperti Kinar. Apa kamu tahu akibat dari perbuatanmu itu? Ha!" teriak Arjun. Wajahnya memerah kala melihat seringaian di wajah Alex yang sudah babak belur.
"Kau gila! Apa buktinya kalau aku melecehkan Kinar?"
Arjun terdiam, menggeram lalu mencengkeram kerah jaket Alex makin kuat. Berhadapan dengan pria seperti Alex membuatnya makin kesal. Bukannya mengakui kesalahan, pria itu meyanggah hanis-habisan meski wajah sudah penuh darah.
''Kau ...." Suara Arjun terdengar dalam. Kekesalannya makin meninggi saja. Mukanya Bahkan memerah menahan marah.
"Ayo! Mana buktinya?" tantang Alex lagi
Alex berdecih. Ia dorong Arjun hingga Arjun terjungkal kebelekang. "Kamu yang harusnya di hukum. Aku akan melaporkan ini ke polisi," ucap Alex seraya berdiri. Agak terhuyung. Namun masih bisa berdiri tegak. Ia tatap nyalang Kinar lalu kembali ke Arjun. "Aku bakalan pastikan kalian gak akan lepas dari jerat hukum."
__ADS_1
Apa? Yang benar saja. Kinar menggeram, tangan mengepal kuat. Entah kenapa rasa takutnya menghilang berubah menjadi kebencian yang luar biasa. Ia dekati Arjun dan membantunya untuk berdiri, lantas melangkahkan kaki mendekati Alex.
Plak!
Alex terhenyak, mata bahkan membulat, tak menyangka Kinar melayangkan tamparan di pipinya.
"Kamu ...." Alex menggeram. Rahangnya mengetat kuat.
"Ya aku ... kenapa? Apa kamu gak percaya aku bisa seberani ini?" ucap Kinar. Ia usap air matanya yang sedari tadi membasahi pipi. "Kamu itu laki-laki jahat, jahanam, bedebah sialan. Apa kau tahu hidupku hancur karena pelecehan yang kau lakukan dulu? Apa kau tau ucapan menjijikkan dan tatapanmu itu berefek padaku sampe sekarang? Apa kau tak tahu hidupku hancur karena mulut busukmu itu? Kau jahat! Seharusnya sebagai pendidik kau mengayomi dan melindungi, bukannya membuatku takut seperti ini."
Semua orang terperangah, termasuk Alex. Orang-orang bahkan melayangkan tatap jijik. Alex yang merasa tersudut mendorong Kinar hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Beruntung Arjun dengan sigap menangkap. "Wah perempuan ini gila. Kalian bersandiwara buat ngancurin reputasiku? Hah!"
"Sandiwara? Kau bilang sandiwara?" Kinar berdecih. Ia layangkan lagi tamparan di tempat yang sama lalu melihat ke sekeliling. Orang-orang masih menatap dengan tatapan heran, atau mungkin juga mengejek, iba, atau prihatin. Entahlah, Kinar tak peduli. Ia tunjuk salah satu CCTV yang ada di sana.
"Kau minta bukti, 'kan? Itu buktinya. Dan bersiaplah membusuk dalam penjara. Dasar bedebah busuk."
Lagi, tamparan mendarat di tepat di pipi Alex. Alex ingin membalas, beruntung dua orang sekuriti datang dan melerai.
***
Di ruang keamanan.
Kinar dan Litania tampak berpelukan. Kedua wanita itu saling menguatkan. Namun, berbeda dengan Alex. Pria itu tampak tenang seolah tak mempunyai ketakutan.
Tak berapa lama seorang staff keamanan mendekati Kinar dan Litania. Arjun dan Chandra yang tengah berdiri gelisah tak jauh dari mereka, melangkahkan kaki dan mendekat.
"Bagaimana, Pak. Apa buktinya jelas?" tanya Arjun.
"Maaf, Pa. Buktinya kurang jelas. Kami sudah memeriksa semua CCTV yang ada tapi tak melihat tindakan asusila yang dilakukan oleh saudara Alex."
"Apa? Bagaimana bisa? Jelas-jelas dia—"
"Apa?" Alex sengaja menyela ucapa Kinar Senyum miringnya kembali terukir. Ia dekati Kinar yang tampak shock. "Ayolah, 'kan sudah aku bilang. Aku gak bersalah. Justru kalianlah yang bersalah."
Arjun menggeram. Ia raih lagi kerah baju Alex. "Bedebah kau!"
Namun, Alex malah tertawa. Ia tepis tangan Arjun dari tubuhnya. "Dan kau. Bersiaplah membusuk dalam penjara."
Kepalan tinju Arjun sudah ternentuk. Asli, emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Tinggal sesenti saja, hampir pukulan itu mendarat di wajah Alex kalau saja Chandra tak mencegahnya. "Sudahlah Arjun."
Lagi, gelak tawa Alex menggema. Wajah yang sudah membiru tak membuatnya kesakitan maupun menyesal. Ia pergi dengan membawa rasa menang. Membuat Arjun lagi-lagi hanya bisa meradang.
__ADS_1