MAFIA DINGIN JATUH CINTA

MAFIA DINGIN JATUH CINTA
#9


__ADS_3

Paman Bella selalu mendoakan yang terbaik untuk putrinya, walaupun Bella bukan putri kandungnya Paman juga menginginkan yang terbaik untuk kehidupan Bella ke depannya.


Selama ini Bella sudah sangat menderita karna kehilangan kedua orang tuanya, di tambah lagi istri dan anaknya juga berprilaku buruk pada Bella.


"Paman, Bibi saya tidak mau berlama-lama lagi. Saya langsung saja pada intinya, saya mau melamar Bella menjadi istri saya. Apa Paman dan bibi menerima lamaran saya." ujar Al yang langsung pada intinya, Al tidak mau berlama-lama lagi di rumah itu. Al tidak suka jika Bella selalu di hina oleh Bibi dan Anetha.


"Nak Al, semua keputusannya Paman serahkan pada Bella. Karna dia yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya. Nak Al tanyakan saja sama Bella, Paman selalu mendukung keputusannya Nak." ujar Paman.


"Sayang, kau mau kan menjadi istriku." tanya Al.


"Aku mau menjadi istrimu, menjadi ibu dari anak-anakmu Al." ucap Bella yang langsung membuat Al menampilkan senyuman manisnya.


"Kau pemilik hatiku sepenuhnya sayang, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku sayang." ujar Al yang sengaja menekankan kata-katanya.


"Iya aku percaya sama kamu, karna hati kamu cuman buat aku dan aku tidak akan membiarkan j*alang manapun merebut kamu dari aku." ujar Bella yang juga menekankan kata-katanya.


Anetha yang mendengar itu menjadi sangat kesal dengan Bella. Bisa-bisa dia berbicara seperti itu.


*Berbahagialah kau dulu Bella, karna tidak lama lagi aku akan menghancurkan kebahagiaanmu itu. Kau lihat saja semua orang yang dekat denganmu akan segera menjauhi mu. Kau tunggu saja pembalasanku.* batin Anetha.


"Nak Al apa boleh Bibi bertanya." ujar Bibi.


"Silahkan." ujar Al yang sudah muak dengan perlakukan Bibi pada Bella. Sehingga Al tidak memikirkan lagi bagaimana cara sopan santun pada orang yang lebih tua. Toh dia juga bukan orang tua kandung Bella.


"Nak Al orang kaya ya." tanya Bibi yang melihat dari pakaian Al yang pasti sangat mahal.


"Apa urusannya dengan Bibi kalau saya orang kaya, Bibi saja tidak memperlakukan calon istri saya dengan baik." ujar Al yang langsung membuat bibi terdiam membisu tanpa berani mengeluarkan suara lagi.


"Itu memang pantas dia dapatkan Kak Al, orang yang tidak tau terima kasih seperti dia tidak seharusnya ada di dunia ini. Seharusnya dia mati saja bersama kedua orang tuanya." ujar Anetha yang sudah tak bisa mengontrol emosinya.


"Berani sekali kau berbicara seperti itu, seharusnya kau yang pergi meninggalkan dunia ini. Karna kau sudah terlalu banyak dosa Anetha Larasati." ujar Mika yang tidak terima dengan perkataan Anetha pada sahabatnya.


"Aku tidak berbicara padamu, jadi kau diamlah." ujar Anetha.


"Kau yang seharusnya diam Anetha, kalau tidak karna Bella kau tidak akan bisa masuk ke universitas yang kau inginkan." ujar Ayah Anetha.


"Aku bisa masuk karna usahaku sendiri Ayah." ujar Anetha yang ingin membanggakan dirinya walaupun itu tidak benar sama sekali.


"Ayah sudah tau semuanya, lebih baik kau akui sekarang atau Ayah akan bongkar semua nya di depan ibumu yang selalu membangga-banggakan anak yang sudah berani berbohong sepertimu. Atau kau diam saja dan jangan mengeluarkan suara sedikit pun sebelum Ayah yang menyuruhmu untuk berbicara."ujar Ayah yang membuat Anetha terkejut.


*Apa Ayah tau semua yang aku lakukan, bagaimana ini tidak mungkin aku mengatakan yang sebenernya kalau aku tidak perawan lagi. Bisa-bisa ibu marah besar padaku, lebih baik aku diam saja untuk sekarang.* batin Anetha yang ketakutan kalau Ayahnya memang tau semua apa yang sudah dia lakukan.


Flashback.


"Sayang." ujar Tama pada Anetha.


"Iya sayang."ucap Bella.


"Kita kan sudah lama pacaran dan aku sudah memberimu banyak hadiah-hadiah mewah. Sekarang apa aku boleh meminta sesuatu darimu."ucap Tama.


"Kau mau minta apa, aku akan melakukannya karna aku sangat mencintai kamu Tama." ujar Anetha tanpa rasa curiga sedikitpun.


"Aku mau tubuhmu sayang." ujar Tama yang membisikkan di telinga Anetha.


Anetha yang mendengar itu menjadi merinding dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Tama.


"Kau tidak serius kan sayang." ujar Anetha yang merasa ketakutan karna mereka sekarang berada di Apartemennya Tama.


"Aku tidak pernah bercanda sayang." ujar Tama.


"Aku takut Tama, nanti kalau aku hamil gimana. Lebih baik kita menikah saja dulu bagaimana, jadi kalau aku hamil aku tidak perlu takut. Karna ada kamu di samping aku." ujar Anetha.


"Aku belum siap untuk menjadi kepala keluarga sayang, kau tenang saja jika kau hamil aku akan langsung melamar mu ke orang tua mu." ujar Tama.


"Tapi Tama ak.." ujar Anetha yang terpotong karna Tama sudah menempelkan bibinya pada bibir Anetha.


Anetha tidak menolak sama sekali bahkan Anetha menikmati perlakuan Tama padanya.

__ADS_1


"Apa boleh aku melakukannya sekarang sayang, aku sudah tidak tahan lagi." ujar Tama.


Dan Anetha langsung sadar dan segera menjauhkan tubuhnya dari Tama.


"Aku tidak bisa Tama, aku takut Ayah dan Ibu marah padaku jika mereka tau kalau aku tidak perawan lagi." ujar Anetha.


"Aku akan bertanggung jawab jika nanti kau hamil sayang, kau percaya sama aku kan." ujar Tama.


Tama langsung meraba bagian depan tubuh Anetha dan berhenti di gundukan kembar Anetha. Tama meremas gundukan itu dan itu membuat Anetha merasa keenakan.


"Ayolah sayang." ujar Tama yang sudah tidak tahan lagi.


"Ahhhhh." akhirnya desahan Anetha tidak bisa di tahan lagi karna tangan Tama sudah mulai meraba area ******** Anetha.


Tama yang mendengar desahan Anetha sudah tidak kuat lagi. Tama langsung merebahkan tubuh Anetha di atas sofa panjang yang berada di dalam Apartemennya.


"Kau nikmati saja sayang, aku akan melakukan dengan hati-hati sayang."ujar Tama yang sudah mulai membuka kancing baju Anetha satu persatu.


Sedangkan Anetha hanya diam saja karna Tama selalu memainkan bibirnya di gundukan kembar miliknya


Tama langsung terpana dengan gundukan kembar Anetha tanpa pikir panjang Tama langsung meremas gundukan itu.


"Aahhhhh " desahan Anetha kembali keluar dari mulutnya.


Dan itu semakin membuat Tama bergairah.


Tama dan Anetha kini sama-sama sudah tidak memakai apapun lagi pada tubuh mereka masing-masing.


"Kau nikmati saja permainannya sayang." ujar Tama.


Perlahan tapi pasti Tama sudah mulai memasukkan miliknya pada milik Anetha.


"Ahhh sa..kit sa..yang ahhh."ujar Anetha yang merasakan sakit pada selangkanya.


"Tahan sayang ini hanya sebentar saja." ujar Tama yang masih berusaha untuk menembus dinding keperawanan Anetha.


"Kau tinggal nikmati saja sayang." ujar Tama yang sudah menggoyangkan pinggulnya secara perlahan dan lama kelamaan semakin mempercepat gerakannya.


"Aahhhhh." desahan Anetha kembali keluar dari mulutnya.


Tama selalu saja meraba setiap inci tubuh Anetha tanpa terkecuali.


Setelah merasa cukup Tama langsung mencium kening Anetha.


"Terima kasih sayang, sekarang kau tidurlah kau pasti lelah." ujar Tama yang juga ingin tidur.


Akhirnya mereka berdua tidur tanpa memaki baju sehelai benang pun.


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 Wib.


Tama lebih dulu bangun dan langsung melihat Anetha yang masih belum memakai pakaian.


"Sayang, aku mau lagi." ujar Tama yang langsung melakukannya lagi tanpa menunggu jawaban Anetha terlebih dahulu.


•••••••••••••••••••


"Kenapa kau diam Anetha, apa yang kau sembunyikan dari ibu." tanya Ibu pada Anetha.


"Ti..dak ada apa-apa kok Bu." ujar Anetha yang merasa sangat gugup saat ini.


"Nak Al maafkan anak paman Ya, dia memang selalu begitu. Paman akan mengajarinya bagaimana berbicara sopan pada orang lain Nak Al. Sekali lagi maafkan anak paman ya." ujar Paman pada Al.


"Paman tidak perlu minta maaf, karna Paman tidak memiliki salah sama saya." ucap Al.


"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian." tanya paman pada Al.


"Minggu depan Paman, lebih cepat lebih baik Paman. Jadi Al bisa menjaga Bella dengan baik Paman." ujar Al.

__ADS_1


"Nak Al terima kasih sudah mau menjaga Bella, bahagiakan Bella Nak Al. Selama ini Bella sudah sangat menderita Nak Al. Paman tidak bisa membahagiakannya, Paman hanya bisa menyusahkannya saja Nak Al." ujar Paman yang merasa bersalah terhadap Bella karna belum membahagiakannya.


"Paman ini bicara apa, Bella tidak merasa di susahkan sama Paman. Paman jangan bicara seperti itu lagi, Paman sudah Bella anggap seperti Ayah Bella sendiri Paman. Jangan berbicara seperti itu lagi ya Paman, hikks.. hikss." ujar Bella yang sudah tak bisa membendung air matanya.


"Maafkan Paman nak, Paman belum bisa membahagiakan kamu. Paman gagal menjaga amanah dari kedua orang tua kamu Nak, Paman hanya menyusahkan kamu saja selama ini." ujar Paman yang sudah tak kuat lagi dan akhirnya air mata itu jatuh dari mata Paman.


"Paman Bella kan sudah bilang, Paman jangan berbicara seperti itu lagi. Hikss hikss Bella tidak suka Paman berbicara seperti itu. Paman tidak pernah menyusahkan Bella kok, tapi sebaliknya Bella yang selalu menyusahkan Paman." ucap Bella dan langsung memeluk pamannya dengan erat.


"Maafkan Paman Nak." ujar Paman yang meminta maaf untuk kesekian kalinya.


"Paman sudah jangan meminta maaf lagi, Paman tidak membuat kesalahan sama Bella tapi Bella yang membuat banyak kesalahan sama Paman. Bella minta maaf Paman." ujar Bella yang masih setia memeluk pamannya dengan erat.


"Paman sudah memaafkan kamu Nak sebelum kamu meminta sama Paman. Paman harap kamu hidup bahagia sama Nak Al, Paman selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Nak." ujar Paman.


"Terima kasih Paman atas doanya, do'akan Bella juga Paman semoga rumah tangga Bella di jauhkan dari kehancuran Paman."ucap Bella.


"Paman akan selalu mendoakan kamu Nak." ujar Paman.


"Terima kasih Paman." ujar Bella.


"Nak Al jaga kan Bella untuk Paman ya Nak Al. Bahagiakan dia Nak Al, sudah cukup Bella merasakan penderitaannya selama ini. Paman harap Nak Al tidak akan mengecewakan Paman." ujar Paman pada Al.


"Paman tenang saja, Al akan menjaga Bella sebaik mungkin Paman. Karna aku juga sudah berjanji pada diri Al untuk membahagiakan Bella Paman." ujar Al.


"Terima kasih Nak Al." ucap Paman.


"Sama-sama Paman." jawab Al.


Anetha yang melihat itu semua kebenciannya pada Bella semakin besar.


"Ayah." panggil Anetha lembut.


"Apa." ujar Ayah cuek.


"Apa boleh Anetha ikut ke Jakarta bersama Bella, Anetha ingin mencari pekerjaan di sana Ayah." ujar Anetha yang sengaja berbohong pada Ayahnya.


Anetha tidak berniat untuk mencari pekerjaan, tapi Anetha sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat hidup Bella menderita.


"Terserah kau saja, Ayah serahkan semua keputusannya sama Bella. Kau tanya kan saja pada Bella apa kau boleh ikut bersamanya atau tidak Anetha." ucap Ayah yang menaruh curiga pada putri kandungnya itu.


"Bella apa boleh aku ikut bersamamu ke Jakarta." tanya Anetha yang berusaha selembut mungkin agar Bella tidak curiga padanya.


"Aku tidak berhak melarangmu, tapi setelah kau tiba di Jakarta kau harus cari tempat tinggal sendiri. Agar kau bisa hidup mandiri." ujar Bella yang tidak ingin Anetha tinggal bersamanya atau bersama Al.


"Tapi aku takut kalau harus tinggal sendiri, bagaimana kalau aku tinggal bersama kak Al untuk sementara sampai aku bisa menemukan tempat tinggal yang cocok untukku." ujar Anetha.


"Sebelumnya maaf Nona Anetha, Al tidak akan pernah menerima wanita di rumahnya kecuali Al sendiri yang mengajaknya untuk tinggal bersamanya." ujar Samuel


"Kalau begitu, Kak Al apa boleh aku tinggal bersama Kakak untuk sementara saja." ujar Anetha dan Al langsung melihat ke arah Bella.


Al dapat melihat raut kesedihan di wajah calon istrinya.


"Saya tidak bisa, lebih baik kau cari tempat tinggal sendiri saja. Saya risih kalau ada wanita lain di rumah saya." ujar Al dan ucapan Al dapat membuat Bella merasa bahagia karna Al menolak Anetha untuk tinggal bersamanya.


"Tapi aku takut Kak Al." ujar Anetha yang masih berusaha membujuk Al.


"Jika kau takut, lebih baik tidak usah ikut kalau hanya akan menyusahkan orang lain." ujar Mila.


"Kau diam saja, aku tidak berbicara padamu." ucap Anetha.


"Ini yang pertama dan terakhir Anetha, saya tidak bisa menerima kamu untuk tinggal bersama saya ataupun Bella. Apa kau paham." ujar Al yang langsung menekankan kata-katanya pada Anetha


"Bella tolong bujukin Kak Al agar mau menerimaku untuk tinggal bersamanya, hanya sebentar saja tidak akan lama kok." ujar Anetha ada Bella.


"Maaf Anetha, aku tidak bisa semua keputusannya ada di tangan Al. Aku tidak berhak ikut campur, semuanya aku serahkan sama Al. Kalau dia tidak mau menerima kamu di rumahnya jangan di paksa. Masing-masing kita memiliki privasi sendiri Anetha. Ada yang mau menerima kita untuk tinggal di rumahnya dan ada yang tidak, mungkin mereka tidak ingin di ganggu." ujar Bella.


"Pokoknya aku mau tinggal di rumah Kak Al, aku tidak mau tinggal sendiri." ujar Anetha.

__ADS_1


"Kau tuli ya, Al tidak mau kau tinggal di rumahnya. Serendah inikah harga diri kau, sudah di tolak untuk tinggal bersama dan sekarang kau malah memaksanya. Menyedihkan sekali dirimu Anetha." ujar Mila.


__ADS_2