Legend Of Beishang

Legend Of Beishang
75. Menjenguk Zhou Yi Nian


__ADS_3

Setelah beberapa jam,


Zhou Beishang berjalan ke kereta kudanya dengan lesu yang dibantu oleh A Xiang, seluruh tubuhnya seolah telah kehilangan semangat hidup.


"Nona, kemana tujuan kita selanjutnya ?" Tanya A Xiang.


"Kediaman Perdana Menteri Zhou. " Ucapnya dengan lesu.


"Nona, tanpa Bei Wang maka anda akan kembali di rendahkan oleh Xie Bei Chuan. Anda tidak memberikan ku kesempatan untuk menghukumnya, kenapa anda masih ingin datang kesana ?" Tanya A Xiang dengan cemas.


"Hmph ! Siapa yang ingin melihat Xie Bei Chuan, aku datang kesana untuk melihat ayahku. " Ucapnya dengan dingin.


"Nona, tidak pernah sekalipun Perdana Menteri Zhou memperlakukan anda dengan baik ! Kenapa anda harus berkorban untuknya ?!" Tanya A Xiang dengan suara serak yang tidak bisa ditahan.


Tatapan nya berubah menjadi dingin dan menatap A Xiang.


"A Xiang, jangan kira aku tidak tahu bahwa kau menyimpan informasi ini dan tidak melaporkan nya padaku. Kau masih harus mendapat hukuman. "Ucapnya dengan dingin.


"A Xiang tidak keberatan untuk mendapatkan hukuman asal Nona tidak pergi kesana, mereka sangat kejam pada Nona. Kenapa Nona harus pergi kesana ?" Tanya A Xiang dengan sedih.


"A Xiang, bagaimanapun dia adalah ayahku. Aku masih harus melihatnya, jika dia tidak merawatku maka aku sudah akan menjadi Selir dirumah salah satu pejabat. Tidak peduli betapa buruknya masa lalu, aku hanya akan mengingat perbuatan baiknya. " Ucapnya dengan lembut tapi tegas.


"Nona......... baiklah, karena ini adalah keputusan anda. " Ucap A Xiang dengan kata yang memerah.


Kereta kuda berbalik arah dan menuju kediaman Perdana Menteri Zhou, sementara dia menyenderkan kepalanya di dinding Kereta Kuda.


"A Xiang, kau tidak boleh menyembunyikan hal semacam ini lagi di masa depan. Apa kau ingin membuatku merasa menyesal ?" Tanya nya dengan lembut.


"Nona, A Xiang tidak berniat seperti itu. A Xiang hanya tidak ingin Nona menderita lagi. " Ucap A Xiang dengan sangat pelan dan tampak takut.


Dia tersenyum dan menghela nafas pelan lalu merentangkan tangannya, dia memeluk A Xiang. Dan gadis muda itu langsung meloncat kedalam pelukannya.


A Xiang menangis keras dipelukannya dan tidak dapat di kendalikan, dia menepuk nepuk punggung A Xiang supaya dia menjadi lebih tenang.

__ADS_1


"Kenapa kau menangis begitu keras ? Bukankah aku yang dianiaya ? Kenapa kau yang menangis ?" Tanya nya dan berusaha untuk menghibur A Xiang.


"Justru.... Hiks, karena nona yang di aniaya, A Xiang sangat sedih.... hiks..... mereka jahat sekali. " Ucap A Xiang sambil terisak kencang.


"Sudah, sudah, aku tidak akan teraniaya lagi. Jangan menangis lagi, kau sudah besar bukan , sekarang ?" Tanyanya.


A Xiang menjadi lebih tenang setelah itu dan akhirnya menyedot ingusnya, sebelum kembali duduk ke seberang.


Sementara dia menghela nafas dan melepaskan mantel hangat nya yang basah oleh air mata dan ingus A Xiang.


"Maafkan aku nona. " Ucap A Xiang dengan takut takut.


"Tidak apa apa. " Ucapnya dengan helaan nafas ringan.


Ini semua sudah terjadi, tidak bisa diubah lagi. Apa yang perlu di sesali dari hal ini ? Dia hanya bisa pasrah dan mengganti mantel hangatnya.


Untung saja A Xiang selalu membawa cadangan Mantel Hangat di kereta kuda miliknya selama musim dingin.


Dia tertawa getir dalam hati ' kereta kuda miliknya ' sebentar lagi itu bukan lagi miliknya, ini adalah kereta kuda untuk Bei Wangfei dari turun temurun.


Tidak terasa, kereta kuda sudah berhenti di depan Kediaman Perdana Menteri Zhou yang tampak sangat sunyi dan tampak sepi.


Dia turun dari kereta kuda miliknya dan berjalan menuju gerbang, penjaga gerbang tidak berani menunda dan langsung mempersilakan dia masuk.


Dia melihat Xie Bei Chuan sedang berdiri dengan wajah sinis seperti biasa.


"Apa yang membuat Bei Wangfei Niangniang datang ke tempat kecil ini sendirian ?" Tanya Xie Bei Chuan dengan kasar.


"Apakah Yang Mulia Putri ini tidak boleh menjenguk ayah ?" Tanyanya dengan dingin.


"Kau ?! Baiklah, lihatlah ayah penyakitan mu itu ! Menyebalkan sekali untuk merawat tua bangka itu, dia bahkan tidak bisa menjadi Menteri lagi. " Ucap Xie Bei Chuan dengan marah.


Dia diam dan mengerti darimana datangnya kemarahan Xie Bei Chuan ini, umur ayahnya sudah menginjak 57 tahun dan sudah tua.

__ADS_1


Sulit untuk melihat, Kaisar pasti menyuruh Perdana Menteri Zhou untuk mengundurkan diri dari Istana. Sejak saat itu, kediaman Perdana Menteri Zhou hanya akan menyisakan harapan.


Tambah lagi, masih banyak hal yang harus di tanggung, jika Menteri Zhou pensiun maka darimana mereka harus mendapatkan uang ?


Semua nya adalah tuan muda dan tuan Putri yang terbiasa hidup dengan nyaman, mereka hanya bisa mengeluh dan meminta.


Dia berjalan lurus dan melihat di dalam kamar Zhou Yi Nian ada Putra dan Putri Zhou Yi Nian sementara Zhou Yi Nian sendiri terbaring dengan pucat.


"Ayah, sebaiknya pikirkan lagi keputusanmu. Jika kamu berhenti maka kita akan makan apa ?!" Bentak salah satu Putri Zhou Yi Nian.


Langkahnya terhenti di depan pintu dan memilih untuk menonton sebuah pertunjukkan terlebih dahulu, dia melihat wajah yang sebelumnya tampak sangat gagah dan dingin.


Sangat jauh dari jangkauannya dan sangat tidak tergapai, sekarang tampak berbeda dan seperti bunga yang layu.


"Ayah, kau harus sembuh dan kembali bekerja, memohonlah pada Kaisar agar kau masih dapat bekerja, aku tidak ingin pertunangan ku dengan Putri Huayang gagal. " Ucap Putra Zhou Yi Nian dengan gugup.


Dia berjalan masuk dan dengan dingin mengibaskan lengan pakaiannya, semua orang menatapnya dengan terkejut.


"Kalian semua keluar, Putra Putri macam apa kalian ini ?" Tanya nya dengan dingin.


"Diam ! Kau tahu apa tentang itu ?! " Teriak salah satu Putri Zhou Yi Nian.


Tangannya terangkat dan menampar wanita itu dengan sangat kuat sampai membuat semua orang ngeri, bahkan wanita itu terjatuh ke tanah dengan wajah yang memerah.


"Jika kau sekali lagi berteriak pada Yang Mulia Putri ini, maka tidak perlu berpikir untuk melihat hari esok. Aku adalah Bei Wangfei, apakah menurutmu kau layak untuk berteriak padaku ?" Tanyanya dengan dingin dan angkuh.


"A Xiang, seret dia keluar !" Perintahnya dengan datar, sementara dia berjalan mendekat ke kasur milik Zhou Yi Nian.


"Kalian semua keluar, apakah Yang Mulia Putri ini harus mengatakannya sampai ketiga kalinya ?" Tanyanya dengan hawa membunuh yang pekat.


"Baik baik, kami akan keluar. " Ucap Putra Putri Zhou Yi Nian dengan panik dan berhamburan keluar tanpa arah.


"Ayah, lihatlah, pada akhirnya hanya aku yang menemanimu. Mereka semua pergi meninggalkan mu, tidakkah kau benci pada mereka sebagaimana kau membenciku ?" Tanya nya dengan senyum tipis.

__ADS_1


Pintu ditutup dan hanya menyisakan dia yang tidak menentu dengan Zhou Yi Nian yang terbaring dengan pucat.


__ADS_2