MAFIA DINGIN JATUH CINTA

MAFIA DINGIN JATUH CINTA
#15


__ADS_3

Di rumah kediaman Angga...


Setelah mendapat stempel darah Mila, Angga langsung menuju rumahnya untuk mencari jenis racun apa yang masuk ke tubuh Mila lewat darahnya.


Angga memiliki laboratorium sendiri di rumahnya, dengan cepat Angga langsung memeriksa darah Mika.


3 jam lamanya Angga meneliti darah Mila dan akhirnya Angga tau jenis racun apa yang masuk ke tubuh Mila.


Dengan cepat Angga langsung membuat obat penawarnya untuk di suntikan pada infus Mila.


*Semoga aku belum terlambat.*batin Angga yang lebih mempercepat kerjanya.


"Hufffttt akhirnya selesai juga, semoga kamu bisa cepat sadar Mila." ujar Angga yang berharap jika Mila akan segera sadar setelah meminum obat racikannya.


"Sebaiknya aku bersiap-siap sekarang sebelum ke rumah sakit, jangan sampai aku terlambat memberikan obat ini sama Mila."ucap Angga lagi yang langsung bersiap-siap untuk pergi kembali ke rumah sakit.


30 menit kemudian..


Akhirnya Angga sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit dan akan memberikan obat ini pada Mila.


Angga langsung menuju ke mobil dan langsung masuk ke dalam mobil.


Perlahan tapi pasti Angga mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit dimana Mila di rawat.


Dalam perjalanan Angga tidak sengaja melihat seorang anak kecil yang sedang menjual bunga, Angga berniat ingin membelikan Mika bunga.


Akhirnya Angga berhenti dan memanggil anak kecil itu untuk memborong semua bunganya.


"Bunganya berapa satu Dek."tanya Angga.


"10 ribu satu Pak.' ujar anak penjual bunga itu.


"Ya udah kalau gitu bunga Abang borong semua ya." ujar Angga sambil menyerahkan beberapa uang kepada anak penjual bunga.


"Terima kasih Pak, terima kasih banyak semoga istri Bapak suka dengan bunganya."ucap anak itu dengan senang karna bunga habis terjual.


Angga Kembali masuk ke mobilnya dan mulai melajukan kembalinya mobilnya ke rumah sakit.


Angga teringat jika anak kecil penjual bunga tadi mengatakan istri.


*Istri menikah aja belum udah bilang istri.*batin Angga entah mengapa dia sangat berharap jika Mila yang akan menjadi istrinya kelak.


15 menit kemudian..


Akhirnya Angga sudah sampai di rumah sakit tempat Mila di rawat.


Angga langsung buru-buru masuk ke dalam untuk memberikan obat ini untuk Mila.


Setelah sampai di depan pintu ruang rawat Mila dan kedua sahabatnya, Angga langsung masuk ke dalam.


Angga heran kenapa Al seperti orang sedih dengan menundukkan kepalanya, karna rasa penasaran akhirnya Angga menanyakan apa yang terjadi selama dirinya pergi.


"Al Lo kenapa."tanya Angga.


"Lo kapan sampainya."tanya Al yang heran dengan kedatangan Angga yang tiba-tiba.


"Barusan terus gue ngeliat Lo kayak orang sedih makanya gue tanya Lo itu kenapa."ucap Angga yang kembali menanyakan pertanyaan yang sama.


"Gue nggak kenapa-kenapa kok cuman gue ngerasa akan terjadi sesuatu gitu."ujar Al yang tak tau kenapa dirinya merasa ada yang tidak beres.


"Mungkin itu firasat Lo aja kali."ujar Angga.


"Semoga aja nggak terjadi apa-apa."ucap Al.


"Lo bisa bantuin gue nggak."tanya Angga.


"Bantuin apa."ucap Al.


"Bantuin gue buat ngasih obat ini sama Mila."ujar Angga.


"Kenapa nggak Lo aja sih, kenapa harus gue."ujar Al.


"Ya elah pelit amat sama gue, tinggal ngasih aja kok."ujar Angga.


"Ya udah sini, sekarang tugas Lo ambil gue jarum suntik."ujar Al.


"Lah buat apa jarum suntik."tanya Angga.


"Lo pikir sendiri, ya untuk di tusukin ke infusnya Mila la bego. Terus Lo mau gue minumin ini ke dia langsung kan nggak mungkin pe'ak." ujar Al yang tak habis pikir dengan Angga.


"Ooo iya gue lupa."ujar Angga.

__ADS_1


Akhirnya penawaran racun yang buat oleh Angga sudah masuk ke tubuh Mila.


*Semoga kamu cepat sadar Mila.*batin Angga.


"Al."panggil Bella.


"Ya sayang."ujar Al.


"Aku mau liat Mika perasaan aku nggak enak."ujar Bella.


"Tapi Mika selesai di operasi sayang."ujar Al yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan Bella.


"Kita tunggu aja sampai Mika selesai operasinya."ucap Bella.


"Ya udah tapi kalau cepak kamu bilang sama aku, kita langsung balik ke sini buat istirahat."ujar Al.


"Iya, ya udah ayo kita pergi sekarang." ujar Bella yang langsung turun dari ranjang tidurnya.


Al dengan sigap langsung membantu Bella untuk turun dan mengandeng tangan Bella.


"Angga Lo jagain Mila, gue sama Bella mau ke tempat Samuel dulu."ujar Al.


"Oke."jawab Angga.


Al dan Bella langsung berjalan keluar dari ruang rawatnya menuju ruang operasi tempat Mika di operasi.


Di dalam ruang operasi..


Samuel dapat melihat langsung bagaimana kondisi Mika saat ini.


Samuel merasa sangat ketakutan jika Mika pergi meninggalkannya. Para Dokter yang menangani Mika terus berusaha membuat detak jantung Mika kembali seperti semula, tapi setelah lama berusaha akhirnya para Dokter menyerah.


Mereka tidak ingin memaksa seseorang yang sudah pergi untuk kembali lagi karna itu hanya akan menyiksa tubuhnya.


"Kenapa berhenti Dokter."tanya Samuel.


"Maaf Tuan kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkehendak lain Tuan Nona Mika tidak bisa kami selamatkan. Biarkan Nona Mika pergi dengan tenang Tuan."ujar Dokter itu pada Samuel.


Deggg...


Samuel berasa dunia runtuh mendengar kondisi Mika yang tak bisa di selamatkan.


Samuel tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa memandangi wajah Mika yang sudah pucat seperti tak memiliki darah lagi.


*Jangan tinggalkan aku Mika.*batin Samuel yang tak rela jika Mika meninggalkannya.


Ingin rasanya Samuel berteriak memanggil Mika agar mau kembali, tapi apalah dayanya itu semua hanya akan sia-sia saja.


Karna menurut Samuel orang yang sudah pergi tidak akan pernah kembali.


*Andai waktu bisa di putar Sam akan menyatakan perasaan Sam sama Mika, Sam tidak tau ini cinta atau bukan. Tapi Sam sangat takut kehilangan Mika, kalau Sam boleh minta sama Tuhan Sam ingin Mika kembali agar Sam bisa ngungkapin perasaan Sam sama Mika. Tapi semua itu sudah terlambat Mika udah ninggalin Sam buat selamanya. Sam harap Mika bahagia di alam sana. Sam akan berusaha ikhlas melepas Mika pergi walau sebenarnya sakit untuk melakukannya. Sam pikir Mika jodoh yang di kirimkan Tuhan buat Sam, tapi itu semua hancur karna Mika udah ninggalin Sam. Selamat jalan Mika , Samuel Attarillah Copaldi sangat mencintai Mika Anjani selamanya.*batin Samuel yang memilih untuk keluar karna sudah tidak sanggup lagi melihat kondisi Mika.


Samuel hanya mampu mengungkapkan rasa cinta pada Mika hanya dalam hati, Samuel belum miliki keberanian untuk menyatakan cintanya secara langsung pada Mika.


Setibanya di luar ruangan operasi, Samuel menumpahkan segala kesedihannya. Untuk pertama kalinya Samuel menangisi seorang gadis yang baru beberapa hari mengisi hari-hari nya.


Sekilas Samuel terbayang saat pertama mereka bertemu dan saling kenalan hingga mereka dekat, semua itu masih segar di ingatan Samuel saat dirinya dan Mika kenalan.


*Baru kemarin rasanya Sam kenalan sama Mika dan hari ini dimana Sam merasakan sakit yang amat luar biasa melihat Mika pergi ninggalin Sam. Sam nggak kuat liat Mika pergi dengan cara seperti ini, ini semua gara-gara Marsel. Gue bakalan ancurin semua keluarga Marsel kalau perlu sampai akar-akar nya sekalipun.*batin Samuel.


Pintu ruang operasi terbuka dan keluar para Dokter yang menangani Mika dengan mendorong tempat tidur yang terdapat jenazah Mika di atas yang sudah di tutup dengan kain putih.


Samuel hanya bisa melihatnya dan tidak sanggup untuk mendekat, karna Samuel tidak akan kuat melihat orang yang sudah memiliki hatinya pergi meninggalkannya.


Bella dan Al yang ingin melihat kondisi Mika kaget dengan dokter yang mendorong ranjang pasien yang sudah di tutupi dengan kain putih hingga kepala.


Dengan cepat Bella berlari tanpa memikirkan kondisinya yang masih lemah.


Bella langsung membuka kain putih dan tampaklah Mika sahabatnya yang masih menutup matanya.


"Dok ini kenapa kok sahabat saya di tutup pakai kain ini sih." tanya Bella.


"Maaf Nona sahabat Nona tidak bisa kami selamatkan, kami para Dokter sangat minta maaf Nona."ucap dokter itu dengan penuh penyesalan.


Deggg..


Bella yang tak bisa menerima jika sahabatnya meninggalkan dirinya seketika langsung ambruk, untung saja Al dengan sigap langsung menangkap tubuh Bella dan menggendongnya.


Samuel yang melihat Bella pingsan merasa sedih karna harus kehilangan sahabatnya apalagi dirinya yang harus kehilangan Mika secepat ini.


"Sam kau hubungi keluarga Mika dan beri tahu kabar ini."ujar Al yang merasa kasihan dengan Samuel yang harus kehilangan orang yang di cintainya.

__ADS_1


"Baik."jawab Samuel yang masih belum terima jika Mika meninggalkannya.


"Lo yang sabar Sam, Lo harus kuat mungkin ini jadi takdir Lo. Gue bawa Bella ke ruangannya dulu, Lo urus pemakaman Mika dengan baik anggap saja ini sebagai bukti cinta Lo sama dia."ujar Al yang langsung pergi sambil mengendong Bella ke ruang rawatnya kembali.


Samuel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


Samuel sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan suaranya hanya untuk sekedar menjawab perkataan Al.


Para Dokter kembali mendorongnya untuk segera di mandikan dan langsung di makamkan dengan layak.


Samuel hanya bisa melihat kepergian para dokter itu tanpa ingin menyusulnya.


*Selamat jalan sa..sayang.*batin Samuel yang baru pertama kali memanggil Mika dengan sebutan sayang.


Al masuk ke dalam ruang rawat Bella dan langsung membaringkan tubuh Bella di ranjang tidurnya.


Angga yang melihat Bella pingsan menjadi heran kenapa Bella bisa pingsan, padahal sebelum pergi tadi Bella masih baik-baik saja.


"Al Bella kenapa pingsan gini."tanya Angga.


" Mika udah nggak ada, dia udah pergi ninggalin kita semua."ujar Al yang merasa tidak percaya dengan semua ini.


"Apaa, Lo nggak becanda kan Al. Terus Samuel dimana apa dia udah ini semua."tanya Angga yang tidak percaya sama sekali.


"Samuel ada di depan ruang operasi."ujar Al.


Tanpa pikir panjang Angga langsung berlari keluar untuk menemui Samuel. Angga sangat paham saat ini Samuel pasti sangat terpuruk dengan kepergian Mika.


Setelah sampai di depan ruang operasi, Angga dapat melihat Samuel yang sedang melamun dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.


Angga berjalan perlahan untuk menghampiri Samuel untuk memberinya kekuatan.


"Sam."panggil Angga sambil menepuk pundak Samuel.


Samuel mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Dia udah nggak ada di dunia ini lagi, dia udah ninggalin gue selamanya. Hidup gue udah ancur Angga, gue nggak bisa jagain dia."ujar Samuel frustasi karna di tinggal pergi sama Mika.


"Gue tau gimana perasaan Lo sekarang, tapi Lo harus kuat hidup Lo nggak hancur. Masih banyak orang yang peduli sama Lo, mungkin ini yang terbaik buat Mika relain dia pergi Sam biar dia nggak ngerasain sakit lagi di tubuhnya."ujar Angga.


"Gue udah coba, tapi rasanya itu sulit buat gue lakuin. Gue nggak tau ini cinta apa nggak tapi gue nggak mau dia ninggalin gue secepat ini Angga."ucap Samuel.


"Lo harus bisa lakuin itu supaya Mika senang di atas sana, kalau Lo kayak gini terus sama aja Lo nyiksa diri Lo sendiri dan itu juga akan ngerugiin diri Lo sendiri Sam. Lo itu laki-laki yang paling kuat yang pernah gue kenal, Lo pasti bisa lakuin ini semua gue yakin itu." ucap Angga.


"Gue nggak tau harus bilang apa sama Bima nanti kalau adik kesayangan udah pergi dari dunia ini, gue nggak akan sanggup Angga."ujar Samuel yang sangat rapuh setelah kepergian Mika.


"Soal itu biar gue yang ngomong Bima, gue akan jelasin kenapa Mika Sampai meninggal agar dia nggak nyalahin Lo."ujar Angga yang langsung menelfon Bima Abang Mika.


Tutt..Tutt..Tutt.


"Hallo Bim, ini gue Angga."ujar Angga saat telfonnya sudah di angkat oleh Bima.


"Iya ada apa tumben telfon gue kayak gini."ujar Bima yang heran kenapa menelfonnya.


"Ada yang mau gue kabarin sama Lo tentang Mika."ujar Angga langsung.


"Ada apa sama Mika, gue denger kemarin dia ke sini tapi nggak mampir ke rumah. Nggak terjadi apa-apa kan sama Mika Adek gue."tanya Bima yang merasa cemas dengan adiknya.


"Sebelumnya gue minta maaf sama Lo, gue udah gagal jagain Adel Lo. Tapi asal Lo tau bukan gue atau Samuel yang lakuin ini semua bukan juga Al."ujar Angga yang menggantung ucapannya.


"Maksud Lo apa, kalau ngomong yang jelas dong."bentak Bima yang semakin cemas dengan kondisi Mika.


"Mika udah nggak ada, dia udah meninggal karna keracunan."ucap Angga.


Deggg


Bima yang mendengar kabar tentang adiknya langsung kaget.


"Siapa yang berani lakuin itu sama Adek gue."tanya Bima yang masih berusaha mengontrol emosinya.


"Marsel Prayoga."ucap Angga.


"Dimana dia sekarang."tanya Bima.


"Dia udah di bunuh sama Al."ujar Angga yang tak ingin menyembunyikan apapun dari Bima.


"Kapan Mika akan di makam kan."tanya Bima.


"Sore ini, apa Lo akan datang." tanya Angga.


"Tunggu gue, gue bakalan datang ke pemakaman Adek gue."ujar Bima yang langsung mematikan sambungan telefonnya secara sepihak.

__ADS_1


__ADS_2