
"Kalau bapak sama ibu kamu kurang lebih kamu." Sita menghela napas panjang. Tak dipungkiri ketika membahas mendiang anak menantunya, rasanya ada yang menghunjam jantung. Nyeri dan ngilu. Anak semata wayang begitu cepat dipanggil Tuhan.
"Maksudnya, Nek?" Alis Litania tertaut. Ingin menyimpulkan tapi takut salah menarik kesimpulan. Apakah yang dimaksud neneknya adalah sang ibu juga menikahi laki-laki tua.
"Ibu kamu itu nikah sama gurunya sendiri. Guru les."
Ebuset! Ternyata beneran sama. Litania membatin dalam diamnya.
"Waktu itu Nenek sempet kaget saat ibu kamu bawa laki-laki yang lumayan dewasa ke rumah. Padahal Ibu kamu itu baru setaunan lulus SMA. Yang bikin Nenek tambah shock itu waktu tau yang dikenalin ibu kamu itu, duda."
Mata Litania melotot. Kaget. "Jadi Bapak itu duda?"
"Iya, beda umur mereka sekitar sebelas taun."
Gila, ini kebetulan apa kutukan? Batin Litania lagi. Ia perhatikan wajah sang nenek dengan serius. "Terus, Nenek setuju aja, gitu?"
"Awalnya enggak, tapi kakek kamu bilang, kalau mereka saling cinta ya kita sebagai orang tua harus mengaminkan. Gak baik menunda atau menghalangi keinginan anak. Anak itu sudah besar, sudah bisa berpikir mana yang baik dan buruk. Daripada mereka melakukan yang enggak-enggak, ya udah halalin aja."
"Astaga, begitu sederhana pemikiran kakek ...." Litania menggeleng heran seraya menepuk jidatnya sendiri.
Mendengar decakan tak percaya sang cucu, Sita pun mengukir senyuman. "Begitulah kakek kamu. Kami sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan jadi gak pernah berpikir atau berkhayal yang tinggi-tinggi. Karena apa, kalau jatuh itu sakit. Yang penting, kalau hati sudah yakin, ya udah ... tinggal lanjutin."
"Tapi, apa Nenek gak pernah berharap ibu sukses dulu gitu sebelum kawin. Paling enggak ngasih gaji bulanan gitu. Kan udah besarin sama sekolahin."
__ADS_1
Sita kembali tersenyum. Ocehan Litania membuatnya gemas sendiri. Bagaimana bisa pikiran yang masih begitu dangkal sebentar lagi akan melahirkan anak. Astaga, sepertinya Chandra harus menuntunnya kembali dari pemikiran yang sesat.
"Litan, membesarkan anak itu wajib dan keharusan. Gak boleh ada embel-embel ingin dibayar atau dibalas jasa. Ingat pepatah, waktu kecil anak itu milik kita, kalau dia sudah besar ya bukan lagi milik kita, malainkan dirinya sendiri. Kita sebagai orang tua wajib mendidik dan mengayomi agar kelak anak kita gak salah jalan. Maka dari itu, didiklah sewaktu kecil. Kalau udah besar baru dididik ya percuma. Nasehat bakalan mental," jelas Sita.
Litania menganggukkan kepala. Meski belum paham akan alasan kenapa menikahkan ibunya yang masih belia, ia tetap beranggapan itu semua demi kebaikan. Sama sepertinya dulu. Menikahkan dengan Chandra yang jelas berusia jauh darinya. Beruntung keluarga itu begitu baik hingga ia betah dan tak memberontak.
"Lagipula gak ada alasan kami buat nolak lamaran bapak kamu. Duda gak punya anak bukan kecacatan, Litan. Untuk berumah tangga itu yang terpenting akhlak dan masa depan terjamin. Bapak kamu kan guru, pasti bisa mengayomi ibu kamu dan menafkahinya dengan layak. Dan di mata kami, bapak kamu itu berakhlak baik, yang terpenting lagi, mereka berdua saling sayang. Walaupun nikah muda, ibu kamu itu gak pernah ngeluh. Mereka gak pernah berantem. Harmonis sampe ajal menjemput." Ada air tergenang di pelupuk mata Sita. Mengenang masa lalu membuatnya sedih. Namun, kesedihan tak boleh berlanjut.
"Ya sudah, tidur, sudah malam." Sita berbaring dan menyelimuti diri. Litania pun mengikuti. Mata bumil itu menatap plafon kamar dengan tangan mengusap perut.
"Nek," pangilnya.
Sita berdeham. "Kenapa lagi? Cepetan tidur. Udah larut. Gak baik untuk kesehatan ibu hamil."
"Astaga Litania, pertanyaan kamu gak pernah ada habis-habisnya. Nenek udah kaya ikutan kuis. Kaya enggak ... pusing iya," sungut Sita seraya memutar posisinya sedikit malas. Matanya menatap Litania yang sedang menatap langit-langit kamar. "Ya udah, mau nanya apaan. Cepetan, Nenek udah ngantuk."
"Melahirkan itu sakit gak, sih, Nek."
"Enggak. Rasanya cuma kaya kebelet pengen ke toilet," jawab Sita. Sengaja berbohong agar Litania tak takut saat melahirkan kelak.
"Masa iya, sih Nek. Segampang itukah melahirkan?" tanya Litania lagi dengan mata masih terfokus ke lampu gantung kamar.
"Iya, gak sakit. Tenang aja. Yang penting siapin fisik dan bulatkan tekat."
__ADS_1
Litania manggut-manggut. "Ya udah deh. Litan percaya."
"Oiya, kamu ada ikut senam prenatal, 'kan?" Sita melihat wajah Litania dengan serius. Sorot matanya tajam. Apalagi setelah mendapat cengiran kuda dari Litania. "Jadi kamu belum pernah ke kelas ibu hamil?" lanjut sita lagi dengan nada tinggi, tak percaya.
"Belum, Nek. Aku mager. Buat jalan aja susah. Lebih senang di rumah sambil rebahan."
Baru saja menyelesaikan kata, sebuah cubitan mendarat di bahu, Litania meringis seraya menggosok area yang dicubit neneknya. "Kenapa dicubit, sih, Nek?"
"Biar kamu sadar. Melahirkan itu bukan perkara mudah. Jadi jangan terlalu santai. Inget, ada tiga nyawa yang jadi taruhan. Kamu dan kedua anak kamu," jelas Sita dengan nada tegas.
"Loh kok Nenek marah. Bukannya tadi Nenek bilang gak sakit. Rasanya cuma kayak ngeden mau BAB. Ya udah, jadi gak perlu ikut kelas yang begituan. Lagian aku malas. Pasti pesertanya ibu-ibu yang suka bergosip. Aku gak mau, Nek. Nanti otakku terkontaminasi hal yang buruk."
Duh Gusti .... Tolong sadarkan cucuku ini. Sita membatin seraya mendengkus. Ia cubit lagi lengan Litania dan memelototkan mata. "Pokoknya besok kamu harus mulai. Jangan malas. Nenek yang bakalan anter kamu."
"Yah, Nenek ...."
"Udah, gak usah protes. Sekarang mending kamu tidur. Siapin tenaga untuk besok."
"Tapi aku males, Nek. Capek. Aku di rumah aja, ya. Instrukturnya aja yang suruh ke rumah," rengek Litania. Ia goyang bahu sang nenek yang sudah memunggunginya.
Akan tetapi tak ada jawaban. Litania kesal dan kembali menggoyangnya. "Panggil instrukturnya aja, deh. Ya ya ya."
"Udah, jangan manja. Berinteraksi dengan orang lain biar ilmu kamu nambah. Jangan malas yang dibanyakin. Bergaul juga biar wawasan kamu itu luas. Kalau gak suka mereka berghibah ya jangan nimbrung," jelas Sita dengan posisi yang masih sama.
__ADS_1
"Tapi, Nek—"