
"Sudahlah. Masalah ini akan saya urus lewat pengacara. Sekarang lebih baik kita pulang," ucap Chandra seraya menepuk pundak Arjun.
Mendekati Litania, Chandra lalu merangkul pundak Litania yang sudah terturun. "Kita pulang, ya. Sudah malam. Aku janji bakalan jeblosin dia ke penjara. Ingat, sekarang kamu lagi hamil. Jangan terlalu stres."
Mendesah panjang, Litania ikuti saran Chandra dan tentu saja diikuti oleh Kinar dan juga Arjun.
Perasaan mereka sekarang jangan ditanya lagi. Semuanya bergelayut dalam pikiran masing-masing. Bahkan di sepanjang perjalanan semuanya memilih bungkam.
Hening ... hening yang begitu lama. Semuanya seperti mengerti apa yang di perlukan Kinar. Ketenangan. Ya, hanya itu yang bisa mereka berikan. Gadis eksentrik itu bahkan menempelkan kepalanya di kaca jendela. Sebuah tindakan yang entah mengapa membuat Arjun merasakan sakit. Hatinya perih melihat Kinar seperti itu.
Arjun kepalkan tangannya, ia sandarkan kepala yang berat di jok mobil seraya berpikir keras bagaimana menjobloskan Alex ke penjara. Awas kau Alex, pria busuk sepertimu gak bakalan bisa menyimpan ****** lama-lama. Percayalah, ****** itu akan jadi racun untuk dirimu sendiri.
"Tenanglah. Saya akan pastikan dia menebus kesalahannya. Jadi kalian jangan khawatir," ucap Chandra menengahi kebisuan. Ia yang tengah menyetir marasa tak tega dan kasihan. Rasa iba menyerangnya setelah mendengar kenyataan pahit yang menjadi asal mula keanehan di diri Kinar. Dirinya adalah salah satu lelaki yang memandang aneh Kinar.
Akan tetapi tetap tak ada yang menjawab. Keadaan kembali hening hingga tibalah mereka di depan sebuah gedung tinggi tempat Arjun tinggal—apartemen Chandra dulunya.
Membuka kaca mobilnya, Chandra tatap wajah pucat Arjun. "Masuklah, dan istirahat. Bersihkan dirimu," ucap Chandra setelah memperhatikan penampilan Arjun. Bercak darah bahkan mengotori baju serta jaket asistennya itu.
Arjun mengangguk patuh. Akan tetapi saat mobil berlalu, wajah murung Kinar kembali membuatnya bimbang. Entah kenapa ingin rasanya ia menghibur gadis jelmaan macan tutul itu. Benar-benar berharap ocehan serta gombalannya kembali mengudara.
Di dalam apartemen.
Arjun buka kulkas dan menenggak air putih dingin yang ada di sana. Dadanya terasa terbakar. Ia benci mengingat penderitaan Kinar, kebrengsekan Alex, serta ketidakberdayaannya membuktikan kejahatan. Belum lagi wajah sedih Kinar berputar-putar terus dalam kepala.
Mengembuskan napas panjang, Arjun masukkan kembali teko kaca itu lalu menuju kamar, ingin mengistirahatkan pikiran dan tubuh yang memang tidak enak sedari pagi.
"Kinar, bagaimana nasib buruk itu menimpa kamu? Bagaimana bisa kamu bertemu dengan iblis seperti dia?" gumam Arjun. Ia rebahkan diri di ranjang dengan mata terpejam. Parahnya bayangan Kinar yang tengah menangis dan ketakutan kembali membuatnya resah. Ia buka mata dan melihat plafon kamar. "Bersabarlah. Aku akan tunjukkan kalau keadilan itu ada dan nyata."
Sementara itu, mobil yang dikendarai Chandra terus saja melaju hingga mereka tiba di halaman rumah. "Sayang, bangun, kita sudah sampai."
Litania yang sempat terlelap langsung mengerjapkan mata. Tampak Chandra tengah tersenyum dengan mimik wajah yang tak kalah lelah. "Kita sudah sampai?" tanyanya dengan suara serak.
Chandra mengangguk. Bagaimanapun ia paham karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jadi wajar saja jika semuanya tampak kelelahan.
"Kinar, ayo turun." Chandra berucap seraya membuka sabuk pengaman yang melingkar di pinggang Litania. Ia tolehkan lagi kepalanya ke belakang dan masih mendapati ekspresi lesu Kinar. Litania yang menyadari kesedihan Kinar hanya bisa menghela napas.
"Kinar," panggil Litania, "kamu baik-baik aja, 'kan?"
Kinar tersentak. Ia yang awalnya terdiam di dalam mobil mulai bisa menguasai pikiran. Panggilan Litania membuatnya sadar dari lamunan.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa, Litan. Tenang aja. Aku gak akan mati hanya karena ini."
Memperhatikan wajah cemas Litania, Kinar mengukir senyum terpaksa lantas keluar dari mobil masuk ke rumah.
Oke Kinar, semua akan baik-baik saja. Tenang saja. Semangatlah. Jangan kalah dengan pikiran sendiri. Dunia belum berakhir. Tuhan gak pernah tidur.
Kinar terus saja membatin, berusaha menguatkan diri. Akan tetapi sedetik kemudian wajah Arjun mulai terbayang. Bagaimana brutalnya Arjun menghajar Alex. Bagaimana kuatnya Arjun membela dan melindunginya. Seketika itu juga keyakinan pada Arjun menjadi berkali lipat. Senyum Kinar kembali terukir.
Akan tetapi samar-samar wajah pucat pria itu memutus khayalan. Mendadak perasaannya tak enak. Ia hentikan langkahnya yang hendak naik ke lantai dua—di mana kamarnya berada. Kok firasatku gak enak. Apa dia sakit? Apa aku samperin aja?
Memutar arah tujuan, Kinar langkahkan kakinya menuju kamar Litania. Beruntung temannya itu baru menyentuh gagang pintu.
"Litan."
Litania sontak membalik diri. "Kenapa Kinar? Ada yang kamu perlukan?"
Kinar menggeleng. "Aku boleh minjem mobil suami kamu gak?"
"Kamu mau ke mana?" Litania bertanya seraya menautkan alis. "Kamu kelihatan lelah gitu. Besok aja ya ...."
"Enggak, aku enggak apa-apa, Litan. Sekarang aku udah tenang, jadi jangan khawatir. Cuma sekarang aku merasa khawatir sama Arjun, dia kayaknya sakit."
Chandra yang berdiri tak jauh dari Kinar, mengangguk setuju. Ia juga merasa ada yang aneh pada gelagat Arjun hari ini.
"Gak perlu. Aku bisa sendiri. Lagian ini sudah malam. Aku yakin Pak Bambang sudah tidur."
"Tapi Kinar—"
Lisan Litania terpotong kala Chandra memegang bahunya. Pria itu bahkan memberikan kunci mobil pada Kinar. "Pergilah. Hati-hati."
Kinar tersenyum lega. Senyumnya seakan mengatakan ribuan terima kasih untuk Chandra dan Litania. Ia beruntung mempunyai orang baik disaat terburuk seperti ini.
"Tapi passwordnya apartemennya?"
"Untuk apa?" ucap Litania seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Tenanglah, aku nggak bakal ngapa-ngapain. Aku cuma takut dia kenapa-kenapa."
Litania mengangguk paham. "Passwordnya 2 6 7 6 3 6."
__ADS_1
"Ya udah, kalian istirahat ya. Aku pergi dulu."
Setelah punggung Kinar lenyap, Chandra tuntun Litania masuk ke dalam kamar. Mereka duduk di sisi ranjang. Chandra yang tahu wajah resah Litania menghela napas panjang, lantas mengarahkan wajah lesu Litania agar menghadapnya.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja. Aku akan berusaha buat cari bukti. Jadi aku minta kamu jangan banyak pikiran. Kasian Junior."
Namun bukannya menjawab, Litania malah mengembuskan napas makin panjang. "Tapi tetap aja kasian, Kinar. Dia pasti terpukul. Aku takut dia ngelakuin hal yang enggak enggak. Aku takut—"
Lisan Litania terjeda karena Chandra telah meraih tubuhnya dan memeluk dengan mesra. "Gak akan kayak gitu. Aku yakin Kinar kuat. Lagian kenapa bisa kamu rahasiain rahasia sebesar ini? Harusnya si brengsek Alex itu kita penjarahan dari dulu."
Litania melepaskan pelukan lalu menatap mata sendu Chandra. "Bagaimana bisa aku buka aib Kinar. Sedangkan Kinar saja menutupnya rapat-rapat. Orang tuanya bahkan nggak tahu kejadian sebenarnya. Jadi apa hak-ku buat ngasih tahu orang lain?" Litania mendesah panjang. "Gak ada. Aku diam karena memang Kinar yang mau."
"Baiklah. Sekarang jangan dipikirin lagi. Oiya, kamu mau makan apa? Kamu belum makan, 'kan?" tanya Chandra karena memang tidak ada yang sempat makan malam. Lagian siapa yang bisa menduga hal mengerikan terjadi saat double date mereka?
Litania menggeleng. "Gak deh. Aku gak laper."
"Tapi Litan ...."
"Aku belum laper." Litania berucap penuh penekanan dengan suara manja. "Kalau laper aku pasti makan. Jadi jangan khawatir," lanjutnya seraya mengukir senyuman.
"Baiklah."
"Tapi ngomong-ngomong, kok bisa ya CCTV sebanyak itu nggak ada yang menangkap perbuatan mesum Alex. Sedangkan kalau mendengar cerita dari Kinar, Alex bahkan bahkan sempat memeluknya. Masa iya sih nggak kelihatan," ucap Litania.
Chandra terdiam sesaat—mencerna kecurigaan Litania yang juga sempat menjadi kecurigaannya. Hanya saja tadi pikirannya tak sampai ke sana. Aneh memang, biasanya ia begitu teliti dalam hal apa pun tapi hari ini mendadak melupakan hal yang mendasar. Harusnya ia ikut mencari bukti bukannya percaya lalu pergi.
Chandra rogoh ponsel yang ada di saku celana, ia berdiri lantas mencoba menghubungi seseorang.
"Ara, tolong kamu cari informasi tentang laki-laki yang bernama Alex Julian. Dia seorang guru yang mengajar di SMP 2 di Jakarta Selatan. Tolong kamu cari informasi yang mendetail tentang dia. Cari tau semuanya. Dan satu lagi, selidiki keluarganya. Saya mau besok urusan ini selesai. Dan juga, tolong bilang sama suami kamu. Tolong selidiki latar belakang security yang bekerja di sebuah mall. Nanti akan saya kirimkan alamat serta namanya. Saya minta kerjakan sekarang."
Hening sesaat, tapi sedetik kemudian senyum Chandra terukir. "Terima kasih. Saya percaya sama kalian."
Chandra mematikan sambungan telepon dan tampak mengetik pesan. Setelah selesai ia kembali duduk di sebelah Litania. "Tenanglah, ada Ara dan suaminya. Mereka profesional."
Litania mengkerutkan dahi, ia tatap lekat Chandra yang duduk di sebelahnya. "Emang Mbak Ara bisa?"
Litania keheranan. Pasalnya Ara tampak anggun dan elegan, mustahil bisa melakukan hal yang dibatas kewajaran. "Bukannya ini pekerjaan laki-laki, ya?" tanya Litania lagi
Chandra tersenyum lalu mencubit gemas pipi Litania. "Kamu baru tahu ya kalau Ara itu sekertaris multitalenta. Apa jadinya aku tanpa dia?"
__ADS_1
Litania mencebik lantas bersedekap dada. "Sebegitu pentingnya 'kah seorang Ara?"
"Tentu saja penting, tapi bagi perusahaan. Tapi bagi aku, kamu yang paling penting," ucap Chandra seraya memeluk lagi tubuh Litania. "Udah ya, jangan bahas ini. Kita istirahat aja. Udah malem. "