
POV Fia.
"Ya, memang sebaiknya begitu. Kamu langsung saja ke ruangannya. Kamarnya ada di sana, kelas VVIP. Kamu jalan saja terus dari sini. Nanti pas di sana kamu pilih sebelah kiri," jelas Mbak Nasya seraya menunjuk sebuah lorong. Mataku terfokus ke sana.
Demi kerjaan aku rela melakukan apa saja yang penting halal. Jika harus mengemis pun pasti akan aku lakukan. Aku tidak akan protes.
Setelah menghapal penjelasan Mbak Nasya yang singkat, aku pun mengangguk paham. Wanita hamil itu tersenyum kecil. Begitu baik hatinya. Dari awal bertemu aku sudah respect sama dia.
"Baik, Mbak, terima kasih banyak," ucapku.
"Iya, good luck ya."
Aku pun melangkah. Sudah tak ada waktu untuk bersantai. Keluarga dan adik-adikku di Bali menunggu kabar baik. Aku ingin membahagiakan Ibuk sama Bapak. Ingin membuktikan kalau usaha mereka menyekolahkan aku tidaklah sia-sia. Ingin memberi kebahagiaan yang nyata untuk mereka, baik dari materi maupun kesuksesan.
Kamu bisa, Fia. Pasti bisa.
Kalimat itu terus kuteriakkan dalam pikiran. Menyemangati diri sendiri tak mengapa. Menunggu orang lain menyemangati entah bila. Sudahlah. Aku hanya akan terfokus pada diri sendiri.
Fia, Cayyo!
Langkah makin lebar. Aku ingin cepat segera tiba di ruangan Pak Dafin. Namun, ada yang mendekat. Seorang pria dengan wajah yang sepertinya aku kenal.
Tunggu dulu, itu sepertinya Pak Dafin.
Tapi, kenapa dia bisa santai begitu?
Kata Mbak Nasya tu orang cidera, tapi ini kok bisa keluyuran. mana pake baju putih pula, udah kayak dokter aja.
Eh tapi ....
Apa mungkin dia saudaranya Pak Dafin, ya?
Ya ya ... aku ingat Pak Dafin menyebut nama Dafan tempo hari. Yah ... aku yakin. Sekarang aku sudah ingat namanya. Dafan ini orang yang pegang susu aku kemarin.
Dasar berandal sinting!
Kudekati dia yang juga berjalan ke arahku. Aku memberikan tatapan nyalang tapi dia tak berekspresi. Apa dia lupa sama kejadian kemarin?
Ck! Dasar! Awas kamu. Tunggu balasanku.
Tanganku sudah terkepal. Kini kami saling berhadapan.
"Kamu ... kamu saudaranya Pak Dafin, 'kan?" tanyaku. Agak terkesiap melihat wajahnya dari jarak dekat. Mereka begitu mirip. Identik.
Dahinya mengernyit. "Bagaimana bisa kamu ...?"
Lisannya terjeda. Aku menunggu lanjutannya. Apa mungkin sekarang dia ingat aku?
Heh, bagus kalau begitu. Aku siap membuat perhitungan kalau dia gak minta maaf duluan.
Namun, lagi-lagi aku merasa aneh. Dia memindai wajahku lumayan lama. Aku risih juga dibuatnya.
Apa dia juga ketularan mesumnya Pak Dafin? Aku harus hati-hati.
Kupindai balik wajah Dafan. Akan tetapi tanpa terduga dalam sedetik tubuh kami sudah menempel. Dia dengan kurang ajar merengkuh pinggangku, erat. Aku meronta, ingin lepas tapi tak bisa. Dalam bola matanya aku dapat melihat kegelisahan.
Sial. Aku jadi penasaran apa isi kepalanya?
__ADS_1
"Heh! Kamu mau ngapain?" hardikku dengan usaha yang sama—meronta dengan mendorong dadanya.
Akan tetapi rengkuhannya terlalu kuat. Aku sesak, tak bisa terlepas. Ingin berteriak tapi tak ada seorang pun yang ada di sekitar sana. Hanya ada seorang gadis muda yang berdiri di belakang Dafan.
Aku pukul dada Dafan. Tatapanku sangat nyalang. Namun, lagi-lagi dari matanya aku melihat sebuah tatapan yang seolah menginginkan pertolongan.
Gila, apa yang ada di otakku ini? Kenapa aku jadi lemah?
Kuatlah Fia. Sadar!
Kudorong dadanya. ''Kamu jangan kurang ajar, ya. Kamu mau mati? Masalah kemarin belum kelar tau gak!" hardikku lagi.
"Aku tau. Izinkan aku nambah 1 masalah lagi. Setelah ini aku siap menerima hukumannya."
Sialan, jawaban macam apa itu?
Tunggu, jangan bilang dia mau nyium aku?
Pliase, ya. Jangan gila. Bibirku masih perawan. Aku gak mau kehilangan ciuman pertama pada orang asing.
Sumpah, detak jantungku makin bertalu. Embusan napasnya menerpa wajahku. Kini, tangannya yang kekar mulai merayap di belakang kepala.
Ya, Tuhan. Tolong!
Kurapatkan bibir. Mataku terpejam sangat erat dengan tangan yang tetap mendorong dadanya.
Aku meronta, tapi dapat kurasakan kepala makin maju ke arahnya. Napas beraroma mint masuk dalam hidungku.
"Tolonglah. Berpura-pura saja kita tengah berciuman. Setelah ini terserah kamu mau hukum aku kek gimana. Kalau kamu mau, aku bisa ganti rugi. Dan soal kemarin, itu benar-benar gak sengaja. Aku juga bisa ganti rugi soal itu," lirihnya. Perkataan yang membuatku damai sekaligus kesal.
Kubuka mata dan melihat gadis muda yang ada di belakangnya tengah sesenggukan. Gadis itu dengan perlahan melepas sepatu.
Itu artinya pria ini sengaja nge-drama biar anak itu kesal?
Ish! Brengsek juga dia ternyata.
"Bantu aku sekali ini saja. Bantu ya ...."
"Tapi—"
"Udah. Jangan banyak gerak. Aku cuma mau bikin gadis yang di belakang sana marah.''
Dasar bodoh! Dia gak hanya marah tapi siap melayangkan pukulan.
"Tolong jangan lakukan!"
Terdengar teriakan dari arah belakang. Gadis itu menatap nyalang ke arah kami.
"Kamu jahat. Kamu bikin dia nangis tau gak," ucapku.
"Biar. Memang itu mauku," balasnya enteng.
Sontoloyo. Wajah tampan tapi otaknya kurang se-ons.
"Dafan, hentikan gak! Kalo enggak, aku tabok nih!" teriak gadis itu lagi. "Aku serius, Dafan!
Jujur, ancaman gadis itu lumayan membuat bulu kuduk berdiri. Secara sudah ada sepatu di tangannya.
__ADS_1
"Dafan! Berhenti kagak!" teriak gadis itu lagi. Dia mendekat. Aku sontak memejamkan mata dengan posisi yang masih sama. Kami benar-benar menempel tapi masih ada se-senti jarak yang tersisa antar bibir.
Dup-dup-dup.
Jantungku seakan berdisko. Aku tak ingin melihat hal nekat apa yang akan dilakukan gadis itu. Lebih baik aku tutup mata saja. Ini bukan urusanku.
Bugh!
Suara benturan keras terdengar jelas. Bersamaan dengan suara itu mendarat sesuatu yang lembut ke bibirku.
Tunggu dulu, ciuman pertamaku telah terenggut.
Aku sontak membuka mata dan melihat Dafan tengah menggaruk kepala. Dia meringis dan gadis itu telah lenyap.
Apa dia benar-benar di tabok pake sepatu?
Sukurin.
Nyalang aku tatap dia.
"Maaf, ya, soal itu," ucapnya seraya menunjuk bibirku.
Sialan, kenapa pipiku terasa hangat.
"Aku gak sengaja. Aku gak nyangka Nara benar-benar memukul," lanjutnya.
Sumpah, aku makin gerah. Ketidaksengajan kenapa selalu menguntungkan dia, dan sialnya kenapa harus sama aku. Apes banget sih.
"Aku beneran gak senga—"
Lisannya terjeda karena aku melayangkan tendangan. Tepat, terkena tulang keringnya. Aku yakin itu sakit. Dia bahkan sampai terduduk.
Sukurin. Emang enak?
"Itu balasan karena udah mempermainkan perempuan. Dasar cabul," ucapku. Senyum smirk sengaja ku ukir.
Dia melongo. Mungkin ingin membela diri, tapi aku tak punya waktu. Aku lantas pergi meninggalkannya.
Kesal rasanya. Namun, ada sesuatu yang harus aku urus. Pekerjaanku tengah di ujung tanduk.
Aku harus bisa menemukan ruangannya Pak Dafin. Tapi, di mana ruangan si pria galak itu?
Beruntung, aku menemukannya setelah beberapa kali celingak-celinguk melihat plang nama pasien.
Kubuka pintu, tapi pemandangan di depan mata membuatku terpaksa membalik badan. Dafin, pria mesum itu tengah berciuman dengan seorang wanita.
Sialan!
Oh Gusti ... kenapa cobaan-Mu berat sekali?
***
Like komen vote serta rate 5 jgan lupa.
Liat visual merea di ig ku yuk.
@riharigawajixjoe.
__ADS_1