Legend Of Beishang

Legend Of Beishang
230. Hasil Dari Peperangan


__ADS_3

Warning : Masih dengan peringatan yang sama, tapi kali ini kesedihan akan lebih pekat, jadi siap siap. Tenang, ini belum akhir cerita, masih ada perjalanan panjang.


...----------------...


...Selamat Membaca !...


...----------------...


Warga warga yang berlindung di dalam Istana pun merasa tidak tahan lagi dan para pria membawa senjata lalu ikut berperang.


"Kita tidak bisa tinggal diam lagi !" Ucap salah satu pria.


"Ya, itu benar ! Semua orang berjuang untuk mempertahankan tempat ini sementara kita berlindung di sini layaknya pengecut !" Ucap yang lain.


"Ayah, kamu harus kembali dengan sehat. " Ucap salah satu anak perempuan yang mungkin baru berumue 3 tahun.


"Ah - Bing belum menikah, bagaimana mungkin ayah bisa pergi dengan begitu cepat ? Tenang saja , ayah akan menjadi kebanggaan mu. " Ucap Ayah dari gadis kecil itu.


"He he, Ayah adalah kebanggaan Ah - Bing !" Ucap gadis kecil itu dengan semangat.


Ye Xushi yang kembali dengan tertatih-tatih dan penuh darah mendengar setiap perpisahan yang dibuat dengan keluarga terdekat.


Ye Xushi tidak bisa menahan perasaan haru dari hal ini, dimana seorang anak anak membanggakan orang tuanya.


Ye Xushi tahu bahwa diantara sekian banyak orang ini, pasti ada salah satu dari mereka yang tidak kembali.


Ye Xushi dulu pernah merindukan memiliki hari hari seperti ini, dimana memiliki seseorang untuk dibanggakan, memiliki seseorang untuk ditunggu.


Tapi, sekarang Ye Xushi sudah memilikinya. Istrinya saat ini, adalah rumahnya. Jadi, dimanapun Lin Yue berada maka itulah yang menjadi rumahnya.


Aneh tapi nyata , dalam setahun yang singkat, perasaan yang dimilikinya untuk Lin Yue benar benar berubah.


Yang awalnya tidak menganggap sama sekali berubah menjadi tidak bisa tanpa Lin Yue, Ye Xushi tersenyum tipis mengingat perubahan yang terjadi pada dirinya.


Semua ini berkat Nona nya, jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan begitu nyaman seperti ini ?


Lin Beishang adalah orang yang tegas, tapi juga adalah orang yang paling perhatian pada orang lain.


Berbeda dengan Lin Yue yang cenderung lebih santai tapi juga lebih ceroboh, itulah yang membuat Ye Xushi jatuh cinta pada Lin Yue.


Jika terhadap Nona nya, Lin Beishang, maka Ye Xushi akan merasa bahwa itu terlalu sempurna untuk digapai.


Karena, sosok Lin Beishang sendiri sempurna layaknya Dewi dan hanya cocok untuk dihormati olehnya.


Mungkin benar kata orang orang Paviliun Tianmei lain bahwa Nona mereka, Lin Beishang, hanya memiliki Tuan Bei yang cocok untuk berdiri di sampingnya.


Ye Xushi juga menyetujui hal ini, sesampainya di tempat orang orang dirawat, niat awal ingin melihat Lin Yue.


Tapi, justru melihat Nona nya dan Tuan Bei yang terbaring tanpa sadar, layaknya orang meninggal. Orang yang merawatnya adalah Jun Ying, salah satu bawahannya.


"Jun Ying, bagaimana dengan keadaan Istriku ?" Tanya Ye Xushi dan duduk di tepi ranjang Lin Yue.


"Baik dan stabil, selama beristirahat selama beberapa jam maka dia akan segera sadar. " Ucap Jun Ying tanpa menoleh.


"Bagaimana dengan keadaan Nona dan Tuan Bei ?" Tanya Ye Xushi dengan ragu.


Wajah Jun Ying langsung berubah bahkan tampak muram lalu menggelengkan kepalanya dengan ringan.


"Tuan Bei dapat diselamatkan dengan beberapa perawatan intensif, tapi untuk Nona, aku tidak yakin." Ucap Jun Ying dengan ragu.


"Bisakah kau menjelaskan lebih spesifik ?" Tanya Ye Xushi dengan serius.

__ADS_1


"Tuan Bei memiliki tubuh yang sehat dan gagah, sehingga beberapa luka seperti ini mungkin agak mengancam jika tidak segera ditangani, tapi setelah ditangani maka itu akan baik baik saja. " Ucap Jun Ying dan menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan diagnosis nya.


"Sementara Nona, memiliki tubuh yang cenderung lemah dan memiliki racun Gu serta Bubuk Pemakan Emosi Surga. Aku takut..... aku takut, kemampuanku tidak cukup. Untuk membuat Nona sadar..... " Ucap Jun Ying dengan lirih.


Jun Ying adalah orang yang pendiam dan cuek tapi jika terkait dengan orang orang yang dekat dengannya, maka Jun Ying akan menjadi orang yang paling perhatian.


"Bagaimana dengan mempertahankan nyawa Nona saja ?" Tanya Ye Xushi.


"Akan aku usahakan, aku bisa mempertahankan nyawa Nona tapi tidak yakin bahwa bisa membuatnya sadar dalam waktu dekat. Ini adalah salahku karena tidak belajar dengan serius. " Gumam Jun Ying dengan sedih.


"Tidak apa apa, pertahankan saja dulu. Tunggu Tuan Bei bangun dan biarkan Tuan Bei yang memutuskan ini. " Ucap Ye Xushi pada sebuah keputusan yang menurutnya paling bijak.


"Ya, akan ku usahakan untuk membuat Tuan Bei sadar sesegera mungkin. " Ucap Jun Ying.


"Hm, aku biasanya tidak percaya dengan keajaiban. Orang orang seperti kita yang tumbuh di tempat yang kotor, tidak mungkin berharap atas keajaiban. Tapi, kali ini aku benar benar berharap bahwa ada keajaiban yang membantu Nona. " Ucap Ye Xushi sambil menghela nafas lelah.


"Ye Xushi, kamu sendiri terluka parah. Aku akan mengobati mu. " Ucap Jun Ying sambil menghela nafas juga.


Semuanya tahu bahwa peperangan ini sangat melelahkan, semuanya tahu bahwa kemenangan kali ini akan dibayar oleh bayaran yang tidak sepadan.


"Aku sangat lelah, sangat lelah, baik fisik maupun mental. Aku melihat orang orang berpisah dengan keluarga mereka, ayah mereka, kakek mereka, saudara mereka. Perpisahan ini terlalu menyedihkan menurutku. " Ucap Ye Xushi dengan sedih.


"Jika menurut apa yang dikatakan oleh Nona, maka inilah harga yang harus dibayar oleh peperangan. Oleh karena itu Nona ingin mencegah adanya peperangan, tidak menyangka bahwa semuanya justru berbalik. " Balas Jun Ying dengan lirih.


Setelah diobati, Ye Xushi beristirahat sekitar setengah jam sebelum akhirnya kembali ke medan peperangan.


Peperangan berhasil ditekan tapi air mata tidak dapat ditekan, tangisan kesedihan dari orang orang yang kehilangan keluarganya terlalu menyayat hati.


Berjam jam berlalu, banyak bangunan yang hancur sepenuhnya dan rata dengan tanah, hanya menyisakan kesedihan dan luka mendalam.


Mayat telah membuat gunung dimana mana, sungai di dekat Istana mereka telah sepenuhnya berubah menjadi warna merah pekat, sama seperti darah.


Seolah olah ingin mengingatkan siapapun yang melihat bahwa inilah bayaran dari peperangan, peperangan tidak membawa kebahagiaan, hanya menyisakan duka.


"Jangan pergi ! Kau berjanji padaku bahwa kau tidak akan pergi ! Aku telah berjanji padamu bahwa aku akan menjaga diriku sendiri dan kamu tidak menepati janjimu !" Teriak pria itu dengan sedih.


Itu adalah Lan Xiang dan Yang Xin, tangan Lan Xiang yang dibasuh oleh darah ratusan atau bahkan ribuan nyawa yang pergi karenanya.


"Maafkan aku karena tidak bisa menepati janji ku padamu, aku mungkin akan bertemu denganmu di masa depan. " Ucap Lan Xiang dengan mulut penuh darah.


"Yang Xin, sejak awal, kamu adalah satu satunya pria yang dekat denganku. Hanya saja, di masa lalu aku merasa bahwa statusku tidak layak untukmu. Hanya Nona yang layak untuk berada di sampingmu, tapi tidak menyangka bahwa semuanya telah berubah belakangan ini. Sayang sekali bahwa aku terlambat menyadari perasaan ku sendiri. " Ucap Lan Xiang dan mencium pipi Yang Xin.


Air mata Yang Xin membasahi wajah Lan Xiang, Lan Xiang tampak tersenyum dan menyeka wajah Yang Xin yang tampak menyedihkan.


"Jangan menangis, karena ketika aku tiada maka siapa lagi yang akan menyeka air mata ini untuk mu ? " Ucap Lan Xiang dengan lembut.


Tapi mendengar kata kata yang dilontarkan oleh Lan Xiang membuat tangisan Yang Xin menjadi lebih kuat dan tidak tertahankan.


"Jika aku tiada maka aku berharap mayat ku akan di bakar dan abu milikku akan dibuat dalam bentuk kalung sehingga aku selalu bisa menemani mu. " Ucap Lan Xiang sebelum akhirnya memejamkan mata untuk selamanya, wajah yang indah itu tidak akan pernah bisa membuka mata kembali dan mengomeli Nona nya ketika meminum arak.


"Lan Xiang ! Lan Xiang ! Tidakk !!!" Teriak Yang Xin dengan suara yang menyayat hati dan membawa tubuh Lan Xiang ke dalam pelukannya.


Seolah olah tidak membiarkan hangatnya kehidupan pergi dari tubuh Lan Xiang, tapi tidak peduli seberapa besar usaha yang diberikan oleh Yang Xin.


Tubuh di dalam pelukannya perlahan lahan menjadi semakin dingin. Yang Xin berteriak dengan sekuat tenaga, berusaha untuk menyalurkan rasa sakitnya.


Hatinya yang baru mekar ketika melihat senyuman Lan Xiang sebelum perang berubah menjadi layu kembali, pada kenyataannya, perang mengambil sesuatu yang paling berharga darinya.


Yang Xin melihat pedang miliknya lalu mengambilnya dan menikam pedang tersebut ke arah jantungnya sendiri.


Yang Xin memuntahkan seteguk darah dan memeluk tubuh Lan Xiang dengan senyum bahagia, dua garis air mata mengalir di wajahnya.

__ADS_1


"Aku sadar, bahwa aku tidak sanggup untuk berpisah denganmu. Karena kamu pergi maka aku akan ikut pergi bersama denganmu. " Ucap Yang Xin dengan lirih sebelum akhirnya jatuh ke belakang sambil memeluk Lan Xiang.


Ketika ditemukan oleh Ye Xushi itu telah terlambat dan Ye Xushi memandang dengan sedih, hubungan Lan Xiang dengan Ye Xushi tidak buruk.


Bagaimanapun mereka sama sama bekerja untuk Lin Beishang dan telah bekerja sama berulang kali, melihat bagaimana kejamnya medan perang merenggut kedua temannya dengan kejam.


Ye Xushi berlutut dan melihat kedua rekannya yang tampak menyedihkan dan meneteskan air mata, tidak tahu sudah berapa kali meneteskan air mata.


Bahkan air matanya terasa sudah kering, Ye Xushi terduduk dan tersedak oleh isak tangisnya. Berulang kali berkeliling dan melihat betapa banyaknya rekan seperjuangannya yang meninggal.


"Kenapa Surga begitu kejam ? Mereka baru saja menyadari perasaan mereka masing masing, kenapa kamu harus memisahkan mereka ?!" Tanya Ye Xushi dengan sedih.


Ye Xushi meraung dan memukul tanah lalu menoleh ke samping untuk melihat seorang gadis kecil tertatih-tatih berlari dan memeluk mayat seorang pria dewasa.


"Ayah.... buka matamu. " Ucap gadis kecil itu, itu adalah Ah - Bing yang dilihatnya tadi.


Suara polos gadis kecil itu bahkan lebih menyayat hati lagi, sebelum akhirnya ibu Ah - Bing datang dan memeluk putrinya lalu menangis dengan keras.


"Mulai sekarang, ayahmu tidak akan pernah bisa melihatmu lagi, tapi kamu bisa melihat ayahmu. Walaupun ayah sudah pergi, tapi dia adalah pahlawan untuk Negeri ini. Dia pergi dengan terhormat dan tidak memalukan sama sekali. "Ucap Ibu Ah - Bing.


Ah - Bing tampak mengangguk berulang kali tapi tetap tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.


Ah - Bing dengan hati hati berjalan mendekati Ye Xushi dan menyeka air mata Ye Xushi dengan hati hati.


"Paman, kenapa kamu sangat sedih ?" Tanya Ah - Bing.


"Tuan Ye, maafkan atas kekurang ajaran putriku. " Ucap Ibu Ah - Bing dengan buru buru.


Ye Xushi menggelengkan kepalanya dan memaksakan diri untuk tetap tersenyum.


"Maafkan aku karena telah menangis disini dan tidak mengganggu kalian. " Ucap Ye Xushi dengan pelan dan menyeka air matanya.


"Tidak apa apa, Tuan kehilangan teman, tentu saja akan sangat sedih. Wajar untuk menangis bahkan jika itu adalah pria. " Ucap Ibu Ah - Bing dengan bijak.


"Terimakasih, aku tidak menyangka bahwa inilah hasil akhir dari peperangan. Harga untuk membayar peperangan ini terlalu mahal, aku kehilangan sahabat sahabatku , Nona ku dan kekasihnya berada di ambang kematian, sementara istriku sendiri terluka parah. Aku benar benar tidak sanggup untuk membayar harga ini. " Ucap Ge Xushi dengan sakit.


"Harga dari peperangan memang selalu mahal dan tidak masuk akal, semua orang kehilangan banyak hal. Kemenangan dari peperangan ini tidak membawa kebahagiaan. " Ucap Ibu Ah - Bing sambil menghela nafas.


Ye Xushi mengangguk dan berdiri lalu pamit dan berjalan maju sebelum akhirnya melihat mayat dua orang wanita dengan jantung yang ditembus.


Ye Xushi berlutut dan memandang kedua wanita itu, senyum bahagia dari mereka, tidak akan pernah terlihat lagi.


Itu adalah Min Yi dan Liu Yi, kedua gadis itu dibawa olehnya untuk dilatih ke dalam Paviliun Tianmei dan dilatih olehnya terlebih dahulu sebelum akhirnya dilatih oleh Lin Beishang.


Mereka berdua sudah dianggapnya sebagai adik sendiri tapi mereka saat ini terbaring tanpa nyawa membuat Ye Xushi merasa sakit, tapi bahkan jika ingin menangis, tidak ada air mata yang tersisa.


"Kenapa kalian semua pergi dan menyisakan aku sendiri, semuanya telah pergi dan menyisakan aku dan Jun Ying. Jika Jun Ying mengetahui bahwa kalian berdua yang selalu bertengkar dengannya pergi, maka dia akan sedih, dia akan lebih sedih dariku. "Ucap Ye Xushi dengan sedih.


Saat ini, Ye Xushi merasa bahwa dunianya telah terbalik. Sebelum akhirnya dari belakang, seorang wanita berlari dan meneriakkan namanya.


"Ye Xushi !!!" Teriak orang di belakangnya dan ketika Ye Xushi menoleh, itu adalah istrinya, Lin Yue.


Tapi, diwajah Lin Yue ada dua garis air mata yang panjang, Lin Yue jarang menangis tapi apa yang membuatnya bisa menangis sampai seperti ini.


"Apa yang terjadi ? Kenapa kamu menangis seperti ini ? Kamu baru sadar dan kamu berlari tanpa alas kaki seperti ini. " Ucap Ye Xushi dengan khawatir.


"Beishang..... Beishang.... " Lin Yue tidak sanggup untuk melanjutkan kata katanya dan terus terisak.


Ye Xushi yang mendengar ini langsung terlonjak dan menatap Lin Yue dengan serius, seolah olah meminta penjelasan yang lengkap dari istrinya.


...****************...

__ADS_1


...****************...


Note : Sekali lagi diingatkan bahwa ini belum mencapai akhir !


__ADS_2