MAFIA DINGIN JATUH CINTA

MAFIA DINGIN JATUH CINTA
#10


__ADS_3

"Aku bukan wanita rendahan ya, aku kan cuman tinggal sementara di rumahnya Kak Al sampai aku menemukan tempat tinggal yang cocok sama aku."Bela Anetha.


"Bagaimana selera tempat tinggal mu, akan aku cari kan sesuai keinginanmu." ujar Al.


"Aa.. i..tu yang nyaman dan aman untuk aku kak." ujar Anetha yang sedikit gugup karna takut jika Al akan mencarikannya.


"Sam kau cari kan rumah yang sesuai keinginannya, dan jauh kan dari area rumah ku." ujar Al pada Samuel.


"Baik Al, gue bakalan cari rumah itu." ujar Samuel.


"Kak Al tidak usah repot-repot biar nanti Anetha aja yang cari, Anetha hanya tinggal sebentar di rumah Kak Al. Nggak apa-apa kan Kak Al." ujar Anetha yang masih berusaha membujuk Al agar mau memperbolehkannya untuk tinggal di rumahnya.


"Anetha Larasati saya tidak ingin kau tinggal di rumah saya, baik itu sementara atau tidak. Saya tidak akan mengijinkan kau untuk tinggal di rumah saya, hanya Bella yang pantas menginjakkan kakinya di rumah itu. Apa kau paham." ujar Al yang sudah muak dengan Anetha.


"Tapi Kak Al." ujar Anetha yang di potong oleh Angga.


"Maaf Nona bukannya saya ikut campur, jika Al tidak mau menerima Nona di rumahnya. Jangan di paksa Nona jika Nona tidak mau terkena masalah jika berurusan dengan Araster Alaska." ucap Angga.


Anetha yang mendengar Araster Alaska seperti sangat familiar dengan nama itu. Anetha terus mengingat dan saat sudah ingat dengan nama itu, muka Anetha langsung pucat pasi.


*Apa hubungan Al dengan Araster Alaska itu, itu kan mafia yang terkenal dengan kekejamannya ketika menghabisi lawan yang berani mencari masalah dengan mereka. Apa jangan-jangan Al salah satu anggota mereka.* batin Anetha yang masih terus berfikir apa Al salah satu dari mereka.


"Ba..baiklah ka..lau Kak Al tidak mau mengijinkan aku tinggal di rumah Kak Al, a..ku bisa cari rumahnya sendiri Kak Al." ujar Anetha gugup.


"Baiklah." ucap Al dingin.


Setelah lama berbincang-bincang Al dan yang lainnya pamit untuk pulang ke villa Al yang ada di daerah ini.


"Paman, maaf Al tidak bisa menginap. Al masih ada pekerjaan di daerah sini, jadi Al pamit untuk pergi dulu Paman." ujar Al pada Paman Bella.


"Baiklah Nak Al, apa Bella ikut bersama Nak Al." tanya Paman.


"Iya Paman Bella ikut bersama Al, karna Bella sekretaris pribadi Al Paman." ujar Al yang membuat Anetha dan Bibi terkejut.


*Sekretaris pribadi, jadi dia selalu dekat dengan Kak Al dong. Pokoknya aku harus bisa mengantikan posisi Bella, dia tidak pantas untuk berdampingan dengan Kak Al. Hanya aku yang pantas untuk mendampingi mu Kak Al.* batin Anetha.


"Baiklah Nak Al, jaga Bella baik-baik Nak Al." ucap Paman.


"Paman tidak usah khawatir Al akan menjaga Bella, sebelum pulang ke Jakarta Al akan menemui Paman lagi. Untuk membicarakan hadiah pernikahan Al untuk Paman, dan Paman tidak boleh menolaknya. Paman harus menerima apapun yang Al berikan untuk Paman." ujar Al yang tidak ingin di bantah oleh Paman.


"Baiklah Nak Al, Paman akan menerimanya." ujar Paman pasrah.


"Kalau begitu kami semua pamit dulu Paman." ujar Al yang mewakili semua teman-temannya.


"Baiklah hati-hati." ujar Paman.


"Bella pergi dulu Paman." ujar Bella.


"Mila juga Paman." ujar Mila.


"Mika juga Paman." ujar Mika.


"Iya Nak, kalian hati-hati di jalan ya. Kalau sudah sampai segera hubungi Paman kalian ini. Kalian paham."ujar Paman.


"Siap Paman." jawab ketiganya serempak.


"Kami bertiga bakalan rindu banget sama Paman." ujar Mika dan langsung memeluk Paman erat begitu juga dengan Bella dan Mila.


"Paman juga akan merindukan kalian, ya udah sana kalian berangkat kasihan pangeran kalian sudah menunggu." ujar Paman.


"Paman ini bisa saja." ujar Mila malu.


"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu Paman." ucap Mika.


Ketiga gadis cantik itu berjalan ke mobil masing-masing dan para laki-laki membukakan pintu mobil untuk mereka.


Anetha yang melihat itu menjadi sangat iri, kenapa bukan dirinya yang di perlakukan seperti itu.


"Kami pamit dulu Paman." ujar Al.


"Hati-hati di jalan semua." ujar Paman.


Akhirnya mobil mewah itu meninggalkan perkarangan rumah Paman menuju villa Al yang ada di sana.


•••••••


Di dalam mobil Al..


Bella hanya diam saja sambil mengalihkan pandangannya ke luar untuk melihat pemandangan desa tempat kelahirannya.


"Sayang, kenapa kau diam saja." tanya Al.


"Maaf Al." ujar Bella yang meminta maaf pada Al.

__ADS_1


"Kenapa kau minta maaf sayang." tanya Al yang heran kenapa Bella meminta maaf padanya.


"Karna ku kau jadi malu, yang di katakan Bibi tadi ada benarnya. Kenapa kau harus memilih aku kenapa tidak orang lain saja." ujar Bella yang masih melihat ke luar mobil.


"Karna kau beda dari yang lain sayang." ujar Al yang sudah paham kemana jalan berbicara Bella.


"Aku gadis miskin, anak yatim piatu. Semua yang di katakan Bibi tentangku itu benar Al." ujar Bella.


"Aku juga sudah yatim piatu, apa kau tau sayang Daddy dan Mommy ku meninggal itu bukan karna kecelakaan atau sakit." ujar Al.


"Terus kerena apa dong." tanya Bella yang penasaran dengan kematian orang tua Al. Sebab orang tua Al pernah datang ke alam bawah sadarnya saat koma dulu.


"Mereka di tembak mati sama orang yang menginginkan jabatan tinggi di dunia bisnis." ujar Al yang berusaha menahan hasrat membunuhnya, karna tidak ingin Bella tau siapa dirinya sebenarnya.


Bella yang mendengar itu menjadi terkejut kenapa orang itu kejam sekali, kenapa harus membunuh orang yang tidak bersalah.


"Maafkan aku, karna aku kau harus mengingat semua itu lagi " ucap Bella yang kembali meminta maaf.


"Kau tak perlu meminta maaf sayang, apa kau ingin tau kenapa aku lebih memilihmu menjadi istriku."ucap Al.


"Kenapa." tanya Bella yang penasaran kenapa Al lebih memilih dirinya.


"Aku tidak pernah dekat dengan wanita lain selain dirimu. Dulu aku sangat membenci perempuan, karna yang aku pikirkan mereka hanya menginginkan harta ku saja.Tapi semua itu berubah semenjak aku dekat dengan kamu. Kau wanita yang baik, tidak memandang orang dari hartanya. Karna itulah aku memilihmu menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anakku. Karna aku yakin kau akan menjadi ibu yang baik, seperti Mommy ku yang selalu menjaga aku dengan sangat baik. Walaupun umur kita di bilang masih terlalu muda untuk membina bahtera rumah tangga, tapi asalkan kau tau sayang aku hanya ingin menjaga mu dengan baik. Mungkin setelah ini akan banyak masalah yang akan hadir dalam kehidupan kita masing-masing sayang. Tapi kau tak perlu khawatir karna aku akan selalu menjaga kamu kalau perlu aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menjaga kamu." ujar Al panjang lebar.


"Apa kau tau Al, saat aku koma di rumah sakit. Ada sepasang suami istri yang mendatangiku dan mereka menyuruhku untuk kembali. Awalnya aku tidak mau, karna aku tidak sanggup melihat orang yang aku cintai bersama wanita lain. Tapi setelah itu aku mendengar kau mengatakan jika kau mencintaiku." ujar Bella yang masih ingat jelas perkataan Al di rumah sakit.


"Siapa suami istri yang kau bilang sayang." tanya Al.


"Mereka bilang jika mereka adalah Daddy dan Mommy mu. Mereka sangat merindukanmu, mereka bilang sama aku kalau aku harus menjagamu. Awalnya aku sangat malu dengan derajat kita yang sangat jauh berbeda. Tapi mereka selalu meyakinkanku untuk kembali sama kamu, mereka juga sudah merestui jika aku menjadi istrimu Al. Setelah mengatakan itu mereka hilang setelah cahaya terang itu datang." ucap Bella panjang lebar.


"Kau lihat sayang, bahkan mereka datang ke alam bawah sadar mu. Berarti kau memang di kirimkan oleh Tuhan untuk tetap bersamaku." ujar Al.


"Semoga saja kita memang di takdir kan untuk bersama Al." ujar Bella.


••••••••••


Sedangkan di negara lain...


"Kapan kita akan berangkat ke Jakarta." ujar Marsel pada orang kepercayaannya.


"Nanti siang kita sudah bisa berangkat Tuan." ujar Yoga.


"Kau urus semuanya." ucap Marsel.


"Baik Tuan." jawab Yoga.


"Kau boleh keluar sekarang." ujar Marsel.


"Baik Tuan." ucap Yoga.


Setelah Yoga keluar dari ruangan Marsel, Yoga langsung menghampiri Raga yang berjaga di luar ruangan.


"Woi bro lo bengong aja dari tadi." tanya Yoga.


"Tidak ada kok, gue cuman kangen keluarga gue yang ada di Jakarta. Gue udah lama nggak pulang ke Jakarta." ujar Raga yang berbohong supaya bisa ikut ke Jakarta untuk melaporkan semua rencana yang sudah di rapi oleh Marsel untuk menghancurkan Aldebaran.


"Ya udah kalau gitu lu ikut sama gue aja ke Jakarta, sekalian jagain si Boss. Gimana lu mau nggak." ujar Yoga yang sama sekali tidak menaruh curiga pada Raga.


"Apa boleh." tanya Raga.


"Bolehlah, sekarang lu siap-siap. Satu jam lagi kita berangkat." ujar Al.


"Terima kasih." ucap Raga dan langsung berjalan ke arah kamarnya untuk berkemas.


*Setibanya aku di Jakarta, aku harus bertemu dengan Tuan Sam dulu. Untuk memberi tau rencana Marsel sebelum semuanya terlambat.* batin Raga.


1 jam kemudian..


Kini tiba saatnya untuk Marsel dan yang lainnya untuk berangkat ke Jakarta. Marsel sengaja membawa banyak anak buah untuk berjaga-jaga jika nanti ada perlawanan dari pihak Aldebaran.


Raga juga ikut serta dalam rombongan itu, Raga selalu mendengarkan dengan baik pembicaraan Marsel agar tidak ketinggalan dari rencana yang sudah di siapkan oleh Marsel.


"Raga." panggil Marsel.


"Iya Boss." jawab Raga.


"Tugas kau saat sudah ada di Jakarta nanti, kau awasi Samuel karna dia merupakan tangan kanan Al. Dan untuk Al biar aku sendiri yang urus." ucap Marsel.


"Baik Tuan akan saya lakukan dengan baik." ujar Raga.


"Kau anak buah yang sangat saya percayai Raga." ujar Marsel.


"Terima kasih sudah mau percaya sama saya Tuan Marsel." ujar Raga.

__ADS_1


*Mudah sekali kau percaya padaku Tuan Marsel, tapi tak apa itu sangat menguntungkan untukku.* batin Raga.


•••••••••••


Di villa Al..


Villa yang berada di Mojokerto di desain sangat indah dan tentunya nyaman.


Hal itu dapat di rasakan oleh ketiga wanita cantik yang sangat menikmati suasana villa Al.


"Ayo semua kita masuk." ucap Al.


Mereka semua masuk ke dalam villa dan lagi-lagi ketiga wanita cantik itu di suguhkan dengan desain ruangan yang sangat mewah dan berkelas tentunya.


"Waahhh villanya indah banget." ujar Mila jujur.


"Kamu benar Mil, aku aja yang juga punya villa di sini tidak menyangka jika ada villa sebagus ini di sini." ujar Mika.


"Bell kamu sangat beruntung memiliki calon suami setajir Al. Lihat saja villanya saja sudah seperti ini, apalagi rumah yang akan kamu tempati nanti Bell." ujar Mila.


"Kalian ini bisa saja, yang kaya itu bukan aku tapi calon suami aku. Jadi apapun yang aku lakukan harus minta izin dulu sama suami aku." ujar Bella.


"Al pasti akan nurut apa katamu bell, kau lihat saja nanti." ujar Mika.


Tutt.. Tutt. Tutt.


Dering ponsel Al berbunyi dan Al langsung melihat siapa orang yang sudah menelfonnya.


"Permisi sebentar ya." ucap Al.


"Baik." jawab ketiga wanita cantik itu.


Al langsung menjauh dari ketiga wanita cantik itu, Al tidak mau mereka mendengar apa yang akan Al bicarakan dengan anak buah kepercayaan nya.


"Hallo Tuan." ucap seseorang di sebrang telfon.


"Ya, ada apa kau menelfon ku." ujar Al.


"Ada yang mau saya sampaikan Tuan." ucap Atlas.


"Katakan." ujar Al dingin.


"Tuan Marsel dan rombongannya sudah berangkat menuju Jakarta satu jam yang lalu Tuan. Kemungkinan Tuan Marsel akan tiba di Jakarta besok pagi Tuan." ujar Atlas.


"Siapa saja anggota yang di bawa oleh Marsel." tanya Al.


"Saya kurang tau nama anggotanya Tuan, tapi Raga salah satu dari mereka Tuan. Nanti Raga di tugaskan oleh Marsel untuk mengawasi Samuel dan untuk Tuan, Tuan Marsel sendiri yang akan mengawasi Tuan untuk melancarkan rencananya Tuan." ujar Atlas panjang lebar.


"Kau Dima sekarang." tanya Al.


"Saya di tugas oleh Adam untuk mengawasi Perusahaan Tuan yang ada di Negara xxx Tuan." ujar Atlas.


"Baiklah kau urus saja perusahaan yang ada di sana, biar di sini saya sendiri yang ambil alih. Kau kirimkan anak buah yang terlatih ke Jakarta besok pagi, perintahkan mereka untuk mengawasi mension ku, karna besok pagi saya akan berangkat ke Jakarta. Dan perintahkan mereka untuk mengawasi jalanku dari kejauhan untuk berjaga-jaga karna saat ini saya tidak membawa senjata apapun." ujar Al pada Atlas.


"Baik Tuan akan saya lakukan, apa perlu saya kirimkan senjata rakitan terbaru untuk Tuan gunakan." tanya Atlas.


"Tidak usah, masalah ini sangat mudah untuk atasi tanpa harus menggunakan senjata itu." ucap Al.


"Baiklah Tuan." jawab Atlas.


Sambungan telfon di matikan secara sepihak oleh Al.


*Masih berani kau rupanya mencari masalah denganku Tuan Marsel Prayoga.* batin Al.


Keesokan harinya..


"Sayang apa kita bisa berangkat sekarang, karna aku ada urusan mendadak di Jakarta." ujar Al pada Bella.


"Baiklah, tapi sebelum itu kita pamit sama Paman dulu ya." ujar Bella.


"Baiklah sayang." jawab Al.


Akhirnya mereka semua meninggalkan villa mewah Al menuju rumah Paman Bella untuk berpamitan pulang ke Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, akhirnya mereka sudah sampai di rumah Paman Bella.


Paman yang mendengar suara mobil memutuskan untuk keluar rumah. Karna Paman sudah tau jika itu Bella dan teman-teman nya yang akan berpamitan untuk pulang ke Jakarta.


"Paman." panggil Bella saat melihat pamannya keluar dari rumah.


"Nak, apa kamu akan berangkat sekarang." tanya paman.


"Iya Paman Bella akan berangkat sekarang, karna Al ada urusan mendadak di Jakarta Paman." ucap Bella.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, maaf Paman tidak bisa memberi kamu apapun Nak, Paman tidak memiliki uang yang cukup untuk membelikan kamu dan teman-teman kamu sesuatu Nak." ujar Paman.


"Paman ini bicara apa, seharunya kami yang memberi Paman hadiah bukan malah Paman yang memberi kami hadiah Paman." ujar Mila yang baru saja turun dari mobil sambil membawa sesuatu di tangannya.


__ADS_2