
Memoles wajah dengan make up, Litania bersenandung ria di depan cermin. Wajahnya sudah terlihat cantik dan segar. Lipstik berwarna merah muda ia bubuhkan di bibirnya. Sementara rambut yang panjang dan lurus kini sudah berganti bentuk, menjadi sedikit bergelombang di bagian ujung.
"Sukses, aku cantik." Litania bergumam bahagia, senyumnya terkembang sempurna. "Kenapa gak dari dulu aku dandan, ya? Pasti bang Binbin bang Icang, sama bang Siwon bakalan terpana denganku." Sedetik kemudian senyum aneh Litania terkembang lebih lebar.
Tak dipungkiri ada rasa berpuas hati kala melihat penampilan baru. Perubahan yang signifikan. Entah apa yang mendasari. Hanya saja dorongan dalam diri membuatnya ingin tampil cantik di depan Chandra. Apalagi mengingat hinaan yang dilontarkan oleh dua pegawai Chandra karena tak dianggap layak menjadi seorang istri pimpinan.
"Oke, Litan. Tunjukkan pesonamu. Kasih mereka pelajaran karena udah cari gara-gara." Litania bergumam pelan seraya menarik ujung sebelah bibirnya. Niat jahat sudah memenuhi sudut otak. Tinggal laksanakan dengan segera.
Memutar tumit, Litania hampiri suaminya yang masih terlelap, lantas mendaratkan diri di sisi ranjang. Diperhatikannya wajah terlelap itu dengan seksama. Chandra begitu tenang dalam tidur membuatnya mengulas senyuman lagi. Entah mengapa level ketampanan pria itu makin tinggi saja hingga tangannya tak sadar telah mendarat di dahi lantas turun ke hidung, perlahan turun lagi ke bibir dan ups, tangan ganjen itu berhenti di sana.
Mata Litania makin berbinar. Diusapnya perlahan bibir Chandra. Sapuan jari telunjuk yang sungguh pelan tetapi berulang-ulang hingga Chandra yang tadinya terlelap menjadi membuka mata. Pria itu tampak berjengket kaget, sedetik kemudian melenguh lega.
"Aku kira ulet, loh." Mengehela napas lega, Chandra kembali berkata, "Kamu kenapa? Laper?" tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun.
"Enggak, aku gak laper."
"Lalu?" Chandra telah duduk. Jujur, mata masih mengantuk dan terasa berat. Setelah permintaan aneh Litania—elus jakun dan telor dadar angsa—semalam, dirinya hanya sempat tidur lima jam.
Litania menggeleng, senyumnya kembali merekah, dan entah mengapa ia gemas dengan bibir Chandra. Ia daratkan ciuman bertubi-tubi di bibir itu. Chandra tentu saja kaget. Ia mengernyit, heran akan sikap Litania.
Tiga puluh kecupan mendarat dalam waktu tiga puluh detik.
"Kamu kenapa? Tumben," tanya chandra. Ia garuk tengkuknya yang tak gatal. Sementara wajah masih saja memasang mimik keheranan.
"Kenapa? Gak suka?" Senyum Litania menguap, bibirnya menjadi manyun beberapa senti. Ia punggungi Chandra lantas bersedekap dada. Mendengar kata tumben entah mengapa membuatnya terhina. Kesal, perlakuan romantisnya tak dianggap malah dibilang "tumben."
Dasar pak tua gak peka. Nyebelin.
Chandra yang sudah tau ada aura-aura kesal Litania langsung mengambil langkah cepat. Tak ingin mendapat hukuman yang entah seberapa buruk lagi. Ia peluk tubuh Litania yang sudah terbalut dress berwarna merah. "Jangan ngambek. Entar cantiknya ilang, loh."
"Bodo amat."
"Jangan gitulah, masa pagi-pagi udah cemberut.
"Salah siapa?" ketus Litania.
"Iya, iya aku salah. Maaf ...."
__ADS_1
Masih tak ada respon dari Litania, membuat Chandra berpikir sejenak lantas mulai menjalankan hasil dari buah pikirannya. Disibaknya rambut tergerai Litania lantas mendaratkan kecupan ringan di sana. Namun masih tak ada balasan. Chandra bingung. Biasanya Litania akan berakhir tertawa kala mendapat serangan di leher.
Hem, kok aneh. Kenapa gak berefek? Batin Chandra. Sementara yang di bawah sudah terpancing. Ah sialan, aku yang tegang sekarang. Tapi boleh gak, sih.
Memori Chandra kembali berputar kala berbincang dengan dokter kandungan saat Litania pingsan.
"Dok, kalau lagi hamil begini ... boleh berhubungan badan gak?"
Sang dokter yang bernama Novita itu tersenyum. Ginsulnya tampak manis saat tersenyum. Sungguh, baru kali ini dia menemukan suami pasien bertanya soal itu secara terang-terangan tanpa menunjukkan rasa malu.
"Gak kok, Pak. Yang penting istri bapak sehat. Ciptakan suasana yang nyaman. Jangan di paksakan. Foreplay yang cukup sama gunakan posisi yang nyaman. Jangan lupa juga, harus releks saat penetrasi."
Senyum Chandra kembali terukir. Penjelasan sang dokter membuat ketakutannya hilang seketika. Ia eratkan pelukan dan kembali mengecup pelan pundak Litania.
"Sayang, jangan ngambek, dong. Masih pagi ni."
"Emang kenapa kalau pagi?" Suara Litania makin ketus saja. Ia bahkan berucap tanpa mau memandang Chandra.
"Pagi-pagi harusnya kita olahraga, biar sehat," ucap Chandra, sedangkan tangan sudah mulai menjalankan aksi pemanasan—berjalan pelan, dari perut, turun mengitari paha dan berakhir di muara area sensitif Litania.
"Kamu nakal. Jadi harus tanggung jawab." Senyum menyeringai penuh nafsu Litania terpancar. Membuat Chandra lagi-lagi harus mengernyit, tapi sedetik kemudian berakhir tersenyum juga.
"Iya, ayo kita olahraga pelan."
***
Memasuki lobi dengan wajah bahagia, Litania tak henti bergelayut manja di lengan Chandra. Ia sengaja memperlihatkan hubungan dan statusnya pada semua karyawan dan staf. Semua orang tentu saja memandang heran sekejap lalu menunduk segan. Sementara Arjun yang mengekor dari belakang, hanya mampu menggeleng akan tingkah aneh istri bos-nya itu.
Menepuk punggung tangan Litania, Chandra tersenyum memandangnya. "Sayang, kamu yakin mau ikut ke sini? Nanti kamu bakalan bosen."
"Gak apa-apa."
"Terus soal dua resepsionis itu bagaimana? Kamu yakin aku gak perlu pecat mereka?"
Litania menggeleng. "Gak usah. Biar aku ada hiburan. Aku mau bersenang-senang dengan mereka di sini. Aku mau kasih pelajaran sama dua perempuan ganjen kemaren."
Mata Litania mendadak berapi-api. Mengingat kejadian di toilet itu membuatnya kesal. Ia benci perisakan dan pengeroyokan.
__ADS_1
Tibalah mereka di dekat meja resepsionis. Dua wanita yang Litania maksud tengah memucat memandangnya. Sebuah penampakan yang membuat Litania makin tak sabar untuk menjalankan aksi balas dendamnya.
Pertama, ayo kita pemanasan, batin Litania seraya menyeringai. Mata ia buat melotot tajam.
Sukses, dua wanita bertubuh tinggi semampai dengan kemeja hitam dan rok hitam selutut itu, tampak pucat dan menunduk segan.
Oke, trik kedua, ayo laksanakan.
"Hey, kalian! Ayo sini!" Litania gerakkan empat buku jari. Mendistreditkan dua wanita dewasa itu dengan tatapan menghunjam.
Tanpa memerlukan waktu lama, Nadya dan Raisa langsung menghampiri. Kedua wanita dewasa itu menundukkan pandangan dengan meremas jemari tangan.
"Maafkan sikap kami kemarin, Bu. Kami gak tau kalau Ibu—"
"O ... jadi kalian bakalan seenaknya aja kalau saya bukan istrinya dia?" Litania menoleh Chandra sekilas lalu kembali menghunjamkan tatapan sinis pada kedua wanita itu. "Kalian akan berperilaku kurang ajar seperti itu dengan orang yang keliatan susah!"
Hening. Semuanya terdiam.
"Lagian, kalian bukannya berpendidikan. Kenapa bertingkah kurang ajar begitu? Apa saking tingginya pendidikan kalian, kalian ngelupain pelajaran SD tentang budipekerti? Apa orang yang keliatan lebih rendah dari kalian, bisa kalian rendahkan?"
Nadia dan Raisa masih bungkam, begitu pula dengan para karyawan yang lain. Suasana ramai lobi mendadak senyap dalam seketika.
Oke Litan. Kamu keren. Ayo lanjutkan.
"Ayo, jawab! Apa kalian akan merendahkan orang yang keliatan miskin dari kalian? Apa kalian akan paham perasaan orang miskin jika kalian merasakannya lebih dulu? Apa kalian mau memulainya dengan jadi pengangguran lebih dulu?"
Seketika dua wanita itu langsung berlutut. "Maafkan kami, Bu. Tolong jangan pecat kami. Kami mengaku salah." Nadya, wanita itu bahkan menangis mengucapkannya.
"Iya, Bu. Maafkan kami. Kami bakalan terima hukuman apa pun. Tapi tolong, jangan pecat kami." Si Raisa, angkat bicara. Ia bahkan meberanikan diri memandang Litania dengan mengatupkan kedua belah tangan. Membuat jmhati Litania merasa tak nyaman dalam sekejap.
Berdehem, Litania mengusir rasa iba itu. Tenang, jangan keliatan lemah. Mereka udah masuk dalam skenarioku. Jadi fix, tinggal poles dikit.
Bersedekap dada, Litania edarkan matanya menyapu sekitar. "Ingat, kalian gak boleh menilai orang dari penampilan. Lalu kalian pilih melalui kasta. Emangnya kalian hidup di jaman apa? Apa kalian mau direndahkan juga? Inget. Di atas langit masih ada langit."
Semuanya masih tertunduk. Sementa Chandra tersenyum. Ia terpana akan ceramah istri kecilnya itu. Ternyata kamu sudah dewasa sekarang, ya. Aku seneng, kamu udah berubah.
"Jadi, hukuman dariku ... Kalian jadi cleaning servis selama sebulan. Habis itu baru bisa kembali ke posisi semula."
__ADS_1