Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Kambing congek.


__ADS_3

Menghela napas panjang, Chandra gandeng lengan Litania dan melingkarkannya di lengan—sengaja menunjukkan kemesraan. "Kita masuk, ya."


"Ayok." Litania tersenyum, ia kedipkan matanya ke arah Kinar dan direspon dengan anggukan kecil.


Kinar kalungkan lengannya di lengan Aldi "Ayok, Al. Kita masuk juga," ajak Kinar dengan gaya dan suara yang dibuat se-imut mungkin.


Aldi menipiskan bibir meski tak nyaman dengan situasi. Ia masuk ke dalam mengikuti langkah Kinar.


Tinggallah Arjun sendiri dengan tangan penuh belanjaan dan pikiran penuh pertanyaan. Tak dipungkiri perasaan tersingkirkan itu ada dan terasa makin nyata kala Kinar berubah drastis—tak lagi memedulikannya.


Apa ini? Dia ikut masuk juga. Jadi tiket itu ... buat Aldi.


Perasaan Arjun mendadak tak enak dan kepala sedikit berdenyut.


Apa mungkin aku bakalan jadi obat nyamuk? Gila, tau gini mending aku nunggu di mobil.


Mengembuskan napas panjang, Arjun yang tak punya pilihan pun mau tak mau ikut masuk ke dalam bioskop. Dan benar saja. Posisinya berada tepat di tengah-tengah dengan perasaan kacau balau. Miris.


Di sebelah kanan ada Chandra dan Litania. Di sebelah Kiri ada Kinar dan Aldi. Arjun lagi-lagi mengembuskan napas panjang. Ia merasa seperti kambing congek—orang dungu.


"Yang, kamu yakin mau nonton beginian?" bisik Chandra saat film—Train to Busan—sudah mulai diputar.


Litania tampak mengangguk antusias. Pandangan hanya tertuju pada layar raksasa dengan sorot mata berbinar.


"Beneran? Jangan sampe ke toilet minta temenin," bisik Chandra lagi.


"Emangnya kenapa? Gak boleh? Katanya cinta, masa namenin aku aja gak mau," balas Litania dengan suara yang juga pelan.


Chandra menggeleng dengan senyum yang sudah terukir. Ia usap punggung tangan Litania yang memengang tempat popcorn. "Boleh dong. Boleh banget. Tapi ada hadiahnya."


Litania yang paham dengan kata hadiah itu membalas dengan memasukkan berondong jagung rasa balado itu ke mulut Chandra. "Dasar mesum."


Namun sedetik kemudian senyumnya terukir dan kekehan pelan pun terdengar. Keduanya tampak begitu menikmati sensasi pacaran dalam bioskop yang lumayan menyenangkan.


Sementara Arjun yang mendengar bisikan pasangan suami istri hanya mampu terdiam dengan bulu kuduk yang sudah bediri. Ia bergidik. Jiwa jomblo-nya menjerit. Ia telan lagi ludah dengan kasar seraya menelan kenyataan pahit—bahwa dirinya tengah jadi obat nyamuk dan juga status jomlo yang disandangnya memberinya efek besar. Mendadak ia ingin pacar.


Gila, tingkat ke-bucinan Pak Bos ini kayaknya sudah ke tahap akut. Astaga, gak ada keren-kerennya sama sekali.


Arjun mendasah panjang. Ia arahkan mata ke arah layar raksasa. Meskipun tak senang menjadi orang ketiga, ia tetap harus menikmati hiburan yang ada.


Namun, perhatian Arjun teralihkan saat melihat Kinar merogoh ponsel. Gadis itu tampak antusias mengetik pesan. Dan anehnya, si Aldi yang ada di sebelah Kinar juga berperilaku sama. Kecurigaan yang bercampur kepo membuat Arjun mengubah posisinya menjadi sedikit condong ke arah Kinar yang kebetulan duduk di sebelah kiri. Entah kenapa ia begitu penasaran, apa yang membuat Kinar melupakannya.


Arjun intip pesan yang ada di layar itu.


[Kinar, kamu udah punya pacar belum?]

__ADS_1


Terpampang jelas pesan chat itu di mata Arjun. Pesan yang jelas di tulis oleh Aldi.


Norak banget, sih. Padahal duduk bersebelahan. Arjun membatin dengan sedikit mencebik.


[Belum, kenapa?] Kinar.


[Beneran. Masa sih gadis cantik kayak kamu belum punya pacar.] Aldi.


Kekehan renyah Kinar terdengar. Suara tawa genit yang entah kenapa berefek pada dada Arjun. Ia dekatkan lagi tubuhnya—mengintip dengan intens sedangkan mata mulai menyipit tajam. Dan dada mulai bertabuh tak beraturan.


[Emangnya aku cantik?] Kinar.


Senyumnya begitu indah saat tengah tersipu. Ulasan bibir yang mengobok perasaan Arjun menjadi makin tak tenang, apalagi saat kedua insan itu saling tatap dan berakhir cekikikan.


Arjun mendadak merasa panas, ia usap wajah gusar dengan sebelah tangan seraya mengedarkan pandangan ke sekitar.


Gila. Kenapa aku jadi gak suka begini? Apa aku cemburu? Ayolah, jangan gila.


Perasaan Arjun terus saja bergejolak. Tak ingin rasaya melihat isi pesan itu tapi tubuh tak bisa diajak kompromi—mata kembali melirik isi pesan yang masuk ke ponsel Kinar


[Cantik banget loh. Kamu type aku.] Aldi.


Cantik dari mana. Wong aneh bin norak begitu. Arjun merasa mkin kesal. Namun, mata tetap terfokus pada HP.


[Beneran? Aku jadi tersanjung, loh] Kinar.


Diboongin mau aja.


[Tapi kamu beneran gak punya pacar. Mungkin lagi PDKT sama seseorang.] Aldi.


[Aku lagi naksir seseorang. Tapi ditolak terus. Ya karena mungkin bagi dia aku itu gak cantik dan norak.] Kinar.


[Siapa bilang kamu norak? Kamu unik. Kalau dia gak mau sama kamu, kenapa gak move on aja? Kamu cantik. Tubuh kamu oke. Pasti yang lain bakalan nerima kamu. Kamu ini perempuan berharga, Kinar. Di luaran sana banyak laki yang menghargai perempuan tanpa harus melihat fisik. Jadi kenapa menunggu yang gak pasti. Percayalah, laki-laki yang menilai fisik perempuan itu sebenarnya gak tulus.] Aldi.


[Tapi aku cinta banget sama dia, dia cinta pertamaku, gimana dong.] Kinar. Ada emot hati retak di ujung pesannya. Membuat Arjun menelan ludah, perasaan tak enak hati pun menghampiri. Apalagi ekspresi Kinar yang mendadak murung.


[Percuma Kinar. Kalau dia gak mau jangan di tunggu. Cari aja cowok lain. Aku yakin di luaran sana pasti banyak yang nunggu hati kamu. Jangan berpatokan pada satu cowok.] Aldi.


Pesan demi pesan terkirim dan dibalas Kinar dengan senyuman hingga Arjun yang tadinya berniat menikmati film menjadi tak karuan. Orang-orang yang dikejar Zombi tapi dirinya yang kelelahan manata degup jantung yang tak beraturan.


"Litan, aku mau anter Arjun dulu. Dia ada urusan mendadak." Kinar berbisik saat film baru berjalan sejam. Gadis berkucir kuda itu bahkan berada tepat di tengah-tengah paha Arjun dan bersikap abai seakan lelaki itu tak ada di sana.


Litania mengangguk. "Pergilah." Mata Litania tertuju ke arah Aldi. "Makasih ya udah mau dateng."


Di luar.

__ADS_1


"Makasih ya karna udah mau bantuin aku," ucap Kinar dengan wajah yang bersemu. Rasanya malu dan tak enak hati memanfaatkan orang lain demi aksinya.


Aldi tersenyum. Ia pegang pundak Kinar dan menatap bola mata Kinar yang berwarna biru keabu-abuan. "Gak apa-apa. Aku cuma bantuin sebisa aku."


Kinar masih tersenyum. "Aku gak tau harus bales kamu dengan apa."


"Jangan bales aku. Aku ikhlas bantuin kamu. Tapi kata-kata aku bener, kalau dia emang gak nganggep kamu, mending kamu nyerah. Cari laki-laki yang tulus, yang benar-benar sayang dan yang gak mempermasalahkan penampilan."


"Emang ada ya laki-laki kayak begitu?"


"Ada." Aldi tersenyum, "dan orangnya itu aku."


Kinar melongo sesaat, kalau saja Aldi tak mengacak rambutnya mungkin saja keterkejutannya bakalan berkelanjutan.


"Kenapa?"


"Eh, enggak enggak." Wajah Kinar memerah, otaknya berpikir keras apa maksud ucapan Aldi. Tak dipungkiri ada rasa bangga saat ada yang mengatakan kalau dirinya cantik dan berharga.


"Aku pamit." Memundurkan kaki tiga langkah seraya melambaikan tangan pada Kinar, Aldi pun mengukir senyuman. Senyum manis yang entah kenapa rasanya tak manis. Ada sesak saat melambaikan tangan pada gadis nyentrik itu.


Mengembuskan napas panjang, Aldi masih menata hati agar kembali normal. Ia masuk ke dalam sebuah mobil yang telah menunggunya di parkiran. Tampak sang bos telah berada di kursi penumpang.


"Bagaimana sandiwaranya, sukses?"


Aldi mengangguk dengan raut wajah lesu.


"Kenapa? Terlanjur ada rasa?" cecar Fabian yang masih asyik menatap kamera—melihat hasil jepretannya siang tadi.


Aldi tak menyahut. Ingin rasanya menampik hanya saja mulut seperti bungkam dan hati mengiyakan tebakan Fabian.


"Bagaimana kabarnya? Apa dia bahagia dengan suaminya?"


"Iya, Pak. Dia bahagia dan mesra."


Kini giliraan Fabian yang mendesah panjang lalu disusul Aldi.


"Sepertinya kita memang cuma cameo di hidup mereka," ucap Fabian dengan mata memandang luar jendela. "Sudahlah, ayo jalan. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. Jalan di tempat gak bakalan menghasilkan apa pun. Kita harus tetap bergerak. Siapa tau Tuhan punya kejutan lain untuk kita."


"Baik, Pak."


***


Cast Aldi dan Fabian ada di bab pengumuman ya. Di bab 52. Cek ya. heheh


jangan lupa like komen dan vote. komenlah lah meski cuma next. oke gaes.

__ADS_1


entar sore up lagi.


__ADS_2