
Sementara itu di sebuah restoran hotel yang ada di lantai enam, Dafin yang sudah rapi tengah duduk sendirian. Suasana restoran yang sepi membuatnya berkali-kali melirik arloji. Sangat tak sabar menanti Sisi tiba. Alunan musik saxophone pun mengalun menemani dirinya.
Mengeluarkan sebuah kotak kecil berpita merah, Dafin tersenyum simpul lalu membuka kotak itu, terpampang sebuah cincin berlian dengan permata indah di atasnya.
"Aku nggak sabar, Si. Aku nggak sabar buat ngumumin hubungan kita ke media. Aku nggak sabar nunggu kamu selesai kuliah agar kita bisa menikah."
Lagi-lagi senyum Dafin terkembang sempurna sebelum akhirnya sebuah notifikasi pesan membuyarkan gumaman. Ia letakkan cincin dan meraih gawai yang ada di saku celana. Seketika wajah ceria pria itu berubah total saat membaca pesan dari Sisi. Gadis itu mengatakan ada keperluan di kampus dan membuatnya tak bisa hadir malam ini.
Mendesah resah, Dafin sandarkan punggung di kursi dengan mata tetap menatap layar ponsel. "Kenapa selalu gagal, sih? Kenapa saat aku kangen kamu, kamu selalu saja sibuk?"
Dafin menyugar rambut ke belakang. Teringat lagi kala ia selalu mengatakan hal yang sama pada Sisi ketika membatalkan janji temu yang sudah mereka sepakati sebelumnya. "Apa ini yang kamu rasakan saat aku mendadak membatalkan pertemuan kita?" lirih Dafin.
Ia perhatikan sekitar. Ruangan yang sudah disulap sedemikian romantis dan penuh warna berubah menjadi abu-abu di mata Dafin. Ada rasa kesal, sedih dan rasa bersalah menggumpal dalam dada di saat yang bersamaan. Apalagi saat melihat sebuket mawar merah yang ada di atas meja.
Dafin mendesah lirih, niat hati malam ini ingin mengatakan kabar baik serta melamar Sisi secara resmi, tapi ....
Menyentuh lagi layar ponselnya, Dafin lantas menaruh benda pipih itu ke telinga. Telepon terhubung dan tanpa ba bi bu ia pun berkata, "Cepat ke sini. Dalam satu jam kamu harus sudah sampai ke sini."
Satu jam lebih 5 menit.
Seorang gadis tinggi bertubuh langsing, berambut tergerai, dan mengenakan pakaian formal tergopoh berlari dan membuka pintu sebuah ruangan. Matanya langsung tertuju pada sebuah meja yang ada di tengah-tengah. Gegas ia hampiri orang itu.
"M-maaf, Pak. Maaf saya telat," ucap gadis yang tak lain tak bukan adalah Fia. Ransel hitam di punggung terlihat nyata karena gadis itu membungkuk menarik napas.
Akan tetapi, Dafin seperti mengabaikan usaha Fia. Ia malah berdengkus lalu melirik jam di tangan. "Kamu telat 5 menit, Fia," balasnya bernada datar.
"Maaf, Pak. Tadi macet, di luar juga hujan. Taksi gak bisa ngebut," papar Fia seraya mengatur napas yang masih terengah-engah.
"Ya sudah, duduk," ujar Dafin yang begitu terdengar memaksa.
Fia pun duduk karena lumayan kelelahan. Harus berlari menuju tempat yang Dafin ucapkan sebelumnya bukanlah hal mudah.
__ADS_1
Celingukan melihat kiri dan kanan, Fia pun tak tahan untuk tak bertanya, "Ngomong-ngomong, kenapa Bapak nyuruh saya kemari? Bukannya Bapak lagi kencan sama Mbak Sisi? Lalu ke mana dia sekarang?" cecar Fia yang terlihat tak paham. Sementara Dafin yang kesal menjadi masam dalam sedetik.
"Makan saja. Atau saya pecat kamu tanpa gaji," ujarnya yang masih terdengar galak.
"M-makan?" ulang Fia tergagap. Selain takut dipecat ia juga takut perutnya akan meledak. Sebelum datang ia telah makan bersama Dafan di kontrakan.
"Iya, makan? Kamu gak mau makan?" alis Dafin memukik tajam. Matanya menyipit penuh menyelidik hingga yang di tatap gelagapan sendiri.
"Maaf, Pak. Bukan gak mau, tapi gak bisa," balas Fia hati-hati.
"Kenapa gak bisa? Tinggal kunyah aja kok repot. Kunyah dan telan. Udah, gitu doang. Gak bisa?" papar Dafin yang seperti sengaja cari perkara.
Fia yang takut dipecat hanya bisa mendesah frustrasi. Ia tatap sang bos yang juga menatapnya sinis. Ni orang lagi PMS kali ya. Perasaan tadi sore mood-nya baik-baik aja. Kenapa sekarang nyebelin? Apa pacarnya batalin pertemuan? Cih, walaupun iya harusnya jangan tumpahin kekesalan ke orang lain dong. Gak berperikemanusiaan sama sekali. Untung bos. Coba bukan. Udah aku tabok dari dulu ni orang, batin Fia hingga suara dentingan sendok menyadarkan.
Tatapan Dafin masih sama. Ia terlihat masih kesal. "Ye malah bengong. Jawab. Apa kamu dalam diam ngatain saya?"
"Eh, gak Pak. Bukan begitu. Anu ... saya cu—"
"Maaf, Pak. Saya sebenarnya sudah kenyang. Saya sudah makan di kontrakan sama temen."
Pergerakan Dafin mendadak berhenti sedetik. Tanpa mengangkat kepala ia kembali berucap, "Temen? Temen siapa? Bukannya kamu di sini merantau dan gak punya kenalan?"
Dafin kembali mengiris steak dan mengunyah daging itu, tapi sebuah nama melintas dalam kepala dan tentu saja membuatnya menghentikan kegiatan. Ia tatap lekat Fia. "Temen yang kamu maksud apakah Dafan?"
Ragu-ragu Fia mengangguk, takut Dafin akan salah paham.
Wajah gelisah Fia membuat Dafin tersenyum sinis. Ia lap bibir lalu menenggak air putih yang ada di sebelahnya tanpa mengalihkan pandangan. "Ternyata kalian makin dekat. Apa kamu punya rasa sama dia? Apa kalian jadian di belakang saya? Ayo ngaku," cecar Dafin.
Fia cepat-cepat menggelang. "Enggak, Pak. Kita cuma temenan, sumpah. Lagian saudara Bapak mampir cuma mau ngucapin selamat atas promosi Bapak sama mau ngasih saya obat dan vitamin."
"Ngucapin selamat?" Dafin terkekeh garing. Sementara mata tetap mendeskreditkan Fia. "Apa kamu gak merasa aneh, harusnya yang mendapat ucapan selamat itu saya, bukannya kamu?"
__ADS_1
Fia terdiam memikirkan perkataan Dafin. Bener juga sih. Tapi mau gimana lagi, wong dia datang tanpa di undang terus ngasih obat sama makan malam. Masa iya aku usir? Fia bermonolog.
"Apa kamu gak sadar kalau ada udang dibalik batu?" lanjut Dafin lagi yang membuat Fia melongo secara spontan.
"Maksud Bapak?"
"Kamu gak ngerasa kalo dia itu ada rasa ke kamu?"
Sebuah perkataan yang sontak saja membuat Fia menelan ludah, sedetik kemudian menggeleng tak percaya. "Ya gak mungkinlah, Pak."
"Kenapa gak mungkin?" Nada bicara Dafin serius dan cenderung bikin gerah hati. Fia kembali dibikin bingung. Pria rapi di depannya itu seperti ingin mencari gara-gara. "Kamu perempuan dan dia laki-laki normal, bukankah itu mungkin-mungkin saja?"
"Ya gak lah Pak. Kita cuma temenan. Dia ke kontrakan cuma mau ngasih obat sama vitamin, itu aja kok," balas Fia. Gadis itu sedikit berdengkus. Tudingan Dafin lumayan membuat dada panas mendadak.
Namun, Dafin lagi-lagi mengabaikan ekspresi wajah Fia. Ia kembali menikmati steak seolah tak melakukan apa-apa padahal ada hati seorang wanita yang kesal karenanya.
"Beneran, Pak. Dafan ke kontrakan cuma bawain makan malam sama obat doang," ujar Fia meyakinkan.
"Wah, sekarang kamu sudah panggil dia dengan nama, pasti hubungan kalian lancar. Mulus kek seluncuran."
"Gak kok, pak. Beneran. Kita cuma temenan. Kita panggil nama ya karena saudara Bapak yang minta," jelas Fia, sedikit geram.
Akan tetapi Dafin malah tersenyum smirk. "Enak ya kalau punya teman seorang dokter. Kalau sakit ada yang kasih obat. Ada yang perhatian kasih vitamin. Ada yang selalu mengingatkan."
Sialan, ni orang bener-bener nguji iman banget keknya. Sabar Fia ... sabar .... Fia bermonolog lagi. Tangan yang ada di atas lutut sudah terkepal.
"Enak loh dapat obat, plus perhatian dari yang ngasih. Saya yakin penyakit apa pun pasti cepat hilang," sindir Dafin lagi.
"Gak kok, Pak. Gak semua obat itu baik."
"Lah, emang ada obat yang gak baik?" Kini Dafin serius menatap Fia. Tampak jelas ketidaksukaan dari raut wajah gadis itu. "Emang obat apa? Semua obat baik buat tubuh. Kalau sakit perlu obat. Mencegah sakit juga pakai obat," lanjut Dafin.
__ADS_1
"Ada, obat nyamuk. Bisa bikin keracunan," balas Fia bernada jutek. Bodo amat, dia kesal karena orang lain tapi imbasnya ke aku. Dasar bos gila, sambung Fia dalam hatinya.