Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
S2. Salah orang.


__ADS_3

Hallo semua. Aku up lagi ya. Moga kalian masih betah. Di sini aku mau angkat cerita anak-anak Litania dan Kinar.


Mungkin kalian bertanya kenapa nggak bikin cerita khusus aja untuk Dafan dan Davin.


Jawabannya karena tanggung, happy reading.


****


Alunan musik asal Meksiko yang berjudul Baliandos mengisi keheningan dalam mobil sport mewah—Porsche 911 GT3 RS—milik Dafin. Hari ini ia yang rencananya akan berkencan dengan sang pacar mau tak mau membatalkan janji temu. Desakan sang bunda tak bisa dilawan. Ia pun terpaksa menjemput saudara kembarnya yang baru pulang dari Inggris. Dafan, saudara yang keluarnya lebih cepat 2 menit itu baru saja menyelesaikan pendidikan kedokteran di Harvard.


Tibalah Dafin di parkiran airport. Ia turun dari mobil dan tentu saja menjadi pusat perhatian. Penampilan yang menonjol serta kendaraan mewah membuat mata para turis maupun orang pribumi mengerjap dengan mulut sedikit menganga. Mereka—para perawan maupun janda—terlihat takjub akan ciptaan Tuhan yang terlahir dari rahim Litania yang hanya ditanami bibit unggulnya Chandra.


Dafin, pemuda berusia 25 tahun itu mengenakan pakaian kasual dengan jaket bomber bermerek. Kacamata hitam pun bertengger di hidungnya yang bangir. Sungguh sempurna. Ia berjalan tenang menuju area penjemputan.


"Fin! Dafin!"


Sontak Dafin menoleh ke samping. Ia mendapati sang saudara kembar melambaikan tangan seraya mengukir senyuman. Mereka saling menghampiri dan berakhir berbagi pelukan.


"Apa kabar? Sehat, 'kan?" tanya Dafin seraya melepaskan pelukan. Ia pindai tubuh saudaranya yang berpenampilan santai tapi tampak keren—kaos putih dengan bawahan Chino panjang slimfit.


"Sehat, kok." Dafan yang memegang gagang koper tampak celingukan. Merasa seseorang yang dirindukan tak terlihat, ia kembali melihat saudaranya. "Bunda gak ikut?" lanjutnya.


Dafin menggeleng lantas mengambil alih koper yang Dafan pegang. Ia melangkah pergi menuju parkiran dan tentu saja diikuti oleh Dafan.


"Kenapa gak ikut? Katanya kemaren mau jemput?" tanya Dafan lagi.


"Tadinya bunda mau ikut tapi mendadak guru BP-nya Anya nelpon nyuruh bunda ke sekolah."


"Lah, kenapa? Anya bikin masalah lagi?" cecar Dafan.


Dafin menggidikkan bahu. "Ya begitulah. Dalam sebulan ini bunda udah lima kali bolak-balik ngurusin masalah dia. Itu anak badungnya gak ketulungan. Padahal cewek, kok nggak ada anggun-anggunnya sama sekali."


"Ya harusnya kamu dong yang nasehatin. Kamu sebagai abang harus bantuin, kasihan kan bunda sama ayah. Anya itu udah kelas tiga. Kalo dibiarin semaunya entar dia salah jalan."


"Eh, urusan aku bukan hanya Anya. Kamu pikir bekerja di perusahaan nggak menguras otak dan tenaga? Semua pikiran serta waktu aku terkuras ke sana semua."


"Alah, alasan. Paling juga kamu kebanyakan pacaran, nurutin apa mau tu perempuan," desis Dafan sinis.


"Enak aja, aku nggak kayak gitu, ya. Lagian Sisi gak manja. Dia malah cewek paling pengertian yang pernah aku kenal. Gak pernah tu dia ngerengek sama aku," balas Dafin membela sang wanita pujaan yang sudah di pacarinya tiga tahun belakangan.


"Ah masa?" goda Dafan.


"Ya iyalah, jomblo abadi kek kamu mana tahu rasanya," balasnya tak kalah menggoda. Keduanya tersenyum hingga suara cempreng seseorang dari belakang mengagetkan. Mereka yang tengah berada di depan mobil sontak menoleh secara bersamaan—mencari asal suara—dan jeng jeng jeng ....


"Nara!" seru keduanya secara bersamaan. Mimik wajah pemuda sama rupa itu jelas kaget saat melihat seorang remaja dengan pakaian seksi melambaikan tangan ke arah mereka. Sosok gadis yang mereka kenal bernama Nara, anak dari sahabat baik sang bunda.


"Kamu sengaja ya nyuruh dia datang ke sini?" kesal Dafan dengan rahang yang sudah mengetat. Matanya melotot melihat gadis itu.


"Ya enggaklah. Ngapain aku bawa tu bocah ke sini?" elak Dafin.

__ADS_1


"Lah terus, kenapa dia bisa tau?"


Dafan mendadak tak senang. Ia hapal betul tabiat gadis yang umurnya bahkan di bawah Anya. Remaja yang baru kelas 2 SMA itu begitu tergila-gila padanya sejak ia duduk di bangku SMA. Dafan ilfil dan selalu menghindari gadis itu. Hidupnya aman ketika memutuskan kuliah di luar negeri. Namun, sekarang ia mau tak mau harus kembali ke titik awal. Nara kini terlihat lebih mesum daripada Nara yang dulu.


"Ya mana aku tau. Mungkin Anya kali yang ngasih tau," ujar Dafin seraya memasukkan koper ke dalam bagasi.


"Wah ... awas aja Anya. Dasar adik durhakim. Udah dibilang juga jangan sampai kasih tau Nara."


"Udah, samperin aja. Entar dia nangis," goda Dafin dengan bibir berkedut. Melihat ekspresi kesal sang abang membuatnya sedikit terhibur. Ia tahu betapa tersiksanya Dafan karena tingkah Nara. Hanya saja tak tahu harus bagaimana mencegah gadis itu. Gadis keras kepala yang tergila-gila pada kembarannya.


"Enak aja. Aku ini dokter menyembuhkan penyakit di badan bukan spesialis kejiwaan," dengkus Dafan sebal dengan mata masih tertuju ke arah Nara. Gadis berambut pendek sebahu itu berjalan menghampiri mereka dengan senyum merekah. Wajah putih mulus tak membuat Dafan tergoda, malah sebaliknya.


"Dafan!"


Lagi, seruan Nara membuat bulu kuduk Dafan meremang. Ia tepuk punggung tangan sang adik lantas berbisik," Aku duluan ya. Tolong urus tu perempuan."


"Eh!"


Belum sempat Dafin mencegah, si Dafan sudah lari terbirit-birit. Ia menerobos ramainya orang di bandara dengan berlari. Ia ngeri jika berdekatan dengan gadis remaja itu. Terlalu agresif dan memaksa.


"Loh, pangeran Dafan-ku ke mana?" tanya Nara pada Dafin. Dafin merespon dengan menggidikkan bahu.


"Gak tau, cari aja sendiri," balas Dafin.


"Iih, dasar ipar nyebelin. Awas aja. Entar kalo aku jadi istrinya, aku bakalan bales dendam sama kamu," ujar Nara terus mengejar Dafan.


Sementara itu, Dafan terus saja berlari. Ia merinding membayangkan jika harus berhadapan dengan Nara. Ia kesal sama gadis itu tapi lebih kesal lagi sama diri sendiri karena tidak bisa menolak. Jika menolak, sang bunda akan merepet tak henti-henti menyalahkan dari pagi sampai ke petang.


"My Prince! My Prince!"


Seruan Nara masih terdengar.


Gadis itu keras kepala sekali. Batin Dafan dongkol. Ia terus berlari hendak menuju toilet. Apes, sebuah koper pengunjung menghadang kaki hingga keseimbangan tak bisa terjaga dan ....


Tap!


Dup-dup-dup-dup.


Dua tangannya telah mendarat di gunung kembar seorang wanita yang tengah duduk. Gelas kopi yang wanita itu pegang bahkan sudah jatuh ke lantai. Matanya membulat melihat Dafan.


Kenyal dan lembut. Namun belum sempat mencerna apalagi menikmati apa yang ia pegang, sebuah seruan di belakang menyadarkan. Dafan lepas tangannya dari benda terlarang itu, tapi sialnya tak bisa menghindari tatapan elang si empunya gunung.


"M-maaf. S-saya gak sengaja," ucap Dafan terbata. Ia ngeri plus malu sendiri. Baru kali ini menyentuh onderdil ORI milik perempuan. Rasa-rasanya pipi mulai hangat.


Wanita itu berdengkus lalu berdiri. Nyalang ia menatap Dafan.


"Maaf? Maaf katamu!" kesalnya dengan suara dalam. Tangannya sudah terkepal. Baru kali ini ada psikopat mesum beraksi di siang bolong dan tak mengindahkan ramainya orang.


"Iya, saya gak senga—"

__ADS_1


Belum sempat Dafan menyelesaikan lisan, sebuah tinju melayang, beruntung ia dapat menghindar.


"Saya bilang saya gak sengaja," ujar Dafan seraya memegang pergelangan tangan lawan.


"Kamu pikir saya percaya? Psikopat mesum kayak kamu harus di kasih pelajaran. Sini kamu," ujar wanita itu. Ia layangkan tendangan.


Namun, Dafan yang sudah terlatih dengan cepat menghindar. Sekarang ia bersyukur sang bunda menurunkan ilmu bela diri.


Dafan mundur, menjaga jarak agar tak diserang lagi. "Sumpah, saya gak sengaja."


"Saya gak percaya. Dasar cabul!"


"Cabul?" ulang Dafan. Rasanya harga diri terluka sangat parah setelah dihina seperti itu. Seumur hidup ia tak pernah pacaran karena terlalu sibuk dengan studi. Lalu bagaimana bisa disebut cabul jika memegang tangan perempuan saja tak pernah?


"Iya, cabul. Psikopat mesum," ucap wanita itu lagi dengan nada sinis. Sorot matanya seakan bisa mengoyak apa pun juga. Dafan bergidik, hari ini kesialannya tak berkesudahan karena perempuan.


"Sekali lagi saya bilang ini salah paham. Saya gak sengaja," ujar Dafan lagi.


"My Prince!"


Sial, suara Nara makin dekat. Wajah Dafan kembali gusar. Ia tatap lagi sang wanita yang sebenarnya bernama Fia.


"Maaf, Nona. Saya benar-benar gak sengaja." Dafan berucap seraya mengatupkan kedua belah tangan. Tanpa berkata lagi ia langsung lari terbirit-birit. Nara lebih menakutkan dari perempuan mana pun termasuk Fia.


"Hey! Jangan lari!" teriak Fia, tapi Dafan sudah menghilang dari pandangan.


Perasaannya tentu saja dongkol. Gadis berpenampilan sporty dengan cardigan panjang selutut itu berdecak kesal. Air kopi membasahi pakaian. Belum lagi onderdil ORI sudah tersentuh oleh tangan tak bertanggung jawab. Sumpah. Rasanya ada kepulan asap di atas kepala yang tak kasatmata.


"Pokoknya, kalau ketemu lagi, aku pastiin dia di kebiri," geramnya kesal lantas pergi.


Akan tetapi, baru saja Fia melangkah beberapa kali, ponselnya bergetar. Ia raih benda pipih itu dari dalam tas dan mendapati sang ibu mengirim pesan. Senyumnya terukir sangat indah hingga sebuah benturan di kepala mengagetkan. Dia terjungkal ke belakang.


"Maaf, saya gak sengaja," suara berat seseorang membuat Fia mendongak. Tampak seorang pria yang baru saja ia kutuk mengulurkan tangan. Senyum pria itu tampak indah di wajah yang rupawan. Namun, Fia tak tergoda. Segumpal daging dalam dada yang berdetak menjadi makin menggila tak berirama. Ia berdiri dengan tatapan elang.


"Maaf tadi saya jalannya gak hati-hati. Kamu gak apa-apa, 'kan?"


Fia tak merespon karena keburu gigi sudah bergemelatuk. Bisa-bisanya pria mesum ini tersenyum. Batin Fia dongkol.


"Hey, kamu gak apa-apa, 'kan? Kenapa bengong? Oh iya, kenalin aku Dafin," cecar pria itu seraya mengulurkan tangannya lagi.


Fia yang salah menduga langsung menjabat tangan Dafin lantas menariknya. Sebuah pelintiran menjadi akhir. Dafin mengerang dengan posisi berlutut.


"Hey! Apa yang kamu lakukan?" teriak Dafin.


"Dasar cabul. Kamu harus aku kasih pelajaran. Ayo ikut!"


***


Nah loh. Abang yang berbuat tapi Adek yang bertanggung jawab. Heheh. ayo jgn lupa like komen dan vote. Oiya. kalau mau liat visual mereka bisa follow Ig aku ya @riharigawajixjoe.

__ADS_1


__ADS_2