
Disisi lain, Lin Yue dan Ye Xushi berada dalam suatu ruangan yang sangat luas dan disana ada sangat banyak orang yang sedang melihat presentasi yang dibuat oleh Lin Yue.
Lin Yue baru berumur 19 tahun dan masih kuliah, sementara Lin Beishang baru saja memasuki masa kuliah.
Ye Xushi sepanjang rapat hanya memperhatikan Lin Yue, bahkan jika Lin Yue hanya bergerak satu langkah saja, Ye Xushi masih menolak untuk melepaskannya.
Sesampainya di luar, Lin Yue tiba tiba berhenti dan menoleh ke belakang, dimana terdapat Ye Xushi yang mengikuti Lin Yue.
"Kamu sudah memperhatikan ku sejak tadi, katakan padaku apa maumu Tuan Ye ?" Tanya Lin Yue dengan dingin.
"Tidak ada, aku hanya ingin berkenalan dan mengenal Nona Tertua Lin lebih baik. Apakah salah ? Dengan kerja sama kita, maka kota harus bertemu selama 3 tahun terus menerus. " Ucap Ye Xushi dengan tenang.
Lin Yue ingin mengatakan yang lain tapi menahannya, sebelum akhirnya mengajak Ye Xushi untuk duduk di kantin Perusahaannya.
"Anggap saja sebagai bentuk perkenalan ku, aku Lin Yue belum pernah bertemu dengan mu. Apakah kondisi Tuan Besar Ye baik baik saja ?" Tanya Lin Yue untuk kesopanan.
"Ayah baik, hanya saja dia ingin aku yang menggantikan nya dan mempelajari apa saja yang harus aku lakukan ketika menggantikan nya nanti. " Ucap Ye Xushi dengan senyum tipis.
"Kalau begitu, maka sampaikan salamku untuk Tuan Besar Ye dan Nyonya Ye, sebagai ganti Ayahku. Mulai di masa depan, kamu hanya bisa mengirimkan semuanya lewat jaringan pribadi milik perusahaan. Bagaimanapun aku masih harus melanjutkan kuliah ku di Amerika Serikat. " Ucap Lin Yue.
"Oh ? Kebetulan sekali, kampus mana yang akan didatangi oleh Nona Tertua Lin ?" Tanya Ye Xushi.
"Kemarin, aku berhasil pindah ke Harvard, aku tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh Tuan Muda Ye sebagai kebetulan ?" Tanya Lin Yue.
"Aku mengajar disana, itu artinya kita akan segera bertemu lagi nanti. " Ucap Ye Xushi dengan senyum seringaian.
Bahkan jika dia tidak benar benar seorang guru disana, dia akan meminta orangnya untuk mengurus hal ini.
Selama dia, Ye Xushi, menginginkan sesuatu, maka siapa yang berani untuk menghalangi langkahnya ? Tentu saja ada banyak.
Salah satunya adalah Lin Yue, Lin Beishang, dan Bei Zhao yang telah menjadi teman dekatnya semua.
"Kebetulan sekali , kalau begitu aku menantikan pertemuan selanjutnya dengan Tuan Muda Ye. Selamat Siang, aku akan pamit terlebih dahulu. " Ucap Lin Yue dengan sinis.
2 minggu setelah itu, Lin Yue berangkat dan Xia Ling dengan Lin Xi seharusnya akan kembali kesini hari ini.
Lin Beishang telah mengenakan pakaian yang bagus, dengan celana pendek dan kaus putih polos yang menunjukkan kesederhanaannya.
Rambutnya diikat dan Lin Beishang mengangkat teleponnya ketika itu berdering, Lin Beishang menerimanya dengan senang hati.
"Nona Kedua ! Ini adalah Lin Wei ! Pesawat yang ditumpangi oleh Tuan Besar dan Nyonya telah jatuh !" Ucap suara di telepon itu dengan panik.
"Apa ? Tidak !" Ucap Lin Beishang dengan tidak percaya.
__ADS_1
"Katakan padaku bahwa itu semua tidak benar !!!" Teriak Lin Beishang dengan murka.
"Nona Kedua , aku tidak bisa menghubungi Nona Tertua tapi kamu sebaiknya melihat televisi, aku dan bawahan lain akan segera mencari ini untuk mencari jasad dari Tuan Besar dan Nyonya. " Ucap Lin Wei di telepon.
Lin Beishang mematikannya dengan kasar dan melempar handphonenya sampai hancur sepenuhnya, lalu membuka televisi yang ada di kamarnya.
Lin Beishang menatap dengan tatapan tidak percaya ketika pemberitaan bahwa pesawat yang di tumpangi oleh kedua orang tuanya jatuh.
Berita itu menunjukkan tentang betapa banyaknya mayat yang diangkat dari atas perairan, sudah 2 jam berlalu dan Lin Beishang baru mendapatkan hasil sekarang.
Jika Lin Wei tidak menelpon nya maka mungkin dia tidak akan pernah tahu tentang ini, Lin Wei adalah sepupunya yang bekerja untuk kedua orang tuanya.
"Tidak ada yang selamat di dalam kecelakaan pesawat kali ini, semua orang berduka atas kecelakaan ini. " Ucap Reporter yang ada di televisi.
Lin Beishang menatap dengan ketakutan dan kedua tungkai kakinya melemas lalu terduduk di tanah, Lin Beishang tidak tahu harus menghubungi siapa.
Kakaknya baru saja berangkat dan pesawat kakaknya baru akan sampai di tujuan setelah 13 jam lagi.
Lin Beishang merasa bahwa dia benar benar kehilangan pegangannya, dan tidak tahu bagaimana harus menanggapi hal ini.
Tanpa diduga, Lin Beishang benar benar tertawa dan air mata mengalir dari wajahnya, semakin deras air matanya maka semakin kuat tawanya.
Pintu kediamannya diketuk dan Lin Beishang menyeka air matanya dengan kasar lalu berjalan turun dan melihat bahwa dipintu, ada mayat Kepala Pelayan Cui yang terbaring tanpa daya.
Pelayan pelayan yang datang di belakangnya langsung ditembak sampai mati, Lin Beishang menatap mereka dengan berani lalu perlahan lahan berjalan mundur sampai ke titik tertentu.
Orang orang itu masuk lebih dalam ke dalam rumahnya, Lin Beishang menarik nafas dan berusaha untuk tidak panik dalam kondisi ini.
"Kalian semua, dibayar oleh siapa ?" Tanya Lin Beishang dengan dingin.
"Tidak perlu tahu siapa yang membayar kami, kamu hanya harus tahu bahwa nyawa seluruh keluargamu akan dimusnahkan hari ini. " Ucap orang itu.
"Ingin mengambil nyawaku ? Kamu tidak layak ! Jadi, kejatuhan pesawat pribadi orangtuaku, dengan 12 pramugari , 2 pilot, dan beberapa orang lain adalah sabotase dari kalian ?" Tanya Lin Beishang dengan penuh kebencian.
"Tentu saja, apakah kamu benar benar percaya bahwa pesawat kedua orang tuamu benar benar jatuh begitu saja ?" Tanya orang yang memimpin.
"Aku tentu saja sudah menebak ini , tapi kamu harus mati hari ini !" Ucap Lin Beishang dan dari kedua tangannya keluar dua buah pistol.
Lin Beishang sengaja mundur dan mendekat ke arah meja dapurnya yang memiliki dua buah senjata api di bagian laci.
Lin Beishang menembak semuanya tanpa henti, Lin Beishang memiliki mata yang baik dan selalu baik dalam hal penembakan atau panahan.
Jadi, tidak ada yang meleset, orang orang jatuh ke tanah dan Lin Beishang mengambil satu senjata yang dipegang oleh musuh.
__ADS_1
Senjata api yang dimiliki oleh musuh, lebih besar dari miliknya, bahkan peluru yang dimiliki masih penuh.
Lin Beishang menyisipkan kedua pistolnya di dalam saku celananya dan membawa satu yang besar dengan kedua tangannya.
Ketika dia keluar, ada sekelompok orang lain yang lebih banyak dari sebelumnya, dipimpin oleh seorang pria yang dia kenal.
"Paman ?!" Tanya Lin Beishang dengan tatapan tidak percaya.
"Beishang ku sayang, apakah kamu tidak tahu bahwa aku sangat menyayangimu ? Sehingga aku rela datang kemari jauh jauh. " Ucap Paman Lin Beishang yang telah tinggal di Italia selama 3 tahun belakangan.
"Paman, ternyata kamu yang melakukan dan merencanakan semua ini ? Ayah dan Ibu mempelakukan kamu dengan sangat baik bahkan memperlakukan mu layaknya putra sendiri. " Ucap Lin Beishang dengan sinis.
"Aku benar benar tidak habis pikir tentang apa yang kamu pikirkan paman, kamu benar benar memalukan. Ayah dan Ibuku, akan malu memiliki seorang keluarga sepertimu. Kamu ingin membunuhku bukan ? Aku tidak akan membiarkan mu !" Ucap Lin Beishang dengan marah.
Lin Beishang tertawa sinis layaknya orang gila, paman yang merupakan orang paling dekat dengan kedua orang tuanya, ternyata adalah orang yang membunuh kedua orang tuanya.
Bahkan, jika dia selamat kali ini, tidak mudah baginya untuk mengungkap kejahatan pamannya. Lagipula, jika Pamannya berani untuk mengungkapkan hal ini padanya, maka Pamannya pasti telah membersihkan semua jejak.
"Apakah kamu yakin ? Kamu adalah seorang putri manja yang tidak pernah mengikat seekor ayam, bagaimana mungkin bisa membunuhku ? Sebenarnya aku merasa bahwa hanya sebuah keberuntungan bahwa kamu bisa menang sebelumnya. " Ucap Paman Lin Beishang, Lin Qi.
Lin Qi tidak tahu bahwa kata katanya yang memprovokasi ini, telah membuat darah Jenderal Lin Beishang.
Lin Beishang adalah seseorang yang mengambil ribuan nyawa di kehidupan lalu, bagaimana mungkin tidak bisa menghadapi orang orang sesedikit ini ?
Lin Beishang menyeringai dan mulai menembak dengan liar, Lin Qi dilindungi oleh puluhan orang dan Lin Beishang menembak nembak dengan liar.
Ketika peluru di tembakan yang dibawanya habis, Lin Beishang menggantinya dengan kedua pistol yang ada di sakunya.
Hanya saja, ini memakan waktu dan sebuah peluru menembus tangan kirinya, Lin Beishang terdorong ke belakang dan rasa sakit yang tak tertahankan menghampirinya.
Lin Beishang melihat bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain, Lin Beishang mundur ke belakang dan mengambil tangki gas dengan satu tangan.
"Bahkan jika aku harus mati, maka aku akan mati bersamamu !" Teriak Lin Beishang dengan penuh kebencian.
Lin Beishang menatap Lin Qi dengan marah dan dendam, kebencian ini tidak akan bisa dihilangkan walaupun dalam 3 kehidupan.
"Lin Beishang ! Tidak hanya kami yang akan mati ! Kau juga akan !" Teriak Lin Qi.
"Terlambat ! Sekarang, apakah kematian masih bisa mencegahku melakukan ini ?!" Tanya Lin Beishang dengan seringaian.
Lin Beishang melempar tabung gas yang ada ditangannya bersama dengan korek api yang menyala.
Duarrr !!
__ADS_1
Ledakan itu mendorong Lin Beishang menghantam ke belakang dan Lin Beishang terbatuk batuk darah , rasa sakit membuat pandangannya kabur.