
Di markas Al..
Samuel dan Angga langsung mengumpulkan anak buah kepercayaannya yang sudah terlatih untuk menghancurkan orang lain dengan segala cara.
"Kalian tau kenapa saya mengumpulkan kalian semua di sini." tanya Samuel.
"Kami tidak tau Tuan." jawab salah satu dari mereka.
"Kalian semua ada tugas yang harus kalian selesai secepat mungkin, oke lebih baik saya jelaskan dulu masalahnya. Al sudah punya pacar dan Minggu depan akan menikah tapi karna kejahatan seseorang, Nona muda harus masuk rumah sakit karna keracunan. Dalang dari kejadian ini semua adalah Tuan Marsel Prayoga, dia memberikan racun pada ice cream Nona Muda dan bukan hanya nona muda yang keracunan tapi juga kedua temannya. Apa kalian paham dengan apa yang saya ucapkan tadi."ucap Al.
"Kami semua paham Tuan, lalu rencana apa yang harus kami lakukan untuk membalas mereka Tuan." tanya Vigo.
"Rencana kalian cukup simpel tapi mematikan, kalian semua hancurkan anak buah Marsel satu persatu terutama orang yang sudah memberi racun pada ice cream Nona Muda, di sini kalian harus bekerja sama dengan Raga." ujar Samuel.
"Tapi bagaimana cara kami berkomunikasi dengan Raga tuan." tanya Hiro.
"Kalian tenang saja Raga sudah tau semua rencana ini kalian hanya perlu melakukannya saja sesuai perintah yang di berikan raga lewat alat ini." ujar Samuel sambil memberikan alat untuk mereka bisa berkomunikasi dengan Raga.
"Baik Tuan akan kami lakukan secepat mungkin Tuan." ujar Vigo.
"Saya percaya dengan kinerja kalian." ujar Angga.
"Terima kasih Tuan Angga." ujar mereka semua karna mendapat pujian dari Angga.
"Dan untuk Marsel biarkan Al yang mengurusnya, kalian hanya perlu membasmi serangga-serangga kecil Marsel saja." ujar Samuel.
"Baik Tuan kami paham, kalau begitu kami semua pergi dulu Tuan." ujar Vigo selaku ketua di kelompok itu.
"Lakukan sesuai rencana dan jangan gegabah karna ini nyawa taruhannya, saya harap kalian semua kembali dengan selamat dengan personil yang lengkap tanpa kurang satu pun." ujar Angga yang selalu menasehati mereka agar tidak gegabah mengambil keputusan.
"Baik Tuan akan kami usahakan sebaik mungkin Tuan." ujar Vigo.
Akhir mereka semua pergi meninggalkan markas menuju tempat di mana mereka harus menjalankan rencana mereka.
Di penginapan Marsel.
*Permainan di mulai.* batin Raga.
Raga mulai menyusun strategi karna Samuel telah mengatakan padanya kalau anggota Vigo sudah mulai bergerak.
Raga langsung mengirim rencana yang di susunnya kepada Vigo.
Vigo yang mendapat pesan di ponsel nya, langsung membuka pesan itu yang ternyata dari Raga.
"Rencana yang bagus."balas Vigo dan langsung mengirimnya kembali pada Raga.
"Lakukan sesuai perintah dan semoga anggota mu tidak ada yang terluka." balas Raga lagi.
"Baik, setelah sampai nanti aku akan mengabari kamu lagi." balas Vigo lagi.
"Baik, selagi kau dan anggota kau masih di jalan aku akan memantau kondisi di sini. Terus aktifkan alat yang di berikan Tuan Samuel pada mu. Karna dengan alat itu kita bisa berkomunikasi. Kau paham." balas Raga.
"Gue paham, Lo hati-hati di sana jangan sampai ada yang tau identitas Lo yang sebenarnya. Setelah semua ini selesai Lo balik sama kita ke markas." balas Vigo.
"Oke."balas Raga dan langsung mematikan ponselnya dan menghapus semua pesannya dengan Vigo.
"Raga."panggil Marsel.
"Iya Tuan"jawab Raga yang baru saja menyembunyikan kegugupannya di hadapan Samuel.
"Sedang apa kau." tanya Marsel.
"Ooo ini Tuan, saya sedang mantau mansion Al tuan. Sebelum saya pergi dari mansion nya kemaren saya sempat meletakkan kamera tersembunyi di halaman rumah dan ruang tamu nya Tuan." ujar Raga.
"Kau tau apa yang terjadi di sana." tanya Marsel lagi.
"Saya tau semuanya Tuan." ujar Raga.
"Bagaimana dengan wanitanya Al."tanya Marsel lagi.
"Rencana kita berjalan dengan lancar tuan."ujar Raga sambil memperlihatkan rekaman video yang di kirim kan Samuel kepadanya tadi pagi.
"Bagus terus pantau mansion nya Al dan terus laporkan pada saya apa saja yang sudah terjadi." ujar Marsel.
"Baik Tuan." jawab Raga.
"Buatkan saya minuman dan antar kan ke meja kerja saya." ujar Marsel lagi.
"Baik Tuan."ujar Raga.
"Sebentar lagi kau akan hancur Al. Hahahahaha" ajar Marsel dengan tertawa senang tanpa tau kalau dirinya lah yang akan hancur sebentar lagi.
*Bukan Tuan Al yang akan hancur tapi kau Marsel Prayoga.*batin Raga.
Raga membuatkan minuman untuk Marsel setelah siap raga memasukkan obat tidur dengan dosis yang tinggi dan kembali mengaduknya agar tercampur dengan rata.
*Selamat tidur nyenyak Tuan Marsel.*batin Raga.
Raga langsung membawa minuman itu ke meja kerja Marsel.
"Tuan ini minumannya."ujar Raga dan meletakkan minuman itu di hadapan Samuel.
Tanpa menaruh curiga sedikit pun Marsel langsung meneguk minuman itu hingga habis tak bersisa.
*Anak pintar.*batin Raga.
Setelah menunggu beberapa menit akhir obat itu bereaksi.
"Raga kau pantau terus mansion Al aku mau tidur dulu ngantuk banget." ujar Marsel dan langsung jatuh ke lantai.
Raga dengan cepat langsung mengangkat tubuh Marsel ke sofa panjang yang ada di ruangan itu.
*Satu sudah siap tinggal serangga-serangga kecil itu saja yang belum aku habisi.*batin Raga.
Raga langsung mengeluarkan alat yang sudah tersambung dengan alat milik Vigo.
"Lakukan sekarang dan kirimkan dua orang untuk mengangkat Marsel di ruang kerja nya di sebelah kanan pintu masuk."ujar Raga yang memberi tau di mana posisinya sekarang.
"Baik."jawab Vigo dan langsung menerobos masuk ke dalam penginapan Marsel.
Orang yang ada dalam penginapan itu menjadi kaget dengan kedatangan anggota mafia paling kejam di dunia.
__ADS_1
Siapa yang tidak tau dengan Vigo Antariksa ketua kelompok yang paling di takuti.
"Angkat tangan kalian semua."ujar Vigo dengan suara yang cukup keras.
"Siapa kau berani sekali kau memerintah kami."ujar Yoga ketua kelompok itu.
"Vigo Antariksa."ucap Vigo menyebutkan namanya.
Yoga yang mendengar nama itu tidak percaya dengan kejadian ini, kenapa Vigo Antariksa datang ke sini.
"Kenapa kau datang ke sini, kami semua tidak pernah membuat masalah dengan mu." ujar Yoga.
"Kami juga tidak mempunyai masalah dengan kalian, tapi Boss kalian yang sudah memulai membuat masalah dengan Boss kami."ujar Vigo lantang.
"Itu urusan Boss kalian dengan Boss kami dan tidak ada sangkut pautnya dengan kami."ujar Yoga.
"Banyak bacot Lo ya."ujar Vigo dan..
Dorr
"Ahhh."rintih Yoga yang terkena tembakan di lengan kirinya.
Dorr
"Ahhh."rintih Yoga untuk yang kedua kalinya karna tembakan Vigo yang mengenai paha sebelah kanannya.
Darah segar langsung mengalir dan membasahi baju yang di kenakan oleh Yoga.
"Kalian kenapa diam serang mereka."ujar Yoga.
Dan akhirnya peperangan itu terjadi suara tembakan demi tembakan menggelegar di semua penjuru ruangan.
Semua anggota Marsel sudah mati di tempat dan anggota Vigo hanya mengalami luka ringan di beberapa bagian tubuhnya.
"Sekarang tinggal kau saja, apa permintaan terakhirmu." tanya Vigo dengan senyuman miring kepada Yoga.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak ingin mati saya masih mau hidup Tuan."ujar Yoga yang sudah ketakutan.
"Oooo tidak bisa karna dalam kamus kami semua musuh harus di musnahkan." ujar Vigo dan langsung menembak jantung Yoga.
Dorr
Yoga langsung mati di tempat.
"Kalian semua urus mayat mereka dan kuburkan dengan layak. Hiro dan Agas kalian berdua ikut saya."ujar Vigo.
"Baik Tuan."jawab mereka berdua.
Vigo langsung menuju tempat Raga di ruang kerja Marsel.
"Bagaimana."tanya Raga saat Vigo sudah berada di hadapannya.
"Semua beres."jawab Vigo.
"Apa ada yang terluka." tanya Raga lagi.
"Hanya mengalami luka ringan saja." ucap Vigo.
"Baguslah, sekarang bantu aku angkat Marsel dan membawanya ke markas."ujar Raga.
Dan mereka berempat langsung mengangkat tubuh Marsel keluar dari penginapannya.
"Kita semua pergi dari sini dan hilangkan semua barang bukti."ujar Vigo.
"Ledakkan saja tempat ini setelah kalian siap mengurus mayat mereka." ujar Raga.
"Baik Tuan." jawab mereka semua.
"Setelah selesai langsung ke markas untuk mengobati luka kalian." ucap Raga.
"Baik Tuan."jawab mereka lagi.
Di markas Al.
Samuel yang mendengar suara mobil berhenti langsung memutuskan untuk keluar.
"Tuan." ucap Raga.
"Bagaimana."tanya Samuel.
"Semua berjalan dengan lancar Tuan."jawab Vigo.
"Mana Marsel."tanya Angga yang baru saja keluar dari dalam markas.
"Ada di mobil Tuan."jawab Raga.
"Bawa dia masuk dan ikat dia di ruang bawah tanah."ujar Samuel.
"Baik Tuan."jawab Raga.
Raga, Vigo dan kedua anak buah mereka mulai mengangkat Marsel ke ruang bawah tanah untuk di ikat.
"Biar gue hubungi Al."ujar Angga.
"Oke." jawan Samuel.
Di Rumah Sakit..
Tutt.. tutt.tutt..
Ponsel Al berbunyi di dalam kantong jasnya. Al langsung mengeluarkan ponselnya untuk melihat siap orang yang menghubunginya, dan tertera jelas di sana nama Angga. Tanpa pikir panjang Al langsung mengangkatnya.
"Hallo."ucap Angga.
"Katakan."ujar Al langsung pada intinya.
"Rencana berhasil dan Marsel sekarang ada di markas."ujar Angga.
"Bagus, apa mereka ada yang terluka." tanya Al.
"Hanya luka ringan saja."ucap Angga.
__ADS_1
"Baiklah langsung obati luka mereka kalau ada yang perlu di rawat bawa saja ke sini." ujar Al.
"Baik, terus rencana lo selanjutnya apa."tanya Angga.
"Balas dendam."ujar Al dengan senyuman tipisnya.
"Oke."ucap Angga.
Al langsung mematikan sambungan telfon secara sepihak.
*Waktunya bermain.*batin Al.
"Kau tenang saja sayang orang yang sudah menyakitimu akan segara pergi meninggalkan dunia ini dengan rasa sakit yang amat luar biasa."ujar Al pada Bella yang masih belum membuka matanya.
"Aku pergi sebentar ya sayang nanti aku kembali lagi."ujar Al lagi dan langsung keluar dari ruang rawat Bella.
Al langsung menuju dimana mobilnya dan langsung menuju ke markasnya.
15 menit menempuh perjalanan, akhirnya sampai di markasnya.
Al langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam.
Kedatangan Al di sambut oleh anak buah kepercayaannya termasuk Raga.
"Dimana dia sekarang." tanya pada Samuel.
"Di ruang bawah tanah."jawab Samuel.
Al langsung melangkahkan kakinya ke ruangan bawah tanah dimana Marsel di tahan.
"Kapan dia akan sadar." tanya Al pada Raga.
"Sebentar lagi juga akan sadar Tuan."ucap Al.
"Baiklah kalian semua keluar biar aku di sini sendirian." ujar Al pada anak buah yang mengikutinya.
"Baik Tuan."jawab mereka dan langsung meninggalkan Al sendiri di sana.
Tak lama menunggu akhirnya orang yang tunggu-tunggu Al sadar juga.
Marsel langsung mengangkat kepalanya melihat sekeliling nya kenapa gelap sekali.
"Anda sudah sadar Tuan Marsel Prayoga."ujar Al.
Marsel di buat terkejut dengan kehadiran Al di depannya.
"Lepaskan aku."teriak Marsel.
"Jangan berteriak dulu nanti saja setelah aku puas bermain dengan darah di tubuh mu." ujar Al yang langsung berjalan mendekat ke arah Marsel dan langsung mengeluarkan pisau lipat dari dalam kantong celananya.
"Jangan macam-macam ya sama saya." ujar Marsel yang sudah mulai ketakutan.
"Anda yang jangan macam-macam sama saya, apa salah kedua orang tua saya kenapa dengan teganya anda membunuh mereka. Dan sekarang anda meracuni wanitaku."ujar Al yang sudah mulai menempelkan pisau ke wajah Marsel.
"Ma..ksud kau apa haa." bentak Marsel.
"Aku anak dari suami istri yang sudah kau lenyapkan karna ingin menduduki bisnis tertinggi, apa kau masih ingat haa."ujar Al dengan suara yang keras.
"Jadi ka..kau."ucapan Marsel terpotong karna lebih dulu menyelanya.
"Iya aku anak yang kau cari selama ini dan aku juga yang sudah membuat kau dan keluarga kau menderita. Aku pikir kau akan jera tapi dugaanku salah. Kau semakin ngelunjak dan semakin mencari masalah denganku, sekarang aku tidak akan mengampuni laki-laki tua bangka seperti mu. Kau akan segera menyusul
orang tuaku."ujar Al yang sudah mulai menekan kan pisau itu ke wajah Marsel dan keluar cairan kental dari wajah Marsel.
"Ahhh."rintih Marsel.
"Apa ini sakit."ujar Al yang langsung menarik pisau itu secara kasar dari wajah Marsel.
"Aaaaa." pekik Marsel yang sudah tak tahan lagi.
Wajah Marsel sudah di lumuri darah segar akibat ulah Al yang menyayat wajah Marsel mulai dari pipi turun ke bibir.
"Itu akibat kau sudah menyuruh anak buahmu untuk meracuni wanitaku dengan mulut kotormu itu." ujar Al yang langsung menancapkan pisau itu pada bibir Marsel.
"Aaaakkkhhh."rintihan Marsel kembali terdengar.
Al langsung menarik pisau nya yang menancap di bibir Marsel dengan kasar. Darah segar kembali keluar dari bibir Marsel.
"Apa pesan terakhir mu." ujar Al yang sudah mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
"A..ku a..kan mem..balas se.mua i..ni."ujar Marsel yang berusaha untuk berbicara.
"Bagaimana cara kau akan membalasnya karna sebentar lagi kau akan mati di tanganku." ujar Al.
"Bi..arkan a..ku hi..dup a..ku jan..ji a..kan ber..ubah d..an ti..dak ak..an me..nganggu...mu la..gi."ujar Marsel dengan sekuat tenaga untuk meminta ampun pada Al.
"Membiarkan orang seperti mu hidup, jangan mimpi karna aku tidak akan mengampuni orang yang sudah berani mencari masalah denganku." ujar Al.
"Oooo iya sampai lupa mana tangan kotormu yang sudah berani menembak kedua orang tua ku." ujar Al
"Yang sebelah kanan apa sebelah kiri."tanya Al lagi.
"Aaa kau lama sekali menjawabnya." ujar yang langsung mengambil samurai dan mengarahkannya pada Marsel.
Tanpa pikir panjang Al langsung menebas kedua tangan Marsel hingga putus.
"Sayang sekali permainan hari ini cukup di sini karna aku harus kembali ke rumah sakit melihat wanitaku yang sudah kau racuni."ujar Al yang kembali tersulut emosi membayangkan Bella yang terbaring lemah di rumah sakit.
"Ini balasan karna kau sudah berani menyakiti wanitaku." ujar Al.
Dorr
Dorr
Dorr
Al menembak marsel di kepala, jantung dan hatinya.
Marsel langsung mati di tempat karna keganasan Al.
Al langsung keluar dari ruang bawah tanah itu.
__ADS_1
"Kalian urus dia, berikan dagingnya pada anjing peliharaan ku. Dia tidak pantas di kuburkan dengan layak." ujar Al dingin pada Vigo dan langsung pergi begitu saja.
Vigo langsung menjalankan perintah Tuannya.