
Tidak lama kemudian, hujan masih membasahi tempat itu tapi suasana berubah menjadi sangat sunyi.
Lin Beishang hanya tertawa ringan ketika menyebutkan ketiga nama itu, ketiga orang itu adalah orang yang dekat dengannya.
"Selain ketiga orang itu, aku benar benar tidak bisa memikirkan nama lain. " Ucap Lin Beishang dengan senyum tipis.
"Apakah kamu benar benar memiliki prasangka bahwa mereka akan mengkhianati mu ? Maksudku, mereka semua adalah orang yang sangat dekat denganmu selama ini. " Ucap Bei Zhao dengan tergagap.
"Di dunia ini, yang paling sulit untuk ditebak bukanlah kehendak langit melainkan hati manusia. Mereka mengatakan bahwa mereka senang tapi nyatanya mereka marah. Tidak ada yang pernah benar benar tahu bagaimana manusia berpikir terhadap suatu masalah. Tapi , aku akan mengatakan bahwa aku tidak benar benar mempercayai siapapun kecuali kamu. Aku telah merasakan bahwa kamu pernah melukai ku di masa lalu, tapi aku benar benar masih percaya padamu tanpa syarat. " Ucap Lin Beishang dengan helaan nafas.
"Beishang, hidup seperti itu, bukankah melelahkan ? Setiap hari memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, apakah tidak melelahkan ?"Tanya Bei Zhao dengan sedih.
"Jika aku tidak melakukan ini, maka aku sudah akan lama tinggal di dalam tanah dengan tubuh yang kaku. " Jawab Lin Beishang dengan tenang.
"Perang lain akan segera dimulai, ayo bersiap. " Ucap Lin Beishang lagi sebelum Bei Zhao sempat untuk menceramahi nya.
Lin Beishang berdiri dengan bertumpu pada bahu Bei Zhao lalu mengangkat mayat kakeknya dan membawa tubuh Xia Zhong ke dalam tenda yang kosong.
Lin Beishang berganti pakaian menjadi pakaian biasa yang dipakai oleh setiap pasukan, bahannya kasar tapi Beishang merasa baik baik saja.
Sementara disisi lain, Lin Yue sedang mengenakan jubah dan sebuah topeng dan bersiap siap untuk pergi ke suatu tempat dengan tergesa-gesa, seolah olah ingin menyembunyikan keberadaan nya.
Sementara di sisi lain, kediaman tamu milik Chu Yi tampak sangat kosong dan sepi, seolah olah tidak memiliki tanda tanda kehidupan.
Chu Yi berjalan di halaman Istana Dinasti Tang dengan senyum tipis dan memetik sebuah bunga mawar yang tumbuh di sana.
Tanpa disadari, diri mawar telah sepenuhnya menancap di tangannya sampai tangannya berdarah dan ketika itu terjadi pun, senyum tipis Chu Yi tidak hilang, hanya menyeka nya dengan santai.
Di tempat Bei Zhao dan Lin Beishang, mereka berdua sedang bersiap untuk mempersiapkan pertarungan kali ini.
__ADS_1
"Kali ini, mereka tidak akan memiliki jalan mundur. Mereka bahkan tidak akan kembali hidup hidup, aku tidak akan membiarkan satu dari mereka untuk kembali. Bahkan jika perlu maka aku akan mengirimkan ini pada Chu Linfei secara pribadi. " Ucap Lin Beishang dengan seringaian.
Tidak lama, dengan baju zirah miliknya, Bei Zhao dan Lin Beishang berada di garis terdepan pasukan dan menerjang ke depan ketika lonceng di bunyikan.
Lin Beishang membawa belati kupu kupu yang diberikan oleh Bei Zhao padanya, senjata ini telah dibasahi oleh darah banyak orang.
Belati ditusukkan dan kembali ditarik tanpa belas kasih, Lin Beishang seolah olah telah berubah dari sebelumnya.
Jika sebelumnya masih ada sedikit keragu raguan maka kali ini dia telah benar benar menggila, seolah olah jika tidak membunuh orang orang ini maka dia akan menghilang.
Kebenciannya telah naik sampai ke tahap yang tidak dapat ditahan, dimana setiap kali. memejamkan matanya, bayangan dimana kakeknya memblokir serangan itu untuknya selalu terbayang di benaknya.
Rasa bersalah telah menghantuinya membuatnya gila dan merasa sakit, Lin Beishang membunuh tanpa pandang bulu dan pada akhirnya mencapai ketua pasukan.
Mereka bertarung, suara dentingan dari hasil tabrakan pedang dan belati miliknya menghiasi peperangan ini.
Lin Beishang dengan lincah menghindari serangannya dan memutar belati nya beberapa kali untuk menepis serangan seraya mencari titik kelemahan musuh.
Semakin lama, semakin berbahaya, gerakan Lin Beishang tampak lembut seperti hempasan air tapi juga mematikan, dapat membuat seseorang tenggelam.
Gerakannya tampak seperti bunga yang sedang menari dan burung yang sedang bernyanyi. Tapi nyatanya, setiap gerakannya seperti pisau yang berputar putar di samping leher mangsanya dan bersiap untuk memotong mangsanya kapan saja.
Sangat mudah untuk membuat musuh terkecoh dengan gerakannya yang selalu tampak indah dan anggun.
"Katakan padaku, apakah kamu bawahan Chu Linfei atau Chu Huli ? Kemana aku harus mengirimkan mayatmu ?" Tanya Lin Beishang dengan senyum sinis.
"Kau, tidak akan bisa mengalahkan ku !" Ucap orang di depannya.
Creshhh !!
__ADS_1
Belati nya membelah topeng perak yang digunakan oleh musuhnya dan ketika topeng itu terbelah menjadi dua, Lin Beishang tertawa ringan dan langsung mengenali wajah di balik topeng itu.
"Tuan ketiga dari Dinasti Qin, hm ? Aku simpulkan bahwa kamu adalah bawahan Chu Linfei. Bagaimana menurutmu ? Kita pernah bertemu sebelumnya, tapi kamu tidak akan pernah mengenaliku. Karena, aku menyamar menjadi Selir Yanping pada saat itu. "
"Bagaimana menurutmu ? Kamu bahkan tidak bisa membedakan apakah aku menyamar atau tidak ketika kamu sedang melapor pada Kaisar. " Ucap Lin Beishang dengan senyum acuh tak acuh.
"Saat ini, bahkan jika kamu ingin mundur, maka kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk itu !" Ucap Lin Beishang dengan sinis.
"Sial ! Aku tidak akan mati sendirian, aku akan menarikmu bersama denganku !" Ucap Tuan Ketiga dan melemparkan bubuk merah ke arahnya.
Lin Beishang tidak menghindar dan belati nya menancap di jantung Tuan ketiga tepat ketika bubuk ditumpahkan padanya.
"Racun Bunga Plum, tidak buruk. Tapi sangat buruk sekali, racun rendahan ini. Apakah kamu pikir bisa membunuhku ? Bahkan racun Gu tidak akan bisa membunuhku, maaf karena mengecewakan mu m" Bisik Lin Beishang sebelum mencabut belati nya dengan kejam dan tubuh Tuan Ketiga jatuh ke belakang dengan tatapan yang membelalak karena tidak percaya bahwa dia akan berakhir dengan begitu tragis.
Lin Beishang tersenyum sinis dan menatap belati nya yang berlumuran darah dengan tatapan meremehkan.
Melihat pemimpin mereka telah dikalahkan, para anak buah mulai berusaha untuk melarikan diri. Tapi, apakah Lin Beishang mengizinkannya ? Tentu saja tidak.
Bagaikan Dewi Kematian, Lin Beishang dengan ganas mencabut nyawa satu persatu orang yang tersisa dengan sebuah belati di tangannya.
Setelah semuanya selesai, Lin Beishang bertumpu pada Bei Zhao sebelum akhirnya jatuh ke dalam pelukan Bei Zhao dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Dengan bahan pakaian yang tipis dan kasar ini, Bei Zhao bisa melihat bahwa ada bekas luka di bahu Beishang dalam posisi sedekat ini.
"Apakah Gongzhu kalian ada terluka dibahu ?" Tanya Bei Zhao pada salah satu prajurit.
"Ya ! Gongzhu tertusuk panah ketika awal awal dan tidak beristirahat terlalu lama sebelum akhirnya mulai menyusun rencana lagi. " Ucap prajurit itu.
...----------------...
__ADS_1
Bonus Up : 2 / 3