
Pukul delapan pagi Prakoso benar-benar tiba di kediaman Chandra. Dengan membawa rombongan lamaran, ia berjalan dengan memasang wajah angkuh. Litania dan Chandra yang kebetulan ada di ruang tamu keheranan dengan kunjungan mendadak itu.
Tanpa mengurangi rasa hormat, Litania yang sebenarnya dilanda kebingungan tetap mempersilakan Prakoso untuk duduk.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Pak Chandra," ujar Prakoso.
Meski kata-katanya terdengar sopan tapi raut wajahnya tetap terlihat tidak mengenakkan. Masih saja terlihat angkuh dan sombong. Litania dan Chandra yang memang tahu perangai buruk sang tamu hanya bisa diam dan menunggu niat diutarakan.
"Bisa katakan dengan singkat, apa maksud dan tujuan Bapak datang ke sini?" sahut Chandra. Ia yang mengenakan kaus biasa bisa menerka kedatangan Prakoso.
Bagaimana tidak? Orang itu datang beserta rombongan dengan membawa seserahan. Pikirannya langsung tertuju pada Anya. Hanya saja masih berpura-pura tidak mengerti sebelum Prakoso sendiri yang memperjelas.
"Saya mau melamar Anya untuk jadi menantu saya," sahut Prakoso akhirnya.
Bergeming, Chandra dan Litania terdiam. Ia sudah tahu dan bisa memprediksi, tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa begitu mendadak? Pikiran Litania langsung tertuju pada Anya. Apa mungkin anak gadisnya itu melakukan hal yang nekat?
Litania menggeram, ia pamit undur diri dan langsung menghampiri Anya yang masih di kamar.
"Nya, buka pintunya." Litania memanggil seraya mengetuk.
Selang berapa lama pintu pun terbuka. Tampak Anya tengah menguap seraya mengucek mata.
"Kenapa, Bun? Kenapa aku dibangunin? Hari ini aku libur jadi gak berangkat kerja," ujarnya yang masih terlihat jelas sedang mengantuk.
Litania yang kesal langsung menjewer kuping Anya dan tentu saja suara erangan pun terdengar.
__ADS_1
"Apa yang sudah kamu lakukan, Nya? Jangan bilang kamu hamil anaknya Derry."
Anya yang masih tak paham tidak berhenti mengaduh. Ia pegang punggung tangan Litania, berharap bisa melepaskannya dari telinga.
"Bunda udah mewanti-wanti kamu buat ini. Tapi kamu langgar juga. Mau jadi apa kamu?" lanjut Litania, ia menggeram.
"Bunda, lepasin. Sakit! Aku gak ngapa-ngapain, Bun," sahut Anya.
Cubitan di telinga Anya Litania lepas. "Lalu, kenapa bisa Prakoso datang ke sini? Dia melamar kamu."
"Apa, Bun? Papanya Derry ke sini?" ulang Anya berteriak seraya mengusap telinga—ingin memastikan apa indera pendengaran masih berfungsi dengan baik.
Litania berdengkus, ia mengiyakan dan sontak saja sebuah jeritan keluar dari bibir Anya. Gadis itu melompat kegirangan. Litania melihat itu jadi makin kesal dan kembali menghentikan kegiatan absurd Anya dengan menerkam telinganya.
"Ayo bilang, kamu ngapain? Jangan bilang kamu hamil anaknya Derry?" cecar Litania lagi lalu melepaskan jeweran.
"Ya enggaklah, Bun. Aku pakai cara cantik biar dia berubah pikiran." Anya nyengir. Ia lihat wajah masam Litania. "Kalau gitu aku tinggal ya, Bun. Aku mau mandi, mau dandan yang cantik terus menyapa calon mertua," ujarnya lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Litania yang kesal hanya bisa menghela napas panjang, lantas kembali ke bawah. Di sana, Marni sudah menghidangkan makanan ringan serta minuman untuk Prakoso dan beberapa orang bawaan.
"Bagaimana Pak Chandra, Nyonya Litania, apa lamaran saya diterima?" ujar Prakoso lagi sesaat setelah Litania kembali merebahkan diri di sofa.
Litania dan Chandra terdiam, mereka saling pandang, bingung bagaimana menjawabnya. Satu sisi ia turut bahagia dan bangga akhirnya Prakoso yang terkenal arogan dan sombong datang memelas ingin melamar anaknya, tapi dalam hati kecil juga merasa waswas, apa nanti Anya akan baik-baik saja serumah dengan mertua seperti Prakoso?
"Terimalah lamaran saya, saya pastikan kalian nggak akan malu nerima Derry sebagai menantu. Dan saya juga yakin mereka akan bahagia mengingat hubungan yang tetap bertahan meski saya menentangnya," tutur Prakoso.
__ADS_1
"Justru dari itu saya ragu," sahut Litania. "Apa bisa saya percaya sama Anda? Bukankah Anda begitu membenci dia?"
Prakoso terdiam, harga dirinya sedikit terluka dengan ucapan Litania. Namun, ingatan tentang Derry membuatnya kembali mendesah. Ia tak ingin skandal sang anak mempunyai hubungan dengan laki-laki tersebar luas. Ia putuskan untuk menelan bulat-bulat penghinaan Litania dengan merendahkan ego dan harga dirinya sendiri.
"Kalau Anda menjadi saya, apa mungkin Anda akan menerima calon besan yang tidak menyukai anak Anda sama sekali?" lanjut Litania tegas.
Lagi, Prakoso menelan ludah. Seperti mendapat karma, karma yang benar-benar dibayar tunai. Ia juga menanyakan hal mengintimidasi seperti itu pada Anya kemarin sore.
"Kalau begitu saya akan memutuskan pisah rumah dari mertua, itu lebih aman," jawab Prakoso mantap. Ya, seperti itu lebih baik, pikirnya.
Litania mengangguk, senyum sedikit tercipta. Pisah rumah adalah keputusan terbaik.
"Bagaimana? Apa lamaran saya diterima?" ulang Prakoso. Senyum ramah tetap terpatri meski terpaksa.
"Diterima!"
Teriakan lantang Anya menggema dalam rumah yang begitu besar itu. Gadis itu berlari menuruni tangga dengan senyuman super cerah. Ia dekati ayah dan ibunya lalu menatap Prakoso dengan mata berbinar.
"Saya terima Om, saya terima Mas Derry jadi suami saya," lanjutnya dengan bersemangat.
Litania yang kesal mencubit paha gadis itu, menatapnya tajam seolah memberi tahu kalau harus menjaga martabat keluarga. Akan tetapi Anya yang sudah terlanjur bahagia mengabaikan rasa sakit dan memberikan senyuman super manis pada Prakoso, calon mertuanya.
"Jadi kapan Om, kapan aku bisa nikah sama Mas Derry?" tanya Anya lagi. Sebuah cubitan pun kembali mendarat. Namun Anya lagi-lagi tak memedulikan.
"Kalau bisa secepatnya, tapi saya ingin kalian menikah dalam bulan ini. Bukankah saudara kamu akan menikah dalam seminggu ini. Kalau bisa saya ingin waktunya disamakan saja. Biar lebih cepat dan efesien. Soalnya saya harus keluar negeri setelahnya," papar Prakoso.
__ADS_1
"Bagaiman, Pak Chandra, Nyonya Litania, apa lamaran saya diterima? Kalau tidak ...."
"Diterima, Om. Diterima," sela Anya dengan semangat empat lima.