
"Kamu jangan salah paham ya. Ini gak sama dengan yang ada di pikiran kamu," sambung Dery lagi.
Anya menatap lekat dan tak melihat kebohongan di mata Dery. Ia tahu betul, sang kekasih tak akan melakukan hal keji seperti berselingkuh, apalagi dengan Shireen. Dery tahu bagaimana sejarah masa lalunya bersama Shireen.
"Iya, Nya. Kamu jangan salah paham. Aku sama dia gak ada hubungan apa-apa," sela Shireen yang rapi dengan kemeja putih panjang dan rok span selutut.
Anya berdengkus, ia tatap lagi Dery dan mendapati anggukan dari pria itu. Kini nyalang Anya menatap Shireen. "Lalu apa yang kalian lakukan?" tanyanya tegas.
"Nya ...." Dery memegang tangan Anya. "Dengerin dulu. Sebenarnya ayahnya Jimmy minta aku buat membimbing Shiren agar paham hal-hal dasar tentang perhotelan dan restoran," jelasnya.
"Iya, Nya."
Lagi, Shireen menyela. Darah Anya berdesir seketika. Akan tetapi ia berusaha untuk menahan diri.
"Maaf kalau kamu gak nyaman. Aku sebenarnya juga nggak enak ngerepotin Dery, tapi papanya Jimmy mendesak aku buat belajar ilmu manajemen di hotel dan restoran yang Dery kelola. Apalagi aku baru tahu kalau kalian punya hubungan. Sumpah, Nya. Aku nggak ada niatan buruk. Ini murni pekerjaan, aku baru lulus kuliah, jadi perlu pengalaman. Aku benar-benar gak enak hati, tapi jujur ... aku butuh bantuan Dery. Aku bahkan menempuh fast-track program biar bisa langsung kerja."
"Bener, Nya. Kamu jangan salah paham." Dery kembali meyakinkan. Tatapannya sendu, ia lantas memegang kedua belah tangan Anya dengan erat. Ada ketulusan dan kejujuran di sana.
Kembali menatap dalam Shireen yang berdiri tak jauh darinya. Firasat mengatakan kalau perempuan yang ada di depannya ini tengah bersandiwara. Anya melangkah, menatap mata Shireen tanpa berkedip.
"Nya ...." Dery memanggilnya dari belakang.
Namun, Anya tak menggubris. Ia masih mencari kebenaran dari ucapan Shireen barusan.
"Mas Derry masuk dulu ke mobil. Aku mau bicara sama Shireen," pinta Anya tanpa membalik diri.
__ADS_1
Dery yang paham betul hubungan tak baik antar keduanya pun memutuskan mengangguk dan mengiyakan. Mengawasi dari kejauhan adalah keputusan tepat. Ia tahu betul bagaimana perasaan Anya selama ini untuk Shireen.
"Baiklah, Mas tunggu di mobil. Kalian masuklah, bicarakan apa pun di dalam sana," kata Dery. Ia pun memutar tumit dan kembali masuk dalam mobil. Napasnya begitu berat ketika diembuskan. Hari ini begitu panjang. Kesibukan yang padat ditambah permintaan sang paman yang tak bisa sama sekali ditolak. Ia tahu endingnya akan ada kesalahpahaman antara dirinya dan Anya. Namun tetap tak bisa apa-apa selain mengiyakan. Sekarang sangat berharap kalau Anya sama sekali tidak marah maupun berpikir yang tidak-tidak.
Dery menatap punggung Anya dan Shireen dari belakang. Keduanya masuk ke dalam rumah.
"Semoga masalah ini gak berlanjut dan membesar ...."
Sementara itu, Shireen mempersilahkan Anya untuk masuk. Anya pun masuk tanpa berterima kasih. Matanya memindai sebentar ruang tamu rumah sederhana yang sudah hampir empat tahun tidak ia masuki. Bahkan bermimpi masuk ke sana lagi pun tidak. Anya sangat jijik dengan Shireen. Bukan menghina karena status. Melainkan karena pengkhianatan yang dilakukan shireen padanya.
"Mau minum apa, Nya?" tawar Shireen setelah melepaskan tas bermerek yang ada di tangan. "Apa selera kamu masih sama? Kamu suka susu coklat hangat, 'kan?"
Anya tersenyum kecut. Ia melirik Dery yang ada di dalam mobil lantas menutup pintu. Kini hanya ada dirinya dan Shireen di sana.
"Jangan sok baik, jangan sok akrab. Kamu bikin aku tambah jijik tahu gak!" cerca Anya menohok.
"Nyesel?" Anya tergelak. Ia dorong bahu Shireen hingga terhuyung ke belakang. "Jangan kau sentuh aku. Aku jijik!"
Tanpa diduga ekspresi Shireen berubah lagi. Ia terbahak. Sudah seperti psikopat gila. Mata yang masih ada jejak kesedihan pun mendukung prasangka Anya—kalau Shireen tidak waras. Bagaimana tidak? Siapa yang bisa melakukan dua hal itu secara bersamaan kecuali orang gila? Baru saja menyesal sedetik kemudian malah tertawa meremehkan.
"Kamu pinter, pinter banget," ujarnya setelah berhenti tertawa. Ia usap air matanya lalu melepas ikat rambut dan membiarkan rambutnya yang lurus dan panjang menjuntai.
Anya langsung berdengkus, ternyata dugaannya selama ini benar-benar tak meleset sama sekali—kalau Shireen adalah perempuan ular, perempuan yang selalu mengincar dan menghancurkan kebahagiaannya. Entah apa alasannya kali ini, tapi yang jelas ia tidak berniat kalah dan membuat Shireen menang. Sampai darah penghabisan, ia akan mempertahankan apa pun tanpa takut.
"Jangan kau ganggu aku lagi Shireen. Cukup sekali. Cukup sekali kau ganggu aku." Anya berkata seraya mengeluarkan telunjuk. Matanya melotot melihat Shireen.
__ADS_1
"Kalau aku nolak?" Shiren mengukir smirk.
"Kamu bakalan tahu akibatnya. Kamu tahu aku. Aku bukan perempuan bodoh yang akan Ikhlas dan rela diperlakukan sesuka hati sama perempuan kek kamu. Aku nggak bakalan biarin kami ngancurin apa pun keinginan aku," tegas Anya dengan mimik yang masih sama—berang.
Akan tetapi reaksi Shiren kembali membuat Anya mati kata. Ia lagi-lagi tergelak dan bahkan mendekat. Tanpa ragu menunjuk-nunjuk bahu Anya hingga membuat gadis itu sedikit mundur.
"Tapi ngancurin kamu dan ngambil apa pun yang kamu mau itu keinginanku. Jadi aku harus bagaimana?" balas Shireen tanpa dosa. Mimik wajahnya sangat menyebalkan. Anya yang menggeram hanya bisa mengepalkan tangan. Matanya begitu nyala menatap gadis itu, Namun anehnya shiren tetap memasang wajah biasa saja. Anya mulai bertanya, Mungkinkah Shiren mengalami gangguan kejiwaan? Ia begitu mudah memanipulasi ekspresi. Sangat berbeda saat berbicara di depan Deri tadi.
"Aku ingin Dery," lanjutnya lagi.
Anya langsung menepis telunjuk Shireen. Ia maju tanpa ragu dan membalas mendorong dada Shireen. "Jangan coba-coba Shireen. Aku nggak bakalan biarin kamu melakukan apa pun yang kamu mau."
"Oh, ya? Apa yang bisa kamu lakukan? Kau hanya anak manja yang gak bisa apa-apa."
Seketika Darah Anya berdesir makin hebat Rasanya emosi sudah mencampai puncak. Tanpa ragu ia layangkan tangan pada Shireen—hendak menampar. Anehnya shireen bisa mencekal lengannya lalu mendorong tangan Anya hingga Anya terhuyung ke belakang.
"Aku mau, Dery. Aku bosan sama Jimmy. Menurutku apa pun yang jadi milikmu lebih menggugah. Kalau kau mau, kau bisa ambil lagi Jimmy dan kasih Dery buat aku."
Plak!
Kalo ini tamparan panas sukses mendarat di pipi mulus Shireen. "Jangan ngimpi!"
Lalu pergi keluar dari rumah itu. Sungguh. Anya muak. Ingin sekali ia melenyapkan Shireen. Namun, jelas itu bukan solusi. Ia akan membalas Shireen dengan cara lain.
"Sudah bicaranya?" tanya Dery sambil menatap wajah masam Anya. Gadis itu diam saja. Dery yang keheranan pun memasangkan sabuk pengaman. "Pake ini yang benar."
__ADS_1
Masih di posisi yang begitu dekat. Anya pun berkata mantap. "Mas, ayo kita ke apartemen kamu."