
"Halo, Beishang ?" Tanya Xia Ling dari seberang sana.
"Ya ?" Tanya Lin Beishang dengan bingung.
"Ibu akan pergi dengan Bibi Sha menuju suatu tempat, kamu pulanglah terlebih dahulu dengan Bei Zhao. Kakak mu juga akan menginap di Apartemennya selama beberapa hari dan Ayahmu saat ini sedang dalam perjalanan menuju luar kota. "
"Kenapa Ayah ingin berangkat ?"Tanya Lin Beishang dengan bingung.
"Ada masalah mendadak yang mengharuskan nya datang kesana dan mungkin akan kembali dalam waktu 2 minggu. "
"Apakah Ibu akan pergi ke bandara diantar oleh Bibi Sha ?" Tanya Lin Beishang dengan ragu.
Terdengar helaan nafas dari Xia Ling di ujung sana sebelum akhirnya Xia Ling jujur.
"Ya, ibu akan ikut. Hati Ibu tidak tenang malam ini dan ingin menyusul Ayahmu. Ibu mungkin akan pulang 2 minggu lagi juga. "
"Baiklah, Ibu tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga diriku sendiri dan memakan makanan tepat waktu walaupun tidak ada Jie jie. " Ucap Lin Beishang.
"Bagus, Ibu akan tenang jika mendengar mu seperti ini. Ibu akan mematikan teleponnya. "
"Hati hati dijalan Ibu. " Ucap Lin Beishang dengan tawa kecil, telepon dimatikan dan senyum Lin Beishang perlahan lahan hilang.
Ponsel Lin Beishang berdering yang menandakan bahwa percakapan tersebut telah direkam, tidak tahu apa yang terjadi padanya sampai sampai merekam percakapannya.
Lin Beishang berbalik dan menatap Bei Zhao, memaksakan diri untuk tetap tersenyum lalu menatap Dokter barunya itu.
"Dokter Bei..... Ibuku.... " Lin Beishang ragu bagaimana cara mengatakan hal ini.
Bei Zhao yang mengerti hal ini langsung mengangguk dan membawanya ke sebuah mobil yang termasuk keluaran terbaru.
Bei Zhao membukakan pintu untuknya dan Lin Beishang melangkah masuk ke dalam mobil yang canggih itu, tapi tidak tampak terpesona.
Tatapan Lin Beishang tampak kosong, ini adalah pertama kalinya bagi dia untuk tinggal di rumahnya sendirian.
Lin Beishang merasa bahwa hatinya memiliki sesuatu ganjalan, sehingga tidak menyadari bahwa Bei Zhao sudah duduk di sebelahnya.
"Nona Lin, sabuk pengaman mu. " Ucap Bei Zhao.
"Ah ? Maafkan aku. " Ucap Lin Beishang dengan tidak sadar sehingga langsung menggunakan sabuk pengamannya.
"Apakah ada sesuatu yang menganggu Nona Lin ?" Tanya Bei Zhao dengan tenang.
"Tidak ada, hanya saja aku merasa agak kosong. Ayah dan Ibuku akan berangkat ke luar kota selama 2 minggu sementara kakak perempuan ku tinggal di apartemennya selama beberapa hari. Aku akan tinggal sendirian, itu terasa agak canggung. " Ucap Lin Beishang dengan helaan nafas.
Bei Zhao mengangguk dan tampak mengerti dengan perasaan Lin Beishang, lebih tepatnya Bei Zhao selalu mengerti Lin Beishang.
"Bagaimana Jika Dokter Bei menginap di rumahku ?"Tanya Lin Beishang.
"Nona Lin, kamu dan aku adalah seorang wanita dan pria yang lajang. Aku takut ini agak tidak layak." Ucap Bei Zhao.
Lin Beishang yang mendengar ini tampak lebih santai sebelum akhirnya tertawa ringan.
"Kamar tamu kami memiliki lebih dari 4 , yang paling jauh adalah yang paling megah. Kamarku berada di lantai 3 sementara kamar tamu berada di lantai 1. Lalu, di kediamanku, ada 10 penjaga yang akan selalu berpatroli di luar dan 35 Pelayan yang menginap di kediamanku. Juga ada 15 pelayan yang kembali pada sore hari, jadi kediamanku tidak bisa dibilang sepi. " Ucap Lin Beishang.
Bei Zhao yang mendengar ini terdiam, tampaknya gadis ini benar benar menjadi putri orang kaya dalam kehidupan ini, walaupun di kehidupan sebelumnya juga putri orang kaya, hanya saja itu agak terlambat.
"Jika begitu ramai, maka kenapa kamu mengatakan bahwa kamu kesepian ?" Tanya Bei Zhao dengan bingung.
"Karena, mereka semua memperlakukan ku dengan begitu hormat dan kaku. Aku tidak bisa mengatakan terlalu banyak pada mereka. Aku kesepian, aku adalah orang yang akan mengoceh sepanjang hari. Jadi aku akan merasa sangat kosong jika tidak berbicara. " Ucap Lin Beishang dengan jujur.
"Jika kamu masih tidak yakin maka aku akan membawa sahabatku menginap juga. " Lanjut Lin Beishang.
"Sebaiknya Nona Lin mengatakan ini terlebih dahulu pada Nyonya Lin. " Ucap Bei Zhao berusaha untuk tetap tenang.
Lin Beishang mengangguk dan meninggalkan pesan untuk Ibunya.
'Ibu, apakah aku boleh untuk mengajak Dokter Bei menginap dirumah kita ? Aku akan kesepian jika dirumah sendirian. '
^^^'Ya, jika Dokter Bei bersedia maka kamu bisa mengajaknya. Kontrak kerja yang akan dijalin oleh kamu dan Dokter Bei sebaiknya kamu segera siapkan. '^^^
'Terimakasih, Ibu !'
Lin Beishang tidak tahu kenapa dia bisa sangat yakin bahwa Dokter baru ini ? Apakah karena Dokter Bei ini adalah Putra dari sahabat dekat Ibunya ?
Atau karena beberapa alasan lain ? Lin Beishang tidak bisa menebak apa yang membuatnya menjadi sangat percaya dengan Dokter yang baru di temui nya ini.
"Ibuku sudah setuju, sekarang aku akan menghubungi Lan Xiang. " Ucap Lin Beishang.
__ADS_1
"Halo, Ah - Xiang, apakah kamu mau menginap di rumahku ?" Tanya Lin Beishang lewat telepon.
"Aduh, Nona ku yang baik, aku baru saja akan mengatakan bahwa aku ingin meminta cuti. Ayah dan Ibuku mengajakku untuk melakukan kencan buta bersama dengan seorang Pria bajingan. " Ucap Lan Xiang dengan kesal.
"Apa ?! Apakah kamu membutuhkan bantuan ku untuk menghajar pria bajingan ini ?" Tanya Lin Beishang dengan antusias.
"Tidak perlu ! Aku sendiri sudah lebih dari cukup ! Dikatakan bahwa pria ini telah berganti pacar selama lebih dari seratus kali ! " Ucap Lan Xiang dari seberang dana dengan frustrasi.
"Siapa nama pria ini ?" Tanya Lin Beishang dengan penasaran.
"Siapa namanya tadi ? Yang.... Yang... Yang Xin ! Selamat tinggal, Ibuku telah mencariku ! " Teriak Lan Xiang sebelum akhirnya telepon di matikan.
Lin Beishang yang mendengar ini tertawa terbahak bahak dan mengkhawatirkan keselamatan pria yang bernama Yang Xin itu.
"Yang Xin.... Aku sepertinya harus menjauh setelah mendengar nama ini. " Gumam Lin Beishang dengan santai.
"Siapa pria itu ?" Tanya Bei Zhao pura pura tidak tahu.
"Siapa ? Oh, Yang Xin tadi ? Dia adalah pria yang disuruh untuk melakukan kencan buta dengan Sahabatku. Sahabatku mengatakan bahwa pria ini sangat kurang ajar dan telah berganti pacar lebih dari seratus kali !" Ucap Lin Beishang dengan semangat.
"Oh ? " Balas Bei Zhao dengan agak bingung, ini tidak tampak seperti Yang Xin pada kehidupan lalu.
Yang Xin yang bisa membuang nyawanya sendiri demi bersama dengan Lan Xiang tidak tampak seperti Yang Xin yang dideskripsikan oleh Lin Beishang.
"Apakah Dokter Bei mengenalnya ?"Tanya Lin Beishang.
"Tidak." Jawab Bei Zhao.
Lin Beishang mengangguk dan hujan gerimis mulai turun, Lin Beishang tertidur dan kembali bermimpi, pada musim dingin yang membekukan.
Dia melihat dirinya sendiri dalam balutan pakaian tradisional berjalan meninggalkan sebuah kediaman yang suram.
"Selamat Tinggal, Bei Wang. Kita mungkin tidak akan bertemu lagi. " Ucap "dirinya" dengan teguh.
Tampak sangat menyedihkan, seperti burung yang terluka dibagian sayap dan tidak memiliki keagungannya lagi.
Semua kesombongan dan keangkuhan yang dimiliki olehnya telah hilang, Lin Beishang memandang pemandangan di depannya dengan perasaan yang sakit.
Ini jelas jelas perasaan yang asing, perasaan sakit yang membuat sesak sampai sulit untuk bernafas. Lin Beishang melihat dirinya sendiri yang asing dengan tatatapan rumit.
Tatapan yang begitu keras, begitu kejam , layaknya sepapan besi , tampak sangat dingin dan tidak tersentuh oleh kehangatan manusia.
Lin Beishang membelalakkan matanya ketika melihat bahwa itu adalah Dokter Bei lagi ?! Dengan pakaian yang berbeda tapi masih dalam pakaian tradisional.
"Jangan pergi, Beishang.... " Ucap Bei Zhao di dalam mimpi itu dengan lirih.
Lin Beishang yang mendengar ini tampak tersambar petir dan tiba tiba terbangun dari mimpinya dengan air mata yang memenuhi wajahnya dan rasa sakit dari perpisahan tadi.
"Nona Lin, apa yang terjadi padamu ?" Tanya Dokter Bei dengan terkejut melihat kondisi Lin Beishang yang tampak kacau.
Lin Beishang membuka kedua matanya lebar lebar dan menatap Dokter Bei. Bayangan Bei Wang dan Dokter Bei bercampur menjadi satu.
"Bei Wang.... " Ucap Lin Beishang dengan lirih.
Bei Zhao tampak terkejut tapi dengan segera menekan semua ekspresinya lagi, tapi Lin Beishang telah melihat ini semua.
"Dokter Bei, apakah kita pernah bertemu sebelumnya ?" Tanya Lin Beishang lagi.
"Tentu saja, kita bertemu ketika dirumah sakit. " Ucap Bei Zhao berusaha untuk tetap tenang.
"Tidak, bukan itu maksudku. Sebelum bertemu di rumah sakit. " Ucap Lin Beishang.
"Tentu saja tidak. " Ucap Bei Zhao.
"Apakah kamu yakin ?" Tanya Lin Beishang dan Bei Zhao tidak menjawab tapi tatapannya tidak menunjukkan tanda tanda kebohongan.
"Kamu mulai mimpi buruk tadi dan terus menangis, apa yang kamu mimpikan ?" Tanya Bei Zhao.
"Tidak ada , aku hanya memimpikan seseorang yang mirip denganmu, tapi namanya berbeda. Dia dipanggil dengan nama Bei Wang, aku merasa bahwa itu lebih mirip gelar dibandingkan nama. " Ucap Lin Beishang setengah berbohong.
"Wang digunakan untuk gelar seorang Keluarga Kekaisaran. Kamu mungkin hanya kelelahan, apakah aku perlu meresepkan obat tidur untukmu ?" Tanya Bei Zhao.
"Tidak perlu, ini hanya hal yang baru. Mungkin aku benar benar terlalu lelah belakangan ini. " Ucap Lin Beishang dan memijat kepalanya.
"Kita sudah sampai rumahmu. " Ucap Bei Zhao.
"Kamu tahu rumahku ada dimana ?" Tanya Lin Beishang dengan kagum.
__ADS_1
"Ya, Ibu pernah mengatakan ini padaku. " Bohong Bei Zhao, padahal Bei Zhao meminta Ye Xushi untuk mencari semuanya tentang Lin Beishang.
Lin Beishang dengan bodohnya hanya mengangguk ngangguk saja dan seorang satpam rumahnya menghampirinya.
Lin Beishang membuka kaca dan mengatakan pada penjaga kediamannya tersebut untuk tolong membukakan pintu.
"Nona kedua. " Ucap satpam itu dengan terkejut ketika melihatnya.
"Pak Li, ini aku. Tolong buka pintunya, terimakasih. "Ucap Lin Beishang dengan sopan.
"Ya, Nona. " Ucap Pak Li.
Pintu pagar dibuka dan mobil Bei Zhao masuk ke dalam pekarangan mewah milik Lin Beishang, rumah megak bak Istana itu membuat Bei Zhao terpesona.
Bukan karena keluasan rumah yang dimiliki oleh Lin Beishang melainkan desain dari kediamannya, tampak sangat mirip dengan suatu tempat.
Istana Dinasti Tang, yang hancur karena serangan sebelumnya. Apakah mungkin ada kebetulan sebesar ini ?
"Rumah ku ini dibangun oleh Ayah berdasarkan struktur Istana pada Dinasti Tang, hehe. Bukankah ini unik ?" Tanya Lin Beishang sambil menunjuk sepetak hutan bambu dan taman yang sama persis dengan Istana Dinasti Tang.
"Tuan Lin tampaknya memiliki selera yang baik dalam hal ini. " Ucap Bei Zhao.
"Memang, tidak mudah untuk membangun ini semua, dibutuhkan waktu lebih dari 5 tahun untuk membangun rumah ini dan mencari struktur Istana pada Dinasti Tang bahkan lebih sulit lagi. Tapi hasilnya tidak mengecewakan, kami sekeluarga sangat menyukai ini. " Ucap Lin Beishang dengan santai.
Bei Zhao memandang kesana kemari, walaupun mirip terjadi beberapa perubahan dan dibuat lebih modern.
Hanya saja, bagian dalamnya terlihat mirip di beberapa bagian. Saat ini, keributan yang dimiliki oleh Lin Xi dengan Lin Beishang terlihat olehnya.
Bayangan yang ada, kenangan yang tersisa, membuat Bei Zhao menggila dan tersiksa. Kenangan ini membuat Bei Zhao merasa kesulitan.
Di satu sisi ingin menjelaskan semuanya lalu langsung menarik Lin Beishang ke dalam pelukannya.
Tapi, disisi lain takut kalau Lin Beishang tidak akan percaya padanya dan menganggapnya sebagai seorang penipu ulung lalu menjadi takut padanya.
Jika dia hanya diam seperti ini, membuatnya tersiksa oleh kenangan masa lalu. Perasaan ini terlalu berat untuk dapat disimpan.
"Dari semuanya, siapa yang paling menyukai desain ini ?" Tanya Bei Zhao.
"Aku, aku adalah seorang penulis dan berulang kali menulis cerita. Jadi aku membayangkan hal ini, ketika melihatnya menjadi kenyataan membuatku senang. " Ucap Lin Beishang dengan senyum tipis.
Ketika masuk lebih dalam, seorang pelayan tua menghampiri mereka dengan buru buru.
"Ah ini pasti Tuan Bei, Nyonya kami telah meminta kami untuk menyiapkan tempat tidur dan pakaian untuk Tuan Bei. " Ucap Kepala Pelayan Cui.
"Kepala pelayan Cui, siapkan yang terbaik dan sajikan minuman dan makanan ringan. " Ucap Lin Beishang.
"Ya, Nona kedua. " Ucap Kepala Pelayan Cui.
Lin Beishang mengajak Bei Zhao untuk duduk di ruang tamu, dan duduk disana lalu menghidupkan televisi.
"Ini benar benar sangat baik, aku akan membuat dengan tema yang sama jika aku ingin membangun rumah. " Ucap Bei Zhao.
"Aku merasa tersanjung bahwa Tuan Bei sangat senang dengan bentuk rumah keluargaku, beberapa orang menyindir kami dan mengatakan bahwa kami ketinggalan zaman. Bahkan dianggap tidak sadar oleh beberapa orang. " Ucap Lin Beishang dengan santai tapi ada sedikit luka dalam suaranya.
"Tidak, aku merasa bahwa ini sangat bagus dan sesuai dengan seleraku. "Ucap Bei Zhao.
Makanan disajikan dan mereka menjadi semakin dekat sebelum akhirnya keduanya pamit dan kembali ke kamar mereka masing masing.
Lin Beishang melangkah ke lantai 3 kediamannya sementara Bei Zhao dibimbing untuk masuk ke dalam kamar tamu, benar kata Lin Beishang bahwa ini tidak dapat dikatakan sebagai hanya berdua.
Pantas saja Nyonya Lin atau Xia Ling, sangat yakin untuk membiarkan Bei Zhao menginap di kediamannya bersama dengan putri keduanya.
Karena memang jarak yang dimiliki oleh mereka sejauh itu, bahkan 100 langkah tidak akan membuat mereka bertemu satu sama lain.
Di dalam kamar, semua keteguhan dalam wajah Bei Zhao hilang dan langsung mengambil teleponnya.
"Kenapa ?" Tanya suara di seberang sana, tampak mengantuk.
"Jangan berlagak seolah olah kamu tidur tepat waktu !" Keluh Bei Zhao.
"Hei Pangeran Bei ku yang baik hati, lihat jam mu dan lihat ini sudah pukul berapa ? Ini sudah jam 11 malam ! Kau menganggu tidur ku !" Teriak suara dari seberang sana dengan murka.
"Baiklah baiklah, jangan marah. Aku mendengar bahwa Lin Yue akan muncul di Perusahaan Lin besok, menggantikan ayahnya , Lin Xi. " Ucap Bei Zhao.
"Benarkah ? Kebetulan sekali bahwa Ayahku akan datang kesana besok dan aku akan menjadi anak yang berbakti untuk menggantikannya besok !" Seru Ye Xushi dengan antusias di dalam telepon.
"Terserah, carikan aku beberapa Arsitek ternama. " Ucap Bei Zhao tanpa ingin ditolak.
__ADS_1
"Hei, apakah kamu mengira bahwa aku adalah pembantumu ?!" Tanya Ye Xushi dengan penuh keluhan di seberantan sana.
Tapi, Bei Zhao dengan kejam mematikan sambungan telepon mereka lalu berbaring di atas ranjang yang empuk, tampak bingung.