
"Semoga Paman suka dengan hadiah yang kami
berikan sama Paman."ujar Mila.
"Paman akan selalu suka apa yang kalian berikan sama Paman. Terima kasih Nak sudah memberi Paman ini sedangkan Paman tidak memberikan kalian apapun." ucap Paman sedih.
"Tak apa-apa Paman, kami paham bagaimana kondisi Paman. Jadi Paman tidak usah sedih seperti itu dong." ujar Mika.
"Ya sudah Paman kami berangkat dulu." ucap Mila.
"Paman, maaf Bella tidak memberi Paman apapun, tapi Paman tidak usah khawatir setelah Bella gajian nanti Bella akan membelikan Paman hadiah." ucap Bella yang berusaha menyembunyikan kesedihannya karna harus berpisah dengan paman lagi.
"Paman tidak menginginkan apapun darimu Nak, yang Paman inginkan hanya kebahagiaanmu saja selama ini kamu sudah hidup menderita dan semoga Nak Al memberikan kebahagiaan yang abadi untuk kamu Nak." ucap Paman.
"Amin, terima kasih Paman atas doanya. Kalau begitu Bella pamit dulu Paman. Sampai bertemu di hari pernikahan Bella nanti Paman." ucap Bella.
"Baiklah, hati-hati di jalan Nak." ujar Paman.
Akhirnya mobil-mobil mewah itu meninggalkan rumah Paman Bella menuju Jakarta.
•••••••••
Di tempat lain..
Marsel dan rombongannya sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Marsel sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Marsel tidak ingin berlama-lama lagi hidup dalam kemiskinan seperti ini.
*Sebentar lagi hidupmu akan hancur Tuan Aldebaran, karna kau sudah berani mencari masalah dengan Marsel Prayoga.* batin Marsel.
Marsel tidak mengetahui siapa Al sebenarnya,karna informasi tentang Al sangat sulit untuk di dapat. Informasi tentang kehidupan Al di tutup rapat oleh mafianya.
Raga yang juga ikut dalam rombongan itu sudah memberi tahu ke Samuel kalau Marsel dan rombongan sudah sampai di Jakarta.
"Kita istirahat dulu sekarang, besok baru kita jalankan semua rencana kita agar kita bisa cepat kembali." ucap Marsel.
"Baik Boss." jawab anak buah Marsel termasuk Raga.
••••••••••
Di dalam mobil Samuel.
Tutt..Tutt..Tutt..
"Hallo." ucap Samuel.
"Tuan rombongan Tuan Marsel sudah sampai di Jakarta Tuan." ujar Raga.
"Baiklah kau pantau semua pergerakan mereka dan segera laporkan pada saya. Saya tidak akan membiarkan orang itu menghancurkan Boss." ujar Samuel yang sengaja tidak menyebut nama Al karna ada Mika di sampingnya.
Sedangkan Mika tidak ambil pusing dengan percakapan Samuel dengan orang yang sedang menelfonnya.
"Baik Tuan." ujar Raga.
Samuel langsung mematikan sambungan telefonnya secara sepihak.
*Masih punya muka kau Tuan Marsel menampakkan wajahmu di depan Aldebaran. Tapi tak apa permainan ini akan semakin seru jika kau sendiri yang memulainya. Permainan akan segera dimulai.* batin Samuel.
••••••••••
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Bella dan yang lainnya sudah sampai di mansion milik Al.
"Sayang kau istirahat saja duluan, aku harus pergi ke kantor." ujar Al yang berbohong pada Bella.
"Kita baru saja sampai sayang, apa kau tidak lelah. Besok saja kau ke kantornya sekarang kau istirahat dulu." ucap Bella.
"Sayang dengarkan aku, Minggu depan kita akan menikah dan mulai hari ini aku akan di sibukkan dengan pekerjaan perusahaan ku sayang.Apa kau mau setelah kita menikah nanti aku masih sibuk mengurus perusahaan." ujar Al.
"Tapi tidak sekarang juga Al, kita baru saja sampai dari kampung ku. Kau pasti lelah membawa mobil sejauh itu." ucap Bella.
"Aku tidak akan pernah lelah sayang, karna aku ingin membuatmu bahagia saat bersamaku. Lelahku akan terganti dengan kebahagiaanmu nanti. Jadi aku harus ke perusahaan sekarang." ujar Al yang langsung keluar dari mobil dan berlari kecil untuk membukakan pintu mobil untuk Bella.
Bella keluar dari mobil sambil menatap kesal ke arah Al.
"Sayang jangan menatapku seperti itu dong."ujar Al.
"Abisnya kamu tidak mau mendengarkan ucapan ku." ujar Bella.
"Hanya sebentar sayang tidak akan lama, aku janji setelah urusanku selesai aku akan langsung pulang sayang." ucap Al.
"Janji." ucap Bella sambil mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan Al.
"Aku janji sayang." ujar Al yang langsung mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Bella.
"Kalau kau bosan, kau boleh mengajak sahabatmu untuk istirahat di sini. Karna Angga dan Samuel akan ikut bersamaku untuk menyelesaikan pekerjaanku." ujar Al.
"Apa boleh." tanya Bella.
"Tentu saja boleh sayang, asal kan kau bahagia aku akan melakukannya untukmu." ujar Al yang membuat Bella langsung menampilkan senyumannya pada Al.
"Baiklah Mila, Mika kalian istirahat di sini saja. Angga sama Samuel akan ikut sama Al, jadi kalian bisa istirahat di sini sampai urusan mereka selesai." ucap Bella yang merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat nya.
"Maaf Bell, sepertinya aku tidak bisa. Aku harus ke perusahaan tempatku bekerja, aku sudah lama tidak masuk Bell. Nanti kalau aku di pecat bagaimana." ujar Mika.
"Sayang, Mika bekerja di perusahaan mu kan." tanya Bella.
__ADS_1
"Iya sayang, kenapa." tanya Al.
"Kau bisa kan menjadikan Mika sekretarisnya Samuel." ucap Bella yang membuat Mika dan Samuel kaget dengan perkataan Bella.
"Semua keputusan ada di tangan kamu sayang." ucap Al.
"Baiklah, mulai sekarang Mika akan menjadi sekretarisnya Tuan Samuel." ucap Bella.
"Tapi Bell." ucap Mika yang langsung di potong sama Bella.
"Tidak ada tapi-tapian Mika, keputusan ini sudah bulat. Mulai sekarang kamu akan jadi sekretarisnya Samuel." ucap Bella lagi.
Sedangkan Samuel hanya bisa pasrah atas ucapan Nona mudanya.
"Ya udah kalau gitu aku, Angga sama Sam ke perusahaan dulu. Nanti pulang mau aku bawain apa." tanya Al.
"Tidak ada." jawab Bella.
"Kenapa." ujar Al heran.
"Nanti kalau ada aku tinggal telfon kamu aja, sekarang aku lagi nggak mau apa-apa."ujar Bella.
"Baiklah, kita berangkat dulu." ujar Al.
Al dan kedua sahabat memasuki mobil Samuel, karna Al yang memerintahkan itu.
"Kami berangkat dulu." ujar Al.
"Iya hati-hati di jalan." ujar Bella.
Akhirnya mobil yang di kendarai Samuel mulai meninggalkan mansion mewah milik Al.
Bella dan kedua sahabatnya memutuskan untuk masuk ke dalam mansion untuk istirahat.
Di dalam mobil.
"Nggak ada yang mau kalian kasih tau ke gua." tanya Al.
"Kasih tau lu apa." tanya Angga.
"Gue udah tau semuanya dan kenapa kalian nggak ngasih tau gue." ujar Al.
"Lo udah tau kalau Marsel akan ke sini." tanya Samuel.
"Ya gue tau." ucap Al.
"Sorry kalau gue nggak ngasih tau lo, gue nggak mau ngerusak hari bahagia lo. Lagian Marsel juga belum melakukan pergerakan apapun. Dan tadi Raga ngabarin gue kalau Marsel dan rombongannya udah sampai Jakarta." ujar Samuel.
"Seharusnya lo berdua ngasih tau gue soal ini." ujar Al yang masih kesal dengan Samuel dan Angga.
"Tau nih, ketularan si Anetha kali nih orang. " ucap Samuel.
"Lo berdua ngatain gue, di sini Boss nya siapa elu atau gue." tanya Al.
"Ya elu lah monyet, masa lu lupa kalau lu Bossnya." ucap Angga.
"Sekarang kita ke markas, gue mau bahas rencana yang akan gue lakuin buat Marsel." ujar Al.
"Oke, kita harus bikin pelajaran buat si kepala botak itu. Berani banget dia cari masalah sama Al." ucap Angga.
"Siapa si kepala botak yang lo maksud." tanya Al.
"Ya siapa lagi kalau bukan Marsel Nyet. Otak lu lama-lama lemot juga ya." ucap Angga.
"Siapa yang lu bilang lemot, mau lu gue bikin tinggal nama aja." ujar Al.
"Yeeee lu sewot amat sih, gue cuman becanda kali. Sensi amat lu jadi cowok." ucap Angga.
"Lu ngomong lagi gue ancurin tuh mulut lemes lu." ucap Al.
"Aaa elahh elu mah dikit-dikit ngancam, biasa aja kali kita kan udah lama nggak becanda kayak gini Nyet. Jarang-jarang kan kita bisa ngumpul kayak gini dan elu jangan ngerusak momen dong kambing." ujar Angga.
"Tau nih anak balik dari kampungnya Bella dia langsung berubah gini, elu kesambet apaan sih. Kesambet kuntilanak elu ya." ucap Samuel.
"Tau ah gue males ama elu berdua, gue Bossnya dan elu itu anak buah gue. Sekarang kenapa elu yang maki-maki gue kayak gitu, malah di bilang kesambet kuntilanak lagi. Mana ada kuntilanak yang berani deketin gue, palingan mereka deketin elu berdua."ujar Al pada Samuel dan Angga.
"Lah kok kita sih." tanya Angga.
"Karena Lo berdua masih jomblo sedangkan gue Minggu depan udah mau nikah, masa kalah sama gue yang umurnya masih di bawah kalian. Nggak lucu tau yang tua kalah sama yang muda, mau di tarok di mana tuh muka." ucap Al yang langsung ngakak melihat raut wajah Samuel dan Angga.
"Eee bocil umur kita itu hampir sama bego, elu aja yang gaya lu kayak bapak-bapak. Enak aja ngatain umur gue udah tua, kita belum nikah itu karna belum ada yang cocok aja pe'ak." ujar Angga yang tak terima dengan ucapan Al.
"Siapa yang gayanya kayak bapak-bapak, itu mulut lemes lu emang perlu di kasih pelajaran ya supaya jangan ngomong sembarangan." ujar Al.
"Udah-udah kita udah sampe nih, mau diliatin yang lain kalau kalian berdua kelakuannya masih kayak anak-anak." ujar Samuel yang langsung dari mobil dan langsung di ikuti oleh Al dan Angga.
"Selamat datang Tuan." ujar anak buah yang memang Al tugaskan untuk menjaga markas.
"Kumpulkan mereka semua." ujar Al dingin.
Al memang seperti itu dingin ketika berbicara dengan orang lain tetapi akan hangat jika bicara dengan Angga dan Samuel.
"Baik Tuan, silahkan masuk dulu Tuan." ujar Vigo.
Vigo Antariksa anak buah yang bertugas menjaga markasnya bersama anak buah kepercayaan Al yang lain.
__ADS_1
Al, Samuel dan Angga langsung masuk ke dalam markas tempat mereka menyusun rencana untuk menghancurkan seseorang yang sudah berani mencari masalah dengan mereka.
Di tempat lain...
"Raga." panggil Marsel.
"Iya Tuan, ada apa Tuan memanggil saya."tanya Raga.
"Apa kamu sudah awasi Samuel." ucap Marsel.
"Sudah Tuan, tapi penjagaan terhadap Samuel sangat ketat Tuan. Saya kesusahan untuk mengikutinya Tuan." ujar Raga berbohong.
"Terus ikut dia, usahakan dia menjauh dari Al. Karna kalau ada dia semua rencana saya bisa gagal." ujar Marsel.
"Bagaimana kalau kita susun rencana yang baru Tuan, mungkin saja rencana kita ini sudah di ketahui oleh mereka Tuan. Makanya mereka memperketat penjagaan mereka Tuan. Maaf sebelumnya Tuan kalau saya lancang." ucap Raga yang sengaja membuat Marsel membuat rencana baru dan dengan diam-diam Raga mulai merekam suara Marsel yang sedang menyusun rencana.
"Bagaimana apa kau paham dengan rencana yang ku katakan tadi." tanya Marsel.
"Saya paham Tuan, saya akan lakukan rencana itu dengan baik Tuan."ujar Raga.
"Baiklah, sekarang kau boleh keluar." ujar Marsel.
"Baik Tuan." ujar Raga dan langsung melangkahkan kakinya menjauh dari Marsel.
Setelah merasa agak jauh, Raga langsung mengirim rekaman suara Marsel tadi pada Samuel.
*Semua rencana yang kau susun akan gagal Tuan Marsel Prayoga.* batin Raga.
Di markas Aldebaran.....
Ponsel Samuel berdering menandakan ada pesan yang masuk.
Samuel dengan cepat langsung membuka ponselnya untuk melihat isi pesan yang di kirimkan oleh Raga padanya.
"Al Raga mengirimkan pesan suara."ujar Samuel.
"Buka." ucap dingin Al.
Samuel akhirnya membuka pesan suara yang di kirimkan oleh Raga padanya.
Al mendengarkan rekaman suara dengan teliti dan akhirnya Al dapat mengetahui rencana Marsel untuk menghancurkan dirinya.
"Rencana yang cukup menarik." ujar Al sambil tersenyum tipis.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membalas Marsel Al." tanya Samuel.
"Kita biarkan saja, biar anak buah Vigo yang mengurusnya. Kita tinggal menontonnya saja." ujar Al dengan senyuman iblisnya.
"Kau ini kenapa Al, kenapa harus Vigo yang mengurusnya. Dia ingin menghancurkan kamu Al akan lebih menarik jika kamu sendiri yang menghabisinya." ujar Angga yang mang tidak bisa mengontrol emosinya.
"Dengerin gue, mereka tidak tau siapa gue yang sebenarnya. Kalau mereka tau kalau gue ini ketua mafia, apa mereka masih mau cari masalah sama gue. Apalagi Marsel, apa dia masih berani menampakkan wajahnya di depan gue. Mereka semua bukan tandingan gue, kalau gue mau gue bisa habisin mereka semua. Sekarang biarin Vigo yang urus mereka sekalian buat latihan." ujar Al.
"Terserah lu aja deh." ujar Angga.
"Lo tenang aja gue akan buat perhitungan sendiri sama Marsel dan kalau perlu dia sendiri yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri." ujar Al dengan senyuman tipisnya.
"Terus rencana lo buat ancurin dia apa, biar si Vigo sama anak buahnya bisa ngelakuinnya dengan baik." tanya Angga.
"Kita butuh Raga buat melancarkan semuanya." ujar Al.
"Nanti biar gue yang bawa Raga ke sini." ujar Samuel.
"Sekarang kalian semua latihan dulu, nanti baru gue kasih tau apa rencana yang akan kalian jalanin nanti." ujar Al pada Vigo.
"Baik Tuan, ayo semua kita latihan dulu." ujar Vigo pada anak buahnya.
•••••••••••
Di kediaman Marsel Prayoga...
Tutt..Tutt...Tut..
Ponsel Raga berdering menandakan jika ada orang yang sedang menghubunginya.
Raga langsung mengambil ponselnya dan melihat nama Big yang sedang menghubunginya.
Dengan cepat Raga langsung mengaktifkan mode kedap suara dalam kamarnya , agar tidak ada yang tau jika dia sedang telfonan dengan Samuel.
"Hallo Boss." ujar Raga.
"Gue butuh bantuan kamu Raga untuk menjalankan rencana yang di buat sama Al." ujar Samuel yang langsung pada intinya.
"Bantuan apa Boss." ujar Raga.
"Dengerin gue baik-baik." ujar Samuel dan Samuel langsung mengatakan rencana apa yang harus Raga jalankan untuknya.
"Akan saya lakukan Boss, apa masih ada yang harus saya lakukan lagi Boss." tanya Raga.
"Untuk saat ini itu dulu, setelah rombongan Marsel hancur kamu boleh berkumpul lagi dengan Araster Alaska." ujar Samuel.
"Baik boss akan saya lakukan dengan baik." ujar Raga.
"Saya percaya dengan cara kerja kamu Raga." ujar Samuel.
"Terima kasih Boss sudah mau percaya sama saya."ujar Raga dan Samuel langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.
__ADS_1
*Waktunya belas dendam.*batin Raga.