
"Aku akan melakukan sebuah pertaruhan, jika kali ini aku salah lagi maka mataku memang buta. " Ucap Fang Xiu Han sambil menjabat tangannya dengan ekspresi penuh tekad.
"Apakah kau bersumpah tidak akan berkhianat ?" Tanya nya pada Fang Xiu Han.
"Aku bersumpah kepada langit dan bumi bahwa aku tidak akan berkhianat , jika aku melanggar maka aku akan disambar petir sampai mati. " Ucap Fang Xiu Han bersumpah dengan tulus.
Petir menyambar di luar bangunan dengan sangat kuat, dia tahu bahwa sumpah Fang Xiu Han sudah diterima.
Sejak adanya pengkhianatan dalam pasukannya, dia menjadi lebih berhati hati. Dia ingin setiap pasukannya bersumpah setia padanya.
"Bagaimana dengan putrimu ?" Tanya nya dengan ringan melirik gadis pucat yang terbaring di atas kasur rusak.
"Aku bersumpah pada langit dan bumi, bahwa putriku tidak akan berkhianat. Jika dia berkhianat maka aku akan disambar petir sampai mati. " Ucap Fang Xiu Han.
Dia menatap Fang Xiu Han dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, seorang ayah yang bahkan berani mempertaruhkan nyawa nya untuk putrinya.
Pikiran manusia tidak dapat di tebak, tapi Fang Xiu Han dengan sangat percaya bahwa putri nya tidak akan berkhianat.
Fang Xiu Han bahkan tidak ingin menghalangi masa depan Putrinya dan bersumpah atas nama pemuda itu sendiri.
Dia melepaskan jabatan tangan nya dan membuang wajahnya, dia tidak tahan. Dia tidak bisa memungkiri bahwa dia sangat haus akan kasih sayang.
Kasih sayang dari orang tua, yang tidak pernah di dapatkan nya sejak masih kecil. Dia telah terbiasa untuk menggunakan topeng.
Ketika ayahnya hanya menganggap bahwa dia bukan salah satu putrinya, dia hanya bisa tersenyum dan berdiri di pojok lalu menyembunyikan keinginan dalam hatinya.
Perlahan lahan, itu membuatnya berubah. Dia menjadi tidak tahu bagaimana mengekspresikan keinginan nya lagi.
Setiap hari, setiap jam, setiap detik, dia selalu berharap bahwa dia akan mendapatkan kasih sayang orang tua yang tulus.
Tapi, pada saat itu jugalah dia sadar bahwa itu semua sia sia, ibunya sudah meninggal. Bahkan tulangnya telah berubah menjadi abu, yang tersisa hanyalah kenangan kabur.
Jika ibunya masih hidup, maka wanita itu pasti akan menjadi cahaya bagi jalan yang gelap dalam kehidupannya.
__ADS_1
Dia menatap kembali ke arah Fang Xiu Han dengan tatapan yang rumit.
"Dia akan segera sadar, ayo bicara diluar. " Ucapnya dengan ringan, dia berusaha untuk menyembunyikan suaranya yang serak.
Dia berjalan seolah tidak memiliki beban apapun, dia terbiasa untuk hidup dalam kepalsuan. Awalnya masih terasa menyenangkan apalagi target yang ditipu tidak menyadari kepalsuan nya, tapi lama kelamaan itu memuakkan.
Di umurnya yang menginjak 18 tahun, kapan dan dimana dia tidak menggunakan topeng yang penuh kepalsuan ini?
Sesampainya diluar, A Xiang dan Yuanzheng Yuwen telah menunggu diluar dan menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya.
"Fang Xiong akan segera menjadi pelayan ku sejak hari ini bersama putrinya. " Ucapnya dengan tenang.
Dia tidak ingin identitas Fang Xiu Han yang sebenarnya di ketahui oleh banyak orang, cukup dirinya sendiri.
Sama seperti dia memegang fakta bahwa kemungkinan besar A Xiang adalah putri Jenderal Lan yang hilang.
"Jie, kau harus berjaga jaga untuk mengambil pelayan. " Ucap Yang Xin padanya.
"Langit sudah mulai mendung Ketua Muda, aku takut jika kamu menunda perjalanan mu lagi maka kamu akan basah kuyup. " Ucapnya pada Yang Xin.
Dia mengusir pemuda itu dengan kata kata yang halus, tapi sudah cukup untuk membuat pemuda itu pergi.
"Baiklah, sampai bertemu lagi , Bei Wangfei. " Ucap Yang Xin sebelum akhirnya meloncat ke atas salah satu meja tua sebelum akhirnya meloncat ke atas atap dan berlari dari satu atap ke atap lain.
Yang Xin menjauh dan dia berjalan masuk kembali, A Xiang ikut berjalan masuk meskipun menjadi agak sempit.
"A Xiang, Fang Xiong, kalian akan menjadi rekan mulai sekarang. Aku harap kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik. A Xiang, bawa Fang Xiong bertemu dengan saudara yang lain. Untuk putrimu aku akan membawanya. "Ucap nya dengan ringan menggendong tubuh gadis kecil yang sangat ringan itu.
"Maaf jika aku lancang, kemana Bei Wangfei akan membawa putriku ?" Tanya Fang Xiong dengan ragu.
"Tidak apa apa, nona ku akan merawatnya secara pribadi. " Ucap A Xiang dengan cepat.
"Fang Xiong, siapa nama putrimu ini ?" Tanyanya.
__ADS_1
"Fang Ling." Ucap Fang Xiong.
"Hm, aku akan menjaga Fang Ling dan merawatnya. Kau ikut dengan A Xiang dan berkenalan dengan rekan yang lain. Aku akan pergi terlebih dahulu ke kediaman Bei Wang. Oh ya, aku lebih senang apabila dipanggil sebagai Nona Zhou daripada Bei Wangfei jika hanya ada orang kita. " Ucapnya dengan dingin.
Dia membawa tubuh ringkih itu di dalam pelukan nya dan berjalan pergi menuju kediaman Bei Wang yang tidak jauh.
Dia tidak tahu kenapa, tapi Fang Ling ini telah menarik perhatian nya dalam satu pandangan yang membuatnya tertarik pada gadis kecil yang tidak sadarkan diri ini.
Sesampainya di kediaman Bei Wangfei, beberapa penjaga menghalangi nya dan dia menatap penjaga penjaga itu dengan dingin.
"Bei Wang mencari anda, Bei Wangfei. " Ucap penjaga itu.
"Ya." Jawabnya dengan dingin.
Dia tidak langsung berjalan menuju paviliun milik Bei Zhao melainkan ke Paviliun miliknya terlebih dahulu untuk meletakkan Fang Ling.
"Song Yu, jaga anak ini dulu untuk sementara dan gantikan dia dengan pakaian yang lebih layak. Berikan makanan lembut seperti bubur apabila dia sudah sadar. " Ucap nya pada Song Yu.
"Ya, nona. " Ucap Song Yu dengan patuh dan tidak berani bertanya anak siapa yang ada di dalam pelukan Zhou Beishang.
Siapa yang akan berani bertanya pada Zhou Beishang saat ini ketika melihat wajah gadis itu yang sangat murung dan muram.
Setelah meletakkan Fang Ling, dia berjalan menuju tempat Bei Zhao tanpa terburu buru. Dia tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu , jadi dia merasa santai.
Seringaian terbentuk di wajahnya , setelah ini dia mungkin benar benar harus menyiapkan surat cerai untuk diajukan pada Bei Zhao.
Sebenarnya apa yang akan dikatakan oleh Bei Zhao sangat mudah ditebak setelah menyadari bahwa pemuda itu melihatnya berdua dengan Yang Xin.
Sesampainya di sana, Wen Yao tidak berani menatap Zhou Beishang dan hanya bisa menundukkan kepala dalam dalam.
Dia membuka pintu itu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu, lagipula untuk seseorang yang peka dengan kehadiran orang lain seperti Bei Zhao.
Tidak sulit untuk mengetahui kedatangannya dari sejak dia berada di depan, mengetuk pintu hanya untuk keformalan saja, tanpa ada arti lebih lanjut.
__ADS_1