Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Dafan, Sisi, Anya.


__ADS_3

Hening hingga dua menit pun berlalu sia-sia. Dafan bungkam sedangkan Sisi masih saja menatap lekat Cinta yang sedang terpejam.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Dafan akhirnya.


Sisi mendelik lalu membalas dengan senyum yang ambigu. "Ya beginilah kabarku," sahutnya.


Dafan yang awalnya duduk tegak berakhir merebahkan punggung di sandaran sofa. Kakinya menyilang dengan mata terfokus ke depan—terarah pada Cinta yang terbaring di atas ranjang—dengan pikiran yang sudah melanglang buana.


"Aku salut sama kamu. Kamu bisa merelakan Dafin. Bukannya hubungan kalian sudah cukup lama?" tanya Dafan lagi tanpa melihat Sisi.


Sisi membalas dengan kekehan. Ia perhatikan Dafan yang duduk di sebelahnya. Pria itu tampak keren dengan jas putih membalut tubuh.


"Hubungan lama nggak menjamin awet, Fan," jawab Sisi tenang.


"Ya ya ... aku ngerti. Buktinya ada di depan mata jadi gak mungkin juga aku membantahnya," balas Dafan dengan terkekeh pula.


Hening lagi, keduanya sama-sama bergelayut dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya Dafan berdeham. Ia benar-benar tidak bisa berpura-pura lebih lama lagi.


Melirik Sisi yang masih saja menatap Cinta, Dafan pun kembali bertanya, "Apa kamu benar-benar baik-baik saja? Apa kamu benar-benar enggak punya dendam atau sakit hati sama Dafin maupun Fia?"


Namun, bukannya menjawab Sisi malah menarik napas panjang lalu tertunduk. Sedetik kemudian kembali mengangkat kepala. Ia melihat Dafan lalu tersenyum sedikit.


"Tentu saja aku kenapa-napa. Aku manusia, bukan robot. Aku terluka tapi sayangnya gak keliatan berdarah. Aku ini perempuan, Fan. Yang bisa baper dan identik dengan tangisan." Jeda sejenak, Sisi ikut merebahkan punggung di sandaran sofa. Ia perlu waktu untuk menarik napas serta menenangkan hati yang mulai berulah. Matanya kembali berkaca-kaca.


Dafan yang melihat itu menyerahkan sapu tangan miliknya. "Pakailah. Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan."


Seketika tangis Sisi tumpah. Ia benar-benar menggunakan sapu tangan milik Dafan dengan semestinya. Dari air mata hingga air dari hidung. Ia seka tanpa peduli Dafan jijik atau tidak. Baginya sesak dalam dada benar-benar lebih menyiksa.


"Kami pacaran lumayan lama. Walaupun hubungan itu bermula dengan kebohongan dan niat terselubung, tapi aku menjalaninya tulus," ujar Sisi setelah mengeluarkan ingus. "Tapi aku juga nggak bisa memaksakan kehendak, Dafan. Cinta Dafin udah pergi. Dan itu karena aku. Aku tahu sifat dia. Dia paling nggak suka dibohongi, tapi aku ... aku yang mengaku mencintainya malah melakukan hal yang dibenci. Bukankah aku terlihat nggak tahu diri dan cari mati?"


Kini Sisi memutar badan dan melihat Dafan. Tak ada lagi rasa malu, sudah kepalang tanggung. Lagian Dafan sendiri yang mengatakan "jangan ditahan" padanya.


"Kalau kamu, apa yang kamu rasakan? Apa kamu gak sakit hati? Apa kamu ingin merebut gadis itu lagi?" tanya Sisi. Ia yang sudah bisa bisa menata hati melihat lekat Dafan yang duduk bersedekap. Posisi masih sama—bersandar. Pria itu tampak tegar.


Namun tanpa Sisi bayangkan, Dafan menghela napas juga. Terdengar lebih menyedihkan. Putus asa dan frustrasi, begitulah kedengarannya di telinga Sisi.


"Tentu saja aku sedih. Tapi aku nggak punya alasan untuk melakukan itu, Si. Kalau dia menyukaiku, aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan, tapi masalahnya yang ingin aku perjuangkan tidak ingin aku melakukan itu." Dafan membenarkan posisi. Ia duduk tegak lalu membalas tatapan sisi. "Sepertinya nasib cinta kita sama saja. Kita sama-sama ditinggalkan."


Sisi dan Dafan sama-sama tersenyum. Bukan senyum bahagia melainkan senyum penuh kesedihan.


"Apa kamu bisa ikhlas?" tanya Sisi setelah lelah mengukir senyuman yang hanya bertahan beberapa detik saja. Ia kembali duduk tegak. Matanya menatap kosong ke arah depan.


"Ikhlas?" ulang Dafan. Ia terkekeh hambar. "Apa kamu tahu apa artinya ikhlas?" tanya Dafan balik. Ia juga membenarkan posisi, sama seperti Sisi.


"Ikhlas artinya merelakan," jawab Sisi sekenanya tanpa menoleh.


"Lalu apa kamu yakin bisa ikhlas?" tanya Dafan lagi.


Sisi terdiam sejenak lalu mengangguk ragu. "Bagaimana dengan kamu?" balas Sisi sambil melirik Dafan. Pria itu hanya diam.


"Yang kita bisa lakukan sekarang adalah ikhlas agar gak terlalu kecewa," lanjut Sisi lagi, seperti menasehati.


Akan tetapi sebuah seringai terbentuk di wajah Dafan. "Aku rasa kata ikhlas gak cocok untuk kita."


Statement Dafan barusan membuat dahi Sisi mengernyit. Alisnya tertaut menandakan butuh penjelasan lebih lanjut.


"Aku pernah dengar seseorang bilang kalau ikhlas itu sesuatu yang susah. Hanya orang tertentu aja yang paham dan bisa merealisasikan apa itu yang namanya ikhlas dalam kehidupan mereka." Lisan Dafan terhenti. Ia menatap lekat Sisi yang tampak kebingungan. "Dan untuk kasus kita lebih bisa dibilang keterpaksaan, keterpaksaan menerima kenyataan. Sering menghadapi rasa sakit akhirnya membuat kita terbiasa. Dan aku percaya itu. Jujur, aku nggak bisa ikhlas. Tapi aku akan berusaha menelan rasa pahit sampai tiba waktunya aku bisa menerima kenyataan kalau Fia memang nggak milih aku."


Sisi berdecak kagum. "Gak aku sangka, ternyata cintamu terlalu dalam. Tapi bukannya ada pepatah yang bilang, selama janur kuning belum meleng—"


"Aku gak mau berharap lagi," sela Dafan. "Aku memang menyukainya, cintaku juga tulus untuk dia. Tapi gak berani ambil resiko. Jika aku keras kepala, gak hanya Dafin yang terluka, tapi Fia dan juga orang tua kami."


Sisi manggut-manggut. "Kamu laki-laki gentle. Aku salut."


Dafan lagi-lagi terkekeh hambar. "Tapi aku gak setangguh kamu. Aku akan berangkat dalam beberapa hari. Aku mau melanjutkan studi di luar negeri. Aku malu mengakuinya, tapi bisa dibilang aku mau kabur. Mungkin beberapa tahun pergi membuatku bisa menerima kenyataan."


"Apa harus se-ektrim itu?" tanya Sisi. Matanya melotot. Tak menyangka bahwa Dafan akan pergi lagi padahal baru satu tahun menginjakkan kaki di tanah air.


"Iya, semuanya sudah aku pikirin baik-baik," balas Dafan tanpa beban.


Menggelengkan kepalanya, Sisi lalu berdecak. "Apa gak bisa di pikirin lagi? Apa gak bisa melanjutkan di sini saja?" lanjutnya.


Kini Dafan yang menggeleng. "Aku udah bertekat. Lagian ini jalan terbaik. Aku juga harus menggapai cita-cita yang sudah lama aku inginkan."


Sisi manggut-manggut lagi, dalam hati membenarkan perkataan Dafan. Mungkin, jalan agar bisa melupakan adalah menjauh. Dan saat sudah terbiasa dengan kenyataan, mungkin rasa sakitnya sedikit berkurang. Terbiasa karena terpaksa, terdengar menyedihkan.


"Ya sudah kalau begitu." Berdiri, Dafan ulurkan tangannya. "Sampai jumpa lagi," ujarnya kemudian tersenyum kecil.


Sisi menyambut, ia berdiri juga lalu membalas senyuman Dafan. "Semoga sukses, Fan. Semoga kedepannya kita gak patah hati lagi."


Harapan terakhir Sisi membuat Dafan akhirnya tertawa. Ia tepuk pundak Sisi dengan sebelah tangan. "Sukses juga buat kamu," ujarnya lalu pergi.


Dalam beberapa langkah, Dafan telah hilang dari ruangan. Kini tinggallah Sisi bersama Cinta yang sedang terpejam. Ia dekati lagi Cinta dan duduk di sebelahnya, lantas menggenggam kuat tangan anak itu. "Semoga hidupmu nanti gak seperti Kakak. Kakak harap kamu hidup dengan banyak cinta. Sama kek nama kamu. Hidup dengan bertabur cin—"


Akan tetapi sebuah bunyian nyaring dari arah pintu membuat Sisi terperanjat. Ia yang tak bisa menyelesaikan lisan justru mencari asal suara dan mendapati sosok pria berjas hitam tergopoh mendekatinya.


Sisi terdiam. Ia mematung dan baru sadar setelah pria itu melewatinya dan memeluk Cinta tanpa permisi.


"M-miko?" Sisi sampai terbata saking tak percaya dengan apa yang ia lihat itu. Benarkah itu Miko? Pria tanpa ekspresi yang ditemuinya tadi pagi.


Miko berdiri lagi lalu menatap Sisi lekat-lekat. Sisi dapat melihat kekhawatiran dalam bola mata Miko. Iris mata pria berusia 28 tahun itu bergerak liar. Ketakutan begitu kentara. "Sebenarnya ada apa dengan anak saya? Ada apa dengan Cinta?"


Sisi yang nyatanya masih shock hanya bisa mengerjap heran. Ia tak menyangka sosok pria yang grasak-grusuk dan terlihat kebakaran jenggot di hadapannya kini adalah Miko, si pria dinding.


Alih-alih menjelaskan Sisi justru menelan ludah. Ia sama sekali belum bisa mencerna apa yang ada di depan mata. Dengan bibir bergetar ia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Miko, dia anak kamu?"


Miko mengiyakan. Ia dekati lagi Cinta yang terbaring di ranjang lalu menatapnya lekat. "Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia gak bangun juga? Sebenarnya apa yang terjadi?" ulangnya tanpa memalingkan wajah. Ia masih setia melihat wajah pucat sang anak semata wayang.


"Dia baik-baik saja. Cuma butuh istirahat. Anak kamu kelelahan dan stres. Jadi pingsan pas di depan rumahku," papar Sisi.


Miko menoleh sekilas Sisi lalu kembali melihat Cinta. Ia mencium tangan gadis kecil itu lalu merapikan poni yang sudah berantakan. "Maafkan Papa, Sayang. Maaf ...."


Lirih, suara Miko terdengar penuh penyesalan dan Sisi yang mendengarnya ikut terbawa arus. Ia tahu betul bagaimana rasanya. Ia seka air mata yang menetes tanpa permisi lalu mendekati Miko. Kini mereka berdiri sejajar dengan Cinta sebagai titik fokus.


"Tenanglah, dia baik-baik saja, dia cuma butuh istirahat."


Miko tak merespon, ia terus menatap Cinta meski anak itu terpejam.


"Ini." Sisi menyodorkan kertas persegi empat pada Miko. Miko menoleh karenanya.


"Apa ini?" tanya Miko


Namun, Sisi tak menjawab. Miko yang penasaran meraih kertas itu lalu membacanya. Seketika ia tertunduk dan terduduk. Bahu pria dinding itu terguncang. Sisi hanya bisa terheran-heran.


"Dia nyari alamat itu," lanjut Sisi. "Dia datang sendirian."


Miko terdiam dan tak berniat melihat Sisi atau menjawab pertanyaan. Ia hanya menatap lekat sang anak yang masih terlelap.


Sisi yang merasa kehadirannya tak diharapkan pun memutuskan memutar tumit—hendak pergi. Namun, baru juga selangkah, Miko pun memanggil. Sisi berakhir kembali membalik diri. Ia pandangi punggung Miko dari belakang.


"Terima kasih karena Nona sudah mau menjaga Cinta."


Sisi yang ada di belakang Miko terdiam beberapa detik.


"Ini semua karena saya. Saya gak becus menjaganya. Saya lalai. Di rumah dia hanya ditemani pengasuh." Ucapan Miko terjeda, ia terlihat menarik napas dalam-dalam. Sisi yang ada di belakang masih setia menunggu kelanjutan ceritanya.


"Dan ini." Miko mengangkat tangan yang memegang kertas, "sebenarnya ini alamat mamanya yang lama."


Mamanya? ulang Sisi dalam hati. Ia yang ada di belakang Miko makin tak mengerti. Bukannya sebutan yang pas itu istri saya? Ini kenapa dia nyebut istrinya seperti itu? Ada apa ini? Sisi bermonolog lagi.


Ia mengerjap, entah kenapa prihatin pada Miko dan Cinta. Niat hati ingin sekali melisankan pertanyaan yang barusan berputar dalam benak, tapi urung bertanya karena takut dibilang usil.

__ADS_1


"Mamanya kabur. Pergi pas umur dia baru dua tahun. Dan baru-baru ini saya bilang yang sebenarnya. Mungkin dia gak percaya makanya nyari sendiri," jelas Miko. Desahan putus asa terdengar jelas. Sisi yang mendengarnya ikut terbawa perasaan. Ia dekati pria itu, menepuk punggungnya dua kali.


"Sabarlah. Jadi single parents memang gak gampang. Aku salut sama kamu. Kamu mau berjuang sendiri." Sisi tersenyum getir. Air matanya menetes lagi. Miko yang sudah tahu cerita kelam Sisi pun berdiri, menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukan dan menepuk punggungnya. Mereka saling menguatkan meski tak mengatakan apa pun.


***


Di waktu yang sama tapi berbeda kota, Anya tengah berada di aula bersama siswa lain yang sama-sama duduk kelas tiga. Mereka sedang mendengarkan pidato.


Suasana di sana begitu hikmat dan hening. Hanya terdengar suara kepala sekolah yang menggebu-gebu bercerita dan memberi wajengan di podium. Semua mata tertuju pada orang itu.


Tak terkecuali Anya, ia yang duduk di bangku pojokan terlihat bungkam. Matanya tertuju ke depan. Bukan mendengarkan melainkan menahan debaran jantung yang luar biasa kuat. Ia gugup, sungguh. Hari ini adalah hari yang di nanti. Hari penentuan. Apakah ia akan dijemput dan dibawa balik lagi ke Jakarta ataukah tetap tinggal di Semarang dan mengulang pelajaran?


Memikirkan itu Anya jadi bergidik. Ia benar-benar tidak ingin mengulang. Bukan karena takut tertinggal melainkan takut ajakan Derry akan hangus. Membayangkan itu Anya mendesah lirih.


Ya kali pak Derry mau nunggu. Kalo dia kecewa terus bilang tawarannya kadaluarsa, bagaimana?


Anya mendesah frustrasi setelah bermonolog. Ia sentuh layar ponsel dan melihat potret Derry yang tengah berdiri di samping white board. Foto itu ia ambil diam-diam waktu Derry masih mengajar.


Anya mendesah lagi. Ia merindukan sosok itu. Sudah dua bulan mereka tidak bertemu dan hanya berkomunikasi lewat ponsel saja. Itu pun saat Derry mengingatkan untuk belajar.


Tak berapa lama ponsel yang Anya pegang, bergetar. Ternyata sang bunda yang mengirim pesan. Dengan semangat empat lima Anya membukanya.


[Sayang, gimana hasilnya? Lulus gak?]


Anya mendesah. Ia terpaksa membalas. [Belum, Bun. Masih menunggu.] send.


Pesan kembali masuk.


[Kalau lulus, Bunda sama Ayah bakalan ngabulin permintaan kamu]


Senyum Anya langsung terbit. Lekas-lekas ia membalas pesan itu. [Bunda gak bohong, 'kan? Aku bisa minta apa aja?]


Pesan dari Litania kembali masuk. [Tentu. Kamu boleh lakukan apa pun. Yang penting kamu lulus. Kalo enggak ....]


Anya jadi penasaran. Pesan Litania terputus di tengah-tengah. Namun, sedetik kemudian kembali masuk.


[Kalo gak lulus, kamu harus mengulang di sekolah yang sama. No paket, no sogok.] Ada emot pisau setelahnya.


Tangan Anya langsung melemah. Pupus sudah harapan untuk menjadi pacar Derry jika memang benar tidak lulus sekolah.


Tanpa diduga sosok yang baru saja ada di pikirkan sudah merebahkan diri di sebelah kiri. Anya berjengket dan mengucek mata saking tak percaya.


"Gimana? Apa kamu gugup?" tanya sosok itu dengan berbisik.


Anya ternganga, matanya membulat, tapi sedetik kemudian senyumnya kembali hadir. Ia lantas mencubit paha Derry. Seolah-olah ingin memastikan bahwa yang dilihat adalah Derry sungguhan dan bukannya makhluk hasil imajinasi. Alhasil suara mengaduh pun terdengar. Beberapa siswi sontak melirik sinis.


"Sakit, Nya. Kenapa saya dicubit?" protes Derry dengan berbisik. Ia usap pahanya lalu berdengkus sedikit.


Sementara Anya, hanya nyengir seraya menggaruk-garuk kepala. "Sorry, Pak. Tadi cuma mau mastiin," balasnya tanpa rasa bersalah.


"Ck, emang ada gitu orang yang mau mastiin tapi nyubit orang lain?"


Anya kembali nyengir. Ia perhatikan wajah tampan Derry. Wajah yang terakhir ia lihat babak belur kini sudah kembali tampan dan membuatnya tanpa sadar berimajinasi liar. Lekas-lekas ia menggeleng.


"Kenapa?" tanya Dery keheranan.


Anya kembali menggelengkan kepala. Ia salah tingkah juga. Paras sang idola makin terlihat manis saja.


"Jangan dulu depresi sebelum liat hasil ujian, Nya," celetuk Dery yang sontak membuat hayalan Anya menghilang. Ia cemberut dan sukses membuat Dery terkekeh pelan. "Mikirin apaan lagi?"


Anya menggeleng lesu. "Pak Derry kok di sini?" tanya Anya tanpa menjawab pertanyaan Derry barusan.


"Kenapa? Nggak seneng?" tanya Dery balik, wajahnya serius.


Gegas Anya menggeleng, ia tersenyum canggung lalu melihat ke sekitar. Semua mata siswi kembali terarah padanya. "Bukan gitu, Pak. Cuma saya kaget aja."


Dery manggut-manggut. "Gimana, hasilnya belum diumumin ya?" bisik Dery lagi.


Anya mengangguk. "Pak Kepsek kelamaan pidato. Pantat aku udah pegel duluan," sungut Anya sambil menggerakkan pinggang ke kanan-kiri. Rasanya bangku seperti tersulut api tak kasatmata—panas.


Pertanyaan itu sontak membuat Anya tertunduk. Desahan lirih menjadi akhirnya.


"Kenapa, gak PD?" tanya Dery lagi.


Anya mengangguk lesu.


"Bukannya kamu selalu belajar?"


"Belajar sih tetep belajar, Pak. Tapi tetep aja ragu."


"Ragu kenapa?" tanya Dery yang makin penasaran. "Kalau beneran belajar pasti bisa ngisi soal, dong."


Anya tak menjawab. Dery pun dibuat gugup. Ia lihat lekat gadis yang sedang tertunduk yang ada di sebelahnya. "Kamu bener-bener belajar, 'kan?" ulang Dery memastikan.


"Ya iyalah, Pak. Aku udah belajar benar-benar."


"Tapi kenapa ekspresi wajah kamu gitu?"


"Karena yang bisa aku isi kira-kira cuma 40 persen soal."


"Lah, sisanya kamu kosongin?" Dery makin waswas.


"Ya enggak. Tetep aku isi. Tapi pake ilmu TPOK."


"TPOK?" ulang Dery. Pikirannya langsung tertuju pada tepung terigu.


Eh tapi itu kan tapioka, batin Derry menyanggah. Ia menggaruk kepala, mendadak serasa jadi orang bodoh. Ia pun tak tahan untuk tak bertanya, "TPOK apaan, Nya?"


"The power of kepepet, Pak. Alias itung kancing. Kadang juga di undi kek arisan," balas Anya tanpa beban.


"Kamu ngelakuin itu?" tanya Dery sedikit nyaring. Lagi-lagi mereka mendapat perhatian.


Anya mengangguk. "Yah namanya juga kepepet, Pak."


Dery langsung tepok jidat. Ia melongo tapi ekspresi Anya membuatnya makin tak percaya.


"Saya datang jauh-jauh dari Jakarta pengen lihat hasil usaha kamu. Saya sebenarnya penasaran, tapi ...."


Ucapan Dery tak terselesaikan dan justru di sambung dengan desahan.


"Tapi saya udah usaha, Pak. Bapak gak liat usaha saya?" balas Anya sambil mengerucutkan bibir.


Dery menggaruk tengkuk yang mendadak tegang. Ia mengangguk dan hanya bisa menghela napas panjang sambil berpikir, apakah ada harapan untuk gadis di sebelahnya itu?


Melihat Dery yang tengah menatap depan, Anya jadi teringat dengan tawaran yang didengarnya dua bulan lalu.


"Pak, Pak Derry," panggil Anya.


Derry hanya berdeham. Ia kehabisan kata dan tenaga.


"Bapak serius dengan ucapan Pak Derry kemarin?" tanya Anya.


"Tentang apa?"


"Tantang itu," balas Anya ambigu. Pipinya bersemu dengan jemari yang saling tertaut. Derry yang melihatnya jadi gemas. Ia pun tersenyum lalu berbisik, "Tentu saja. Apa saya terlihat seperti pembohong? Lagian itulah alasan utama saya datang."


Anya mati kata. Ia benar-benar gugup. Jantungnya bertabuh makin hebat. Selain bahagia ia juga merasa resah. Bagaimana jika hasil yang masih di tangan kepala sekolah tidak memuaskan? Apa Derry akan tetap menyukainya?


"Loh, mau ke mana?" tanya Derry saat melihat Anya yang sudah berdiri.


"Saya mau ke toilet, Pak."

__ADS_1


Lagi, Derry tersenyum kecil. Anya benar-benar membuatnya selalu tak bisa berkata apa-apa. Gadis cantik tapi cenderung tak teratur itu telah mencuri hatinya saat baru pertama kali bertemu. Saat itu Anya yang tengah beradu mulut dan tengah mempertahankan harga diri terlihat keren di matanya.


Entahlah, apa itu yang namanya cinta? Agak absurd dan diluar nalar, tapi Dery tak bisa menampik perasaan itu, ia tak pernah bisa mengenyahkan bayang Anya dari ingatan.


Dan tak lama setelah hari itu mereka dipertemukan kembali. Pertemuan yang membuat jantung Dery cenat-cenut. Dalam diam ia selalu memperhatikan tingkah Anya. Kadang senyum, kadang gemas juga dengan tingkah Anya. Akan tetapi kelemahan gadis itu dalam pelajaran membuatnya sedih. Ia bertekat akan mengubah Anya menjadi gadis pintar dan berpendidikan tinggi sebelum meresmikan hubungan ke jenjang yang pasti.


Sementara itu di luar aula, Anya terus berjalan menahan debaran di dada. Pipinya memerah dengan senyum yang entah kenapa tak bisa lepas. Selalu tercipta tanpa ia sadari. Bibirnya selalu melengkung jika membayangkan Dery.


Ah ... jadi keinget Nara. Apa kabar dia? Sekarang aku ngerti, kenapa dia begitu memperjuangkan Bang Dafan. Mungkin ini yang dia rasakan. Kebahagiaan.


Anya terus bermonolog. Kadang mengingat Dery, kadang juga teringat Nara. Campur aduk dan tak bisa dijabarkan satu-satu.


Namun, tanpa Anya sadari ada dua gadis yang mengikutinya dari belakang. Gadis yang sudah lama mengincar dirinya tapi tak punya bukti untuk mem-bully. Dan hari ini terjawab sudah kecurigaan mereka—kalau Anya dan Dery punya hubungan.


Tibalah di dalam toilet, keduanya melihat Anya yang tengah berdiri di depan cermin.


"Chika, Mila ngapain kalian ngeliatin aku kek begitu?" tanya Anya. Ia membalik diri dan memindai wajah Chika yang terlihat merah padam. Gadis yang katanya punya ayah seorang jaksa itu mengintimidasi Anya. Tapi sayangnya Anya tak merasa begitu. Ia kembali membalik diri dan mencuci tangan.


"Jangan ngeliatin aku ke begitu. Ngomong aja langsung. Kalian mau apa?" tanyanya dengan nada datar.


Bukannya menjawab Chika malah memberi kode pada Mila. Gadis berperawakan gendut dan pendek itu pun langsung mencekal lengan Anya. Anya terhuyung, punggung membentur dinding.


"Hey kalian mau apa?" tanya Anya lagi yang sudah naik spaning. Ia lihat wajah Mila lalu Chika dengan nyalang. "Jangan macam-macam sama aku ya. Lepas gak!"


Chika menyeringai. Ia dekati Anya lalu menoyor kening Anya. "Ternyata kamu main belakang, kamu punya hubungan kan dengan Pak Dery? Apa gara-gara kamu Pak Dery sampai berhenti mengajar?" tanya Chika, terlihat dan terdengar songong.


"Kalau iya, kenapa?" Anya balas menantang. Dagunya terangkat. Ia hendak maju, tapi Mila menghalangi. Alhasil punggungnya kembali membentur dinding.


"Aku peringatkan, jauhi Pak Dery. Dia incaranku." Mata Chika melotot saat mengatakan itu.


Namun sayangnya lagi-lagi Anya tak takut sama sekali. Gadis berkucir kuda itu pun menyeringai. "Oh ya? Kalau aku nolak?"


Chika menggeram. Ia layangkan tangannya lantas menjambak rambut Anya. Anya yang merasakan pipinya perih sama sekali tak mengaduh. Malah matanya membalas tatapan Chika tak kalah bengis.


"Wah berani kamu ya?" Chika terkekeh lagi. "Mata kamu minta dicongkel?" gertaknya seraya berancang-ancang akan mencolok mata Anya dengan jari telunjuk dan tengah.


Namun Anya yang sudah terlanjur kesal mendorong Mila hingga terjungkal dan tanpa ampun menerkam dua jari Chika lalu memutarnya.


Chika meringis. Jarinya serasa patah. "Lepasin gak! Sakit!"


Erangan Chika terdengar pilu. Sayangnya Anya sudah terlanjur kesal. Ia terus mencengkeram kedua jari tangan Chika hingga jari itu melemas ke belakang.


Mila mendekat, tapi Anya dengan cepat menampar Mila dengan sebelah tangan lalu tanpa aba-aba menarik paksa kerah bajunya. Tiga kancing berceceran dan tampaklah pakaian dalam Mila.


"Jangan ikut campur!" hardik Anya


Mila mudur. Ia tutupi tubuhnya yang terekspos.


Kini mata Anya tertuju pada Chika yang meringis. Genggaman tangannya pasti sangat menyakitkan.


"Kenapa? Sakit?"


Chika mengangguk. Ia meringis lagi.


"Makanya jangan berani sama aku. Selama ini aku diem bukan berati aku takut. Aku cuma males berhubungan dengan cunguk yang pasti bikin hidupku susah."


Anya melepaskan cengkeraman. Ia terkekeh kecil lalu peri melewati kedua gadis itu.


Dengan senyum penuh kemenangan Anya kembali menuju aula. Namun matanya membulat saat melihat semua siswa tengah melompat kegirangan. Anya yang sudah kadung penasaran mendekati Dery.


"Pak amplopnya mana?" tanyanya antusias.


Dery terdiam. Ia menghela napas berat. "Nya. Saya harap kamu kuat."


Anya langsung menggelang, panik. "Aku gak lulus ya, Pak?" terkanya.


Dery bergeming. Lekas Anya menyambar kertas itu dan tertera tulisan lulus di sana. Seketika senyumnya terbit tapi tak lama berganti. Mata menyipit melihat Dery. "Bapak ngerjain saya?''


Dery terkekeh. "Kalian lulus semua. 100 persen."


Anya langsung melompat kegirangan. Ia keluarkan ponsel dari saku lalu memfoto kertas itu.


"Jadi kamu mau lanjut kuli—"


Belum juga sempat menyebut kata "yah" Anya sudah berlari. Ia berjingkrak kegirangan sambil meletakkan ponsel ke telinga.


Sementara itu, di Jakarta. Litania tengah gelisah. Ia mondar-mandir di balkon rumah dengan ponsel dalam genggaman.


Chandra yang kebetulan lewat langsung menghampiri. "Kenapa? Kok gelisah gitu?'' tanyanya seraya merebahkan diri di sofa panjang yang ada di sana.


"Lagi nunggu kabar dari Anya. Aku penasaran apa anak kita itu lulus?"


Chandra yang mendengar keresahan Litania ikutan gelisah. Ia tepuk sofa panjang yang ada di sebelahnya—sebagai kode agar Litania mendekat.


Litania menurut, ia merebahkan diri di samping Chandra. Keduanya terdiam beberapa detik.


"Kita pasrah ajalah. Kita tau kapasitas otaknya. Kita juga udah berusaha bikin dia pinter. Tapi ya gitu. Hasilnya belum keliatan."


Litania menghela napas panjang. "Aku sebenarnya ingin kita menghabiskan masa tua kita dengan tenang. Aku ingin kita beristirahat. Tapi Anya ...."


Helaan napas Litania makin terdengar panjang. Chandra yang mendengarnya tersenyum lalu menggenggam erat tangan Litania. "Percayalah, anak kita itu duplikat kamu."


"Maksudnya aku bodoh, gitu?" Litania melirik sadis. Chandra terkekeh geli karenanya.


"Kok ketawa?" tanya Litania yang sudah di mode hulk—siap mengamuk.


Chandra menghentikan tawanya. Ia lalu menatap lekat-lekat wajah Litania yang masam kecut. "Maksud aku. Walaupun otaknya gak sepintar abang-abang, dia tetep anak kita. Pandai menjaga diri. Jadi jangan berkecil hati, ya."


"Tapi masa depannya?"


"Pintar belum menjamin masa depan cerah. Mungkin dia punya keahlian lain selain pelajaran.'


"Apaan? Berantem?"


Kekehan Chandra mengudara lagi. Matanya yang keriput menyipit karena tertawa. Ia benar-benar selalu takjub dengan istrinya itu.


Akan tetapi sebuah notifikasi pesan membuat Litania berhenti memandang Chandra. Ia lalu melihat isi pesan dan tercipta senyum super manis di bibir yang baru saja mengomeli suaminya itu.


"Kenapa?" tanya Chandra.


"Anya lulus, dia lulus," balas Litania. Kekhawatiran yang selama ini menghantui akhirnya pergi. Sang anak telah lulus. Ia bahkan menangis saking terharunya.


Tak berapa lama ponsel kembali bergetar. Tertera nama Anya di sana. Lekas-lekas Litania menjawab panggilan itu


Sedetik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Apa! Kamu minta kawin!


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2