
Maaf ya Gaes. Otor baru smbuh tapi dihadapin dengan anak2 yang ketularan demam. oiya jgn lupa like komen dan vote. happy reading.
***
Seminggu setelah kepergian Kinar. Hidup Litania dan Chandra kembali seperti semula. Mereka sering menunjukkan kemesraan tanpa takut digoda. Sering berjalan berdua lagi tanpa ada yang menengahi. Kebersamaan mereka makin terasa erat dan Chandra menyukai itu. Merasa Litania kembali menjadi miliknya secara utuh. Tak ada lagi yang bisa menggeser posisinya. Semenjak ada gadis itu, dirinya selalu menjadi nomor dua. Jujur, kadangkala cemburu menyerang saat Litania memberikan perhatian lebih pada Kinar. Picik sekali pikiran si calon bapak itu. Ck! Ck! Ck!
***
"Morning, Dear ...."
Suara lembut Chandra membangunkan. Litania mengerjap dan membenarkan posisi untuk duduk lalu bersandar di kepala ranjang dengan mata sudah tertuju pada Chandra. Sedikit heran, prianya telah rapi dengan pakaian santai—celana jeans dan kaus putih polos—dan kini tengah tersenyum hangat.
"Kenapa bengong? Pangling, ya?" godanya lantas kembali melihat pantulan diri di depan cermin seraya menyisir rambut.
"PD banget, sih!" Litania berdecak sebal. Namun, tak dipungkiri ada kekhawatiran yang menjalari pikiran setelah melihat penampilan sang suami yang masih tergolong aduhai. Ia yakin pria tuanya masih mampu menarik minat para Hawa di luaran sana.
"Tapi kok udah rapi? Mau ke mana? Ini 'kan hari Minggu." Ucapan Litania terjeda sejenak. Ekor matanya mengikuti pergerakan Chandra yang sedang mengeluarkan jas santai dari dalam lemari. "Kok semalam gak bilang mau pergi. Gak ngajak juga. Aku curiga, loh."
Chandra yang sudah rapi hanya tersenyum gemas. Ia langsung menghampiri perempuan yang baru saja mengomel dengan wajah yang sudah cemberut. Ia paham, istrinya itu tengah merajuk.
Merebahkan diri di sisi ranjang, Chandra duduk berhadapan dan menggenggam tangan Litania. "Aku gak bakalan macam-macam. Aku keluar karna ada keperluan mendadak. Ada orang penting yang ngajak ketemu."
"Siapa?" Mata Litania langsung menyipit. Seakan sedang menginterogasi panjahat kelas kakap. "Bukan perempuan, 'kan?" lanjutnya.
"Ya elah, ni mata kok gitu amat sih. Udah kayak ngeliatin apaan." Chandra terkekeh sebentar lalu menowel hidung Litania. "Aku ada perlu sama orang penting, laki-laki, jadi jangan marah gitu, dong. Gak baik loh pagi-pagi udah cemberut."
Litania masih bungkam hingga Chandra berinisiatif merogoh saku celana hendak menunjukkan pesan orang yang mengajaknya bertemu. "Ini baca dulu pesannya."
Namun Litania mengabaikan. Ia menggeleng tanpa melihat isi pesan itu. Wajahnya yang sempat cemberut, sedikit melemas. Ia berakhir memeluk tubuh pria yang telah mewarnai hari-harinya. Menghirup dalam-dalam aroma mint dari kolonye yang pria itu gunakan. Menenangkan hingga tanpa sadar senyumnya terukir dengan mata yang kembali terpejam. "Aku gak perlu liat. Tapi, ini beneran masalah pekerjaan, 'kan?"
"Iya."
__ADS_1
"Gak yang aneh-aneh, 'kan?"
"Iya ...."
"Entar kalau ada yang godain ... jangan dipeduliin."
"Iya, gak akan."
"Jangan ganjen. Jangan tebar pesona."
"Ya ampun sampe segitunya. Udah dibilang juga. Aku itu cintanya cuma sama kamu." Chandra lepaskan pelukan. Ia tatap wajah kusut nan cemberut istrinya. Sedetik kemudian senyumnya terukir jelas. "Gak akan aku ngeliatin wanita manapun. Suer!"
"Iya, aku percaya. Cuma para perempuan di luar sana yang bikin aku gak percaya. Pelakor itu banyak jenis dan modelnya. Terlebih lagi mereka buka cabang di mana-mana. Aku takut kamu tergoda."
"Ya elah, ni pikiran kok jauh banget maennya. Udah mikir yang enggak-enggak aja. Lagian tu pelakor apa klinik pengobatan tradisional. Kok bisa buka cabang di mana-mana." Chandra kembali terkekeh. Ia rangkul tubuh Litania lagi dan mengusap punggungnya, lantas mendaratkan kecupan di pucuk kepala gadis itu. Ia paham betul, perubahan sikap Litania karena hormon kehamilan. Jadi sebisa mungkin menghadapi dengan kepala dingin.
Litania menggeleng. Wajahnya masih cemberut. "Aku seriusan ...."
"Aku malah dua rius. Eh enggak, seribu rius." Chandra pegang kedua belah pundak Litania. Mata mereka bersitatap. "Gak akan ada pelakor di rumah tangga kita. Aku jamin. Aku siap miskin kalau emang terbukti selingkuh. Jadi stop mikir yang enggak enggak. Oke."
Di kafe tak jauh dari rumah Chandra, seorang pria bertubuh gempal dan kepala sedikit sulah tengah duduk tenang menatap kopinya. Pria itu beberapa kali melihat arloji dan sesekali melihat pintu masuk. Suasana kafe yang tenang dan sepi membuatnya nyaman. Sementara dua pria tegap tengah berdiri tegang dengan mata awas menyapu sekitar.
"Pak Frans?"
Pria tua itu sedikit terperanjat tapi berakhir tersenyum. Ia berdiri dan mengulurkan tangan pada sang tamu yang tak lain tak bukan adalah Chandra.
"Iya, saya Frans."
"Saya Chandra." Chandra menjabat tangan terlulur Frans
"Silakan duduk," tawar Frans.
__ADS_1
Chandra mengangguk, lantas duduk. Matanya melihat sekeliling. Aneh, biasa kafe ini ramai pengunjung tapi kenapa sekarang begitu sepi? Apa orang ini udah menyewa seluruh gedung? batin Chandra berbicara. Matanya terfokus pada pria tua yang kira-kira seumuran dengan ayahnya.
"Oiya, kira-kira ada perlu apa?" tanya Chandra to the point.
Si Frans tersenyum. Ia seruput kopinya. "Gak mau pesen minum dulu?"
Chandra terdiam lagi. Matanya memindai wajah tua pria itu lumayan lekat dan berakhir mengangguk. "Saya pesan coffe latte saja."
Sontak salah seorang pria berjas hitam yang berdiri di belakang Frans, berlalu pergi dan tak lama balik lagi dengan nampan di tangan berisi pesanan Chandra.
"Jadi bisa kita bicara sekarang, Pak Frans?" tanya Chandra setelah menyesap sedikit kopinya.
"Gak ada pembicaraan penting. Jangan terlalu formal begitu, Nak Chandra. Saya tau kita baru pertama kali bertemu. Tapi kamu pasti sudah kenal dengan anak saya. Jadi anggap saja saya ini om kamu.
Chandra terdiam. Ia masih bertanya-tanya dalam benak. Kenapa seorang Frans mengajaknya bertemu tanpa seorang pun tahu. Terlebih lagi istrinya, Litania.
"Begini ...." Frans meletakkan gelas kopi lantas menyandarkan diri di sandaran kursi. Matanya menatap fokus ke arah Chandra. Satu hal yang Chandra rasakan saat berhadapan pada sosok pria sukses seperti Frans, yaitu berwibawa.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih sama kamu dan Litania. Karena kalian, anak saya sekarang sudah baik-baik saja. Dia mau balik dan kuliah lagi. Terima kasih karena sudah menampungnya selama dia berada di sini."
Chandra tersenyum canggung. "Itu bukan hal besar, Pak Frans. Kinar sahabat Litania. Dan Litania istri saya. Saya akan ngelakuin apa aja agar istri saya senang."
"Dan soal Alex. Jujur ... saya marah dengan diri sendiri. Saya merasa gagal menjadi orang tua. Saya gak tau apa pun soal Kinar." Wajah berwibawa Frans mendadak hilang, berganti menjadi sedih. Bahkan matanya sudah tampak berkaca-kaca.
"Sudahlah, Pak. Kita bukan Tuhan yang bisa tau isi hati orang, meskipun itu keluarga sendiri. Kalau yang bersangkutan gak cerita ya kita bisa apa? Kita gak bakalan tau isi hatinya. Lagian Alex sudah mendapat ganjaran." Genggaman Chandra mengetat kuat. Membentuk tinju. Mengingat sosok Alex membuatnya kembali meradang. "Oiya, saya dengar, Ariska ikut Kinar ke Inggris?" lanjut Chandra.
"Iya, Gadis berani itu ikut Kinar di sana. Gadis itu selain penyelmat juga menjadi alasan Kinar untuk balik ke Inggris. Kalau gak ada Ariska. Dia pasti gak mau balik ke sana."
Chandra manggut-manggut.
"Frans kembali menyeruput kopinya. "Saya boleh nanya hal lain?"
__ADS_1
"Chandra terdiam, ragu. Namun berakhir mengangguk juga. "Tanya aja, Pak."
"Saya mau tanya soal Arjun."