Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Kang Cilok KW


__ADS_3

Hari-hari dilalui Litania dengan sukacita. Perut yang semakin berat dinikmatinya tanpa mengeluh. Berat badan sudah naik 20 kg semenjak hamil. Belum lagi masalah pencernaan—beser—yang sangat mengganggu tidur. Namun, ia tetap bersyukur sebentar lagi jagoan-jagoannya bakalan hadir di dunia.


"Mbak Sri, kita ke taman, yuk. Bosan di rumah mulu. Kalo di rumah aku bawaannya pengen makan terus," ucap Litania seraya mengunyah cokelat. Sementara mata tetap mengikuti pergerakan Sri yang sedang mondar-mandir membereskan meja makan.


"Entar aku makin gendut. Dokter udah mewanti-wanti, katanya aku udah gak boleh terlalu banyak makan lagi. Berat badan aku katanya udah over. Katanya takut ada komplikasi pas lahiran nanti," lanjutnya, sedangkan mulut masih saja tak henti mengunyah.


"Baik, Non. Saya beresin ini dulu."


Litania tersenyum sumringah. Ia angkat dari kursi. "Kalau gitu jangan lama ya, Mbak. Saya tunggu di luar. Kita godain Kang cilok. Entar Kang ciloknya keburu digebet jande tuir komplek sebelah."


Lah, kok ngomongin Kang cilok. Katanya mau jalan-jalan biar gak makan terus, nah ini belum aja keluar rumah udah mikirin makanan. Piye to. Sri membatin. Ia berdiri dekat meja sambil menggelengkan kepala. Kelakuan Nyonya majikannya itu sudah mirip adik, suka bermanja dan tak pandang bulu. Kadang heran juga, sikap Litania yang bersahabat dan ceplas-ceplos dalam berkata membuatnya merasa gadis itu adalah rakyat jelata dan bukannya orang kaya—yang selalu identik dengan keanggunan dan arogan.


Sementara Litania bersiul merdu, ia berjalan menuju luar dengan langkah pelan. Ya karena sudah tak bisa lagi jingkrak-jingkrak seperti biasa ataupun mencak-mencak mempertontonkan keahlian. Tubuh sudah berat. Melebihi beratnya rindu si Dilan.


Benar adanya, baru saja berjalan beberapa meter dari pagar rumah, Litania pun melihat Kang cilok lewat. Matanya berbinar. Siwon mah kelewat wat wat wat. Sudah terganti dengan sosok Kang cilok memenuhi hati dan sanubari.


"Mang! Mang cilok!" serunya penuh semangat.


Yang dipanggil langsung menoleh. Ya bagaimana tak menoleh, suaranya saja sudah melebihi toa masjid.


"Iya, Neng." Si kang cilok ganteng mirip Hyun Bin mendekat. Senyumnya terukir hingga lesung pipi di wajah terukir jelas.


Litania perhatikan dengan seksama. Penampilan penjual cilok, kali ini berbeda dengan penjual lain. Biasa yang menjual pastilah bapak-bapak yang sudah berumur. Nah, sekarang ....


"Untung kita keluar hari ini, Mbak. Noh ...." Bibir Litania monyong dengan dagu sedikit terangkat. "Kita ketemu Hyun Bin, KW," lanjutnya.


Si Sri yang tak paham hanya manggut-manggut. Sebenarnya tak kenal siapa itu Hyun Bin. Hanya saja melihat si penjaja mendekat, mendadak jiwa perawannya meronta. Sri tersenyum, mesam-mesem sendiri. Gemas dengan wajah rupawan si penjual. Duh! Jadi ingin nowel.


Mendekatkan wajahnya ke kuping Litania, Sri pun berbisik, "Non. Itu lesung pipinya dalem banget. Saya kan jadi pengen ngulek." Jeda sejenak, Sri menelan ludah saat Litania menatap heran kepadanya. "Maksud saya ngulek sambel di sana, Non."


"Ngulek sambal apa ngulek yang laen?" goda Litania. Si Sri hanya tersenyum kuda. Pipi wanita yang baru memasuki umur 40 tahun itu merah karena ucapan sang majikan. Meskipun nalurinya mengatakan iya, Sri tetap menggeleng seraya menahan hasrat ingin mengulek sesuatu yang lain itu.


Litania pun melangkah, mendekati Hyun Bin KW. "Ciloknya masih ada, Kang?"


"Masih, Neng, tapi gak banyak. Cuma bisa dua porsi aja."

__ADS_1


"Wah, pas itu, saya borong semua. Dengan Akang sekalian."


"Uhuk!" Si Penjual tersedak, ia melongo. Topi di kepala hampir melorot. "Maksudnya, Neng? Neng mau beli saya?" tanyanya polos plus sedikit kesal.


"Maksud saya cilok buatan Akang. Kalau saya mah udah ada yang punya. Nih buktinya." Litania memegang perutnya yang membesar. Lalu sengaja mendorong tubuh Sri agar mepet-mepet kearah si Kang cilok berdiri. "Kalo yang ini masih ori. Dijamin legit, lumer di mulut. Gak bakalan nyesel. Malahan bisa nagih."


"Non Litania," ucap Sri sedikit dalam. Bagaimanapun dia malu sekarang. Apalagi si Hyun Bin KW tersenyum manis kepadanya. Duh, jadi pingin karungin.


Setelah puas makan jajanan merakyat itu, Litania dan Sri pun kembali melanjutkan perjalanan—menuju taman di depan komplek. Senyuman tak henti terukir di wajah Litania mengingat keusilannya pada Sri dan Kang cilok tadi.


"Kenapa diem, Mbak?" tanya Litania seraya merangkul lengan Sri.


"E-enggk, Non." Sri melepas rangkulan, sungkan. Bagaimanapun dirinya hanya babu yang pasti berbau bumbu dan keringat. Tak pantas rasanya jika bergandengan dengan majikan.


Namun, Litania yang memang dari sananya suka bermanja kembali menggandeng lengan Sri. "Mbak marah sama aku?" tanyanya.


"Ya e-enggak, Non. Mana berani saya marah. Lagian kan Non Litania gada salah."


Litania manggut-manggut. "Aku kira Mbak ngambek karna aku goda abis-abisan tadi."


"Tapi aku beneran, kok. Aku butuh nomor HP-nya. Aku mau pesen cilok dengan jumlah banyak," jelas Litania.


Sri melongo. "Buat apaan?"


"Buat selamatan si kembar."


Sri berhenti melangkah. Bibirnya mengatup, tapi masih jelas terlihat berkedut. Rasanya ada gelitikan tak kasatmata yang sumpah, tak bisa Sri lawan.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Bhuahahaha ...."

__ADS_1


Tawa Sri pecah. Wanita kurus tinggi dengan rambut disanggul itu bahkan berjongkok memegang perut.


Tak Masalah jika di cap kurang ajar. Intinya ia sudah tak bisa menahan lagi. Tingkah dan ucapan absurd sang majikan membuat air matanya keluar saking tak bisa berhenti tertawa. Bisa-bisanya orang kaya pesan cilok buat selamatan. Bisa geger dunia persilatan.


Sementara Litania, melihat Sri tertawa terpingkal-pingkal begitu ada rasa dalam dada, bukan marah atau kesal, malah sebaliknya, senyumnya terbit seperti bulan sabit. Menebar kebahagiaan itulah keinginannya. Membahagiakan orang terdekat tak melulu dengan uang. Iya to iya to.


Mendadak, ada yang aneh, perut mengeras. Rasanya ada yang bergerak dan berputar. Sakit, ngilu. Litania pegang perutnya. Namun, seketika sakit itu hilang.


Apa ini? Apa aku masuk angin? kok rasanya sakit gini, ya? Litania membatin, mata masih saja melihat Sri yang tertawa.


"Mbak Sri, udah ketawanya, ayo kita jalan lagi Sapa tau ketemu Kang cendol handsome di depan," ujarnya lagi.


Sri menurut. Sekuat tenaga menahan tawa hingga sesuatu dari diri Litania memancing kecurigaan. Bagaimana tidak heran ketika melihat Litania yang tadinya lincah kini tampak kesusahan berjalan, tangannya bahkan bergetar.


"Non Litania gak apa-apa?"


Litania menggeleng. Rasa sakit itu datang lagi. "Gak apa-apa, Mbak. Aku kayaknya cuma masuk angin."


"Loh, kok masuk angin? Non Litania gak pernah telat makan, 'kan?"


Seketika Litania dan Sri adu pandang lalu tatapan mereka serentak tertuju pada perut buncit Litania.


"Apa mungkin Non Litania mau melahirkan?"


"Duh, Mbak!" Litania mencengkam lengan Sri. Sakit itu datang lagi dan lebih dahsyat dari sebelumnya. Keringat dingin bercucuran. Matanya bahkan terpejam melawan rasa sakit itu.


"Oalah, ini pasti mau melahirkan ini." Sri tuntun Litania duduk di kursi. Wajahnya juga pucat. Panik. Ia rogoh ponsel dan berusaha menelepon Chandra, tapi tak terjawab. Lalu Bambang, tapi lagi-lagi tak diangkat. Ia pegang tangan Litania kesakitan.


"Non tunggu ke sini. Saya cari bantuan dulu."


Litania mengangguk. Rasa sakit membuatnya tak bisa bicara. Ia perhatikan punggung Sri yang berlari menuju rumah.


Akan tetapi, sebuah mobil Carry melewati Sri yang tengah berlari. Kendaraan berwarna silver itu berhenti tepat di depan Litania. Sri kaget. Ia berteriak melihat majikannya tarik menarik dengan seseorang. Ia berlari ingin menolong, tapi dalam sekejap tubuh Litania sudah hilang. Dibawa penculik.


****

__ADS_1


hayoo siapa gerangan.


__ADS_2