Legend Of Beishang

Legend Of Beishang
68. Hujan Salju


__ADS_3

Dia mulai merias wajah Xing Yue dengan hati hati dan penuh perhatian, dia tidak ingin ceroboh dengan wajah muda ini.


"Kecantikan alami yang langka. " Puji nya pada Xing Yue.


Wajah Xing Yue berubah menjadi agak memerah karena rasa malu dipuji olehnya.


"Terimakasih." Ucap Xing Yue dengan sangat cepat karena gugup.


"Xing Yue, nanti ketika kamu berada istana maka kamu tidak bisa menunjukkan kepanikan semacam ini ketika di puji. Kamu harus menanggapi dengan tenang dan menyimpan kepanikan dalam hatimu. " Ucapnya dengan pelan.


Bagaimanapun, Xing Yue dulunya adalah pengemis dan masih sangat muda. Sudah tentunya masih sangat polos akan tata krama Istana.


Berbeda dengan ketiga yang lain yang sudah tumbuh di dalam rumah hiburan, rumah hiburan sendiri memiliki tata krama yang tidak kalah dari Istana.


"Hua Nie, A Zhou, Lien Hua, kalian pasti sudah tahu tentang hal ini bukan ?" Tanya nya.


"Ya, Nona. " Jawab mereka bertiga dengan kompak.


"Xing Yue, kamu harus belajar dari ketiga kakak mu. " Ucapnya.


"Aku harap, setelah kalian berkumpul disini, kalian bisa saling menjaga satu sama lain. Kalian harus membantu satu sama lain. " Ucapnya.


"Kami mengerti. " Ucap keempat orang itu dengan patuh.


Dia akhirnya selesai merias wajah Xing Yue dengan sempurna, kecantikan yang belum sepenuhnya mekar itu telah mengeluarkan saya tarik tersendiri.


"Xing Yue, bunga melati adalah yang paling cocok denganmu. Kamu juga cocok untuk menggunakan pakaian putih, kuning atau biru muda. " Ucapnya.


"Ya, nona. " Ucap Xing Yue dengan bersemangat.


"A Zhou, apakah aku bisa merepotkan mu untuk bermain Guqin ?" Tanya nya.


"Ya, nona. " Ucap A Zhou.


A Xiang memimpin mereka menuju ruang musik yang ada disini. Di dalamnya ada banyak alat musik.


Dia mengambil sitar, dan duduk di sebelah A Zhou yang duduk di belakang Guqin. Dia bisa memainkan alat musik apapun, tapi kesulitan untuk menemukan orang yang bisa menemaninya untuk memetik senar.


"Aku akan memainkan lagu 'Seribu Keindahan'" Ucap A Zhou.


Dia mengangguk, ini adalah lagu umum yang di nyanyikan di kedai kedai besar dan rumah hiburan.


(Untuk judul lagunya, ini tidak nyata ya. Hanya karangan semata. )


Dia mulai memetik senarnya yang di ikuti oleh alunan nada dari Guqin yang dimainkan oleh A Zhou dengan anggun.


Hua Nie dan Lien Hua yang sudah lama di rumah hiburan, bisa dengan mudah menari dengan kompak dengan alunan musik yang mereka buat.


Sementara A Xiang, A Ling dan Xing Yue yang masih muda, hanya menonton saja dengan ekspresi penuh ketakjuban.


Dia masih mengenakan cadar serba hitamnya dengan anggun, dan jarinya yang lembut memetik senar demi senar Sitarnya.


Setelah selesai, dia membuka matanya dan menatap ke depan sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya untuk mengembalikan Sitar ke tempat awalnya.


"Terima kasih karena telah bermain denganku. "Ucapnya dengan tenang.


"Kehormatan bagiku untuk bermain alat musik bersama nona. " Ucap A Zhou dengan anggun.


"Hari sudah larut, aku akan kembali. " Ucapnya.


"A Xiang, A Ling, aku ingin kalian disini saja dan mengajarkan semua yang dibutuhkan oleh mereka. Aku akan mengecek kondisi mereka minggu depan. Minggu depan, aku ingin kau menjemputku tanpa melewati gerbang, tapi sebelumnya kau harus mengirimkan pesan padaku. " Ucapnya pada A Xiang.


"Nona, apakah anda tidak ingin kami menemani anda ? Bagaimana jika anda di tindas ?" Tanya A Xiang dengan khawatir.


"Dengan posisiku saat ini, siapa yang berani untuk menindas secara langsung ?" Tanya nya sambil tertawa kecil dibalik cadar.


"Nona, bagaimana jika aku mengantar Nona pulang ?" Tanya A Xiang masih belum tenang dengan kondisinya.


Dia yang mendengar ini hanya tertawa kecil sebelum melambaikan tangan, tanda tidak usah.


Dia mengambil payung kertas minyak miliknya dan bersiap untuk berjalan keluar.


"Aku ingin kalian melakukan apa yang aku minta, aku memiliki harapan terhadap kalian semua. Aku harap kalian tidak mengecewakan ku. " Ucapnya.


"Nona bisa tenang, A Xiang tidak berani lalai untuk tugas ini. " Ucap A Xiang dengan patuh.


"A Ling, selama aku tidak ada. Kamu masih harus berlatih dengan giat, jika tidak maka aku akan kecewa. " Ucapnya dengan lembut.

__ADS_1


Fang Ling langsung berjalan maju dan berlutut di depannya dengan patuh.


"Nona tidak perlu khawatir, A Ling tidak akan mengecewakan kepercayaan Nona. " Ucap Fang Ling dengan tegas.


Meskipun masih muda, Fang Ling memiliki pemikiran yang dewasa. Sangat baik sekali, seperti yang diharapkan dari keturunan keluarga Fang yang jatuh.


"Untuk kalian berempat, tidak peduli siapa yang akan menjadi Selir Kaisar pertama, aku ingin kalian melakukan yang terbaik. " Ucapnya dengan nada yang sama.


"Ya, Nona. " Ucap empat orang itu.


Dia membuka pintu lalu berjalan keluar, hujan salju ternyata jauh lebih deras dari sebelumnya, yang membuat payung kertas minyak kurang efektif.


Meskipun menggunakan payung kertas minyak untuk dirinya sendiri, salju masih menempel ditubuhnya yang membuatnya kedinginan.


Tapi, ekspresinya sama sekali tidak berubah dan terus melanjutkan langkahnya. Di hari bersalju seperti ini, tidak banyak lagi orang yang berada di jalan.


Ada beberapa pendekar yang memiliki tubuh kuat bisa bertahan di bawah hujan salju kuat, ada beberapa anak anak yang bermain salju sambil dipayungi oleh orang tuanya dengan gembira.


Dia tiba tiba sadar, ternyata tubuhnya saat ini bahkan jauh lebih lemah daripada tubuh anak anak itu. Dia hampir tidak bisa bertahan dibawah udara dingin yang menusuk tulang ini.


Rasa sesak naik ke dadanya dan dia mulai kesulitan bernafas, kala sepatunya mulai terkubur di dalam salju.


Teras Liaoqu sudah tidak terlihat lagi dan harusnya dia sudah dekat dengan kediaman Bei Wang.


Tiba tiba, dia merasa seseorang menaruh pakaian di tubuhnya. Dia langsung mengeluarkan belatinya.


Belatinya yang telah dilapisi racun mematikan, berada di leher orang yang berdiri di belakangnya.


"Yang Mulia ini telah membantumu dan sekarang kau ingin membunuh Yang Mulia ini ?" Tanya orang itu dengan datar.


"Wangye ? Kenapa kau disini ?" Tanya nya dengan bingung.


"Yang Mulia ini melihat kau belum pulang, dan salju diluar semakin lebat. Aku tidak ingin besok mendengar kabar bahwa mayatmu terkubur di dalam tumpukan salju. " Ucap Bei Zhao dengan dingin.


Dia yang mendengar ini hanya diam dan memandang mantel hangat bulu rubah milik Bei Zhao yang melekat di tubuhnya.


Dia melihat pemuda itu sendiri tidak mengenakan mantel di musim dingin atau menggunakan payung kertas minyak sepertinya.


"Wangye, anda akan kedinginan. " Ucapnya sambil berusaha untuk melepaskan mantel hangat milik Bei Zhao yang melekat di tubuhnya.


"Kau lebih membutuhkan, aku tidak suka menggunakan barang yang telah digunakan orang lain. " Ucap Bei Zhao dengan acuh tak acuh.


"Baiklah, terima kasih kalau begitu. Kalau begitu aku akan memayungimu. " Ucapnya.


Dia dengan paksa memindahkan payung ke tengah sehingga menutupi mereka dari hujan salju yang lebat ini.


Sebenarnya, ini tidak bisa dikatakan sebagai memayungi, karena payung kertas minyak hanya bisa untuk satu orang.


Ketika digunakan untuk dua orang, maka salah satu dari mereka akan tidak terlindungi secara sempurna.


Saat ini, bahu kanan nya yang berada di luar, dengan langsung menyambut terpaan angin dingin bersama dengan hujan salju.


Tapi, karena pakaiannya yang pada dasarnya tebal, ditambah dengan mantel bulu gagak miliknya dan mantel bulu rubah milik Bei Zhao. Itu menjadi tidak terlalu parah, dia masih bisa berjalan dengan tenang.


"Yang Mulia ini tidak perlu bantuanmu, kau bisa menggunakan payung untukmu sendiri. " Ucap Bei Zhao sambil mendorong payung ke arahnya.


"Jika Wangye tidak mau, maka aku akan mengembalikan mantel milikmu. " Ucapnya dengan keras kepala.


"Kau terlalu keras kepala, apa kau tidak sadar bahwa tubuhmu bahkan hampir tidak bertahan apabila Yang Mulia ini tidak datang !" Ucap Bei Zhao dengan kesal.


"Yang Mulia Bei Wang Yang Terhormat, aku orang rendahan, tidak berani berhutang begitu banyak pada anda ! Aku takut bahwa aku tidak akan bisa membayar hutang ini !" Teriaknya dengan suara yang agak keras karena badai salju yang semakin menebal.


"Aku tidak akan menagih nya padamu, anggap saja untuk pencegahan kematian penawarku. " Ucap Bei Zhao dengan datar.


"Tetap saja, aku tidak ingin !" Ucapnya dengan penekanan.


Bei Zhao menghela nafas kasar sebelum akhirnya menarik pinggangnya mendekat, dia terkejut sebelum akhirnya sadar bahwa tubuh nya melayang.


Bei Zhao dengan cepat meringankan tubuh, sementara dia memegang payung kertas minyak miliknya yang bisa melindungi mereka berdua dengan sempurna.


"Bilang saja jika kau ingin digendong. " Ucap Bei Zhao dengan menyebalkan.


"Hmph ! Aku rasa Wangye lah yang mengambil keuntungan dariku. " Ucapnya tidak mau kalah.


Bei Zhao tidak menjawab sebelum akhirnya sampai di Kediaman Bei Wang dengan kecepatan meringankan tubuh yang sangat baik milik Bei Zhao.


Itu tidak kalah dari kecepatan kuda atau bahkan sedikit lebih cepat, untuk menjadi seorang pendekar semacam itu.

__ADS_1


Itu adalah impiannya, selama dia memiliki Giok Phoenix Abadi maka dia akan memiliki kesempatan untuk mewujudkan impiannya.


Bei Zhao menurunkannya dengan hati hati dan dia berbalik menatap pemuda itu untuk sejenak sebelum akhirnya berniat untuk melepaskan mantel milik pemuda itu.


"Terima kasih telah mengantarku. " Ucapnya dengan tenang.


"Aku tidak mengantarmu, aku hanya sedang berjalan pulang untuk diriku sendiri. " Ucap Bei Zhao dengan acuh tak acuh.


Dia dengan sabar dan tulus menahan diri untuk tidak menampar wajah tampan Bei Zhao sekuat tenaga.


Dia menarik nafas dan tetap tersenyum di balik cadar nya, dia melepaskan ikatan mantel itu dengan hati hati.


"Tidak perlu dilepas, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak menggunakan barang bekas orang lain. " Ucap Bei Zhao.


Lalu, pemuda itu berbalik menuju kediaman utama sementara dia terpaku untuk sejenak sebelum tertawa serak.


Dia berbalik dan berjalan menuju paviliun nya, tawanya masih serak. Dia terlalu dingin sampai akhirnya tidak bisa mengeluarkan suaranya.


"Apakah aku begitu menjijikkan bagimu ?"Gumamnya dengan tawa serak, gumaman nya sangat pelan sehingga hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.


Dia membawa mantel itu tanpa menggunakannya lagi, setelah sampai di dalam kediaman nya.


Dia melempar mantel miliknya dan milik Bei Zhao secara sembarangan, lalu menghidupkan api di kayu bakar yang sudah tertata rapi.


Api dengan cepat menyebar dan ruangan yang sebelumnya hampir membeku itu perlahan lahan menjadi hangat.


Dia marah


Kata kata Bei Zhao seolah olah dia adalah hama yang harus dihindari dan hilangkan dari muka bumi ini.


Dia adalah manusia, terbuat dari daging dan darah, dia juga memiliki perasaan bukan ? Dia memejamkan mata sejenak dan berusaha untuk melupakan hal ini.


"Apakah aku sebaiknya melakukannya lebih cepat ? Agar semuanya menjadi lebih cepat selesai ?" Gumamnya sambil menopang dagu di meja.


"Aku akan menambahkan beberapa ramuan untuk membantu orang itu dalam waktu yang lebih cepat, setelahnya aku akan pergi. "


"Menyebalkan sekali, aku manusia bukan anjingnya. " Lanjutnya lagi dengan kesal.


Siapa yang tidak kesal ketika di perlakukan seperti itu ? Bahkan hewan akan merasa terpukul ketika di perlakukan semacam itu, apalagi dia.


"Surat cerai, aku akan mengurusnya. Mari selesaikan ini dalam 4 bulan !" Ucapnya sambil menyemangati dirinya sendiri.


Dia mulai melakukan penelitian untuk darahnya sendiri, dan memikirkan tanaman apa saja yang cocok untuk dipadukan dengan darahnya.


Jika ada sedikit kesalahan maka itu akan fatal, itu akan menyebabkan luka dalam pada Bei Zhao. Efeknya pun bisa beragam, jika beruntung maka hanya akan terbaring di kasur selama 4 hari.


Dan jika tidak beruntung maka akan berada di alam berbeda alias meninggal, itu adalah hal yang mengerikan. Jadi dia mengamati dengan sepenuh hati.


Dia dengan serius memeriksa darahnya sendiri dan mencobanya lalu menambahkan tanaman tanaman herbal lain, sementara di sisi lain.


Bei Zhao sedang menghangatkan tubuh di dalam ruangan sambil termenung, dia merasa bahwa tingkah laku nya agak aneh belakangan ini.


"Apa yang ku pikirkan ? Bagaimana mungkin aku pergi di hari bersalju hanya untuknya ?" Tanya Bei Zhao dengan bingung.


Tidak lama, Wen Yao berjalan masuk untuk bertemu dengannya.


"Masuk." Ucapnya.


"Tuan, aku membawa laporan dari Putri Mahkota. Tuan Putri mengatakan akan bertemu dengan Yang Mulia minggu depan. " Ucap Wen Yao.


"Dia sudah tidak sibuk ? Jika dia sedang sibuk maka aku tidak akan memaksa untuk bertemu dengannya. " Ucapnya dengan tenang.


"Bukankah Yang Mulia yang memaksa untuk bertemu dalam waktu dekat ? Yang Mulia ingin berbicara soal pasukan dengan Tuan Putri bukan ?" Tanya Wen Yao dengan bingung.


Dia memijat kepalanya dengan pusing, bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal sepenting itu.


Dia memang ingin melakukan kerja sama dengan Dinasti Tang secara diam diam, sekaligus berniat untuk bertemu dengan Putri Mahkota Dinasti Tang.


Dia harusnya senang karena akan segera bertemu dengan orang yang di sukai olehnya, tapi setelah mendengar ini, dia tidak sedikitpun senang.


Yang ada di kepalanya hanya adegan kekesalan Zhou Beishang sebelumnya, Zhou Beishang yang keras kepala, dan....... lucu.


"Urus masalah itu untukku, aku akan pergi bertemu dengannya minggu depan. " Putusnya.


"Apakah Yang Mulia tidak dalam kondisi yang baik ?" Tanya Wen Yao dengan perhatian.


"Tidak, aku akan segera beristirahat. " Ucapnya dengan datar.

__ADS_1


Wen Yao mengangguk paham dan berjalan mundur, sebelum akhirnya tidak terlihat lagi.


__ADS_2