
Di rumah sakit..
Al sudah sampai sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruang rawat Bella.
Setelah berada di depan pintu ruang rawat Bella, Al langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.
Al dapat melihat Bella yang masih memejamkan matanya dengan wajah yang sangat pucat.
"Sayang apa kau tidak lelah harus bolak-balik ke rumah sakit ini terus. Ini sudah yang ketiga kalinya aku gagal jagain kamu sayang. Maafkan aku yang nggak becus jagain kamu, ini semua salah aku. Kalau saja aku sendiri yang membelikan ice cream untuk kamu ini semua tidak akan terjadi. Maafkan aku Bella Al gagal nepatin amanat dari Paman kamu buat jagain kamu. Maafin aku."ujar Al yang tanpa di sadari jika Bella sudah sadar dan mendengar semua ucapan Al.
"Aku sayang kamu, aku nggak mau kehilangan kamu sayang. Bukalah matamu jangan begini."ujar Al yang masih meracau tanpa berniat mengangkat kepalanya dari tangan Bella yang terletak di samping badannya.
"Aku sudah bangun sayang, kau saja yang tidak mau mengangkat kepala mu untuk melihatku."ujar Bella yang merasa terhibur dengan kelakuan Al.
Al yang mendengar suara Bella langsung mengangkat kepalanya.
Al senang bukan main saat Bella sudah membuka matanya kembali.
"Syukurlah sayang kau sudah sadar, aku takut jika kau tidak membuka matamu lagi sayang."ujar Al yang begitu bahagia.
"Aku haus."ujar Bella.
Dan Al langsung mengambilkan air putih di samping tempat tidur Bella.
"Ini sayang di minum, hati-hati ya."ujar Al yang menolong Bella untuk minum.
"Terima kasih."ucap Bella.
"Tidak ada kata terima kasih sayang."ucap Al.
"Baiklah." jawab Bella.
"Al kedua sahabat ku bagaimana apa mereka baik-baik saja."tanya Bella yang mengkhawatirkan kedua sahabatnya.
"Mereka masih belum sadar sayang."ujar Al.
"Aku mau melihat mereka Al."ujar Bella yang melihat kedua sahabatnya.
"Sayang kau masih lemah."ucap Al.
"Aku mau lihat mereka Al."ucap Bella yang ingin sekali melihat kedua sahabatnya.
"Baiklah tunggu sebentar." ujar Al dan berjalan ke arah tirai yang menjadi pemisah Bella dengan kedua sahabatnya.
Al langsung menggeser tirai sampai Bella dapat melihat kedua sahabatnya yang masih belum sadar.
"Al kenapa mereka belum sadar juga."tanya Bella.
"Mungkin sebentar lagi sayang tapi.."ujar Al yang menggantung ucapannya.
"Tapi apa Al."tanya Bella yang penasaran.
"Mika harus segera di operasi sayang karna racun yang masuk ke tubuh nya merupakan racun yang sangat berbahaya dan bisa melumpuhkan saraf-saraf di tubuhnya. Sedangkan Mila hanya perlu di rawat inap saja di sini sampai benar-benar sembuh dari racun yang masuk ke dalam tubuhnya."ucap Al.
Deggg..
Bella yang mendengar kondisi kedua sahabatnya menjadi shock dan tidak percaya ini semua menimpa kedua sahabatnya.
Flashback..
"Dok bagaiman kondisi mereka."tanya Al saat Dokter sudah selesai memeriksa kondisi Bella dan kedua sahabatnya.
"Begini Tuan, Nona Bella tidak terlalu parah sebentar lagi akan sadar begitu juga dengan Nona Mila. Tapi Nona Mika harus segera di operasi Tuan, karna racun yang masuk ke tubuhnya jenis racun yang sangat berbahaya Tuan dan dapat melumpuhkan saraf-saraf yang ada di tubuh Nona Mika."ucap Dokter itu.
"Lakukan yang terbaik untuk Mika, buat dia sembuh dan jangan sampai gagal. Kau pahamkan apa yang akan terjadi jika kau gagal melakukannya." ujar Al.
"Baik Tuan saya paham, saya akan melakukan yang terbaik buat Nona Mika Tuan."ujar Dokter itu.
•••••••••••
"Apa Mika akan selamat Al."tanya Bella dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kita berdoa saja semoga Mika bisa selamat sayang."ujar Al yang memberi kekuatan pada Bella.
"Aku sangat berharap semoga Mika bisa selamat."ujar Bella yang memang sangat menginginkan Mika selamat dari racun itu.
"Aku akan melakukan apapun sayang untuk menyelamatkan Mika, jadi kau tenang saja ya jangan banyak pikiran. Kau masih lemah biar Mika di urus sama Dokter di sini." ujar Al.
"Selamat Mika Al."ujar Bella.
"Iya sayang aku janji akan melakukan pengobatan yang terbaik untuk Mika." ujar Al tanpa mereka sadari kalau Samuel mendengar semuanya. Tapi Samuel tidak mengetahui jika Mika harus di operasi.
Entah mengapa Samuel merasa sangat takut kehilangan Mika.
__ADS_1
*Perasaan apa ini kenapa rasanya tidak rela jika Mika ninggalin gue. Apa gue udah jatuh cinta sama dia, tapi kok secepat ini. Pertemuan gue sama Mika terbilang masih singkat untuk saling mencintai. Tapi kok gue rasa ahhh tidak mungkin palingan ini cuma rasa kasihan aja sama Bella.*batin Samuel yang tidak bisa mengartikan perasaan pada Mika.
"Ngapain lu di sini kita masuk yuk."ajak Angga yang baru tiba dari toilet.
"Gue nungguin lu, lo lama amat sih."ujar Samuel.
"Aaa elah gue cuma bentar doang Lo bilang lama."ujar Angga yang langsung membuka pintu ruang rawat Bella dan kedua sahabatnya.
"Hai Bella Lo udah sadar."ujar Angga.
"Udah tapi sahabat aku masih belum sadar."ujar Bella sambil mengalihkan pandangannya pada kedua sahabatnya.
Angga dan Samuel juga ikut mengalihkan pandangan mereka.
Angga merasa ada perasaan aneh dalam hatinya saat melihat kondisi Mila yang penuh dengan alat yang menempel pada tubuhnya.
*Perasaan apa ini kenapa sakit sekali melihat dia seperti itu.*batin Angga yang tak mengalihkan pandangan pada Mila begitu juga dengan Samuel.
*Cepatlah sadar Mika.*batin Samuel.
*Cepatlah sadar Mila.*batin Angga.
Al yang melihat tatapan kedua sahabatnya pada kedua sahabat Bella dapat mengartikan jika mereka mencintai Mila dan Mika, hanya saja mereka masih ragu dengan perasaan yang mereka rasakan.
"Permisi Tuan."ucap Dokter yang masuk ke dalam ruang rawat Bella dan sahabatnya.
"Ada apa."tanya Al.
"Saya kesini ingin memeriksa keadaan Nona Bella dan juga ingin meminta tanda tangan untuk melakukan operasi pada Nona Mika."ujar dokter itu.
"Apa operasi, apa dia separah itu."tanya Samuel yang kaget dengan ucapan dokter jika Mika harus melakukan operasi.
"Racun yang masuk ke dalam tubuh Nona Mika jenis racun yang sangat berbahaya Tuan. Jika kita terlambat saja melakukan operasi nya mungkin kesalamatan Nona Mika akan terancam Tuan. Karna racun itu sudah menyebar ke saraf-saraf tubuh Nona Mika yang lain Tuan."ujar Dokter itu.
"Kalau begitu tunggu apa lagi lakukan sekarang jangan diam aja. Lo becus nggak sih jadi Dokter." ujar Samuel yang membuat Angga dan Al kaget dengan ucapan Samuel.
"Baik Tuan kami akan membawa Nona Mika ke ruang operasi, tapi sebelum itu Tuan harus tanda ini dulu kalau Anda sepakat kalau Nona Mika di operasi."ujar Dokter itu pada Samuel.
Tanpa pikir panjang Samuel langsung menandatangi surat itu dan memberikannya lagi pada dokter.
"Lakukan secepatnya dan buat dia sadar lagi, kalau sampai kau gagal melakukannya kau tau tanggung akibat sendiri."ujar Samuel.
"Baik Tuan, kalua begitu saya permisi dulu." ujar Dokter itu sambil mendorong tempat tidur Mika keluar.
Samuel yang meresa di perhatikan oleh kedua sahabatnya menjadi salah tingkah.
"Ngapain Lo berdua liatin gue kayak gitu."tanya Samuel.
"Apa ini bener Lo Sam, lu udah bisa peduli sama cewek." ujar Angga yang heran dengan sikap Samuel hari ini.
"Terus kalau gue udah apa urusannya sama Lo."ujar Samuel.
"Gue nggak nyangka aja kutub es kayak Lo bisa peduli sama cewek."ujar Angga.
"Gue punya hati kali, setiap orang wajar jika mengkhawatirkan seseorang. Nggak kayak Lo yang nggak punya hati makanya Lo nggak bisa khawatir lihat kondisi orang lain." ujar Samuel.
"Gue punya hati kali, emang siapa yang harus gue khawatirin sih."ucap Angga.
"Ya mana gue tau emang Lo pikir gue peramal apa yang bisa baca pikiran orang lain." ucap Samuel.
Angga dan Samuel terus berdebat hingga mereka semua tidak tau jika Mila mengalami kejang-kejang.
Bella yang sempat mengalihkan pandangannya langsung berteriak sehingga mengalihkan pandang ketiga pria tampan di hadapannya.
"Milaa."teriak Bella.
Bella langsung turun dari tempat tidur menuju ke tempat tidur Mila, sedangkan Angga langsung berlari ke pintu keluar untuk memanggil Dokter.
"Dokter cepat kemari."teriak Angga yang berulang kali memanggil dokter.
Akhir dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Mila.
Al lagi-lagi di buat terkejut dengan Angga yang melakukan hal yang sama dengan Samuel walau berbeda kondisi.
Al dapat melihat jika kedua sahabat memang menaruh hati pada kedua sahabat Bella.
*Gue harus bikin mereka nyatain perasaan mereka biar mereka nggak jomblo karatan lagi.*batin Al.
Bella sangat sedih melihat kondisi sahabatnya yang di ambang kematian.
Setelah dokter memeriksa kondisi Mila, dokter hanya geleng-geleng kepala.
"Bagaimana kondisinya dok."tanya Angga.
__ADS_1
"Kondisi sangat kritis Tuan, keselamatan buat Nona Mila sangat kecil Tuan. Racun yang masuk ke tubuh belum bisa tim kami ketahuiTuan, kami para dokter tidak tau jenis racun ini apa kami juga tidak bisa memastikan racun ini berbahaya atau tidak. Tuan dan Nona berdoa saja somoga Nona Mila bisa sadar kembali. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan." ujar Dokter itu dan langsung pergi meninggalkan ruang rawat.
Angga sangat shock saat tau kondisi Mila.
*Seperti gue harus bertindak sebelum semuanya terlambat.*ucap Angga.
Angga keluar dari dalam ruang rawat berniat ingn mencari suster untuk mengambil darah Mila.
"Sus apa suster bisa bantu saya."tanya Angga saat sudah menemukan suster.
"Bantu apa Tuan."tanya suster itu.
"Apa suster bisa mengambilkan darah seseorang itu saya cek apa penyakitnya."tanya dokter itu.
"Tapi kita harus meminta izin dulu sama dokter Tuan, karna itu merupakan prosedur di rumah sakit ini Tuan."ucap suster itu.
"Pemilik rumah sakit ini sahabat saya suster, tidak perlu meminta izin sama dokter itu akan memakan waktu yang lama sedangkan gadis itu kondisi semakin memburuk Sus."ucap Angga yang terus berusaha membujuk agar suster itu mau mengambil darah Mila.
"Tapi saya takut di pecat Tuan karna sudah melanggar prosedur di rumah sakit ini Tuan."ucap Suster.
"Saya jamin Suster tidak akan di pecat dari rumah sakit ini, saya mohon Suster tolong saya satu kali ini saja. Dia gadis yang memberi warna di hidup saya Sus, saya belum sanggup jika dia pergi meninggalkan saya secepat ini Sus."ujar Angga yang tak sadar jika mengatakan itu karna saat ini dia benar-benar merasa ketakukan jika Mila benar-benar pergi meninggalkannya.
"Baiklah Tuan, tapi Tuan harus janji kalau saya tidak akan di pecat dari rumah sakit ini."ucap Suster itu yang akhirnya mau membantu Angga.
"Terima kasih Sus, kalau begitu Suster ikut saya."ucap Angga dan langsung membawa Suster ke ruang rawat Mila.
Setelah sampai Angga langsung menyuruh suster itu untuk mengambil darah Mila agar Angga dapat mengetahui racun jenis apa yang masuk ke tubuh Mila.
"Ehh Lo ngapain bawa suster ke sini, tadikan Mila udahbdi periksa sama dokter."ujar Samuel yang heran kenapa Angga membawa Suster ke ruang rawat.
"Lo diam aja nggak usah banyak tanya."ujar Angga.
"Cepat lakukan Sus."ujar Angga pada suster yang akan menolongnya.
"Baik Tuan."ujar Suster itu dan langsung mengambil darah Mila sesuai perintah Angga.
Setelah selesai suster itu menyerahkannya pada Angga.
"Ini Tuan."ujar suster itu memberikan darah Mila pada Angga.
"Terima kasih Suster sekarang suster boleh keluar, tidak usaha di pikirkan itu saya jamin Suster tidak akan di pecat dari rumah sakit ini. Percayakan semuanya pada saya."ujar Angga yang berusaha menyakinkan suster itu agar tidak cemas.
"Baik Tuan."jawab Suster itu dan langsung keluar dari ruang rawat pasien.
"Mau Lo Spain darah Mila."tanya Al.
"Dokter bilang kalau tim medis mereka belum bisa mendeteksi jenis racun ini apa, dari pada nunggu mereka biar gue aja yang tes darahnya Mila. Agar gue tau harus berbuat apa selanjutnya agar Mila bisa sadar lagi. Gue pergi dulu kalau ada apa-apa kabarin gue secepatnya." ucap Angga yang langsung pergi meninggalkan Samuel dan Al yang masih termenung dengan ucapan Angga.
"Angga kesambet apaan ya."ujar Samuel yang harus sadar dari lamunannya.
"Itu yang di namain JATUH CINTA bego."ujar Al.
"Jatuh Cinta maksud Lo."ujar Samuel yang masih belum mengerti.
"Lo pasti bakalan ngerasain hal yang sama dengan Angga sebentar lagi, Lo tunggu aja."ujar Al.
*Jatuh cinta, apa gue sedang jatuh cinta sama Mika. Tapi ini terlalu cepat buat gue, apa ini benar cinta atau hanya khawatir dengan seorang teman.*batin Samuel.
Di Ruang Operasi..
3 jam berlalu...
Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda Dokter akan keluar dari ruang operasi.
Samuel yang lebih memilih menunggu Mika di depan ruang operasi menjadi sangat cemas dengan kondisi Mika.
*Kenapa lama sekali sih.*batin Samuel yang sudah tak sabaran.
2 jam kemudian..
Barulah dokter keluar dari ruang operasi, Samuel yang melihat dokter keluar langsung berdiri dan langsung menanyakan kondisi Mika.
"Bagaimana keadaannya Dok."tanya Samuel.
"Operasinya berjalan lancar Tuan kita hanya perlu menunggu Nona Mika sadar Tuan." ucap Dokter itu yang dapat membuat Samuel bernafas lega dan itu hanya bertahan beberapa menit saja karna kondisi Mika langsung drop.
"Dok detak jantung pasien melemah Dok."ujar Suster yang langsung memanggil dokter itu kembali masuk ke dalam ruang operasi.
Tanpa berbicara dokter langsung masuk kembali ke ruang operasi.
Samuel yang baru merasakan tenang kembali merasa khawatir dengan kondisi Mika. Tanpa pikir panjang Samuel menerobos masuk ke ruang operasi untuk melihat Mika.
"Tuan.."ucapan suster itu langsung di potong oleh Samuel.
__ADS_1
"Biarkan saya di sini dan saya tidak akan menganggu kerja kalian." ujar Samuel dingin.