
Mobil mewah terparkir rapi di depan rumah Paman Bella. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil Al, Samuel dan Angga.
Bahkan tetangga Paman Bella terkagum-kagum dengan kemewahan mobil mereka.
Saat Al,Samuel dan Angga keluar semua para gadis di sana sangat histeris, melihat laki-laki tampan datang ke desa mereka.
Tatapan kagum mereka itu tidak pernah lepas dari ketiga laki-laki tampan itu.
Bella yang melihat Al di tatap seperti itu menjadi kesal dan Bella pun memilih berjalan ke arah Al dan merangkul tangan Al.
"Sayang, ayo kita masuk di sini banyak orang yang memperhatikan kamu. Aku tidak suka sayang." ujar Bella manja.
"Apa kau cemburu sayang." ucap Al.
"Tidak, hanya saja aku tidak suka jika punyaku di lihat oleh orang lain selain aku. Apa kau Paham sayang." ujar Bella.
"Baiklah Tuan Putri hamba paham." ujar Al.
"Kau ini bisa saja." ucap Bella.
Para gadis yang melihat kedekatan mereka berdua menjadi sangat iri. Mereka juga ingin seperti itu, dengan laki-laki tampan yang pasti kaya raya.
"Ayo masuk, kalian berdua juga masuk ya. Jangan keluar jika tidak dapat ijin dariku, nanti kalian berdua di culik tante-tante girang di sini." ujar Bella pada Samuel dan Angga.
"Baik Nona Muda." jawab mereka secara bersamaan.
Para gadis yang mendengar mereka menyebut nona muda sangat terkejut. Gadis desa yang di kelilingi oleh tiga laki-laki tampan. Siapa yang tidak mau seperti itu, di kelilingi laki-laki tampan dan juga tajir.
Belum juga sempat masuk, Bella sudah di hadang oleh seorang gadis yang seumuran dengannya.
"Siapa kau, kenapa kau datang ke rumah Ayahku." tanya gadis itu pada Bella.
Bella yang melihat gadis itu menjadi sedikit takut, karna gadis itu adalah anak dari Bibinya. Gadis yang selalu menindasnya ketika masih tinggal di rumah pamannya dulu.
Sehingga Bella tidak sadar jika mencengkram erat pergelangan tangan Al. Al Yang merasakan jika Bella mencengkram tangannya menjadi faham jika Bella saat ini sedang ketakutan.
*Apa yang gadis ini lakukan pada wanitaku, kenapa dia sampai ketakutan seperti ini.* batin Al sambil melirik tajam ke arah gadis yang ada di depannya.
"A..ku Bella." ucap Bella gugup.
"Oooh jadi kau Bella, masih berani kau menginjakkan kakiku di rumah ini. Masih punya muka kau datang ke sini." ujar gadis itu pada Bella.
"Aku ha..nya ingin bertemu dengan paman bukan denganmu Anetha." ujar Bella.
"Paman kau itu adalah Ayahku jadi aku berhak untuk melarang siapa saja untuk menemuinya termasuk kau. Anak yang tidak tau diri seperti kau tidak pantas untuk bertemu dengan Ayahku." ucap Anetha.
"Kenapa dia pamanku, apa salahnya aku menemuinya." ujar Bella.
Sedangkan Al hanya diam mendengarkan pembicaraan Bella dengan Anetha.
"Kau tidak pantas menemuinya, j*lang seperti kau tidak seharusnya memiliki Paman sebaik Ayahku. Kau bisa enak-enak tinggal di Kota sedangkan Ayahku tinggal di desa ini dengan susah payah membanting tulang mencari makan. Dan sekarang dengan seenaknya kau ingin menemui Ayahku, apa kau tidak punya malu." ujar Anetha yang sangat membenci Bella.
Al yang mendengar jika wanitanya dihina langsung naik pitam.
"Siapa yang kau sebut j*lang, berani sekali kau menghina wanitaku." ujar Al pada Anetha.
Anetha langsung mengalihkan pandangannya pada Al, pandangan Anetha seketika terkagum dengan ketampanan laki-laki di depannya ini.
*Tampan sekali laki-laki ini, dia harus jadi milikku bagaimanapun caranya.* batin Anetha.
"Ini memang kenyataannya Tuan, wanita ini memang pantas di sebut j*lang Tuan. Dia rela bekerja apapun asalkan bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Dari luarnya saja yang nampak polos, tapi di dalam busuk Tuan." ujar Anetha pada Al.
Samuel dan Angga yang mendengar Nona Mudanya di hina, menjadi tidak terima dan langsung melangkah maju agar lebih dekat dengan wanita yang sudah berani menghina Nona Muda nya.
"Siapa Anda Nona, kenapa berani sekali anda menghina Nona Muda kami."ujar Samuel.
"Saya adiknya Tuan, jadi saya tau bagaimana sifat wanita ini Tuan." ujar Anetha sambil menunjuk ke arah Bella.
"Jangan berani anda menunjuk-nunjuk Nona Muda kami, jika anda tidak mempunyai bukti yang kuat untuk menuduh Nona Muda kami." ujar Angga.
*Beruntung sekali Bella di bela tiga laki-laki tampan ini, tapi tenang saja mereka semua akan aku buat untuk membencimu dan menjauh darimu. Mereka semua tidak pantas berada di samping kamu Bella.* batin Anetha sambil melihat ke arah Angga dan Samuel.
"Saya memang tidak mempunyai bukti Tuan, karna setiap kali saya ingin mencari bukti Bella selalu mengancam saya Tuan." ujar Anetha yang berpura-pura ketakutan di depan Al,Samuel dan Angga.
"Al kau percaya sama aku kan." tanya Bella pada Al.
"Sayang, kau harus tau aku selalu percaya sama kamu. Karna aku tau kamu seperti apa sayang. Jadi kau tenang saja ya, aku tidak akan terpengaruh sedikitpun sama ucapan wanita itu." ujar Al pada Bella.
"Terima kasih sudah mau percaya sama aku." ucap Bella.
__ADS_1
"Tidak ada kata terima kasih sayang." ujar Al.
"Baiklah terserah kau saja, aku malas kalau harus berdebat denganmu sekarang sayang."ujar Bella pada Al.
Anetha yang melihat kedekatan mereka berdua, semakin kesal dan semakin membenci Bella.
*Kenapa kau selalu beruntung di kelilingi laki-laki tampan seperti mereka. sedangkan aku tidak pernah ada yang membelaku seperti ini, aku semakin membencimu Bella dan semakin ingin membuat kau hancur.* batin Anetha sambil melirik Bella dengan tatapan penuh kebencian.
Paman dan Bibi yang mendengar keributan di luar memutuskan untuk langsung keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi.
Setelah Paman dan bibi berada di luar, Paman langsung berjalan ke arah putrinya untuk bertanya apa yang terjadi.
"Nak kenapa ribut-ribut begini." tanya Ayah Anetha.
"Ayah, kenapa Ayah keluar Ayah kan lagi sakit." ujar Anetha pura- pura perhatian pada Ayahnya agar Al bisa tertarik padanya.
"Ayah tidak niat keluar, tapi Ayah mendengar ada keributan makanya Ayah keluar." ujar Ayah yang merasa aneh dengan sifat Anetha padanya.
"Ini Yah ada Bella, anak yang tidak tau terima kasih. Setelah hidup senang di Kota dia tidak ingat sama Ayah lagi." ujar Anetha sambil menunjuk ke arah Bella.
"Paman maafkan Bella, Bella tidak bermaksud seperti itu. Bella kecelakaan Paman dan Bella koma selama 3 bulan di rumah sakit, makanya Bella tidak pernah mengunjungi Paman atau menghubungi Paman. Maafkan Bella Paman." ujar Bella pada Paman agar tidak salah paham padanya.
"Kenapa kamu tidak mengabari Paman jika kamu kecelakaan Nak, Paman kan bisa menjenguk kamu Nak." ujar Paman pada Bella.
"Maafkan Bella Paman, Bella hanya tidak ingin membuat Paman khawatir dengan Bella." ujar Bella sambil berjalan ke arah pamannya untuk menyalami tangan orang yang sudah berjasa baginya.
"Paman sangat merindukan kamu Nak." ujar Paman pada Bella.
"Bella juga sangat merindukan Paman." ujar Bella dan langsung memeluk erat pamannya.
"Kamu kesini sama mereka Nak." tanya Paman yang melihat tiga laki-laki tampan dan dua gadis cantik yang seumuran dengan Bella.
"Iya Paman, apa Paman ingat dengan kedua gadis itu Paman." ujar Bella yang menunjuk ke arah Mila dan Mika.
"Paman tidak ingat sayang, begini kalau sudah tua Nak Paman jadi pelupa." ujar Paman pada Bella.
"Mereka Mika sama Mila Paman, sahabat kecil Bella di sini Paman. Apa Paman sudah ingat." ujar Bella.
Paman mulai mengingat-ingat sahabat kecil Bella dan akhirnya Paman dapat mengingatnya.
"Kenapa kalian berdua masih di situ, apa kalian tidak mau memeluk Paman jelek kalian ini lagi." ujar Paman pada Mika dan Mila saat Paman sudah mengingat semuanya.
"Kami kira Paman sudah tidak ingat sama kami lagi." ujar Mika dan langsung memeluk Paman dengan erat begitu juga dengan Mila.
"Kami sangat merindukan Paman, maaf baru sekarang kami melihat Paman. Kemaren kami sedang merawat Bella di rumah sakit Paman. Dan maaf kami tidak menghubungi Paman, kami tidak ingin Paman jadi kepikiran dan jatuh sakit." ujar Mila.
"Tidak apa-apa Paman mengerti, terima kasih sudah mau merawat anak paman sampai sembuh lagi." ucap Paman.
"Tidak ada kata terima kasih dalam persahabatan kami Paman, jika dia antara kami ada yang sakit maka kami akan menjaganya tanpa di minta Paman." ujar Mika.
"Baiklah terserah kalian saja, Paman selalu kalah jika berdebat soal persahabatan dengan kalian berdua." ujar Paman sambil mencubit kecil hidung Mila dan Mika.
"Paman ini tidak berubah juga ya, masih saja mencubit hidung kami." ujar Mila.
"Apa tidak boleh Paman melakukan itu sama anak Paman sendiri." ujar Paman.
"Baiklah terserah Paman saja, asal Paman tidak membuat hidung putus saja." ujar Mika dan membuat Paman langsung tertawa dengan ucapan Mika.
"Ayo masuk, apa kalian hanya akan berdiri di sini. Apa kalian malu untuk masuk ke dalam rumah Paman yang rumah jelek ini." ujar Paman.
"Mika tidak pernah malu Paman." ujar Mika.
"Mila juga tidak malu kok Paman." ujar Mila.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk, Nak ajak juga teman laki-laki kamu ya Nak." ujar Paman pada Bella.
"Paman, apa Paman tau salah satu dari mereka akan jadi menantu Paman." ujar Bella pada Paman.
"Apa iya, kalau Paman boleh menebak pasti laki-laki tampan ini yang akan jadi menantu Paman nanti." ujar Paman sambil berjalan ke arah Al.
"Salam Paman, saya Al dan ini sahabat saya Samuel dan Angga Paman." ujar Al pada Paman sambil memperkenalkan sahabatnya.
"Saya pamannya Bella, ayo masuk kita bicara di dalam saja. Tidak enak kalau harus berdiri seperti ini, kalian pasti lelah dalam perjalanan menuju ke sini." ujar Paman.
"Baik Paman." ujar Al.
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah Paman.
"Silahkan duduk, maaf jika rumah Paman tidak semewah rumah kalian." ujar Paman pada mereka semua.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Paman." jawab Al.
"Bella, apa kamu bisa bantu bibi membuat minuman sama cemilan untuk mereka Nak. Dan kamu Anetha temani saja mereka ya Nak." ujar Bibi pada Anetha.
"Baik Bu." ujar Anetha.
"Bibi tidak usah biar kami saja yang membuatkan minum sama cemilannya bibi. Bibi duduk saja di sini." ujar Mika.
"Oooh ya sudah, terima kasih Nak." ujar Bibi.
"Tak apa Bibi. Kalau begitu kami ke dapur dulu Bibi." ujar Mila.
Setelah Mila dan Mika pergi ke dapur, Bibi langsung berbicara pada Bella.
"Nak, mana Calon suami kamu Nak." tanya Bibi.
"Dia calon Suami Bella Bibi." ujar Bella sambil menunjuk ke arah Al.
"Siapa nama kamu Nak." tanya Bibi pada Al.
"Nama saya Al Bibi." ujar Al.
"Apa Nak Al tidak malu menikah dengan Bella, anak yatim piatu yang sudah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya dari kecil." ujar Bibi.
"Saya tidak malu Bibi, karna saya juga sudah di tinggalkan oleh kedua orang tua saya." ujar Al.
"Apa Nak Al sudah tau semua tentang Bella." tanya Bibi lagi.
"Sangat mudah untuk mencari tau identitas seseorang Bibi." ujar Al.
"Kenapa nak Al mencintai gadis j*lang ini." ujar Bibi yang ingin membuat Al membenci Bella dan Bibi akan membanggakan anaknya agar Al lebih memilih anaknya.
"Siapa yang kau bilang jalang Risma." ujar Paman yang tidak terima jika putrinya di bilang j*lang.
"Siapa lagi kalau bukan putri yang selalu kau banggakan, bahkan dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan uang. Seharusnya kau menyayangi putri kandungmu sendiri, dia gadis baik-baik berbeda dengan putri kebanggaan mu Pak." ujar Bibi yang mulai membangga-banggakan anaknya.
"Jaga ucapan Anda Nyonya, apa Anda mempunyai bukti untuk menuduh Nona Muda kami. Jangan asal bicara, apa Anda tidak tau apa yang putri kandung Anda ini lakukan di belakang Anda Nyonya." ujar Angga yang sudah mencari tau Anetha dan bagaimana sifatnya.
Sangat mudah untuk Angga mencari identitas seseorang yang sudah berani menghina Nona Mudanya.
"Putriku gadis baik-baik dia tidak mungkin mengecewakanku." ujar Risma yang tidak tau jika putrinya sudah melakukan kesalahan besar di belakangnya.
Sedangkan Anetha yang mendengar itu langsung pucat pasi jika mereka tau apa yang sudah dirinya lakukan.
*Apa laki-laki ini tau apa yang sudah aku lakukan, tapi bagaimana caranya di bisa mengetahui itu semua.* batin Anetha.
"Apa kamu orang kaya." tanya Bibi yang langsung pada intinya.
"Ini silahkan di minum dulu semua." ujar Mika yang sudah menghidangkan minuman dan cemilan di atas meja.
"Bibi minumannya kurang satu karna tadi tidak muat di atas nampan, jadi bibi bisa sendiri ke dapur kan. Mila capek kalau harus berjalan ke dapur lagi." ujar Mila pada bibi.
"Tidak usah, bibi juga tidak haus." ujar Bibi.
Semua orang yang ada di sama tertawa kecil dengan kelakuan Mila pada Bibi.
"Minuman untuk aku mana." tanya Anetha.
"Aku tidak sudi ya membuatkan minuman untuk seorang penjilat." ucap Mika.
"Siapa yang kau bilang penjilat." bentak Anetha.
"Kenapa kau harus marah, apa kau merasa jika kau seorang penjilat." ujar Mila.
"Kak Al lihat lah, masa dia bilang aku penjilat." ujar Anetha yang berusaha mencari perhatian Al.
Sedangkan Al hanya diam dan tidak berniat untuk mengeluarkan suara nya sedikitpun.
"Sayang apa kau mau minum." ujar Al pada Bella.
"Boleh, aku juga sudah haus." ujar Bella.
Dan Al dengan sigap langsung mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Bella.
"Terima kasih." ujar Bella.
"Tidak ada kata terima kasih sayang." ujar Al.
Anetha yang melihat perhatian Al pada Bella semakin kesal, apa bagusnya Bella kenapa selalu dia yang di kelilingi laki-laki tampan seperti mereka.
__ADS_1
Sedangkan Paman merasa senang melihat perhatian Al pada putrinya.
*Semoga kamu bisa bahagia bersama Nak Al, Paman selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Nak." batin Paman.