Legend Of Beishang

Legend Of Beishang
85. Tertidur Dipelukan.......


__ADS_3

Dia berjalan keluar dari penjara dengan ekspresi yang dingin dan tidak goyah sedikitpun, bahkan Tuan Hong tidak berani mengatakan apapun.


Bagaimanapun, semua orang bisa mendengar dengan jelas kata kata yang dilontarkan oleh Bei Wangfei, suasana hatinya pasti sedang sangat buruk saat ini.


Zhou Beishang dan Bei Zhao pergi sementara Tuan Hong menghela nafas lega dan menatap anak buah mereka.


"Kalian semua, anggap kalian tidak pernah mendengar ini. Jangan pernah berpikir untuk mengatakan hal ini pada orang luar, atau kalian bisa melupakan untuk terus hidup di dunia ini. " Ucap Tuan Hong.


"Tuan, kenapa seperti itu ? Apakah karena pengaruh yang dimiliki Bei Wang ?" Tanya salah satu anak buahnya dengan ragu ragu.


Dia tersenyum pahit ketika mendengar hal ini, setelah melihat pertengkaran Bei Wangfei dengan ibu tirinya hari ini, dia menyadari bahwa Bei Wangfei sebenarnya tidak selemah yang dikatakan oleh banyak orang.


"Aku takut tidak seperti itu, aku takut Bei Wangfei sendiri sudah lebih dari cukup untuk menyingkirkan orang seperti kita. Apakah kalian ingat Mantan Kepala Sang ?" Tanya nya.


Semua orang terdiam dan merasa bulu kuduk mereka berdiri, siapa yang tidak tahu bahwa dalang dibalik hukuman mati Sang Yun Fang adalah Zhou Beishang ?


"Jika Sang Yun Fang saja bisa disingkirkan semudah membalikkan telapak tangan, apalagi orang orang seperti kita. " Ucap nya sambil menghela nafas.


Semua orang mengangguk dan menyadari betapa pentingnya hal ini dan karena mereka semua masih menyayangi hidup mereka, mereka langsung bersumpah untuk menutup mulut mereka rapat rapat.


Disisi lain, sepasang manusia sedang duduk di kuda dan berkeliling di danau danau yang indah. Salah satunya adalah Danau Zhaling yang terkenal.


Keindahan Danau Zhaling yang memiliki pohon pohon lebat disekitarnya, air yang jernih layaknya kristal.


Belum lagi dengan burung burung yang berkicau menambah keindahan tempat itu, senyum terbentuk diwajah Zhou Beishang.


"Yang Mulia, kenapa anda membawa ku kemari ?" Tanya nya dengan senyum lebar.


Dari dulu, dia selalu menyukai pemandangan alam semacam ini. Tidak suka dengan pemandangan buatan.


Beberapa rumah orang kaya akan membentuk air terjun kecil buatan yang tampak indah, tapi baginya itu adalah palsu dan tidak nyata.


Dia selalu menyukai yang asli dan tidak bisa menerima yang palsu. Sehingga dia sangat bersemangat ketika pergi ke Danau Zhaling.


(Untuk semuanya, Danau Zhaling ini aslinya memang ada. Bisa dilihat di internet. )


"Kamu terlihat murung, jadi Yang Mulia ini membawamu kemari. Yang Mulia ini bukan tanpa hati saat melihatmu begitu tertekan. " Ucap Bei Zhao dar8 belakang.

__ADS_1


Dia yang mendengar ini tertawa kecil , dia memang sangat murung sebelumnya sehingga tidak bisa mengendalikan diri.


"Yang Mulia, sekarang aku sudah tidak heran lagi kenapa ada banyak gadis yang jatuh cinta padamu." Ucapnya dengan candaan.


"Kamu baru tahu sekarang ? Yang Mulia ini sudah tampan sejak lahir, apakah kau menyukai Yang Mulia ini ?" Tanya Bei Zhao di belakangnya.


Dia yang mendengar ini merasa sedikit aneh dan terpukul, tapi ekspresinya tidak berubah.


"He he, bagaimana jika aku benar benar menyukai Yang Mulia ? Apakah Yang Mulia akan bertanggung jawab karena telah membuatku suka pada Yang Mulia ?" Tanya nya dengan tawa kecil.


"Kau telah bermimpi ! Yang Mulia ini tidak akan percaya bahwa kau menyukai Yang Mulia ini. " Ucap Bei Zhao dari belakangnya dengan kekehan.


"Ha ha, Yang Mulia benar. Aku hanya bermain main, bukankah Yang Mulia memiliki orang lain yang disukai ?" Tanya nya dengan tawa kecil.


Tapi, karena dia duduk di depan, tidak ada yang tahu bahwa ekspresinya sebenarnya telah berubah, itu berubah menjadi lebih pucat.


'Benar, aku telah bermimpi terlalu jauh bukan ?'Pikirnya dalam hati.


Dia tersenyum pahit tapi memaksakan diri untuk tidak terpengaruh seperti sebelumnya, seolah olah dia tidak memiliki hati.


Kuda masih berjalan tapi sangat lambat, membuat ketukan yang serempak tapi juga membuat orang tidak sabar.


Hatinya tenggelam kala mendengar kata kata Bei Zhao, seolah olah dia tenggelam kedasar danau yang dalam.


"Yang Mulia, bukankah sudah ku katakan sebelumnya ? Hatiku sudah digali sejak lama. " Ucapnya dengan nada bercanda dan ceria.


"Yang Mulia ini takut bahwa kau memiliki semacam penyakit kejiwaan, kau tadi sangat murung sampai sampai langit mendung tapi sekarang kau sangat ceria seolah olah cahaya matahari yang cerah. " Ucap Bei Zhao dengan nada sindiran.


"Yang Mulia, apakah kau mengkhawatirkan ku ?" Tanya nya dengan senyum yang tidak bisa diartikan.


Senyum itu penuh harapan dan angan angan kosong, dia sudah tahu bahwa itu mustahil tapi masih memilih untuk mencoba.


Seolah olah dia adalah lalat yang ingin mencoba panasnya api, dia sudah tahu bahwa api itu bisa membakarnya tapi dia masih ingin mencobanya.


(Perumpamaan diatas memiliki arti bahwa Zhou Beishang sudah tahu bahwa dia akan sakit hati dengan jawaban yang diberikan Bei Zhao, tapi masih ingin mencoba lagi :( )


"Yang Mulia ini tentu saja khawatir........ " Ucap Bei Zhao dengan sedikit keragu raguan.

__ADS_1


Dia yang mendengar ini membelalakkan matanya dan seolah olah tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya, baru saja dia akan bereaksi.


Kata kata selanjutnya dari pemuda itu bagaimana guntur yang menyambar nya dan membangunkannya dari angan angan kosong.


"Karena kau masih belum mengobati Yang Mulia ini sampai selesai. " Lanjut Bei Zhao.


Dia yang mendengar ini merasa bahwa darah yang ada ditubuhnya perlahan lahan menurun dan wajahnya berubah pucat.


Tubuhnya sedikit gemetar, tangannya mengepal dibalik pakaiannya, dia tidak bisa mengatakan apapun.


Karena pada akhirnya dia benar benar terbakar oleh api karena rasa penasaran yang dimiliki olehnya sendiri.


Dia telah berharap terlalu jauh, dia terlalu berharap, dia harus dengan cepat memisahkan diri dari Bei Zhao atau akibatnya tidak akan bisa dibayangkan.


Jika dia masih memilih untuk bertahan lebih lama lagi maka dia akan terluka, dia merasa bahwa kepalanya menjadi sedikit pusing.


Rasa lelah yang sebelumnya sudah sempat pergi sekarang telah datang lagi bahkan dua kali lipat di bandingkan sebelumnya.


Dengan wajah yang pucat, tubuhnya mulai kehilangan daya dan jatuh kedalam pelukan orang yang ada di belakangnya.


Dia perlahan lahan melihat bahwa pandangannya berubah menjadi nanar sebelum akhirnya semua menjadi gelap.


"Zhou Beishang ! Zhou Beishang !" Panggil Bei Zhao yang masih bisa di dengarnya.


Pemuda itu tampaknya mengguncang guncang tubuhnya, tapi apa daya dia sudah tenggelam kedalam kegelapan yang tak berujung.


Disisi lain, Bei Zhao mau tak mau merasa panik dan khawatir karena melihat Zhou Beishang yang tiba tiba terkulai kedalam pelukan nya seperti ini.


...----------------...


Spoiler sedikit untuk Chapter selanjutnya :


"Yang Mulia, terimakasih karena telah merawatku dengan baik selama 1 tahun belakangan ini , sudah saatnya bagiku untuk pergi. " Ucap Zhou Beishang.


"Zhou Beishang, apakah kau benar benar tidak memiliki hati untukku ? Kau pergi dengan begitu dingin seperti ini. "Ucap Bei Zhao dengan tatapan rumit.


"Apa yang harus membuatku memiliki hati pada Yang Mulia ? Yang Mulia memiliki orang yang Yang Mulia sukai, yang rendah ini tidak akan berani untuk memimpikan Yang Mulia bahkan dalam mimpinya. " Ucap Zhou Beishang dengan tangan yang terkepal.

__ADS_1


__ADS_2