
Sementara itu, di jam yang sama tapi berbeda kota tampak Anya tengah termenung di bawah pohon Ara. Matanya menatap nanar selembar kertas yang ada di tangan. Hasil remedial matematika yang harus membuatnya terpaksa mengelus dada dan mengernyitkan dahi begitu lama. Ia pijit kepalanya yang serasa pening, lagi-lagi harus menghadapi yang namanya remedial. Bukan yang pertama maupun kedua, lebih tepatnya yang ketiga. Nilai 70 tertera di sana, padahal minimal untuk lulus tes ulangan mid semester adalah 75.
Mendesah panjang, Anya mengingat lagi iming-iming ibunya yang mengatakan akan menambah jumlah uang jajan plus mendapat vocer belanja sepuasnya jika nilai ulangan yang gagal itu mencapai angka 80. Sungguh, ia greget, tapi ....
"Boro-boro 80, ini angka 70 aja aku ngikutin remedinya sampe tiga kali. Dan besok aku harus lakuin remedi yang ke 4. Mana cuma aku sendiri. Yang laen udah pada lulus. Lah aku, gak lulus-lulus." Menghela napas makin panjang, Anya pukul kepalanya beberapa kali dengan empat buku jari. Ia pukul terus hingga sakitnya lumayan terasa dan membuatnya mengaduh sendiri.
"Kapan ya otakku bisa encer. Please dong, pinter dikit. Biar bisa dapat tambahan jajan. Biar bisa shoping ke mall. Masa anak pengusaha menderita terus, sih? Udah setengah tahun jajannya cuma bakso sama teh es doang," lanjutnya seraya mengusap kepala yang baru saja ia pukul.
Tanpa diduga sebuah panggilan dari arah belakang membuat Anya berjengket. Ia berhenti meratapj nasib saat melihat Ella—teman sebangkunya—sedang berlari kecil datang mendekat.
"Ada apa, La?" tanya Anya keheranan. Ella yang tengah membawa setumpuk buku paket di tangan tampak ngos-ngosan.
"Kamu di panggil pak Dery ke ruang BP," balas Ella, suaranya terdengar terputus-putus.
"Pak Dery? Sekarang?" ulangnya meyakinkan diri.
"Iya, sekarang. Buruan cepat. Sebentar lagi bel bunyi."
Dalam kebingungan Anya pun memutar tumit, tapi belum juga menjauh, ia kembali membalik diri dan menghampiri Ella. Ia tatap Ella dengan serius. "Kira-kira Pak Dery mau ngapain ya El? Aku gak bakalan dikeluarin dari sekolah kan ya?" cecarnya gelisah.
Ella menggeleng. "Ya gak tau, coba aja cari tau sana. Udah ya. Aku yg mau bagiin buku paket ini ke anak-anak."
Anya mendesah lagi. Ia perhatikan Ella yang sudah hilang dari pandangan dan mulai melangkah ke arah kantor. Kegundahan menemani langkahnya. Ia benar-benar takut kalau akan dikeluarkan dari sekolah mengingat kemarahan Litania. Ia sungguh tak ingin tinggal kelas maupun pindah sekolah. Jika itu terjadi, entah apa hukuman yang akan ia terima.
Mungkinkah dipecat jadi anak?
Bergidik ngeri, Anya usap bulu kuduk yang meremang lalu memperlaju langkah hingga tibal di sebuah ruangan.
Berani-berani takut, Anya ketuk pintu bercat putih tulang dan mendapat sahutan dari dalam sana.
"Permisi, Pak. Bapak manggil saya?" tanya Anya setelah menyembulkan kepala. Ia dapat melihat pria muda yang menjadi wali kelasnya tengah membuka lembar demi lembar yang ada di tangan.
"Iya, Bapak memang manggil kamu."
__ADS_1
Dery menurunkan kacamata baca yang bertengger di hidung, alisnya naik sebelah, heran saat melihat Anya masih saja menyembulkan kepala tanpa mau masuk ke ruangan.
"Mau sampe kapan kamu berdiri di sana. Ayo masuk. Bapak mau ngomong sama kamu," lanjut Dery
Anya memberanikan diri. Ia melangkah mendekat dan berdiri tegap di depan Dery. Sebisa mungkin menjaga lisan dan perbuatan agar tak berakhir kurang ajar. Pasal kesalahpahaman enam bulan yang lalu saja ia harus mendapat ceramah Lita dari pagi sampai petang, full satu mingguan.
Lita lebih menyeramkan dibanding ibunya. Itulah yang Anya simpulkan selama tinggal bersama Lita dan Livia. Ia bertekat tidak akan membuat ulah yang bisa membangunkan singa betina tua yang kesepian seperti Lita.
Anya bergidik lagi, mata melotot Lita membuatnya menatap Dery dengan nanar. "Sebenarnya ada apa ya Pak? Kenapa Bapak manggil saya ke sini?" tanya Anya.
"Begini. Saya to the point aja ya, Nya."
Anya mengangguk. "Katakan saja, Pak."
"Nilai kamu memprihatinkan. Kamu sebentar lagi bakalan ujian. Tapi, nilai kamu ...." Bukannya melanjutkan kata, Dery malah menghela napas berat setelah melirik kertas yang ada di tangan. "Nilai kamu meresahkan," lanjut Dery dengan mimik wajah kecewa.
Anya tak kalah kecewa. Kalau bisa ia juga ingin pintar dan mendapat nilai sempurna. Tapi mau bagaimana lagi, kapasitas otaknya tak bisa menampung banyak pelajaran apalagi yang sudah berbulan-bulan. Anya pelupa dan tak tahu cara mengantisipasinya.
Diberondong pertanyaan banyak seperti itu membuat Anya menunduk dalam. Pertanyaan Dery juga sama dengan apa yang ada di pikiran. Ia juga tak habis pikir, kenapa bisa begitu bodoh padahal begitu banyak hal yang menunjangnya untuk pintar?
"Apa kamu punya masalah sekolah di sini?" tanya Dery, matanya menyelidik.
Lekas-lekas Anya menggeleng.
"Lalu?'
Hening. Anya hanya menggigit bibir bawah dengan meremas jari tangan yang terasa dingin dan kaku.
"Saya perhatiin kamu pun jarang berinteraksi dengan teman sekelas. Apa kamu kesulitan bergaul?" tanya Dery lagi.
Lagi-lagi gelengan kepala yang menjadi jawaban Anya. Bukan tak bisa bergaul, ia hanya membatasi diri. Tak mau lagi kasus Shireen terulang. Mempercayai orang lain begitu dalam akan melukai diri sendiri sama dalamnya
"Lantas? Jawab dong, Nya. Kalau kamu cuma geleng-geleng kepala bagaimana bisa saya bantuin kamu?" cecar Dery, nada bicaranya terdengar sedang kesal.
__ADS_1
Masih dengan posisi menunduk, Anya pun menjawab, "Saya juga gak tau, Pak. Kak Livia begitu telaten ngajarin saya. Guru les yang datang ke rumah juga pinter dan ramah."
"Lalu?" Dery seperti kehilangan kesabaran. Ia memejamkan mata beberapa kali. Mencoba menekan emosi karena jawaban Anya yang berbelit-belit.
"Saya juga gak tau alasannya. Saat belajar sama tutor yang saya rasakan cuma ngantuk. Terus sama Kak Livia juga gitu. Jadi saya sama sekali gak bisa mencerna apa pun yang mereka katakan," jujur Anya.
"Bagaimana dengan les bareng teman-teman yang lain? Saya dengar teman sekelas kamu bikin grup belajar. Kenapa kamu gak nyoba ikutan mereka?" usul Dery antusias, tapi desahan kecewa menjadi akhirnya saat mendapat gelengan kepala Anya. "Kenapa gak bisa?"
"Saya gak bisa kalau rame-rame. Jadinya malah gak fokus."
Dery memijit pelipisnya. Kesabarannya mulai menipis. "Jadi kamu maunya gimana? Kamu murid saya. Saya mau kamu sukses dan lulus."
Anya mengangkat kepala, ia menatap iba pada Dery. "Bagaimana kalau Bapak yang nolong saya?"
Dery bergeming. Matanya membalas tatapan yang dilayangkan Anya. Heran. "Maksud kamu?"
"Maksud saya saya minta Bapak yang ajarin saya. Khusus saya sendiri aja."
Dery menggeleng. Tak setuju. "Maaf, Anya. Kalau itu saya gak bisa. Saya ...."
"Please, Pak. Saya maunya juga pinter. Tapi kalau belajar di rumah saya gak bisa fokus. Manatau kalau Bapak yang ngajarin saya bisa ngeh dan paham."
"Maksud kamu. Kamu mau les ke rumah saya?'' tanya Dery. Matanya melotot.
"Iya, Pak. Kan rumah kita gak jauh."
"Maaf, saya gak bisa kalau itu. Kalau kamu mau, saya bakalan kenalin kamu sama tutor yang bagus. Tapi jangan saya. Saya harus mengajar di sekolah lain. Ada dirumah cuma malam aja."
"Ya gak masalah, Pak. Kan kita tetanggaan. Cuma lima langkah udah sampe."
Dery berpikir sejenak lalu menatap Anya. Gadis itu terlihat putus asa. Ia pun berakhir mengiyakan meskipun tidak yakin apakah cara itu akan membantu meningkatkan nilai Anya yang anjlok. Hancur. Gadis itu mendapat nilai terendah satu kelas.
Yang nanyain Dafan. entar ada part tersendiri ya.
__ADS_1