
"Maaf Fia." Dafin menatap nyalang. "Hari ini kamu aku culik."
"T-tapi, Pak. Saya ...."
"Diem."
Dafin terlihat begitu serius. Fia yang ditatap sedekat dan se-intens itu mendadak gugup, ia lantas memalingkan wajah ke arah samping. Senyar aneh pun mulai terasa dalam dada. Rahang kokoh dan hidung Dafin yang mancung seperti menghipnotis. Fia salah tingkah karenanya.
Akan tetapi tanpa diduga Dafin kembali menarik wajah Fia yang sempat berpaling. Kini mata mereka bersitatap. Fia makin gugup.
"Kamu harus percaya sama aku."
Menelan ludah, Fia berakhir mengangguk. Napas yang sempat tertahan keluar dengan perlahan saat wajah Dafin sudah menjauh. Pria itu menutup pintu lalu duduk di belakang kemudi. Mobil pun mulai berjalan dengan perlahan.
Sementara Litania, wajahnya merah padam. Ia menatap nyalang mobil Dafin.
"Dafin! Mau kamu ajak ke mana calon mantu Bunda?" teriaknya kencang dan membuat orang-orang yang kebetulan lari pagi di sekitar sana terheran-heran, bahkan ada yang terbengong, ada juga yang awalnya membawa kantong kresek tanpa sadar melepaskan barang bawaan. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Gaya Litania dan penampilan yang mencerminkan keanggunan ternyata punya suara yang lumayan lantang.
Tak ayal, Litania yang ditatap begitu banyak pasang mata jadi malu sendiri. Ia menutup wajah dengan tangan, lantas bergegas menuju mobil. "Dasar Dafin, sifatnya nggak berubah sama sekali. Tetap aja keras kepala, nggak percaya sama orang tua," gerutunya kesal.
Tak berapa lama masuklah mobil Ferrari berwarna hitam. Mobil yang Litania hafal betul adalah kepunyaan Dafan. Tanpa menunggu lama, ia pun menghampiri sang pemilik yang terlihat menggeram.
"Dafan, kamu ngapain ke sini?'' tanya Litania.
Namun, bukannya menjawab Dafan malah menatap lekat. Matanya menyiratkan ketidaksenangan. Anaknya itu bahkan berdengkus dengan kepalan tinju yang sudah terbentuk.
"Bunda ngapain ke sini?" tanyanya balik. Kini matanya nyalang melihat pintu rumah Fia yang sudah tertutup. "Fia, apa Dafin sudah ...?"
Dafan tak bisa menyelesaikan lisan. Wajahnya merah padam. Litania yang paham situasi itu jadi menghela napas panjang lalu berucap, "Kamu telat Dafan. Fia baru saja dibawa pergi sama Dafin."
"Sialan! Aku kurang cepat." Dafan lalu menendang ban mobil lantas kembali menatap sang bunda yang keheranan lebih cenderung ke sawan. "Bunda tau ke mana mereka pergi?" lanjutnya.
Menggeleng-gelengkan kepala, ibu tiga anak itu benar-benar tak menyangka kalau sang anak sulung yang selalu santun dan tenang dalam berkata bisa mengeluarkan umpatan seperti itu. Mendadak ia kehilangan kata sebelum akhirnya dering ponsel dari dalam saku Dafan menyadarkan.
Sementara Dafan, ia masih menatap nyalang ke arah pintu kontrakan Fia seolah-olah ingin menghancurkannya menjadi beberapa bagian. Ia sungguh kesal pada keadaan.
"HP kami bunyi, Fan. Coba angkat dulu. Siapa tau penting," tegur Litania.
Dafan yang baru menyadari ada telepon masuk langsung berdengkus. Ia rogoh saku celana dan menempelkan benda pipih itu ke telinga. Ajaib. Efeknya sungguh luar biasa. Panggilan itu spontan mengubah wajah Dafan yang sudah masam kecut menjadi merah padam. Ia hanya mengiyakan sebelum akhirnya memutus panggilan. Litania yang keheranan menyentuh pundak Dafan, anaknya itu tengah berteriak dan menjambak rambut sendiri.
Bagaimana tidak frustrasi jika yang diinginkan tak tercapai? Belum lagi kabar yang baru saja ia terima. Dokter muda itu mendapat telepon dari rumah sakit yang mengatakan bahwa memerlukan tenaganya. Mereka menerima pasien kecelakaan lalu lintas dan ia diminta untuk membantu di sana.
Sungguh demi apa pun. Dafan bingung. Ia kesal dengan keadaan yang tak sesuai keinginan. Hati sangat ingin memperjuangkan cinta. Ingin sekali menyusul Dafin bila perlu berkelahi hingga tenaga terkuras habis. Namun ... Tuhan seolah-olah melarang. Sekarang dirinya dihadapkan dengan pilihan sulit. Antara memenuhi kewajiban sebagai dokter ataukah memperjuangkan cintanya.
Meraung makin keras, Dafan tak tau harus ke mana menumpahkan rasa frustrasi yang menyesakkan dada. Ia lagi-lagi tanpa sadar telah membuat ibunya membulatkan mata.
"Hey Dafan. Kamu kenapa? Coba tenangkan diri," ucao Litania hati-hati. Ia heran dan khawatir, anaknya itu berakhir berjongkok dengan posisi kepala menunduk.
Hening, senyap. Dafan masih tak menjawab. Litania jadi bingung sendiri. Tak tahu harus bagaimana menenangkan perasaan Dafan. Ia tahu Dafan pasti terluka karena ditikung saudaranya sendiri.
"Bun."
Suara Dafan sangat pelan. Ia lalu mendongakkan kepala. Litania yang berdiri dapat melihat keputusasaan di wajah itu.
"Kenapa?" tanya Litania.
"Apa Dafan harus nyerah?" lanjut Dafan lagi. Terdengar begitu lirih dan putus asa.
Mendengar itu hati Litania serasa disayat belati. Ia berakhir menghirup napas panjang lalu mengeluarkan dengan perlahan. Ia tatap lekat wajah frustrasi Dafan.
"Fan. Dengerin Bunda dulu. Bunda ...."
"Kenapa, Bun?" sela Dafan yang kembali menopang kepalanya yang berat.
Litania kembali terdiam, ia masih menunggu perkataan lanjutan sang anak yang tengah patah hati.
"Kenapa aku selalu kalah cepat? Padahal aku yang lebih dulu suka sama Fia. Aku udah usaha semaksimal mungkin buat menangin hatinya. Tapi sekarang Dafin yang ...."
Perkataan Dafan terhenti, yang terdengar hanyalah desahan panjang. Fia yang mengerti kekalutan yang mendera Dafan ikutan berjongkok. Ia usap rambut Dafan yang sudah berantakan karena jambakan.
"Fan, kita berhak berencana dan berusaha. Tapi segalanya ada di tangan Tuhan."
Lagi, Dafan mengangkat kepala yang berat. Ia bungkam, hanya bola matanya yang bergerak liar. Namun, Fia dapat dengan jelas menangkap kesedihan dari sorot mata itu.
"Bukankah barusan kamu bilang, kalau kamu udah usaha maksimal. Jadi serahkan keputusan pada Fia. Pasrahkan semuanya sama Tuhan. Tapi Bunda harap kamu enggak kecewa apa pun keputusan Fia dan pilihannya. Kamu sama Dafin saudara. Bunda gak mau kalian berantem karena perempuan. Berbesar hatilah," lanjut Litania lagi.
Dafan menarik dan menggenggam Litania. Mereka tak berbicara sepatah kata pun. Hanya sorot mata yang menggambarkan segalanya hingga suara dering telepon mengurai kebisuan antar ibu dan anak itu.
__ADS_1
Berdiri, Dafan rogoh saku celana dan kembali menempelkan ponselnya ke telinga. Lagi-lagi hanya helaan napas panjang yang keluar. Kini matanya menatap lekat wajah Litania.
"Bun, aku pergi dulu," pamit Dafan pelan. Kesedihan jelas kentara di wajahnya.
"Ke mana? Apa kamu mau nyusul mereka?" tanya Litania lagi. Jujur, ia khawatir. Takut Dafan nekat.
Diluar ekspektasi, Dafan malah menggeleng lalu menyunggingkan senyuman, meski jelas terlihat penuh keterpaksaan di sana.
"Aku mau ke rumah sakit. Mereka perlu bantuan di sana," jelas Dafan singkat. Ia lalu memutar tumit dan meninggalkan Litania yang masih berdiri di pekarangan rumah kontrakan Fia. Meski berat hati, ia harus membiarkan Fia memilih. Benar kata ibunya. Semua tergantung garis yang sudah dituliskan oleh tuhan.
Litania menghela napas panjang. Ia prihatin dengan anak sulungnya tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ini di luar kendalinya sebagai orang tua. Ia menyayangi Dafan tapi juga menyayangi Dafin. Sekarang tergantung pada Fia. Apakah gadis itu memilih salah satu dari anaknya ataukah tidak keduanya. Apa pun keputusan Fia, yang jelas dan ia berharap yang terbaik untuk kedua putranya.
Menghapus setitik air yang tergenang di pelupuk mata, Litania lekas-lekas memakai kacamata hitam lantas berkata, "Pak Sulaiman kita pulang sekarang. Saya lapar. Saya juga ngantuk."
***
Di dalam mobil sport milik Dafin.
Fia yang hanya mengenakan baju tidur biasa mencuri pandang ke arah Dafin yang ada di sebelahnya. Bos-nya itu sudah berpakaian santai dan keren, berbeda dengannya yang jauh dari kata rapi.
Namun, bukan itu yang membuatnya terpana, penampilan pria itu berbeda dari hari-hari biasa. Kata rapi dan formal yang melekat dalam diri seperti terhapus dalam sekejap. Dafin kini terlihat seperti anak muda kebanyakan. Tanpa jas dan dasi Dafin terlihat seperti mahasiswa. Fia pangling, ia terpesona, tanpa sadar ia tersenyum kecil sebelum akhirnya suara dehaman mengagetkan. Lekas-lekas ia mengalihkan pandangan ke depan.
"Apa kamu baru sadar kalau aku tampan?" tanya Dafin. Ujung bibirnya tertarik sedikit. Tentu saja sebuah gelagat dan ucapannya membuat Fia salah tingkah. Wajah gadis itu terlihat sedikit memerah dengan gerak-gerik yang menggemaskan.
"Pak Dafin, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Fia. Ia mencoba mengalihkan pertanyaan. Kepergok melirik sang atasan dengan tatapan minat membuatnya malu bukan kepalang. Berbohong dan mengelak pun percuma. Dafin berpendidikan dan berpengalaman dengan yang namanya perempuan. Pasti sulit untuk mengelabui. Jalan satu-satunya hanyalah berpura-pura tuli.
Dafin yang paham membalasnya dengan ulasan bibir. "Kenapa? Kamu takut?" godanya dengan menyipitkan mata, terlihat genit. Fia jadi bergidik.
"Pak Dafin. Saya serius, ya. Saya lagi nggak bercanda lho, Pak. Ini ni masih pagi. Baru jam setengah enam pagi," tegas Fia. Matanya menyipit sinis.
Namun, respon Dafin hanyalah gelak tawa. Wajah masam Fia menghiburnya.
"Tenanglah. Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu. Buat apa nyulik perempuan yang sejatinya rela diculik?" terang Dafin penuh percaya diri.
Alis Fia naik sebelah. Perkataan macam apa itu. PD banget sih dia. Fia bermonolog lalu berdengkus samar. Mau dipikir dari segi manapun keadaannya sekarang jauh dari kata normal. Ia hanya mengiyakan apa kata Dafin saja.
"Aku cuma mau ngajak kamu kencan," papar Dafin santai. Tentu saja Fia yang mendengar tak bisa sesantai itu. Mata gadis itu bahkan membulat lebar.
"Bapak jangan mengada-ada. Lebih baik anterin saya pulang," tegasnya.
"Kalau saya gak mau? Kamu mau apa? Mau lompat? Silakan. Pintunya gak dikunci, loh."
Fia bergidik. Ia bersedekap dengan wajah sengaja di buang ke arah jendela.
"Lagian kamu tenang saja. Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu. Kita cuma kencan doang."
"Kencan? Di pagi buta begini? Yang benar aja?" Fia tergelak menahan dan melawan kesal yang tidak berlawan.
"Memangnya kenapa kalau kencan di pagi hari? Emang ada peraturan yang melarang pacaran di waktu pagi?" tanya Dafin, pura-pura beloon.
"Pacaran apaan?" dengkus Fia kesal dan sialnya didengar oleh Dafin. Gegas pria itu menepikan mobil lalu memegang dagu Fia. Mata mereka bersitatap. Fia mengerjap, takut kalau Dafin akan kembali menciumnya.
''Bapak mau ngapain?" tanyanya panik.
Dafin malah tersenyum. "Aku nggak mau ngapa-ngapain. Aku cuma mau lihat wajah kamu. Kamu sangat cantik," ujarnya lagi tanpa malu.
Justru Fia yang jadi malu, parasnya yang ayu mendadak bersemu.
"Kenapa wajah kamu merah? Kamu malu?" goda Dafin. Ia makin lekat memandang.
"Apaan sih, Pak?" Fia menepis tangan Dafin. "Untuk apa saya malu? Saya kan memang cantik," balas Fia sengaja.
"Bagus, lagipula untuk apa malu sama aku. Gak lama lagi kita juga bakalan jadi satu."
Oh my God. Fia terdiam. Matanya kembali mengerjap berkali-kali. Ia juga kewalahan menahan tabuhan dalam dada yang mulai menggila. Entah apa yang terjadi, tetapi mendengar perkataan Dafin barusan, entah kenapa rasanya ada yang menggelitik. Rasa-rasanya punggung mendadak ditumbuhi sayap tak kasatmata. Namun, cepat-cepat ia menggeleng lalu mendorong dada Dafin agar menjauh.
"Bapak jangan mengada-ngada. Lagian saya belum ngasih jawaban. Apa Bapak lupa, Bapak itu masih punya hubungan dengan nona Sisi. Saya tekankan sekali lagi ya, Pak. Saya enggak mau jadi pelakor," tegas Fia. Itu sebenarnya alasan paling ampuh agar kegilaan Dafin berhenti. Setidaknya itu yang ada dalam pikirannya sekarang. Dafin terus saja merayu padahal jelas-jelas punya hubungan dengan gadis lain.
"Lagian ya Pak. Bapak itu bukan tipe saya," tegas Fia lagi.
Alih-alih tersinggung, justru senyum yang Dafin ukir. Ia kembali mendekatkan wajah hingga Fia secara spontan memundurkan kepala dan sialnya terhalang pintu mobil.
"B-bapak mau ngapain? Jangan macem-macem sama saya ya, Pak," ucap Fia lagi dengan terbata.
Alis serta ujung bibir Dafin naik sebelah. "Oke. Itu artinya kita pacaran kalau aku udah enggak punya hubungan apa-apa lagi sama Sisi."
"Lah kok gitu. Ya belum tentu," jawab Fia salah tingkah sendiri.
__ADS_1
"Jadi kamu mau ngelak?" Wajah Dafin makin dekat.
Fia makin gugup, ia menatap depan dan sengaja mengabaikan senyum Dafin yang jujur membuat hatinya cenat cenut juga. Terlihat sangat tampan dan manis, sebelumnya tak pernah Dafin tersenyum sesering itu.
"Tapi tetap aja kan, Bapak punya nona Sisi. Bapak punya tunangan."
Fia meyakinkan. Ia melawan rasa aneh yang mulai menyerang dalam dada dan berusaha berpikir realistis. Bagaimana bisa ia menjalin hubungan dengan sang bos yang notabene orang kaya dan sudah bertunangan pula. Fia ngeri sendiri, ia belum siap menghadapi komentar jahat para karyawan dan para netizen di seluruh dunia.
Namun, bukannya menjawab Dafin justru mengeluarkan ponsel, mengetik pesan lalu mengirimkannya. Tak berapa lama senyumnya kembali terbit. Ia lirik Fia yang masih saja memasang wajah masam lalu kembali menjalankan mobil.
Satu menit
Dua menit.
Tiga menit.
Fia yang keheranan kembali bertanya, "Sebenarnya kita mau ke mana sih, Pak? Pagi-pagi buta begini saya mau diajak ke mana? Apa gak bisa gitu saya dianter pulang. Saya mau mandi."
"Kan sudahkah saya katakan, kita kencan, tapi sebelum itu kita pergi ke suatu tempat. Lagian kenapa harus ribut soal mandi, sih. Menurutku kamu tetap cantik walaupun bau iler."
"Pak Dafin!"
Dafin terkekeh. Fia makin tersipu malu. Gadis itu memalingkan wajah, ia sangat yakin kalau wajahnya sudah memerah. Dafin benar-benar mengeluarkan keahliannya dalam menghadapi wanita. Fia yang selama ini biasa saja saat berhadapan dengan Dafin kini harus sekuat tenaga menampik pesona pria itu. Ia tak ingin luluh.
Tak berapa lama tibalah mereka di sebuah kompleks perumahan. Lokasi yang Fia hafal betul. Gadis itu menatap Dafin yang memarkirkan mobilnya. Ia makin penasaran, sebenarnya apa yang ingin dilakukan Dafin?
Namun, belum juga sempat Fia melisankan pertanyaan, Dafin sudah keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuknya, tak hanya pintu, sabuk pengaman yang remeh saja ia lepas dengan senyuman. Begitu manis. Lagi-lagi tanpa sadar Fia tersenyum kecil.
"Jangan lama-lama mandangin saya. Entar kamu khilaf," celetuk Dafin. Fia langsung mendorong dada pria itu lalu keluar dengan sendirinya. Ia malas berhadapan dengan Dafin yang selalu bisa membuatnya kehabisan kata-kata.
"Pak, kita mau ngapain ke sini?" tanya Fia.
"Kita harus meresmikan hubungan kita."
"Meresmikan?"
Fia terbeku, ia menggeleng keras dengan mata yang melotot. Tapi Dafin yang sudah tak bisa menahan gejolak di dada menarik pergelangan gadis itu hingga suara panggilan dari belakang menghentikan langkah keduanya. Mereka sama-sama membalik diri dan melihat Sisi—berseragam olahraga—menatap dengan keheranan.
Sisi mendekat. Sementara Dafin dan Fia tetep berpegangan tangan. Fia yang merasa akan mendapat masalah sekuat tenaga melepaskan cekalan pria itu. Beruntung terlepas. Ia memutuskan mundur tiga langkah.
"Sayang, kenapa kamu sama Mbak Fia ke sini?" tanya Sisi setelah melihat penampilan Fia. Sekretaris kekasihnya itu biasanya sangat rapi, tapi hari ini ...
Dahi Sisi mengernyit, ia makin menatap intens Dafin. Ia dapat menangkap kalau kekasihnya itu tengah menghela napas panjang. Firasat buruk menggerayangi benaknya. Ia kembali mendekati Dafin dan merangkul lengan pria itu.
Akan tetapi tanpa diduga Dafin melepaskan rangkulannya. Ia makin penasaran dan menatap Dafin dan Fia secara bergantian.
"Dafin, sebenarnya ada apa ini? Ayo jawab. Please, kamu jangan bikin aku takut," ujar gadis yang mengenakan pakaian olahraga itu.
Lagi, napas Dafin terdengar panjang. Sebenarnya berat untuk mengakhiri hubungannya dengan Sisi. Hanya saja ia tak bisa lagi berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja. Setelah kebohongan Sisi terungkap, ia merasa hubungannya benar-benar terasa hambar. Kekecewaan membuatnya kehilangan rasa untuk gadis itu. Sebenarnya ia sudah berusaha keras untuk menciptakan kemistri yang ada, tapi gagal. Salahkah bila ia jatuh cinta lagi?
"Sisi, dengerin aku baik-baik." Dafin memegang pundak gadis itu dan menatap matanya lekat-lekat. Mereka terdiam untuk beberapa detik.
Fia hanya bisa melihat tanpa bisa berkata. Ia juga ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Dafin.
"Sisi, maaf, aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini."
Bak mendengar petir tak kasatmata. Aliran darah Sisi terasa kering dalam sekejap. Rasanya jantung tak mendapat pompaan darah. Ia memucat, keringat dingin bercucuran dalam sedetik. Ia lantas melepas genggaman tangan Dafin dari pundaknya lalu menggenggam tangan pria itu dengan erat.
"Sayang, sebenarnya ada apa ini? Tolong katakan dengan jelas, biar aku nggak salah paham, biar aku nggak mikir yang macam-macam."
Air mata mulai tergenang di pelupuk mata. Tanpa bisa dicegah, air itu menetes dengan sendirinya. Dafin yang merasa bersalah menyeka air mata itu dengan ibu jari. Ia menyesal untuk Sisi. Ia menyesalkan rasa cintanya untuk sisi hilang tanpa bisa dipertahankan lagi. Kini hatinya sudah tertaut pada Fia.
"Sisi, hei dengerin aku baik-baik. Mungkin ini terdengar egois, tapi aku rasa ini yang terbaik untuk kita. Terima kasih karena kamu udah merubah aku jadi laki-laki yang baik. Dan maaf, aku nggak bisa membalasnya dengan setimpal, aku ... aku kehilangan rasa cinta kita Sisi."
Air mata Sisi meluruh makin banyak. Fia yang melihat adegan itu hanya bisa terdiam. Tak dipungkiri hatinya nyeri. Melihat Sisi menangis pilu seperti itu membuatnya merasa bersalah dan mulai bertanya, mungkinkah Dafin melakukannya karena dirinya?
Mendadak ia menyesal telah mengatakan tidak ingin menjadi pelakor, tapi ....
Lekas Fia menghapus air matanya. Ia menggeleng, sungguh tak ingin menjadi alasan kandasnya hubungan Dafin dan Sisi. Tanpa gentar ia maju beberapa langkah—hendak menjelaskan semuanya pada Sisi. Namun tanpa diduga Dafin malah berlutut di depan gadis itu. Sebuah tindakan yang otomatis membuat Sisi dan Fia membelalakkan mata secara bersamaan. Mereka mematung melihat Dafin bersimpuh seperti itu.
"Dafin, kamu ngapain?" tanya Sisi seraya mengelap air matanya.
"Maafkan aku, Si. Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan. Tapi aku nggak bisa bohong lagi. Aku nggak bisa bohongi perasaan ini. Aku udah berusaha tapi memang sepertinya kita harus berakhir sampai di sini saja. Aku menyukai gadis lain. Maaf, kamu berhak bahagia. Aku nggak pantas sama kamu. Kamu perempuan baik-baik. Aku menghargai kebersamaan kita selama ini dan aku nggak bakal ngelupain kebaikan kamu. Bencilah aku, Si. Benci aku sesukamu," papar Dafin. Untuk kali ini. Ia ingin jujur dengan perasaan. Tidak peduli lagi apa yang akan ia terima. Entah umpatan atau pukulan, ia akan menerimanya dengan lapang dada. "Maaf ...."
"Dafin ...."
Lagi-lagi kata itu yang bisa keluar dari mulut Sisi. Bibirnya bergetar, ia benar-benar tak bisa berpikir jernih sekarang, yang hanya bisa ia mengerti adalah Dafin berubah karena wanita lain. Seketika ia melihat Fia yang berdiri mematung di sebelah kiri, lalu kembali menatap Dafin yang berlutut dan tertunduk di hadapannya.
__ADS_1
"Apa karena dia?" Jadi telunjuk sisi terarah Ke Fia. "Apa karena Mbak Fia?" ulang Sisi lagi.
like vote jgn lupa.