MAFIA DINGIN JATUH CINTA

MAFIA DINGIN JATUH CINTA
#4


__ADS_3

Setelah mengudara kurang lebih 16 jam, akhirnya Anggara dan gadis yang akan mendonorkan darahnya untuk Bella telah sampai di Bandara Internasional Soekarno Hatta.


Setelah mendarat, Angga langsung menghubungi Al untuk menjemputnya.


"Boss gue udah sampe nih, lo udah nyuruh anak buah lo itu buat jemput gue kan." tanya Angga saat sambungan telfonnya sudah di angkat oleh Al.


"Lo tunggu aja bentar lagi juga nyampe. Dan Lo langsung ke sini, istirahat di sini dulu setelah selesai donor darah nanti Lo baru boleh istirahat di hotel gue." ujar Al pada Angga.


"Ya udah iya gue ke situ, sekarang gue angkat barang-barang gue dulu." ucap Angga yang langsung mematikan sambungan telfonnya secara sepihak karna sudah melihat Samuel yang berjalan ke arahnya.


"Hai brother apa kabar lo disini." tanya Angga pada Samuel saat sudah berada di depannya.


"Lo bisa liat sendiri kan pe'ak gue baik-baik aja. Kalau gue udah mati nggak bakal bisa gue jemput anak curut kayak Lo yang cuma bisa nyusahin gue aja." ujar Samuel pada Anggara.


Anggara, Aldebaran dan Samuel merupakan teman dari kecil. Ketika mereka berkumpul, tidak akan ada yang percaya kalau mereka bertiga merupakan anggota mafia dunia. Karna wajah tampan paripurna mereka yang dapat menghipnotis para kaum hawa. Ketiga pemuda tampan itu akan dingin dan cuek dengan lawan bicara mereka. Tapi ketika mereka bertiga saja mereka akan seperti Tom & Jerry yang selalu bertengkar karna masalah sepele.


"Lo jangan sewot gitu dong, apa Lo nggak kangen gitu sama gue." tanya Angga yang ingin menjahili Samuel. Karna mereka sangat jarang bertemu karna pekerjaan masing-masing.


"Ogah gue kangen sama anak curut kayak lo, lo udah dapet pendonor darah buat Nona Muda." tanya Samuel pada Angga karna melihat seorang gadis cantik yang berdiri di samping Anggara.


"Ya ampun gue sampe lupa, gadis ini yang donorin darahnya buat wanitanya Al." ucap Anggara yang menunjuk ke arah gadis yang berdiri di sampingnya.


"Perkenalkan saya Samuel, Nona bisa memanggil saya Sam." ucap Samuel memperkenalkan dirinya.


"Mila Floreria Putri, Tuan bisa memanggil saya Mila." ujar gadis itu yang bernama Mila.


"Ya udah kita berangkat sekarang sebelum Boss mengamuk karna menunggu kita terlalu lama."ujar Samuel yang langsung di jawab anggukan dari Angga dan Mila.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya mereka bertiga telah sampai di Rumah Sakit Keluarga Alexander.


Samuel keluar lebih dulu dilanjutkan Angga dan yang terakhir Mila. Setelah semua keluar Samuel langsung mengajak mereka menuju ruangan Bossnya.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju untuk naik ke lantai 48 rumah sakit itu. Ruangan itu milik pribadi Aldebaran kalau dirinya harus di rawat di rumah sakit itu. Tidak ada yang boleh memakainya selain dirinya, tapi sekarang tidak lagi karna ruangan itu sudah di tempati oleh Bella wanita yang di cintai nya.


Setelah pintu lift terbuka mereka bertiga langsung keluar dan berjalan menuju ke ruangan Bossnya.


"Lo tunggu di luar dulu biar gue aja yang masuk buat bilang sama Boss kalau lo udah ada di sini." ujar Samuel saat sudah di depan pintu ruangan tempat Bella di rawat.


"Kenapa harus gitu, kita masuk sama-sama aja kenapa sih. Emang kita nggak boleh liat gadis yang dicintai sama Boss." ucap Angga yang sangat penasaran dengan gadis yang di cintai oleh Bossnya.


"Lo mau dengerin Boss ngamuk kalau dia tau Lo main masuk sembarangan, kalau kita bertiga aja nggak apa-apa kalau yang ini lain. Boss lagi sama gadis yang di cintai nya, apa lo mau tinggal nama gara-gara gangguin Boss." ujar Samuel pada Anggara.


Anggara langsung menelan kasar ludahnya saat Samuel berbicara seperti itu. Anggara masih mau hidup dan bisa merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai sama seperti Bossnya saat ini.


"Ya nggak lah, gue masih mau hidup tau. Gue cuma penasaran aja kayak gimana gadis yang bisa meluluhkan hati si Boss. Itu doang kok nggak ada yang lain." ucap Angga.


"Lo bisa liat Nona Muda nanti, setelah Nona Mila sudah selesai donorin darahnya buat Nona Muda. Sekarang lo tunggu disini sama Nona Mila gue mau masuk dulu ketemu sama Boss." ujar Samuel.


"Nona tunggu sebentar saya mau masuk dulu, mau bilang sama Boss kalau orang yang mau mendonorkan darahnya sudah ada di sini." ujar Samuel pada Mila.


"Baik Tuan." jawab Mila sopan.


Samuel masuk ke dalam setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf Tuan di depan sudah ada Angga dan gadis yang akan mendonorkan darahnya buat Nona Muda Tuan." ujar Samuel saat sudah berada di depan Al.


"Suruh mereka tunggu di ruangan ku, sebentar lagi aku ke sana." ucap Al pada Samuel.


"Baik Tuan, kalau gitu saya permisi dulu Tuan." ujar Samuel.


Samuel keluar dari ruangan rawat Bella dan mengajak Angga dan Mila ke ruangan Bossnya yang berada disebelah ruang rawat Bella.


"Lo tunggu di sini dulu nanti Boss akan ke sini, Boss masih di ruang rawat Nona Muda."ujar Samuel pada Angga.


"Lo udah pernah liat Nona Muda belum, kayak apa sih Nona Muda. Emang nggak takut ya sama Boss, biasanya Boss kan nggak pernah mau di deketin cewek. Boss kan orang dingin dan cuek kalau urusan cewek, kok yang ini malah Boss yang deketin Nona Muda."tanya Angga pada Samuel.


"Gue juga nggak tau pasti gimana ceritanya Boss bisa suka sama Nona Muda. Tapi semenjak Boss pindah ke sini Boss nyuruh gue yang jadi Presdir di Perusahaan dan Boss yang jadi Asisten gue, tapi untungnya itu cuma berlaku di Perusahaan aja bisa mati gue kalau itu berlaku 24 jam." ucap Samuel yang sedang membayangkan bagaimana nasibnya kalau dirinya harus memanggil Boss dengan sebutan nama saja.


"Lah terus Boss ketemu Nona Muda dimana." tanya Angga.


"Di perusahaan karna Nona Muda jadi sekretaris pribadi Pak Joko." jawab Samuel.


"Terus nama Nona Muda kita siapa." tanya Anggara lagi.


"Kalau nggak salah Bella Anastasya Florence, karna waktu itu Boss sempat nyuruh gue buat cari data diri lengkap Nona Muda." ujar Samuel.


Mila yang awalnya hanya menyimak saja pembicaraan dua pemuda tampan di hadapnya menjadi sangat familiar dengan nama gadis yang di ucapkan oleh Samuel tadi. Tapi Mila sedikit takut kalau bertanya pada Samuel.


"Dia tinggal di Kota mana." tanya Angga lagi.


"Kalau nggak salah di Mojokerto deh." ucap Samuel yang masih mengingat-ingat dimana Nona Muda Tuannya tinggal.


Mila yang mendengar nama Kota Mojokerto itu menjadi semakin penasaran. Akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf Tuan kalau saya lancang, apa boleh saya bertemu dengan gadis yang akan menerima donor dari saya Tuan." tanya Mila hati-hati.


"Apa Nona kenal dengan Nona Muda." tanya Samuel yang merasa heran dengan sikap Bella.


"Saya tidak tau Tuan, tapi nama Nona Muda sangat mirip dengan sahabat kecil saya Tuan dan tempat tinggalnya pun sama Tuan." ucap Mila pada Samuel.


"Nona bisa bilang sama Tuan kalau Nona ingin bertemu dengan Nona Muda. Nanti saya akan bantu Nona bicara sama Tuan." ucap Samuel.


"Makasih Tuan sudah mau membantu saya." ujar Mila yang senang.


*Bell semoga bukan kamu yang di rawat di rumah sakit ini. Semoga kamu dan Mika baik-baik saja, setelah dari sini aku akan ke Mojokerto untuk bertemu kalian berdua. Aku sangat rindu sama kalian berdua, tunggu aku datang dan kita akan senang-senang sesuai janji kita dulu.*batin Mila.


Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya orang yang di tunggu-tunggu telah datang.


"Hai Boss, apa kabar Boss." ujar Angga pada Al saat Al sudah duduk di hadapannya.


"Mana gadis yang mau donorin darahnya buat Bella."tanya Al tanpa menjawab pertanyaan Angga.


"Saya orang yang akan donorin darah buat Nona Muda Tuan. Tapi apa boleh setelah saya donorin darahnya, saya bisa bertemu dengan Nona Muda Tuan." ucap Mila yang memberanikan dirinya untuk bicara pada Al.


"Baiklah kau boleh bertemu dengannya tapi hanya sebentar karna Nona Muda perlu istirahat." ujar dingin Al pada Mila.


"Baik Tuan, terima kasih Tuan." ucap Mila pada Al.


"Sam kau antar gadis ini ke ruangan dokter untuk mencek darahnya, setelah itu kita akan lakukan pendonoran darah secepatnya. Dan Lo gue perlu bicara sama Lo. Sekarang kalian berdua boleh pergi sekarang." ujar Al.


"Baik Tuan, mari Nona saya akan antar Nona ke ruangan Dokternya." ujar Samuel dan langsung keluar ruangan itu bersama Mila.


"Apa yang ingin Lo bicarain sama gue." tanya Angga pada Samuel.


"Lo paling pinter di anggota mafia, gue mau tanya tentang pendapat Lo gimana caranya gue bisa lindungin Bella dari musuh-musuh gue. Gue nggak mau Bella kenapa-kenapa, sekarang semua musuh gue pasti udah tau kelemahan gue." tanya Al yang merasa sangat khawatir dengan keselamatan Bella.

__ADS_1


"Kalau nurut gue Lo harus nikahin Bella supaya Lo bisa ngelindungin Bella setiap hari. Lo tau kan musuh-musuh kita itu licik, mereka akan melakukan segala cara buat bisa ancurin Lo Al." ucap Angga.


"Tapi gue sama Bella masih belum cukup umur buat nikah, Bella masih terlalu muda buat nikah. Gue takut nanti dia tertekan karna harus menjadi seorang istri di usia muda." ucap Al yang memikirkan umurnya dan Bella yang masih muda untuk melakukan pernikahan.


"Atau setidaknya Lo bawa Bella ke suatu tempat yang musuh-musuh Lo nggak tau. Setidaknya Nona muda aman dan tenang saat berada di sana. Jangan buat dia merasa tertekan, gue takut nanti Nona Muda sedih karna merasa di asingkan." ucap Angga lagi.


"Apa gue bawa Bella ke pulau pribadi gua aja, di sana pasti aman buat dia dan juga di sana sangat indah, mungkin dia bisa nyaman berada di sana sampai situasi aman dan umur gue sama Bella udah cukup untuk nikah. Baru gue akan nikahin Bella secepatnya, yang terpenting sekarang keselamatan Bella dulu." ucap Al.


"Itu lebih baik dan perketat penjagaan di sana. Gue takut musuh-musuh Lo bisa nyelinap masuk dan membawa Nona Muda pergi." ucap Angga.


"Lo tenang itu sudah gue pikirkan sebelumnya, setelah dia sadar gue bakalan langsung bawa dia ke pulau pribadi gue dan Lo sama Samuel harus ikut sama gue. Sampai keadaan aman baru kita balik ke Jakarta lagi. Sekarang Lo gue perintahkan untuk tinggal di sini, perusahaan yang di sana udah ada orang kepercayaan gue yang ngurus." ucap Al pada Angga.


"Terserah Lo aja, gue ngikut aja apa kata Lo. Yang terpenting sekarang Nona Muda sadar dulu." ucap Angga.


"Lo benar Bella harus sadar, kalau tidak orang yang nabrak Bella akan menerima akibatnya." ucap Al.


Angga yang melihat raut wajah Bossnya, menjadi merinding. Dan merasa kasihan dengan orang yang sudah menabrak Nona Muda Tuan nya.


Tokk tokk tokk.


"Maaf Tuan kalau saya lancang, tapi transfusi darah untuk Nona Muda akan segera dilakukan Tuan." ujar Samuel saat sudah masuk ke dalam ruangan Bossnya.


"Elu nggak usah seformal itu gue kita nggak di perusahaan." ujar Al pada Samuel.


"Gue harus prefesional dong sama kerjaan gue." ujar Samuel.


"Terserah Elu aja deh." ucap Al.


"Elu mau liat apa nggak, kalau nggak Elu duduk aja di situ nggak usah gerak." ujar Samuel yang masih berdiri di dekat pintu.


"Ya gue mau liat lah, Elu pe'ak ya dia itu wanita yang gue cinta masa gue nggak ada di samping dia." ujar bucin Al.


"Ya elah Boss mafia udah bucin nih." ujar Angga.


"Diem lu nyet, mau idup Elu melayang di tangan gue." ujar Al pada Angga.


"Ya elah cuma ngomong gitu doang singa jantannya udah ngamuk." ujar Angga lagi.


"Eeh kalian berdua mau debat apa mau liat transfusi darah buat Bella nggak nih, ke buru mati nanti si Bella kalau nggak lakuin donor darah sekarang." ujar Samuel yang sudah mulai kesal dengan kelakuan Al dengan Angga yang bertengkar karna masalah sepele.


"Eh kambing mulut Lo bisa di jaga nggak, jangan asal ngejeplak aja bisa nggak sih. Elu yang bakal mati di tangan gue kambing." ujar Al pada Samuel.


"Terserah Elu de singa gue males debat ama elu." ujar Samuel yang memilih untuk keluar daripada harus melihat Angga dan Al yang terus berdebat.


"Eeh Onta harusnya elu itu bersyukur gue bisa dapetin donor darah buat cewek lu. Harusnya elu bilang makasih ama gua, lah ini apa elu malah nggak ngucapin apa-apa ama gua." ucap Angga.


"Eeh pea itu udah tugas elu gue Bossnya di sini, pangkat gue lebih tinggi dari lu. Elu masih cetek tau." ujar Al yang langsung meninggalkan Angga dari ruangan itu menuju ke ruangan rawat Bella.


"Woi nyet elu main tinggalin aja sih." ujar Angga yang langsung menyusul Al keluar.


"Gimana gadis itu udah di dalam." tanya Al saat sudah berada di dekat Samuel.


"Eeh Pea elu bisa nggak sih jangan ngangetin gua, untung gua nggak punya riwayat penyakit jantung. Bisa mati mendadak gue di kagetin sama kuntilanak kayak elu." ujar Samuel yang kaget dengan kedatangan Al.


"Mana ada kuntilanak yang seganteng gue." ujar Al.


"Serah lu aja males gue ngomong sama orang sableng kayak elu." ujar Samuel yang sedang malas berdebat dengan Al.


"Elu juga sableng oon, mana ada kuntilanak yang ganteng kayak gue. Kalau yang jelek baru ada." ujar Al yang tak ingin di samakan dengan kuntilanak.


"Yaa elah kagak disini kagak di dalam orang sableng kayak kalian malah ribut soal kuntilanak. Ketemu beneran baru tau rasa kalian, pada kocar-kacir kalian larinya nanti."ucap Angga yang ikut nimbruk dengan pembicaraan Samuel dan Al.


"Dok gimana, apa keadaan dia baik-baik saja." ujar Al.


"Semua berjalan lancar Tuan,tapi.."ucapan Dokter itu terhenti membuat ketiga pemuda tampan itu menjadi penasaran.


"Tapi apa cepat jawab."bentak Al.


"Nona Muda mengalami koma Tuan karna benturan yang sangat keras di kepalanya. Kita berdoa saja semoga Nona Muda cepat sadar dari komanya." ujar Dokter itu pada ketiga pemuda tampan di depannya yang salah satunya adalah pemilik rumah sakit ini.


Duuaarrr


Sekali lagi Al merasa dunia nya akan runtuh mendengar kondisi gadis yang cintai nya dalam keadaan koma. Semangat hidup seakan mulai redup kembali, rasa takut kehilangan itu kembali muncul.


"Kapan Nona muda bisa sadar Dok." tanya Samuel.


"Saya tidak tau Tuan, tapi kalau Nona muda tidak sadar dalam waktu 3 bulan. Kami para Dokter terpaksa mengangkat semua alat yang ada di tubuh Nona muda Tuan. Berdoalah agar Nona Muda cepat sadar dan kembali seperti sediakala." ujar Dokter itu pada ketiga pemuda tampan itu.


"Kau harus buat dia sadar, kalau tidak kau akan tau akibatnya." ujar Al yang sudah terpancing emosi dengan ucapan Dokter itu.


"Maaf Tuan itu bukan kuasa saya, saya hanya bisa menolong Nona muda semampu saya Tuan. Semua ada di tangan Tuhan Tuan, karna dialah yang mengatur semuanya Tuan. Kita hanya perlu berdoa untuk kesembuhan Nona Muda Tuan." ujar Dokter itu pada Al.


"Anda boleh pergi sekarang" ujar Angga pada Dokter itu karna Angga dapat melihat raut wajah Al yang sangat marah, Angga takut kalau Dokter itu tidak cepat pergi Dokter itu bisa terkena kemarahan Al.


"Baik Tuan." jawab Dokter itu dan langsung meninggalkan tiga pemuda tampan itu di depan ruang rawat gadis dari pemilik rumah sakit tempat dirinya bekerja.


"Eeh sableng elu nggak bisa main nyalahin orang gitu aja, elu pikir dia Tuhan apa yang bisa nyelamatin nyawa cewek elu. Dia hanya seorang Dokter yang cuma bisa ngobatin cewek elu." ucap Angga yang merasa heran dengan sikap Al yang sekarang.


"Elu diem nyet, elu nggak tau gimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Gue udah kehilangan orang tua gue onta, terus gue harus kehilangan orang yang gue cintai juga, coba elu ngerasa jatuh cinta pasti elu tau gimana rasanya takut kehilangan kambing." ujar Al pada Angga yang tak merasakan apa yang sedang Al rasakan.


"Gue emang belum pernah jatuh cinta tapi setidaknya gue tau gimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang, elu inget Nyet gue kehilangan adik gue waktu gue masih umur 7 tahun. Ya walaupun dia bukan orang yang gue cintai, tapi dia yang gue punya satu-satunya di dunia ini. Tapi apa, sebaik apa pun gue jaga dia kalau Tuhan udah berkehendak maka semua itu pasti akan terjadi pada semua yang bernyawa. Dia ninggalin gue dengan semua kenangan yang sulit buat gue lupain Nyet. Elu masih mending bisa mencintai sedangkan adik gue nggak pernah ngerasain gimana rasanya jatuh cinta kambing. Makanya elu bersyukur dikit napa jangan salahin orang lain yang itu bukan salah mereka sepenuhnya." ujar Angga pada Al.


"Cie orang yang otaknya sableng bisa ceramah juga."ujar Samuel pada Angga.


"Eeh kampret elu ya orang lagi ngomong yang bener elu malah ngelawak. Ini mumpung otak gue lagi berfungsi, jarang-jarangkan otak jenius gue ini ngomong bener." ujar Angga pada Samuel.


"Yeee otak elu aja yang oon, ngaku aja kalau otak elu cetek nggak usah sok pinter gitu Onta." ujar Samuel lagi.


"Elu ya otak gue emang pinter keles, elu aja otaknya yang cetek. Ngaku aja nggak usah malu-malu gitu orang sableng kayak elu emang pantes punya otak cetek."ujar Angga yang kesal dengan Samuel.


"Eeh sableng elu ya nggak bisa bicara yang baik nggak sih, main ngejeplak aja itu mulut marcon elu. Gue sumpel pake petasan mulut elu biar ancur sekalian tu mulut."ujar Samuel yang tak mau kalah dengan Angga.


Al mendengar ocehan kedua sahabatnya semakin kesal.


"Elu berdua diam napa, gue puyeng nih liat kondisi cewek gue dan elu berdua tambah bikin puyeng tau nggak. Mau mulut elu berdua gue kasih petasan biar mulut orang onta sama monyek kayak kalian bisa diam." ujar Al pada Angga dan Samuel.


"Ya nggak la terus nanti ketampanan gue ilang lagi, gara-gara mulut gue elu kasih petasan bisa ancur lebur mulut gue." ucap Angga.


"Makanya monyet elu diem, mau gue kasih beneran mulut elu petasan." ucap Al.


Angga dan Samuel akhir diam tanpa berani membuka suara sedikit pun.


"Gue tau saat ini elu lagi khawatir sama cewek, kita cuma bisa berdoa agar cewek elu bisa sadar dari koma secepatnya." ujar Angga yang memberanikan berbicara pada Al.


"Gue takut dia ninggalin gue Nyet, lo tau kan dia orang yang pertama yang gue cintai. Gue takut dia beneran pergi ninggalin gue, ini semua salah gue gara-gara salah paham itu dia ngejauh dari gue Nyet. Gue nggak mau dia pergi Nyet, gimana caranya agar dia tetap di sisi gue Nyet." ujar Al frustasi Al yang merasa takut kehilangan Bella pada Angga.

__ADS_1


"Al kita cuma bisa berdoa supaya cewek elu bisa sadar. Elu nggak boleh lemah kayak gini, elu harus semangat supaya cewek elu juga semangat bangun dari komanya."ujar Samuel yang merasa kasihan pada Bossnya itu.


"Maaf Tuan kalau saya menganggu, saya telah mendonorkan darah saya untuk Nona Muda. Sekarang apa boleh saya melihat Nona Muda sebentar saja." ujar Mila pada ketiga lelaki tampan di hadapannya.


"Mari saya antar Nona."ujar Samuel pada Mila.


"Baik Tuan." ujar Mila dan langsung mengikuti Samuel menuju ruang rawat gadis yang telah menerima donor darah darinya.


"Silahkan masuk Nona, Nona muda di rawat di ruangan ini." ujar Samuel pada Mila.


"Maaf Tuan bukannya ini ruangan khusus untuk anak pemilik dari rumah sakit ini Tuan." ucap Mila pada Samuel.


"Nona benar orang yang punya rumah sakit ini adalah Tuan Muda Al Nona. Dan yang sedang di rawat di sini adalah gadis yang di cintai oleh Tuan kami Nona."ujar Samuel pada Mila.


"Apa boleh saya masuk, saya takut nanti Tuan Muda marah Tuan."ujar Mila yang merasa ketakutan kalau berani masuk ruangan khusus untuk pemilik rumah sakit ini.


"Nona tidak usah takut, bagaimana kalau saya temani Nona masuk." usul Samuel.


"Itu lebih baik Tuan, terima kasih sudah mau menemani saya bertemu dengan Nona muda."ucap Mila pada Samuel.


"Silahkan masuk Nona."ujar Samuel setelah membukakan pintu untuk Mila.


"Terima kasih Tuan." ujar Mila lagi dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu.


Mila mendekat ke arah ranjang tidur yang sedang di tempati gadis yang menerima donor darah darinya. Betapa terkejutnya Mila, orang yang selama ini dia rindukan terbaring lemah di rumah sakit. Bahkan Mila tidak tau sudah sejak kapan sahabat kecilnya itu sakit. Mila merasa tidak becus menjadi sahabat, sahabatnya sakit saja Mila tidak tau.


"Bella apa benar ini kamu, kenapa kamu sampai begini Bell." ujar Mila saat mengetahui kalau orang yang terbaring di ranjang rumah sakit itu adalah sahabat masa kecil yang sangat dia rindukan.


"Nona kenal dengan Nona Muda Bella."tanya Samuel heran karna Mila tau nama Bella.


"Saya kenal Tuan, dia sahabat masa kecil saya. Dan besok adalah hari dimana kami resmi menjadi sahabat Tuan. Bahkan saya sudah berencana akan merayakan hari persahabatan kami. Tapi sekarang salah satu sahabat saya sedang sakit dan betapa bodohnya saya tidak pernah mengetahui kalau sahabat saya sedang sakit."ujar Mila yang sedang menahan Isak tangisnya. Mila harus kuat demi sahabatnya supaya Bella bisa bangun dan bisa berkumpul lagi dengannya dan Mika.


"Salah satu dari sahabat Nona, memangnya Nona punya berapa sahabat." tanya Samuel lagi.


"Masih ada Mika Tuan, kami bertiga sahabat semenjak kecil." ujar Mila.


"Apa Nona bisa ceritakan sedikit tentang masa lalu Nona muda." tanya Samuel.


"Saya tidak tau pasti gimana ceritanya Tuan. Tapi Bella anak periang Tuan sampai kejadian menyedihkan itu datang, Bella menjadi pendiam." ujar Mila.


"Kejadian apa Nona." tanya Samuel.


"Kecelakaan pesawat Tuan dan menyebabkan kedua orang tua Bella meninggal Tuan. Dan semenjak kejadian itu Bella di rawat oleh Paman dan Bibinya. Tapi Bibinya Bella sangat membenci dirinya, karna menurut Bibinya Bella hanya akan menambah beban di keluarganya. Sampai akhirnya Paman Bella memasukkan ke Pesantren xx. Setelah itu saya tidak tau lagi Tuan, karna saya harus pindah ke Belgia mengikuti kedua orang tua saya. Awalnya kami masih bisa berkomunikasi tapi setahun kemudian kami kehilangan kontak. Dan saya tidak tau bagaimana keadaan sahabat kecil saya lagi Tuan." ujar Mila pada Samuel.


Dua bulan kemudian..


Kondisi Bella masih tetap seperti itu, tidak ada perkembangan sama sekali. Bahkan Bella telah di pecat dari perusahaan tempatnya bekerja karna tidak pernah masuk kerja selama dua bulan terakhir.


"Pagi calon istriku, ibu dari anak-anakku nanti. Cepatlah sadar aku sangat merindukanmu, apa kau belum puas menghukumku seperti ini. Kau boleh menghukumku sampai kau puas, tapi jangan hukum aku seperti ini. Apa kau tau aku sangat takut kau pergi dari sisiku. Kau cinta pertamaku dan kau juga yang akan jadi cinta terakhirku. Cepatlah bangun apa kau tak merindukanku." ujar seseorang yang tak lain adalah Aldebaran.


Al terus berada di sisi Bella selama dua bulan terakhir. Bahkan Al bekerja dari rumah sakit, supaya Al bisa memantau perkembangan dari gadis yang di cintai nya.


Sedangkan Mila memutuskan untuk pergi ke Mojokerto untuk menemui Mika dan memberi tahu tentang kondisi Bella. Mila tidak tau kalau Mika tidak ada di Mojokerto, Mika sekarang berada di Jakarta dan bekerja menjadi OG di perusahaan Alx Company setelah Bella resmi di keluarkan dari perusahaan itu.


Setelah sampai di Mojokerto, Mika langsung pergi menuju rumah Mila dan berencana mengajaknya pergi ke Jakarta untuk melihat Bella. Mila tidak sengaja melihat Bima Abang dari Mika.


Tanpa pikir panjang Mila langsung berjalan menghampiri Bima.


"Bang Bima." ujar Mila.


"Ya saya Bima, kamu siapa kenapa tau nama saya." tanya Bima yang sama sekali tidak mengenal Mila.


"Aku Mila Bang sahabat Mika waktu kecil, sekarang Mila ada dimana Bang aku sangat merindukannya."ujar Mila pada Bima.


"Mika udah nggak ada disini, dia sekarang ada di Jakarta dia tinggal di rumah teman Abang yang ada di Jakarta." ujar Bima pada Mika.


"Kok bisa Bang, apa Mika udah nikah Bang. Kok aku nggak tau ya." tanya Mila.


"Kita nggak bisa bicara disini, apa kita bisa berdua saja. Abang nggak mau ada yang dengar, Abang bakalan ceritain semuanya sama kamu soal Mila."ujar Bima.


"Kalau gitu Abang ikut aku." ucap Mila yang langsung membawa Bima ke dalam mobilnya.


"Kita mau kemana Mil." tanya Bima.


"Kita ke mension keluargaku Bang, sebelum aku pindah keluar negeri." ujar Mila.


"Oke." jawab Bima.


Sekitar 30 menit akhirnya Mila dan Bima sudah sampai di mension keluarganya dulu


"Ayo masuk Bang." ujar Mila.


"Apa kamu akan tinggal di sini lagi Mil." tanya Bima.


"Aku belum tau Bang, karna aku balik ke Jakarta lagi buat nyari Mika sama jagain Bella Bang." ujar Mila.


"Memangnya Bella kenapa." tanya Bima pada Mila. Bima memang tidak mengetahui bagaiman kondisi Bella saat ini.


"Bella kecelakaan Bang dan sekarang di rawat di rumah sakit Alexander Bang." ucap Mila.


"Rumah Sakit Alexander, bukannya itu rumah sakit terbesar di Jakarta." ujar Bima yang merasa heran bagaiman Bella bisa di rawat disana.


"Iya Bang, karna anak pemilik rumah sakit itu mencintai Bella Bang. Bahkan dia rela Bella memakai ruangan khusus untuknya. Dan dia juga tidak pernah meninggalkan Bella, dia juga bahkan mencari golongan darah untuk Bella ke seluruh dunia Bang. Tak tanggung-tanggung Bang dia rela membayar orang itu dengan harga yang fantastis kalau mau mendonorkan darahnya untuk Bella. Semoga ini awal dari kebahagiaan Bella Bang." ujar Mila panjang lebar pada Bima.


"Kamu benar Mil, sudah cukup selama ini Bella menderita, dia berhak hidup bahagia Mil. Bella anak yang baik, tidak seharusnya dia hidup menderita karena ulah Bibinya yang tak mau menerimanya di rumah bahkan ingin menjual Bella pada rentenir agar mendapatkan uang." ujar Bima yang masih mengingat jelas bagaiman Bella memohon pada bibinya agar tidak menjualnya pada rentenir itu.


"Apaaa Bang, menjual Bella ke rentenir." ujar Mila yang kaget dengan ucapan Bima.


"Iya, makanya Paman Bella memasukkannya ke Pesantren. Bahkan saat Bella sudah tinggal di Pesantren, Bibinya masih saja berusaha untuk menjualnya dan akhirnya Bella memutuskan untuk pergi ke Jakarta dan menetap di sana. Semenjak itu Bella memutuskan semua komunikasi kecuali Pamannya, Bella tidak ingin membuat Pamannya khawatir dengan kondisinya." ujar Bima yang memang sudah mengganggap Bella sama seperti adiknya. Karna kasus Bella dan Mika hampir sama persis. Makanya Bima bertekat untuk menjaga Bella dan Mika dengan segenap jiwanya.


"Apa Abang mau ikut aku ke Jakarta kita cari Mika sama-sama."ujar Mila.


"Kalau Abang pergi, Abang harus mengambil baju ke rumah. Nanti kalau orang tua Abang nanya Abang harus jawab apa. Kalau Abang akan pergi mereka pasti nyuruh orang untuk ngikutin Abang. Abang takut nanti mereka melihat Mika dan membawa Mika pergi, Abang nggak mau Mika di jual untuk mendapatkan uang." ujar Bima lagi dan itu berhasil membuat kembali terkejut.


"Apaaa kenapa orang tua Abang tega sekali kenapa mereka ingin menjual putri kandung mereka sendiri Bang." ujar Mila yang tak habis fikir dimana hati orang tua sahabatnya kenapa mereka mau menjual Mika. Padahal Mika itu adalah anak kandungnya sendiri.


"Makanya itu Abang nyuruh dia pergi ke Jakarta dan tinggal di rumah sahabat Abang. Supaya Ibu sama Bapak nggak jual dia Mil. Abang nggak mau adik Abang di jual tapi Abang juga nggak mau jadi anak durhaka. Mika segalanya bagi Abang, semenjak Mika lahir Abang merasa hidup Abang kembali berwarna, tapi tidak dengan Ibu dan Bapak mereka tidak ingin mempunyai anak perempuan. Mereka menganggap kalau memiliki anak perempuan hanya akan menghabiskan uang. Makanya Abang nyuruh Mika pergi, apa Abang salah Mil." tanya Bima pada Mila.


"Abang nggak salah apa yang Abang lakuin itu udah benar Bang. Jadi Abang nggak usah merasa bersalah kayak gitu. Gimana kalau sekarang Abang ikut aku ke Jakarta, Abang nggak usah mikirin apapun semuanya biar aku yang nanggung. Abang pasti ingin bertemu dengan Mika kan dan sekarang waktunya Bang, Abang bisa ikut aku tanpa harus mengambil baju Abang ke rumah, biar aku yang sediain semuanya." ujar Mila pada Bima.


"Kamu serius Mil." tanya Bima.


"Sangat sangat sangat serius Bang, ayo Bang kita berangkat sekarang saja." ujar Mila yang langsung mengandeng tangan Bima menuju mobilnya dan langsung menuju Jakarta untuk bertemu dengan Mika adikknya.


*Bersambung..*

__ADS_1


Tinggalkan jejak ya teman-teman.


Like, comen, dan vote ya...


__ADS_2