
Rasa takut, marah dan waswas membuat Litania tak bisa duduk tenang. Dirinya mondar-mandir di dalam sebuah ruang ganti dalam gedung pusat kebugaran. Gedung yang sepi dan tak berpenghuni.
Sebenernya siapa sih yang bikin lelucon gak lucu kek gini? Aneh, katanya mau ketemu aku. Tapi kenapa harus ke sini? Kenapa juga aku harus disuruh pake baju olahraga begini?
Litania membatin. Ada rasa ragu kala menyetujui ajakan dua pria yang menghadang jalannya ketika pulang tadi. Namun, setelah melihat gerak dan ucapan sopan dua pria asing itu, Litania memutuskan untuk ikut dan berakhir di sini, sebuah pusat kebugaran elit dengan alat olahraga yang baru dan juga bermerk.
Mengepal tangan dengan kuat, Litania masih terlihat gusar hingga suara ketukan membuyarkan pikiran negatif yang bersarang di benak. "Siapa?"
Pintu terbuka, tampak pria botak masuk ke ruangan dengan senyum ramah. Ia pakaikan sarung tangan serta pengaman kepala pada Litania. "Dia udah nungguin kamu."
"Sebenarnya apa mau orang itu? Siapa dia? Kenapa aku dipakein beginian?"
Tak menjawab, lelaki itu hanya mengembangkan senyuman. "Ayo ikut saya."
Mendesah panjang, Litania yang sudah diselimuti rasa penasaran mengikuti langkah laki-laki itu. Ia lewati semua alat kebugaran yang masih tersusun rapi dengan pertanyaan dan rutukan dalam benak.
Sebenarnya siapa orang ini? Apa maunya? Bikin kesel aja. Dia yang mau ketemu aku, tapi aku yang dibikin repot. Dasar.
Tak berapa lama, sebuah ring yang ada di tengah ruangan menjadi titik pandang Litania. Matanya membeliak lebar. Tampak sosok lelaki yang dikenalnya tengah berdiri di atas tempat adu jotos itu dengan bibir menipis.
Sebenarnya apa isi kepala bangkotan tua ini. Bener-bener minta dihajar kayaknya. Biar dia waras. Bisa-bisanya bikin drama kayak begini.
Litania berdecak. Ia masuki area itu dan berhadapan dengan Chandra. "Apa ini? Apa maumu?"
Wajah Litania telah merah padam. Tangan pun mengepal kuat dalam sarung tebal berwarna merah itu. Ia tak bisa menyembunyikan kekesalan meski beberapa jam sebelumnya sempat menyesal karena berperilaku kasar.
__ADS_1
Sementara Chandra, pria itu tersenyum. Lega karena bisa berjumpa Litania. Walaupun ada rasa waswas akan berakhir di rumah sakit. Namun ia tak peduli. Baginya Litania yang utama. Masalah lain, belakangan. Moga aja ide Ara ini berhasil, batinnya.
Mengembangkan senyuman, Chandra dekati tubuh Litania yang sudah menegang. "Gak ada apa-apa. Aku hanya kangen kamu. Kamu makin cantik sekarang."
Sialan, jawaban nyeleneh Chandra makin mengorek kemurkaan Litania. Ditatapnya wajah kuyu Chandra dengan penuh kemarahan. Dirinya yang telah diselimuti emosi tanpa permisi menyerang tubuh tegap Chandra. Ia layangkan pukulan. Telak mengenai pelipis. Pukulan yang membuat Chandra terhuyung, tapi masih tampak tersenyum. Sebuah pemandangan yang makin membuat Litania naik pitam. Ia layangkan kembali pukulan di daerah yang sama.
"Apa aku lelucon!"
"Bukan, kamu istriku. Istri tercinta yang aku sayang."
Makin meradang, Litania yang telah diselimuti kemarahan kembali melayangkan pukulan di perut Chandra. Pria itu mengerang, tapi bibir masih mampu tersenyum. Agak oleng tapi masih bisa untuk berdiri. "Aku kangen kamu. Aku gak bisa tidur kalo gak peluk kamu.'
"Brengsek! Apa aku cuma partner tidur!"
Lagi, layangan tinju mendarat di rahang Chandra. Pria itu terhuyung dan tak lagi bisa menyeimbangkan diri. Ia ambruk dengan tubuh terlentang. "Kamu memang partner tidur, Litan. Pokoknya kamu yang terbaik. Aku suka tubuh kamu. Kamu seksi, dan aku rindu itu."
Bugh!
"Laki-laki rengsek!"
Bugh!
"Sinting!"
Bugh!
__ADS_1
"Laki-laki gak berperasaan!"
Litania terus saja memukul di bagian kiri dan kanan pipi Chandra. Bolak-balik ia lampiaskan kekesalan yang selama ini tertahan. Wanita yang tengah diselimuti kemarahan itu bahkan berteriak nyaring. Teriakan yang lumayan mekakkan telinga. Ia curahkan semua beban yang ada tanpa mendapat perlawanan dari Chandra.
Namun, tak lama, pukulan yang awalnya kuat mendadak melemah. Teriakan yang awalnya melengking berubah menjadi lirih. Melihat ketidakberdayaan Chandra membuat hatinya juga sakit. Air mata pun mengiringi pergolakan batin itu. Ia kesal tapi hati mengiba.
"Pukul lagi, Litan. Jangan lemah. Lepaskan semuanya. Aku gak akan ngelawan. Aku tau aku salah. Dan aku rela kamu pukul. Sampai mati pun aku ikhlas. Asal kamu maafin aku. Aku sayang kamu Litan. Aku gak bisa hidup kalo kamu jauh."
Suara Chandra begitu lirih. Membuat Litania yang sudah melemah makin tergugu dalam tangisan dan berakhir ambruk. Ia terisak. dipukulnya dada Chandra.
"Kamu jahat. Kamu tega. Teganya kamu bohongin aku. Apa kamu tau sakitnya aku? Aku juga hampir gila. Aku udah cinta tapi berakhir gini. Aku nyesel, aku nyesel udah kenal kamu. Aku benci kamu. Apa kamu gak sadar, keegoisan kamu ini udah bikin aku dan Rania menderita."
"Maafkan aku, aku salah." Mengangkat tangan yang gemetar, Chandra berusaha menenangkan istrinya itu dengan menepuk punggungnya. "Jangan tinggalin aku. Aku gak bisa hidup kalo gak ada kamu."
"Bagaimana dengan Rania? Bagaimana dengan anak kamu? Apa kamu gak mikirin masa depan anak kamu?"
"Itu udah selesai, Litan. Kami memang mempunyai anak. Tapi hanya itu. Gak lebih. Dia berhak bahagia dengan laki-laki lain. Dan soal Chandira. Aku gak akan lepas tanggung jawab. Aku tetap ayahnya."
****
Di IGD rumah sakit.
Litania duduk di kursi tunggu dengan mata tak berpaling sama sekali. Pandangan hanya tertuju pada sosok pria berkemeja putih yang tengah diobati oleh dokter dan beberapa perawat. Dokter yang kebetulan berteman baik dengan Chandra. Sesekali Litania tangkap ekspresi serius juga bercanda Chandra dari kejauhan. Ada rasa bersalah setelah membuat wajah tampan Chandra berubah merah keunguan. Di pelipis, hidung juga bibir. Namun, disela rasa bersalah itu ia juga merasa lega. Kemarahan mendadak menguap setelah ia tumpahkan segala kekesalan dengan hukuman tak lazim itu.
"Aku gak perlu rawat inap, 'kan?" tanya Chandra pada Romi. Sang dokter yang kebetulan adalah temannya.
__ADS_1
"Gak perlu, kamu istirahat di rumah aja. ini aku tuliskan resep obat pereda nyeri sama salep. Diolesin teratur. Biar lekas sembuh." Romi berucap seraya menyerahkan kertas bertulisan pada Chandra. Diperhatikannya kembali wajah itu. Tampak jelas sebuah tatapan mengiba diikuti gelengan kepala.
"Sebenarnya kamu digebukin preman mana, sih. Kok bisa ancur begitu."