
Mematung, Litania mengerjapkan mata. Di hadapannya sekarang terpampang jelas rumah besar tiga lantai yang mengingatkan akan kenangan masa lalu. Rumah besar tempat biasa ia bermain kala sang nenek berkunjung ke sini.
Litania tersenyum getir. Teringat jelas saat dirinya kecil yang begitu suka berlari-larian mengitari patung besar yang ada di dapan rumah itu. Patung kelinci di tengah kolam yang bisa menyemburkan air. Rumah yang mempunyai banyak kenangan yang tak bisa ia ingat satu-satu. Hanya saja rumah itu memiliki sedikit perbedaan sekarang. Terlihat lebih besar dan lebih luas. Sementara taman, masih saja tertata indah. Maklum saja, mertuanya itu memang menyukai bunga. Dari bunga dalam negeri hingga luar negeri, yang asli hingga palsu, yang bonsai sampai ke yang viral. Semua ada di taman besar itu.
"Sayang, kamu kenapa diem aja?"
Suara ringan Chandra membuat Litania tersentak. Ia putar tubuhnya dan membalas wajah bingung Chandra dengan senyuman.
"Gak apa-apa, kok. Aku cuma gak nyangka bisa dateng ke sini lagi." Tersenyum kikuk, Litania gandeng lengan suaminya itu. "Aku juga teringat dengan masa lalu. Aku dulu suka main di sana," sambungnya seraya menunjuk sebuah seluncuran yang ada di sudut taman itu.
"Ternyata kamu masih inget. Terus kamu inget juga gak waktu kamu kepergok kentut tapi gak ngaku." Chandra terkekeh, jari telunjuk mengarah pada sebuah gazebo kecil di sebelah perosotan itu. Ingatan yang membuat perutnya serasa dikelitik tangan tak kasatmata dan berakhir dengan gelak tawa.
Wajah Litania masam seketika.
"Kamu pasti inget itu, 'kan?"
"Gak, aku gak inget." Ia lepas kalungan tangannya lantas bersedekap dada. "Aku gak pernah kayak gitu," kilahnya. Padahal ingatan itu begitu melekat. Bagaimana bisa melupakan kejadian memalukan itu?
Dasar, bangkotan resek, batinnya.
Chandra yang menyadari gelagat aneh Litania, menghentikan tawanya, merangkul pundak Litania lantas mengacak-acak rambutnya. "Jangan ngambek, aku cuma becanda. Mending sekarang kita masuk. Tuh, papa udah nyambut."
Chandra arahkan pandangan matanya pada sesosok lelaki beruban yang tengah berjalan dan tersenyum memandang mereka. "Akhirnya kalian nyampe juga."
Chandra dan Litania hanya tersenyum dan menghampiri. "Mama mana, Pa?"
__ADS_1
"Mama kamu lagi jemput Chandira sama Rania. Jadi kalian masuk aja dulu, istirahat, sebentar lagi Irwan sama Reka juga bakalan datang."
Chandra mengangguk, begitu pula Litania.
"Yaudah, sekarang kamu anter Litania ke kamar. Kasihan, dia pasti capek. lagi hamil muda gini nggak baik capek-capek," ucap Bram kemudian memekarkan senyuman lantas membelai rambut panjang Litania.
Sementara Arjun yang tengah sibuk mengeluarkan barang-barang merasa terganggu oleh Kinar. Wanita itu tidak mengganggu fisik juga tidak bersuara. Hanya saja gelagatnya yang sungguh membuat risih. Mata itu, mata berbinar berkabut mesum itu selalu tertuju padanya. Sumpah, ia ingin segera melemparnya ke planet lain biar menyatu dengan anehnya para alien.
Dasar perempuan sedeng.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Litania sudah segar dan cantik dengan gaun selutut yang membalut tubuh. Sementara rambut sengaja digerai dan hanya dikasih jepitan berbentuk kumpulan kristal kecil.
Di depan cermin, ia poles wajahnya, ingin tampil cantik di depan mertua juga suami. Ingin tampak sempurna apalagi hari ini ada tamu yang ... entah rasanya nano nano.
Tatapan berkobar penuh semangat itu buyar kala mendengar seseorang mengetuk pintu tiga kali lantas terdengar suara deritan dari sana. Litania arahkan pandangannya, tampak Lita—sang mama mertua—yang memang berpenampilan anggun bak bangsawan berdiri di ambang pintu dan menatap kearahnya dengan tangan kanan menenteng bag paper berwarna red carpet. "Sayang, Mama boleh masuk?"
Litania mengangguk, ia hampiri Lita yang mengenakan kebaya coklat dan mencium punggung tangannya. "Mama apa kabar?"
"Mama baik-baik saja, Sayang. Maaf, Mama nggak nyambut kamu tadi, kamu nggak marah 'kan sama Mama?"
Litania menggeleng. "Ya enggaklah, Ma. Ngapain juga marah."
Lita tersenyum. Ia tuntun Litania duduk di sisi ranjang lantas membuka bag paper dan mengeluarkan isinya—kotak kecil persegi empat berwarna merah karpet.
__ADS_1
"Ambillah."
"Apa ini, Ma? Litania mengernyit. Bingung dengan senyuman Lita apalagi ada barang yang disodorkan kepadanya. Dengan perlahan ia sambut barang itu lantas membukanya. Dan w**aw, terpampang jelas satu set perhiasan—anting, kalung, gelang, dan cincin yang terbuat dari berlian—mahal yang membuat mata membulat, mulut bahkan sudah ternganga.
Litania belai benda berkilau itu. "Ma, ini ... ini apa Ma?" tanya Litania bingung.
"Iya, ini Mama kasih buat kamu, Sayang. Maaf, Mama nggak bisa ngasih yang lain. Chandra juga pasti sering ngasih kamu ini, 'kan? Jadi Mama rasanya minder buat ngasih ini lagi."
Litania menggeleng, mata bahkan sudah berkaca-kaca. "Tapi indah banget loh, Ma." Menatap kembali perhiasan mahal itu. "Ini beneran buat aku?"
Lita menggangguk. "Iya, Sayang. Ini buat kamu, ini hadiah dari mama sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah mau maafin Chandra dan sekarang mau ngandung cucu buat Mama."
Mata keriput wanita bersanggul itu mengeluarkan bongkahan air. Ia usap rambut Litania yang tergerai. "Maafin mama soal yang tempo hari, ya. Mama salah, Mama terlalu ngebet pengen nimang cucu jadi nggak bisa berpikir logis. Mama hanya mentingin perasaan sendiri, keinginan Mama sendiri dan enggak mikirin perasaan kamu." Mengelap jejek kesedihannya, Lita kembali berucap, "Dan sekarang Mama janji, bagaimanapun rumah tangga kalian, Mama akan selalu dukung. Mama nggak akan ikut ikut campur lagi. Mama hanya akan berdoa untuk kebahagiaan kalian."
Mata Litania yang berkaca-kaca kini tumpah juga. Air matanya meluncur bebas. Ia seka jejaknya lantas memegang tangan Lita. "Enggak, Ma. Mama ini mertua yang paling baik. Aku bersyukur punya mertua kayak Mama. Dan soal masa lalunya, aku udah ngelupain, aku udah maafin."
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak." Lita peluk tubuh Litania kemudian menepuk punggungnya. "Dan soal perhatian Mama ke Chandira, Mama harap kamu enggak cemburu, Mama hanya ingin berlaku adil, Sayang. Mama jarang hubungin kamu karna ingin menebus kekosongan yang Chandra berikan ke Chandira. Mama minta kamu mengerti, ya. Tapi sumpah, Mama enggak ada niat jahat. Mama enggak ada niat pilih kasih. Mama hanya ingin berusaha yang terbaik agar kita semua merasa nyaman, merasa bahagia, ya walaupun keluarga kita gak kayak keluarga kebanyakan. Mama juga gak nyangka ada skandal dalam keluarga kita ini."
lagi, Litania mengangangguk patuh. Air mata bahkan makin deras saja mengalirnya. Dalam dekapan Lita ia merasa nyaman dan tenang. Benar-benar serasa mama sendiri dan bukannya mertua.
"Iya, aku paham. Aku gak keberatan karena memang Chandira memerlukan kasih sayang yang lebih. Aku nggak akan cemburu, aku akan berbagi kasih Mama untuk mbak Rania juga Chandira."
Lita mengembangkan senyuman kemudian meloggarkan pelukan. Ia raba perut Litania yang terbalut gaun berwarna ungu muda. "Dan Mama harap, cucu Mama yang satu ini laki-laki, biar dia bisa mengambil alih dan menjalankan bisnis yang sudah lama melekat pada keluarga kita. Mengembangkannya jadi lebih besar nantinya."
Kini tangan Lita beralih ke pipi Litania dan mengusapnya. "Mama juga harap dia akan menuruni sikap kamu yang tangguh dan gak terkalahkan. Menuruni wajah kamu yang cantik. Duh, Mama jadi gak sabar mau ngeliat seberapa tampannya nanti Chandra junior ini."
__ADS_1
Litania tersenyum kecut. Sumpah, tak terbayangkan bagaimana perpaduan watak sang anak kelak. Jika yang dominan adalah sikapnya, pastilah akan ada perang dunia dalam rumah mereka. Litania bergidik. Ia harap itu tak jadi kenyataan. Ia belai perutnya yang rata. Bunda harap kamu mirip papa kamu. Jangan pernah mirip Bunda ya.