
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Litania sedang mengeringkan rambut yang basah dengan hair dryer. Sementara Chandra sudah terlelap dengan posisi telungkup memeluk bantal. Prianya itu benar-benar kelelahan setelah ritual celap-celup dalam rangka memanjakan si Albert agar tak insomnia. Katanya Chandra loh ya. Bukan katanya ilmuwan.
"Sudah. Gak akan ada yang curiga kalau aku habis mandi." Tersenyum sejenak, Litania angkat dari kursi lantas mendatangi kasur tempat suaminya istirahat, kemudian mengecup kening pria itu. Bayi gede yang selalu minta dimanja dengan alasan si kembar.
"Met bobok, Ayah. Mimpi indah," ucap Litania lembut, yang dikecup sedikit menggeliat, bibirnya tersenyum tapi kemudian hening lagi. Chandra benar-benar terlihat menggemaskan bila sedang tidur meski sudah bangkotan.
Memutar tumitnya, Litania pun meninggalkan kamar. Tak lupa pula boneka beruang ia peluk erat menuju kamar sang nenek tercinta.
"Sudah tidur belum, ya?"
Mengetuk pintu dua kali, Litania membuka pintu lalu menyembulkan kepala, mengintip kamar neneknya.
"Ngapain ngintip-ngintip?"
"Aduh!" Litania kaget, kepala terantuk pintu. Tak menyangka orang yang diintip ternyata ada di belakangnya.
Membetulkan posisi menjadi berdiri, Litania masih saja mengusap kepala yang berdenyut. "Nenek dari mana?" tanyanya seraya meringis.
Sita terkekeh, ia lewati tubuh gendut cucunya dan masuk ke dalam kamar. "Nenek dari balkon. Habis ngobrol sama Lita. Kamu kenapa ke sini? Pake acara ngintip-ngintip segala." Mata Sita melirik tajam. Yang dilirik langsung salah tingkah. "Jangan bilang mau tidur ke sini lagi," cecar Sita.
"Iya. Mau nginep ke sini lagi. Boleh, ya?"
"Gak! Kasian suamimu kalau tidur sendirian." Menggeleng heran, Sita tak habis pikir akan sikap Litania yang tak berubah sama sekali. Tetap saja manja meski tak lama lagi bakalan berubah status menjadi orang tua. Dasar!
"Gak baik tidur pisah ranjang dengan suami, balik sana. Masa iya tiap malam tidur sama Nenek. Kalau begitu Nenek balik aja, deh. Gak tega Nenek sama Chandra."
__ADS_1
"Aa ... Nenek." Sedikit merengek, Litania peluk lengan Sita seraya menggoyangnya, "Malam ini gak apa ya Litan tidur sini. Malam ini terakhir, deh. Suer." Tangan gadis itu bahkan sudah membentuk huruf V dengan cengiran yang khas.
Mendesah panjang, Sita pun mengiyakan dengan anggukan. Percuma juga berdebat dengan Litania. Cucunya itu memang keras kepala. Anak sultan, bukan ... anak pejabat negara juga bukan, tapi setiap keinginannya selalu saja terpenuhi.
"Ya udah, baring sana," perintah Sita.
Litania pun mengangguk, senyumnya terlihat nyata saat duduk di sisi kanan ranjang dan Sita di sisi lainnya. "Ngomong-ngomong, Nenek ngomongin apa sama mama."
"Gak ngomongin hal penting. Cuma ngobrol biasa aja. Ngobrolin masa lalu." Sita sudah berbaring dan menyelimuti diri.
"Masa lalu?" alis Litania mengernyit, kepo pun mulai menyerang. Ia betulkan posisi, duduk menghadap Sita dengan benar. Kaki bahkan sudah bersila dengan tangan tetap memeluk boneka. "Jangan tidur dulu, dong, Nek. Cerita dulu. Aku penasaran. Pasti kisah Nenek sana mama seru. Secara mama itu orangnya—"
"Hust! Gak boleh bilang gitu. Dia itu mertuamu." Sita mengulum senyuman, memorinya berputar ketiga puluh tahunan yang lalu. "Lita memang begitu. Dulu, mertuamu itu terkenal sebagai perusuh waktu mudanya. Mirip-mirip kamu lah. Suka bikin onar. Bikin puyeng orang tua."
Litania nyengir. "Sudah Litan duga, sih. Pasti mama orangnya begitu." Manggut-manggut, Litania kembali menatap intens neneknya. "Lanjut, Nek. Ceritain yang seru-seru."
Sita lemparkan bantal ke arah Litania, kesal karena cucunya itu selalu memotong ucapannya. "Mau ngoceh terus apa mau dengerin Nenek cerita?"
"Nenek sama Lita itu seumuran. Kita sama-sama satu sekolah dulu. Kita berdua juga tetanggaan. Dia orang berada tapi gak sombong. Buktinya dia nyaman temenan sama Nenek yang jelas-jelas cuma anak pedagang."
Litania kembali manggut-manggut. Masih menyimak cerita neneknya. "Mama Lita baek banget ya, Nek. Sampe sekarang sikapnya juga sama."
"Ya, memang begitulah dia. Walaupun kadang terkesan nyeleneh dan grasak-grusuk, Lita itu sebenarnya orang baek, setia kawan dan Nenek sayang sama dia. Dia sahabat terbaik."
"Terus, Nek. Kenapa bisa Nenek udah punya cucu terus dia baru punya anak."
"Ya karena Nenek nikahnya muda. Tamat SMA, Nenek dijodohkan sama kakek kamu. Kata buyut kamu dulu, lebih baik menikah muda daripada ngelakuin hal yang enggak-enggak."
__ADS_1
"Tapi rugi dong, Nek. Nenek gak nyesel karena nikah muda?"
Sita getok kepala Litania, gemas. "Nah, kamu, setelah menikah apa ada kepikiran menyesal?"
Litania lagi-lagi tersenyum kikuk. Tak ada penyesalan dalam rumah tangganya. Chandra baik dan mertuanya juga super baik. Jadi untuk apa menyesali.
"Nenek gak nyesel nikah muda. Asal kamu tau, kakek kamu itu walaupun bukan orang berada tapi mau berusaha. Pekerja keras. Makanya buyut kamu terima lamaran itu. Kebetulan juga, mendiang kakek kamu dulu berteman dengan Bram, sama satu lagi, siapa ya namanya. Perawakannya agak sangar gitu. Edwin apa Edgar atau siapa ya ... lupa Nenek."
"Apa mungkin Edward," terka Litania. Orang yang berpenampilan seperti gengster tapi tak berani berbuat makar. Malah tergolong setia pada ayah mertuanya.
"Nah, iya Edward." Sita mengangguk yakin setelah berpikir beberapa detik.
"Wah, kebetulan yang kebetulan." Litania masih mencerna. Bagaimana bisa dua orang sahabat bisa menikahi laki-laki yang juga bersahabat satu dengan yang lain.
"Entah, Nenek juga gak habis pikir. Nenek sama Lita memang deket tapi gak pernah menyangka bakalan dapat suami yang juga bersahabat kayak Bram dan kakek kamu."
"Jadi kakek cinta pertama dan terakhir Nenek, dong," goda Litania dengan mengedipkan matanya sekali. Sita meresponnya dengan senyuman. Wajah tua itu tampak jelas sedang tersipu.
"Bukan. Nenek sebenarnya suka sama Edward yang keliatan badboy begitu. Keliatan macho dan keren. Tapi ... ya gimana lagi. Nenek udah dijodohkan sama kakek kamu. Mau gak mau Nenek terima. Daripada disebut anak durhaka."
"Wah, Nenek hebat." Litania bertepuk tangan beberapa kali hingga bantal kembali melayang, beruntung bisa mengelak. "Nenek kok bisa ikhlas gitu. Itu perasaan loh, Nek. Bukan tepung yang dikasih aer terus diolah bisa langsung jadi bakwan."
"Ya karna Nenek percaya sama pilihan buyut kamu. Lagian, pilihan sendiri belum tentu baik. Banyak 'kan artis-artis yang kawin cere, padahal sebelum menikah mereka bukan maen mengumbar kemesraan, menceritakan cinta dan segala macamnya."
Litania lagi-lagi dibuat speechless. Ucapan sang nenek benar adanya. Meski tak dipungkiri banyak juga yang menentang. Intinya tergantung takdir masing-masing.
"Jadi cerita Mama Lita dan Papa Bram bagaimana? Nenek tau?"
__ADS_1
"Ya enggak lah. Mereka ketemunya memang karna pernikahan Nenek. Tapi kan bukan Nenek yang jodohin. Mereka udah gede. Bisa berpikir sendiri. Kalo suka ya pasti deket. Kalo enggak ya gak bakalan, Litan. Lagian setau Nenek, mereka deket itu saat kuliah di luar negri. Mereka menikah kalo gak salah pas umur mama kamu dua tahun."
Lagi, Litania manggut-manggut. Mendengar cerita masa lalu neneknya ia jadi merindukan sosok ibu kandungnya. "Kalau cerita bapak sama ibuk bagaimana?"