
"Apa?"
Suara Anya makin tinggi, tapi Jimi dan wanita berkacamata yang ada di sebelahnya sengaja mengabaikan ekspresi Anya. Mereka malah tanpa sungkan menggenggam tangan satu sama lain, lantas tersenyum puas penuh kemenangan.
"Iya, gak guna juga pacaran sama kamu. Kamu terlalu barbar. Apaan, pacaran udah lima bulan tapi gak pernah jalan. Kamu kira pacaran itu buat hiasan? Kita butuh hiburan, jalan kek, nonton kek. Ini ketemunya cuma di sekolah. Pacaran sama kamu gak asik. Kek pacaran sama batu."
"Apa kamu bilang?"
Sumpah perkataan Jimi benar-benar melukai harga diri Anya. Namun, ia masih berusaha bersikap tenang meski dalam diri kemarahan sudah siap tumpah kapan saja.
"Wah ternyata selain gila kamu juga tuli ya, Anya Danurdara Senja." Jimi lagi-lagi tergelak. "Aku bilang kamu gak asik. Perempuan batu. Gila dan apalagi, ya?" lanjutnya seraya melihat sang wanita selingkuhan.
"Hya! Jimi Nasution! Kamu mau mati?" Mata Anya makin melotot. Dalam dada seperti ada sebuah lomba pacuan kuda. Akan tetapi Jimi lagi-lagi mengabaikan kemarahan Anya.
"Mati?" Jimi mengulangi. Kini tangannya mengambil jus buah dan tanpa rasa empati menyesap isinya. Tidakkah ia tau kalau hati Anya sudah terbakar dan butuh ditenangkan?
"Yang harusnya musnah itu perempuan kek kamu. Keras kepala, sok jadi pahlawan. Kamu tau gak, karena tingkah kamu aku diketawain satu sekolah. Karena pacaran sama kamu aku juga dianggap laki-laki gila berantem. Gara-gara kamu, aku sampe dimarah orang tua. Mereka bilang, bergaul sama kamu gak ada gunanya bahkan cuma ngasih efek buruk. Dan aku pikir-pikir memang bener. Gak ada gunanya lanjutin hubungan sama kamu," papar Jimi panjang lebar.
"Kamu tega, ya, Jim," ujar Anya. Tangannya kini menggenggam gelas tinggi berisi air putih. Sungguh berharap ada orang yang mencegahnya sebelum menyiram air ke wajah Jimi dan si pengkhianat.
"Tega?" Lagi-lagi Jimi menarik sebelah bibirnya, "harusnya kamu ngaca, Nya. Kamu yang tega. Kamu terlalu idealis. Pacaran tapi gak mau ciuman. Apaan? Kamu hidup di jaman apa? Jaman batu?" Jimi tergelak lagi. Tak hanya Jimi, si perempuan yang Anya kenal bernama Shireen juga ikutan mentertawakan. Mereka lagi-lagi sengaja mengabaikan kemarahan Anya.
"Kalian ...." ucap Anya dengan suara dalam. Harga dirinya benar-benar terluka. Akan tetapi ia sudah berjanji pada sang bunda kalau tidak akan berulah lagi. Namun ....
"Lagian wajah kamu standar, Nya. Cantik enggak, seksi juga enggak. Tuh liat bodi kamu, datar kek triplek, tapi herannya belagu banget. Asal kamu tau ya, kamu dipandang di sekolah karena orang tua kamu yang kaya. Coba kalau bukan, pasti kamu gak bakalan dianggep sama anak-anak. Mereka temenan sama kamu cuma karena materi. Apa kamu gak nyadar?" timpal Shireen yang merupakan teman sebangku Anya di kelas.
Sumpah demi Tuhan, Anya benar-benar tak percaya gadis yang terlihat lugu itu ternyata bermuka dua. Gadis yang Anya anggap teman terbaik tapi ternyata ....
"Sudahlah, Beb. Mending sekarang kita pergi. Gak guna juga berdebat sama Anya. Dia itu biar kita ngomong kek gimanapun tetep aja kelakuannya begitu. Sok kecantikan dan sok yes. Padahal otak ennol gede," ujar Shireen lagi.
Sebuah perkataan yang tak mampu Anya toleransi. Ia siramkan air dari dalam gelas ke wajah Shireen saat gadis itu mencoba berdiri.
"Kamu gila, Nya!" hardik Shireen. Matanya melotot begitu juga dengan Jimi.
Kini balik Anya yang tertawa jahat. Ia dekati Shireen dan tanpa ampun menjambak rambut terkepang dua gadis itu. Suara erangan Shireen pun terdengar.
Semua orang tentu saja panik, terutama Jimi, ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Anya dari kepala sang kekasih. Akan tetapi Anya tak menggubris. Ia malah menjambak rambut Jimi juga. Bak sapi gila, Anya tertawa jahat sementara tangan tetap mencengkeram kuat rambut lawan. Erangan tentu saja makin menggema di restoran bintang lima itu. Baik Jimi maupun Shireen tak berkutik, keduanya tertunduk seraya minta dilepaskan.
Anya kembali tertawa. "Lepas kalian bilang? Kalian pikir aku gila? Ah iya, aku memang gila. Hanya perempuan gila ini yang bisa menutup mulut kalian yang kek comberan itu. Kalian bilang aku sok yes?" Anya kembali tertawa jahat. Ia menarik rambut Shireen dan Jimi makin kuat. "Kalian itu yang sok yes. Gak punya hati. Berani bermain api sama aku. Kalian pikir kalian siapa, ha! Beraninya ngehina seorang Anya. Kalian gak tau, aku itu wonder women di era milenial ini. Aku itu pembasmi hama kek kalian."
"Kamu jangan gila. Lepas, Nya. Sakit!" Shireen mengerang. Namun tawa Anya kembali mengudara. Ia tak memedulikan apa pun juga. Orang-orang bahkan telah berkumpul menyaksikan adegan jambak-jambakan mereka secara live.
"Heh, kupret busuk. Sakit ya? Sakit?" Anya kembali menarik makin kuat rambut Shireen. "Sakit kamu ini gak sebanding dengan sakit yang aku rasa. Kamu tau, aku udah nganggep kamu kek sodara. Tapi apa ini? Kamu tikung pacar aku sendiri, dasar perempuan licik! Dan kamu Jimi ...."
Anya menjeda kata saat menarik rambut Jimi. Ia perlu pasokan udara untuk sekedar melepaskan kemarahan yang sudah menggumpal. "Dasar berandal sialan! Bukannya dulu kamu yang ngejer-ngejer aku terus minta aku jadi pacar kamu? Kamu gak inget kalau kamu pernah berlutut di depan aku? Kamu gak inget!
"Sumpah, ya. Aku gak nyangka kalian nusuk aku sampe kek begini. Tapi ya sudahlah. Kalau aku pikir-pikir kalian cocok. Satu otak ngeres dan satu lagi murahan. Dan kamu, Jim. Kamu bilang gak mau pacaran sama aku karena aku gila dan idealis, 'kan? Gak masalah, kok. Sumpah. Aku ikhlas dunia akherat kamu putusin. Aku seneng lepas dari laki-laki buaya kek kamu. Kamu memang cocok sama perempuan munafik kek Shireen ini."
"Kamu gila, Nya. Lepas gak!" hardik Jimi. Kepalanya serasa sangat sakit. Cengkeraman tangan Anya bukan main. "Kalau gak kamu lepas, aku bakalan aduin sama orang tua aku. Apa kamu lupa, orang tuaku ketua komite. Aku pastiin kamu di keluarin dari sekolah."
"Loh gak masalah. Aku gak keberatan. Terserah kamu mau apa juga. Aku gak keberatan kalau dikeluarin atau diapain. Yang jelas aku mau kasih kalian pelajaran," balas Anya. Ia sungguh kesal dan marah. Sudah tak peduli lagi dengan apa pun. Terserahlah.
Namun, tanpa di duga tangan Shireen menggapai rambutnya. Anya mengerang, wajahnya mendongak. Tak lama tangan Jimi juga mendarat di sebelah kiri Anya. Akan tetapi Anya tetap tak mau kalah. Dua lawan satu. Siapa takut.
Adegan jambak-jambakan masih berlanjut, orang-orang hanya memperhatikan. Bahkan ada yang mengabadikan pertarungan tiga remaja itu hingga dua orang satpam mendekat dan melerai.
Pergumulan selesai dengan penampilan Shireen yang lebih menakutkan. Rambut berkepang gadis itu lumayan banyak berceceran. Kacamata yang tadinya menempel indah kini sudah pecah karena terjauh ke lantai. Matanya merah dengan kepala yang sakit bukan kepalang.
Anya meronta. Kaki menerjang. "Om, lepas. Aku mau kasih pelajaran sama dia," ujarnya seraya menatap nyalang Shireen.
"Tenanglah. Kalian ini masih muda tapi bikin keributan. Kalau mau bikin pertunjukan jangan di sini!" hardik pak satpam berwajah sangar. Namun, Anya yang masih diselimuti kekesalan menulikan telinga. Ia masih menerjang berharap mengenai Shireen maupun Jimi.
"Sini gak kalian! Aku belum selesai kasih kalian pelajaran!" teriak Anya. Dua satpam masih menahannya.
"Sebaiknya kalian berdua pergi," ucap satpam satunya pada Jimi dan Shireen.
Shireen dan Jimi mengemas semua barang mereka. Tak terlupa pula meninggalkan beberapa lembar uang di sana. Sementara Anya, masih tertahan lengan dua satpam.
"Lepas, Om! Ini gak adil! Kenapa aku di tahan sedangkan mereka engga?"
"Karena restoran ini milik keluarga Nasution."
Seketika mata Anya membulat. Ia kaget dan baru ingat kalau Jimi pernah cerita pamannya punya restoran bintang lima.
Umpatan-umpatan hampir siap keluar dari mulut Anya bersamaan dengan mata yang menatap nyalang Shireen. "Heh kamu! Sini gak! Urusan kita belum selesai. Aku masih belum kelar ngasih kalian pelajaran."
Shireen terkekeh. Matanya masih menunjukkan ketidaksukaan. "Pelajaran? Pelajaran apa yang bisa kamu kasih? Sok pinter banget. Kamu mau ngasih pelajaran dengan otak kamu itu?" ujar Shireen sarkastis. "Belajar dulu yang bener. Nilai kamu itu paling rendah satu sekolahan. Aku heran, apa sih unggulnya kamu sampe bisa masuk sekolah unggulan." Shireen terdiam sesaat, smirk terlihat jelas di bibirnya. "Ah iya, aku baru inget kalau yang bisa bikin kamu sekolah di sana itu cuma karena orang tua kaya. Dasar parasit!"
"Sialan kamu Shireen. Kamu muna—"
Belum selesai lisan Anya, Jimi sudah menggandeng Shireen. "Sudahlah, Beb. Aku pastiin kali ini orang tuanya gak bakalan bisa nolong dia," ujar Jimi.
"Heh kalian! Jangan lari! Urusan kita belum kelar!" teriak Anya lagi. Akan tetapi Jimi dan Shireen sudah berlalu pergi.
Kini kuncian dua satpan sudah terlepas. Mereka menatap Anya yang juga berpenampilan mengerikan. Rambut yang tadinya tergerai indah, kini mengembang. Riasan bahkan berantakan.
"Sudahlah, Nona. Mending sekarang kamu pergi. Jangan bikin keributan lagi," ujar si satpam dengan nada rendah tapi jelas mendiskreditkan.
Kesal, benci dan terhina, perasaan itu menggumpal dalam dada. Anya berlalu membawa perasaan itu. Hatinya terasa terimpit, sirkulasi udara dalam dada serasa sempit. Ia berjalan seraya tertunduk dan tanpa sengaja menabrak seseorang sebelum mencapai pintu keluar restoran.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa?"
Suara ringan seorang pria masuk ke telinga. Namun Anya yang tak mampu lagi menahan kesal tak bisa menjawab. Ia berlalu pergi begitu saja dari restoran tanpa menoleh kiri, kanan maupun depan. Gadis berpenampilan sporty dengan jaket denim di badan itu tertunduk, lantas mengendarai sepeda motor membelah jalanan kota. Air mata menemani pandangan. Penghinaan hari ini benar-benar membuatnya lemas. Sungguh tak menyangka Shireen yang dianggap baik hati dan seperti keluarga sendiri tega menusuk dari belakang.
"Apa salahnya aku, Shireen? Apa kurangnya aku?" teriak Anya. Suaranya terbawa angin. Ia yang mengenakan helm lantas menutup kaca depan dan membiarkan air mata berlinang makin deras.
Merasa tak mampu lagi menahan gejolak di dada, Anya pun menepikan kendaraan ke sebuah taman yang ada di pinggir jalan. Gadis itu membuka helm, tertunduk, lalu menutup wajah dengan telapak tangan.
Sumpah demi apa pun, Anya sungguh tak masalah jika Jimi berhianat darinya, hanya saja tak menyangka Shireen juga melakukan hal yang sama. Selama ini Shireen dan Nara teman terbaik yang ia punya, tetapi sekarang Nara telah pergi dan Shireen pun mengkhianati. Ia benar-benar tak mempunyai teman dan merasa sendirian.
"Kamu tega ... tega Shireen, kamu tega. Aku nganggap kamu lebih dari seorang teman. Kalau kamu memang ingin dan ada hati dengan Jimi, kenapa nggak bilang? Kenapa harus menggunakan cara licik kek gini?" gumam Anya lirih.
Air mata Anya makin meluruh banyak. Teringat kenangan-kenangan lama saat ia bertemu dengan Shireen dulu. Ia menyelamatkan Shireen yang menjadi bahan bullying karena anak baru dan terlihat cupu di sekolah. Setelah itu mereka menjadi dekat. Ke kantin maupun jalan mereka selalu bersama. Anya juga mengingat bagaimana baiknya Shireen, bagaimana dewasanya Shireen dan bagaimana tulusnya shireen saat mengajari dirinya yang memang bebal dalam hal pelajaran. Akan tetapi benar-benar tak menyangka kebaikan Shireen ternyata menutupi sesuatu.
"Gadis itu berhati busuk. Gadis itu munafik."
Anya terus saja merutuk Shireen dan diri sendiri tentunya. Merasa bodoh karena tertipu begitu lama dan percaya kebaikan palsu yang Shireen tunjukkan. Anya terus saja sesenggukan hingga sebuah kain hangat meliputi kepalanya.
Anya yang kaget langsung menoleh, tampak seorang pria berdasi dan berkemeja putih duduk bersebelahan dengannya. Pria dewasa yang seumuran dengan Dafan dan Dafin.
Siapa orang ini? Apa maunya? Jangan-jangan pencopet? Tapi kalo copet kenapa pakeannya rapi banget, batin Anya bertanya-tanya.
Namun, saat hendak melisankan pertanyaan, pria itu malah menoleh. Anya gelagapan, ia hapus air matanya.
"Menangislah. Jangan malu, keluarkan segalanya, tutup kepalamu. Saya akan beranggapan tidak mendengar sesuatu. Saat sakit seperti ini cara yang tepat memang menangis. Aku tahu kamu sakit hati ...." Si dia membenarkan jas yang ada di kepala Anya hingga menutupi hampir keseluruhan wajah gadis itu. "Menangislah," lanjutnya lagi.
Begitu banyak pertanyaan dalam benak Anya. Namun, perasaan yang masih tak karuan membuatnya mengabaikan apa pun juga. Ia tak peduli dengan pria. Ia tak peduli jika orang itu memang benar-benar pencopet atau apalah, yang ia inginkan adalah menumpahkan segala kekesalan.
"Ini, pakailah," ujar pria itu lagi seraya menyodorkan sebungkus tisu.
Tanpa bertanya apalagi curiga, Anya langsung meraih benda itu. Membiarkan kesedihan tumpah ruah. Ia tak memedulikan apa pun dan terus saja menangis hingga tisu yang di tangan habis.
Kini Anya lirik pria yang ada di sebelahnya.
"Maaf, atas nama dia saya minta maaf."
"Hah?"
Seketika mata Anya melotot, membuka jas yang ada di kepala, lalu menatap nyalang pria yang ada di sebelahnya. Ia ingin bertanya siapa laki-laki itu tapi lagi-lagi lisan tak sempat terealisasikan karena pria itu kembali menoleh.
"Saya minta maaf untuk kelakuan Jimi. Dia memang seperti itu, dia memang manja dan suka seenaknya sendiri. Nanti di rumah akan saya nasehati dia. Jadi kamu jangan terlalu sakit hati. Jimi memang seperti itu orangnya."
Sungguh, hati Anya berdesir. Ternyata pria itu ada hubungan dengan Jimi.
Tapi dia ini siapanya Jimi. Perasaan Jimi anak tunggal, batin Anya lagi. Ia kembali memindai orang itu yang duduk bersandar di kursi. Rahangnya terlihat tegas karena dia kembali menatap depan.
"Tapi bukankah lebih baik begini? Bukankah lebih baik kalau kalian berakhir lebih cepat? Saya sebagai sepupunya juga tidak menyukai sikapnya yang kekanakan seperti itu."
"Maafkan dia. Nanti akan saya nasehati lagi. Dia anak semata wayang, makanya seenaknya sendiri."
Anya seka sisa-sisa air mata dan fokus memandang pria yang ada di sebelahnya. Pria itu berbicara tanpa mau menoleh. Anya terlena karena dalam pencahayaan lampu taman yang remang, pria itu terlihat tampan.
Aneh memang, saat sakit hati pun tetap saja pesona pria itu membuatnya lupa akan kekesalan yang beberapa saat lalu menggerogoti pikiran.
"Saya harap kamu bisa mengambil sisi positifnya. Putus cinta itu hal biasa, tapi percayalah, tak ada pelajaran yang paling beharga selain pelajaran hidup. Jangan berkecil hati, saran saya majulah terus, sekolah dulu yang bener, ambil hikmah dari semuanya. Kalau Jimi dan sahabat kamu berhianat, anggap saja itu cara Tuhan buat membuka mata kamu agar kamu tidak tersesat terlalu lama dengan hubungan yang seperti itu," papar pria itu.
Lidah Anya kelu, gadis itu tak tahu harus berkata apalagi. Sebenarnya ingin sekali mengumpat, menumpahkan kekesalan pada pria itu yang notabene adalah orang terdekat Jimi. Namun tak etis rasanya melemparkan kesalahan pada orang lain terlebih lagi setelah mendengar pria terdekat Jimi sendiri yang berkata seperti itu.
Menatap lekat mata Anya, si pria berkumis klimis dan berhidung bangir itu tersenyum tipis. "Apa perasaanmu sudah mendingan?" tanyanya.
Anya mengangguk.
"Kalau begitu bisa kembalikan?" tanya pria itu lagi seraya mengulurkan tangan.
Anya bingung tantang hal apa yang pria itu minta. Masa iya minta tisu? Tisu-nya kan sudah abis, batin Anya.
"Bisa kembalikan?" ulang pria itu lagi
Ragu-ragu Anya menyerahkan tisu bekas ingus, tapi yang diambil pria itu adalah jas yang ada di pundak Anya. Gadis itu melongo beberapa detik, wajahnya berdenyut. Ia malu lalu tertunduk.
Akan tetapi, tanpa di duga pria itu tersenyum lalu mengacak pucuk kepala Anya. "Harap maafkan Jimi. Dan juga tidurlah yang nyenyak malam ini," ujarnya seraya berlalu.
Mendapat perlakuan seperti itu bukan membuat Anya tenang malah berang. Perkataan orang itu membuatnya tak bisa mentolerir apa pun lagi. Tanpa memikirkan apa pun, Anya pun berdiri dan berteriak, "Hey! Bagaimana aku bisa tidur nyenyak saat adikmu membuatku seperti ini. Dasar bodoh!"
Pria itu berhenti sebentar, menoleh ke belakang lalu kembali menyunggingkan senyum. "Berhati-hatilah saat pulang."
Lagi-lagi Anya dibuat melongo, bukannya marah karena di umpat, pria itu malah tersenyum dan mengingatkan.
"Sok sekali. Sepertinya laki-laki dari keluarga Nasution nggak ada yang benar," umpatnya lagi seraya mengenakan kembali helm.
Tibalah di rumah.
Anya parkirkan sepeda motornya ke dalam garasi lalu masuk tanpa menyapa kedua orang tuanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga. Litania yang keheranan tentu saja menegur. Akan tetapi Anya yang masih kesal mengabaikan. Ia terus saja menapaki anak tangga hingga tiba ke lantai atas dan masuk ke kamar. Tanpa ragu ia buang semua pemberian Jimi dan semua yang bersangkutan dengan Shireen.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Litania setelah membuka pintu. Sedikit heran melihat sang anak bungsu sibuk mengemas sesuatu dan memasukkannya ke dalam kotak secara kasar. Anak gadisnya itu terlihat benar-benar tak seperti biasa.
"Anya, kamu kenapa, Sayang?" tanya Litania lagi seraya memegang pundak Anya dan wajah lesu pun menyambut. Litania panik. Ia tangkup kedua belah pipi anak bungsunya dan mencari kejujuran. "Kamu kenapa, Nya? Kamu nangis? Coba ngomong sama, Bunda. Kamu kenapa? Tadi bukannya kamu izin mau ketemu Shireen? Kamu ada masalah sama Shireen?"
Mendesah panjang, Anya mengangguk.
__ADS_1
"Sudahlah, namanya berteman pasti ada trouble, jadi lupakan saja. Cari musuh itu mudah, kalau sahabat yang susah. Shireen itu gadis baik-baik, sayang jika berantem kalau cuma gara-gara salah paham. Diomongin baik-baik, ya."
Seketika Anya meraung. Shireen benar-benar pandai menipu hingga Litania saja percaya padanya. Beruntung hari ini ia ke rumah Shireen dan mendapati ada Jimi di sana. Ia yang kadung kesal mengikuti kedua sejoli pengkhianat itu.
Ah, mengenang itu raungan Anya makin nyaring. Litania yang tak tau duduk permasalahannya semakin bingung.
"Anya. Kamu kenapa, sih? Apa yang terjadi?" Melepas pelukannya, Litania lalu menatap wajah Anya dengan lekat. "Ngomong dong, biar Bunda ngerti. Kalau cuma teriak mana bisa Bunda kasih solusi," lanjut Litania yang sudah sedikit kesal.
"Bunda ... Bunda, aku mau berhenti sekolah. Aku mau pindah sekolah, Bun. Aku mau pindah ...." Anya kembali memeluk tubuh Litania.
"Tenanglah. Tenang dulu. Bunda akan lakuin apa pun buat kamu. Tapi jelasin, jelasin dulu apa masalahnya biar Bunda paham," ujar Litania seraya menepuk punggung Anya.
Namun Anya menggeleng. Bagaimana mungkin bisa menceritakan tentang hubungannya dengan Jimmy dan Shireen. Sementara selama ini ibunya itu tak pernah tahu dia berpacaran.
"Pokoknya aku ingin berhenti. Aku ingin pindah sekolah!" raung Anya lagi.
Dahi Litania mengernyit, alisnya menukik tajam. Bingung plus kesal dengan sikap Anya yang selalu saja menguji kesabaran.
"Anya ...." Litania menuntun tubuh Anya untuk duduk di kursi, "soal pindah mungkin susah. Gimana ceritanya pindah sekolah? Kamu sudah kelas dua belas. Sudah hampir pertengahan semester lagi. Sabar ya. Nanti setelah lulus kamu mau kuliah ke mana pun pasti Bunda dukung."
Mendapat penolakan halus dari sang bunda, tangisan Anya semakin keras. Ia lalu menggulung diri dalam selimut. "Pokoknya Anya mau berenti. Anya gak mau ke sekolah dan ketemu manusia-manusia terkutuk itu lagi!"
"Anya!"
"Sudahlah, Bun. Anya capek, mau istirahat," lanjutnya lalu menutup seluruh badan hingga kepala hampir 100%.
****
Di Bali
Hari ini adalah hari terakhir Dafin di Bali. Senyumnya sangat merekah, ia keluar kamar seraya membawa sebuah harapan besar. Sebagaimana yang telah disepakati sebelumnya bahwa Reynal Smith akan memutuskan apakah akan berinvestasi atau tidak. Namun, Dafin terlihat antusias karena yakin kalau Reynal akan menyetujui mengingat sudah tiga hari dirinya melakukan apa pun yang pria tua botak itu inginkan, dari bertani, mengganti genteng yang bocor, memancing di anak sungai hingga menangkap ayam. Ia lakukan itu meskipun dalam hati bersungut dan harga diri menolak keras.
Tiga hari terlewati dengan baik, penderitaannya menjadi babu beberapa hari di rumah Fia akhirnya selesai. Akan tetapi senyumnya sirna saat melihat Fia sudah berada di depan pintu kamar Reynal. Ia mengernyit saat melihat wajah Fia tak seperti biasa.
"Kenapa, Fia? Kenapa wajah kamu begitu?" tanya Dafin setelah tiba di depan pintu.
Fia tampak gelisah. "Em ... itu, Pak. Em ... itu ... anu ...."
Dafin mendesis lalu berucap, "Kamu apaan sih am em am em. Mau berqolqolah? Kamu mau beralih profesi jadi penyanyi religi?"
"Enggak, Pak, bukan begitu maksud saya. Itu ...."
"Ah sudahlah. Gak penting. Pak Rey belum bangun?" Dafin melirik jam yang ada di tangan, "sudah jam enam loh, ini. Masa iya dia belum bangun juga?" tanya Dafin.
Fia makin gelisah. "Itu Pak Dafin, itu ...."
Dafin mengabaikan. Ia yang terlalu bersemangat mengetuk pintu kamar Reynal tiga kali lalu membukanya. Seketika matanya melotot melihat ranjang yang sudah rapi.
"Lah ini pak Rey-nya ke mana? Apa ke belakang?" tanya Dafin lagi.
Lagi-lagi tanpa mau mendengar balasan Fia, Dafin sudah berlalu pergi menyusuri rumah dan menyapu setiap sudut ruangan tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan, sampai-sampai kebun belakang rumah Fia pun tak luput dari pantauan.
Nihil. Pria botak serta para ajudan tak terlihat sama sekali. Ia mulai panik, firasat buruk menghampiri, dihampirinya lagi Fia yang masih mematung di depan pintu kamar Reynal.
"Katakan, Fia. Di mana pria botak itu?" kesal Dafin. Tangannya mengepal hingga telapak tangan memucat secara mendadak.
"Pak Rey sudah pergi, Pak. Dia sudah berangkat dan menuju ke Australia jam dua tengah malam tadi."
"Apa?!"
Dafin shock. Tangannya melemas, ia tertunduk, berjongkok, lalu menjambak rambutnya sendiri, frustrasi. "Apa pak tua itu mempermainkan kita?" kesal Dafin, suaranya meninggi hingga semua orang yang ada dirumah menghampiri.
"Pak Dafin."
Dafin mengangkat kepala lalu berdiri. Ia yang gusar berusaha sebisa mungkin untuk menekan ekspresi agar tak mengamuk pada keluarga Fia yang tak tahu apa-apa.
"Ini," ujar Edi lagi seraya menyodorkan sebuah kertas, "ini titipan dari pak Reynal untuk Pak Dafin."
Bak mendapat emas, penuh semangat Dafin meraihnya. Sangat berharap keputusan kerjasama ada di dalam kertas itu. Namun, pandangan Dafin kembali sendu. Tulang-tulang melemah seketika. Pria itu terduduk lagi seraya memegang kepala yang terasa berdenyut.
Di surat itu hanya tertulis kata terima kasih dan sampai jumpa lagi, bahkan ada emot hati di sana dan gambar orang tertawa terbahak.
"Dasar si tua bangka!"
****
Tibalah di Jakarta. Wajah gusar masih tercetak jelas dan nyata menyelimuti Dafin, sedangkan Fia, gadis itu hanya bisa diam, tak tahu harus berkata apa untuk menghibur agar suasana hati sang bos kembali kembali semula. Bagaimanapun ia tahu perjuangan Dafin selama beberapa hari di sana. Pria yang selama ini berkecukupan dipaksa menjadi buruh. Terbayang betapa berat usahanya.
"Pak Dafin, apa kita langsung ke spa saja?" ujar Fia berhati-hati.
Dafin yang pikirannya masih kacau hanya berdeham, arah pandangannya masih tertuju ke luar jendela. Ia bingung harus bagaimana nanti menjelaskan kepada orang tuanya yang berharap lebih. Pupus sudah semua harapan untuk menjadi penerus. Bagaimanapun ia telah gagal mendapat tanda tangan Reynal Smith.
Dafin mendesah, ia sugar rambut ke belakang, lalu menatap Fia. "Apa kamu sudah mencoba menghubungi si tua bangka itu?"
"Sudah, Pak, tapi gak pernah diangkat, bahkan asisten serta bodyguard-nya juga nggak ada yang mengangkat," balas Fia.
"Sialan!" Dafin mengumpat lagi, tangannya terkepal lalu kembali menyugar rambut ke belakang, "ya sudahlah, kita langsung saja ke spa. Saya ingin menenangkan pikiran serta membuang kulit mati. Karena pria tua botak itu kulit saya yang putih jadi hitam begini," lanjut Dafin yang masih bernada geram. Ia sandarkan kepala yang berat ke jok mobil hingga suara dering telepon mengagetkan dan tertera nama sang ayah di sana.
"Apa? Rapat dewan?"
__ADS_1
Mata Dafin melotot. Tampak jelas ketakutan di wajahnya setelah menerima telepon. Ia tatap Fia yang kebingungan. "Fia. Kita langsung ke kantor. Para dewan melakukan rapat tahunan."
Wah, Daebak. Panjang kan? heheh like vote dan rate nya jangan lupa.