Legend Of Beishang

Legend Of Beishang
194. Serangan Mendadak


__ADS_3

Wajah datar Lin Beishang berubah menjadi wajah kesakitan ketika berada di dalam tenda yang sepi. Lin Beishang duduk dan menyiapkan obatnya lalu membuka pakaian luarnya yang basah oleh darah.


Lin Beishang menguatkan hatinya dan menarik panah di bahunya dalam sekali cabut, Lin Beishang menahan dirinya untuk tidak berteriak, matanya membelalak ketika panah dicabut dari tubuhnya.


Tubuhnya sedikit bergetar ketika rasa sakit yang sangat menakutkan menghantam tubuhnya, tapi dia tidak bisa berlama lama.


Langsung menuangkan bubuk obat pada luka miliknya untuk menghentikan pencerahan, Lin Beishang mendesis pelan kala bubuk obat menyentuh lukanya.


Itu sangat perih tentu saja bahkan pria dewasa akan menjerit kesakitan, tapi Lin Beishang hanya mendesis pelan.


Lin Beishang dengan lembut memeluk dirinya sendiri untuk mengurangi rasa sakit, sudah lama tidak memiliki luka fisik semacam ini dan tubuhnya telah menjadi manja.


Sampai sampai, luka semacam ini hampir tidak bisa ditanggung olehnya, Darah telah berhenti mengalir berkat penyembuhan alami yang dimiliki tubuhnya sangat cepat dan berkat obat obatan yang dibawa olehnya, tentu saja.


Setelah beristirahat selama 10 menit dan memastikan bahwa dirinya baik baik saja, Lin Beishang mengenakan jubah luarnya lagi dan berjalan ke depan.


"Bagaimana dengan korban kita ?" Tanya Lin Beishang dengan mantap.


"Gongzhu, kamu baru saja tertusuk panah dan tidak ada tabib yang merawatmu. Sebaiknya kamu beristirahat dulu. " Ucap Jenderal Yu dengan khawatir.


"Tidak apa apa, aku sendiri adalah seorang tabib, aku bisa mengobati diriku sendiri dan sekarang aku sudah baik baik saja. Ayo bahas tentang bagaimana menghadapi selanjutnya. " Ucap Lin Beishang pada Jenderal Yu.


Mereka berdua membahas strategi, Lin Beishang mendengarkan setiap pendapat Jenderal Yu dengan sabar yang membuat Jenderal Yu kagum.


Lin Beishang juga menggabungkan strategi yang dimilikinya, pasukan mereka terbatas, senjata mereka bahkan lebih terbatas lagi.


Tidak ada yang bisa dilakukan selain bertahan, mereka hanya bisa sedikit menyerang dan banyak bertahan.


Lin Beishang dan Jenderal Yu adalah orang yang terbiasa dengan medan perang, tentu saja mudah untuk memahami rencana satu sama lain.


Dalam sekejap, mereka telah menyusun rencana bertahan yang baik dan pasti akan membuat mereka berhasil mempertahankan Kota Lanyue sampai pasukan bantuan datang.


Sementara di sisi lain,


Bei Zhao dan 500 pasukan yang dibawa olehnya telah mencapai hutan menuju Kota Lanyue, tiba tiba disergap oleh puluhan orang atau bahkan ratusan orang yang keluar dari balik semak semak yang lebat.


"Serang !" Teriak pemimpin pasukan musuh dengan tudung hitam.


"Hati hati !" Teriak Bei Zhao pada prajuritnya.


Prajuritnya langsung turun dari kuda dan menyerbu musuh dengan ganas sementara Bei Zhao sendiri tidak tinggal diam dan langsung menghadapi pemimpinnya.


"Tuan Chu Haoran, kamu memiliki posisi yang baik yang diberikan oleh Tuanku. Kenapa kamu memilih untuk bersikeras melawannya ? " Tanya Orang yang dilawan oleh Bei Zhao, itu adalah suara wanita.


"Kamu pasti bawahan Chu Linfei bukan ?" Tanya Bei Zhao.


Orang di depannya tampak sedikit terkejut karena dia berhasil menebak dengan benar, Bei Zhao hanya mendengus dingin sebelum beberapa puluh orang lain, keluar dadi semak semak dan menyerang pasukan mereka juga.


Hati Bei Zhao diliputi oleh kecemasan tentang keadaan Lin Beishang, bagaimanapun mereka tidak bisa menyelesaikan dengan cepat hal ini, paling tidak akan terlambat 1 jam atau paling lama terlambat 3 jam.


Pada saat itu, maka itu pastilah telah terlambat. Bei Zhao menjadi semakin cemas setelah memikirkan ini tapi berusaha untuk tidak menunjukkan nya di hadapan musuh.


"Bagaimana kau bisa tahu ?" Tanya orang di depannya.


"Mudah saja, Chu Linfei berpikiran luas dan tenang, tidak akan keberatan untuk menarik ku kembali selama aku patuh padanya. Sementara Chu Huli adalah orang yang berapi api dan pemarah, Chu Huli tidak akan menawarkanku posisi di tempatnya lagi. " Jawab Bei Zhao dengan seringaian.


"Apakah dirimu sendiri bisa menghalangiku ?" Tanya Bei Zhao.


"Aku tidak akan bisa menghalangi mu apalagi menghentikanmu, yang bisa ku lakukan adalah menundamu. Pada saat itu, yang bisa kamu temui hanyalah tulang belulang !" Ucap orang di depannya.


"Apakah kau bisa menahanku untuk waktu yang lama ?!" Ejek Bei Zhao dan mulai bertarung.


Kekuatan orang di depannya sama sekali tidak lebih rendah darinya, sepertinya berada di tahap Kaisar yang sama dengannya.


Tapi, bagaimana mungkin ? Apakah akan ada perubahan besar yang terjadi ? Tahap Kaisar yang semula tidak pernah ada, tiba tiba muncul dalam jumlah yang tidak sedikit.


Kebetulan yang membuatnya dan Lin Beishang menjadi Tahap Kaisar saja sudah bisa dianggap sebagai keajaiban, tapi orang di depannya ini juga Tahap Kaisar.


"Bagaimana mungkin aku tidak bisa ? Kekuatanku dan kekuatan mu sama, aku tidak bisa dikatakan sebagai bawahan Chu Linfei. " Ucap wanita di depannya sambil memblokir pedangnya.


"Lalu, jika bukan bawahan Chu Linfei, lalu kamu adalah antek Chu Huli ?" Tanya Bei Zhao.


"Benar tapi salah, orang sepertimu tidak akan pernah mengerti hal ini. Orang yang tumbuh penuh dengan kedinginan sepertimu, tidak akan pernah memahami emosi yang dimiliki oleh manusia. " Ucap wanita itu.


"Hal apa yang tidak bisa aku mengerti ? Aku pikir, kamu yang tidak mengerti diriku. " Ucap Bei Zhao dengan sinis sementara pedang mereka terus menerus beradu , mereka beradu dengan sengit.


Sementara di Kota Lanyue, masih dengan peperangan yang akan datang, tanpa terasa 2 jam telah berlalu dan pasukan bantuan masih belum datang.


Lin Beishang tidak terkejut hanya saja agak kecewa, Lin Beishang telah memperkirakan ini, bukan karena tidak percaya pada Bei Zhao.


Melainkan, pengkhianat di dalam Kekaisaran ini terlalu banyak dan penjahat berada dalam kegelapan sementara mereka berdiri di bawahan cahaya yang membuat mereka dengan mudah dipantau oleh penjahat.

__ADS_1


Tidak akan menutup kemungkinan jika Bei Zhao sedang ditunda, tujuan mereka adalah membunuhnya.


Tatapan Lin Beishang menjadi dingin setelah memikirkan ini, baik Chu Huli atau Chu Linfei, dia akan membalas mereka sepuluh kali lipat di masa depan.


"Jenderal Yu, bersiaplah. Karena pasukan bantuan belum datang sampai saat ini maka kita hanya bisa menjalankan rencana yang kedua. " Ucap Lin Beishang.


"Untunglah Gongzhu telah menyusun ini semua x, jika tidak maka Jenderal Tua ini akan merasa bingung untuk melakukan sesuatu. " Ucap Jenderal Yu.


"Tidak apa apa, pada saat ini yang paling penting adalah mempertahankan Kota Lanyue, karena jika mereka berhasil masuk maka mereka akan langsung menyerang ibukota. " Ucap Lin Beishang.


Mendengar kata katanya, air mata mengalir bagaikan anak sungai di wajah tua milik Jenderal Yu.


"Kita mempertahankan Kota ini mati matian untuk Ibukota dan Istana, tapi Istana bahkan tidak mengirimkan bantuan dengan sepenuh hati. Bahkan membuat Gongzhu menderita disini bersama dengan kami. " Ucap Jenderal Yu dengan terisak.


"Berbagai prajurit yang telah tumbuh bersamaku , mulai dari berumur 15 tahun atau bahkan telah menjadi pria dewasa dan menjadi ayah dari sebuah keluarga kecil harus menjadi korban. Kami telah meminta bantuan sejak 3 hari lalu, sekarang tidak menyisakan apapun. " Lanjut Jenderal Yu dengan sedih.


Prajurit lain juga ikut sedih mendengarkan ini, mereka memiliki ayah, ibu, anak, dan istri. Tentu saja berat untuk menjalankan perang yang mematikan ini.


"Kami mengabdikan hidup kami untuk Istana tapi Istana bahkan tidak menoleh ketika salah satu dari kami meninggal, apakah kami bukan manusia yang layak untuk diperhitungkan. " Ucap Jenderal Yu dengan tidak tahan lagi melihat para prajurit yang telah dilatihnya sejak muda , jatuh satu persatu.


Bahkan hati keras Lin Beishang itu merasa gelisah dengan hal ini.


"Percayalah padaku, pasukan bantuan akan datang. Yang paling penting adalah bertahan bukan menyerang, jika kondisi kalian memburuk maka mundurlah. Jika ada yang meninggal disini maka aku bersumpah untuk melindungi dan membiayai keluarga kalian. "Ucap Lin Beishang dengan serius.


"Gongzhu, tidak perlu menekan dirimu sendiri. Kita semua berjuang disini, kamu membebani dirimu sendiri seperti ini. Apakah kami akan merasa senang ?" Ratap salah satu prajurit dengan sedih.


"Benar, Gongzhu tidak perlu merasa bersalah." Ucap yang lain.


"Gongzhu adalah orang yang hebat dan pemberani, hidup dan mati tidak penting lagi. Paling tidak, orang orang akan tahu bahwa kami bertarung dengan seorang wanita yang hebat seperti Gongzhu !" Ucap prajurit yang lain dengan senyum ceria.


"Ya, hidup dan mati tidak penting lagi !" Teriak yang lainnya.


Jenderal Yu menyeka air matanya dan memaksakan diri untuk tersenyum. Jenderal Yu membawanya untuk maju lebih jauh sehingga ucapan mereka tidak di dengar oleh yang lain.


"Gongzhu, kamu telah membuat banyak kemajuan. Anak anak ini tidak jahat, hanya saja terlalu nakal pada awalnya sehingga memandangmu dengan rendah. Aku harap, di masa depan jika aku meninggal maka Gongzhu akan merawat mereka untukku. " Ucap Jenderal Yu dengan senyum sedih.


"Apa maksudmu, Jenderal Yu ? Bagaimana mungkin kamu begitu pesimis ?" Tanya Lin Beishang dengan sedikit kecemasan.


"Medan perang tidak terkendali, orang tua ini hanya ingin memohon hal ini pada Gongzhu agar Gongzhu menjaga mereka, kebanyakan dari mereka adalah yatim piatu tapi ada juga yang masih memiliki ayah dan ibu yang sudah tua. "Ucap Jenderal Yu.


"Jenderal Yu, kamu tenang saja. Bahkan tanpa kata katamu, aku juga akan melakukan ini. " Ucap Lin Beishang dengan dahi yang berkerut.


Lin Beishang pernah mendengarkan bahwa Jenderal Yu dan istrinya adalah seorang pemimpin pasukan yang hebat pada masanya.


Tapi, istrinya, putranya, semuanya pergi terlebih dahulu di medan perang. Sehingga hanya menyisakan dirinya sendiri di medan perang yang kejam ini.


Tidak lama, perang akan dimulai lagi dan semua orang mengangkat senjata mereka dengan penuh semangat.


Lin Beishang berdiri di garis depan dengan sebuah Pedang yang diambilnya di tanah.


"Tidak akan kembali tanpa kemenangan !" Teriak Lin Beishang.


"Tidak akan kembali tanpa kemenangan !"Teriak yang lain dengan semangat yang membara.


"Tidak peduli tua atau muda, aku akan membawamu pulang baik dalam keadaan hidup ataupun keadaan mati !! "Teriak Lin Beishang sekali lagi, Lin Beishang merasa bahwa dadanya menjadi sedikit sesak karena hal ini.


"Tidak akan kembali tanpa kemenangan !"


"Tidak akan kembali tanpa kemenangan !"


Para prajurit terus meneriakkan kata kata yang membakar semangat mereka menjadi lebih membara.


Mereka menyerbu maju dan Lin Beishang memutuskan untuk tidak bermain main lagi, dengan serangan yang mematikan, pedangnya berlumuran darah dengan begitu cepat.


Pedang menancap di jantung orang lalu kembali ditarik tanpa perasaan, Lin Beishang melihat pasukan Kekaisaran nya yang bertarung dengan mati matian dan penuh semangat.


Matanya menjadi sedikit panas tapi Lin Beishang tetap merasa untuk menahan hal ini, satu persatu prajurit yang pernah mendukungnya, jatuh dengan pedang yang menancap di dada mereka.


Ternyata inilah rasa dari menjadi seorang Jenderal, melihat satu persatu bawahannya mati dengan tragis dan tidak mendapat hadiah apapun dari Kaisar.


Kaisar memperlakukan mereka seolah olah itu adalah kewajiban mereka dan buka tanggung jawab Istana untuk menangani hal ini.


Berapa banyak anak dan istri yang ditinggalkan dalam peperangan ini, berapa banyak istri yang kehilangan suami dan berapa banyak anak yang tidak akan pernah bertemu dengan ayah mereka lagi ?


Melihat senyum optimis mereka sebelum perang membuat dada Lin Beishang menjadi sesak karena melihat satu persatu orangnya tumbang.


Lin Beishang menjadi lebih brutal dalam membunuh musuh, bahkan wajahnya telah dipenuhi oleh darah musuhnya.


Orang orang mengelilinginya dan memgepungnya, saat ini karena kurang hati hati, pita rambutnya terpotong oleh pedang dan rambutnya berkibar dengan liar.


Tatapannya memerah dan penuh kebencian, karena musuh telah memaksanya sampai ke sudut maka jangan salahkan dia karena terlalu kejam !

__ADS_1


Kekuatannya melonjak dengan begitu drastis dan nyawa musuhnya dituai layaknya sedang memotong rumput liar.


Tapi, tidak peduli seberapa banyak Lin Beishang membunuh musuh, musuh seolah olah tidak ada habisnya.


Tapi, semakin lama, semakin sedikit pasukannya yang tersisa, semakin menipis pasukannya.


Srrreett !


Tanpa diduga, sebuah pedang menebas tangannya, tangannya terluka dan luka terbuka tampak di tangan kirinya.


Pedangnya menancap di leher orang yang berani melukai tangannya, disini terlalu sesak, ada musuh dan ada teman.


Dia tidak bisa menggunakan Yue Shan, serangan Yue Shan tidak terkendali dan bisa saja menyerang orang yang salah.


Tatapan Lin Beishang menjadi sedikit lebih berbayang setelah berada di dalam keramaian yang menyesakkan ini.


Sejak awal, kondisi nya tidak terlalu baik dengan panah yang menancap di bahunya, saat ini bahkan jika telah mengerahkan semua tenaganya, masih sulit untuk melawan musuh banyak.


Tapi, tulang punggungnya terlalu keras dan menolak untuk menyerah. Dalam kehidupan ini, dia telah berulang kali diinjak oleh orang lain, tapi dia tidak pernah menyerah ! Tidak akan pernah menyerah !


Kata kata ini menjadi penyemangat, Lin Beishang berdiri dengan pedangnya dan membunuh lebih banyak orang, perlahan lahan luka lain mulai menghiasi kulitnya.


Lin Beishang terdorong ke depan kala pedang berhasil menebas punggungnya, darah telah tumpah sepenuhnya tapi harga dirinya tidak akan pernah tumpah.


Perlahan lahan musuh mulai mundur, itu artinya perang ini akan berhenti untuk sejenak dan kepalanya telah pusing.


Lin Beishang memuntahkan seteguk darah dan berlutut dengan satu kaki lalu mengenakan pedang sebagai tumpuan nya.


"Gongzhu !!!" Teriak Jenderal Yu dari belakangnya.


Lin Beishang tidak berhasil menghindar ketika sebuah pedang dilemparkan ke arahnya, Lin Beishang memejamkan matanya dan bersiap untuk menerima serangan itu.


Tapi, rasa sakit itu tidak kunjung datang dan ketika Lin Beishang menoleh ke belakang, itu adalah Jenderal Yu tua yang memblokir pedang itu dengan tubuhnya sendiri.


"Jenderal Yu !" Teriak Lin Beishang ketika melihat tubuh Jenderal Yu perlahan lahan tumbang.


Dengan mengandalkan kedua lututnya, Lin Beishang mendekati Jenderal Yu dan orang yang melemparkan pedang dibunuh oleh pasukannya yang tersisa.


Pasukannya yang tersisa mendekati Jenderal Yu dan berlutut di sebelahnya.


"Gongzhu, kamu harus menepati kata katamu. Sekarang, bawahan tua ini telah mengabdikan diri selama ini untuk Dinasti Tang dan sudah sangat lelah, sudah waktunya bagi bawahan tua ini untuk bertemu dengan keluargaku di sungai Kuning. Sampaikan pada Kaisar bahwa Bunga Plum akan mekar dimusim semi, keindahannya tidak akan pernah hilang walaupun di dalam lumpur, kami tidak akan pernah membencinya, hanya berharap bahwa dia akan mengambil jalan yang lebih baik di masa depan. " Ucap Jenderal Yu dengan sedih ketika di pangkuannya, darah mengalir dari sudut bibir Jenderal Yu.


Tangan Jenderal Yu yang penuh dengan kapalan tanpa diduga menyentuh wajahnya, Lin Beishang ingin menghindar tapi segera terdiam oleh kata kata Jenderal Yu selanjutnya.


"Kamu sangat mirip dengan ibumu, sayang sekali bahwa pamanmu, dan nenekmu meninggal lebih dahulu. "Ucap Jenderal Yu dengan dua garis air mata.


Lin Beishang membeku dan tidak bisa bergerak lagi, tubuhnya gemetar dalam kesedihan.


"Ka.. kamu ad... adalah Xia Zhong ? Kakekku ?"Tanya Lin Beishang dengan terpukul.


Xia Zhong tidak menjawab dan hanya tersenyum sedih lalu mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Aku berharap bahwa kamu memiliki kehidupan yang indah di masa depan. " Ucap Xia Zhong dengan sedih dan terbatuk batuk.


"Tidak ! Tidak !!! Bagaimana kamu bisa meninggalkan ku setelah mengatakan ini ?!!" Teriak Lin Beishang dengan kesakitan, air mata mengalir tanpa bisa dibendung.


"Maaf." Ucap Xia Zhong sebelum akhirnya benar benar menghembuskan nafas terakhirnya.


"Tidak ! Jangan pergi ! Jangan tinggalkan aku ! Kamu tidak boleh pergi !!"Teriak Lin Beishang sambil mengguncang guncangkan tubuh kakeknya dengan dua garis air mata di wajahnya.


"Jangan pergi...... " Lirih Lin Beishang dengan sangat sedih.


Seolah olah langit bahkan bisa merasakan kesedihan Lin Beishang, awan gelap mulai mendatangi mereka dan hujan deras mulai menghampiri mereka.


"Gongzhu, kamu terluka, Jenderal Yu telah pergi. Kamu harus dirawat. " Ucap salah satu prajurit sambil menahan tangis melihat kepergian Jenderal mereka.


"Kalian pergilah dulu, biarkan aku disini sebentar saja. Sebentar saja. " Ucap Lin Beishang dengan tatapan kosong.


Lin Beishang duduk sendirian ditengah hujan sambil memangku mayat Xia Zhong yang telah mulai mendingin, air mata dan air hujan telah bergabung menjadi satu, tidak menyisakan apapun.


...----------------...


Note :


Masalah Xia Zhong akan dijelaskan di chapter selanjutnya dan ada yang bisa tebak siapa yang menghalangi Bei Zhao untuk menunda Bei Zhao ?


Clue : Karakter itu wanita, karakternya sudah muncul berkali kali(bukan karakter baru), karakter ini suka dengan Bei Zhao.


Tulis jawaban kalian di comment ya !


2,5 k words

__ADS_1


__ADS_2