
Keesokan hari nya keluarga kecil Arka dan Friska kembali ke tempat tinggal mereka lagi di antar Aksa dan Samuel serta istri mereka menuju bandara membuat rumah Jasmine terasa sepi kembali karna si kembar sedang sekolah dan para baby sedang tidur.
"Rumah ini sekarang sudah terasa sepi"gumam Jasmine menatap ruang keluarga nya yang biasa mereka gunakan jika sedang berkumpul.
"Kenapa sayang"tanya Erland kebetulan lewat melihat Jasmine berdiri saja di ambang pintu.
"Rasa nya rumah sepi saat mereka semua sudah pulang"ucap Jasmine.
"Mereka juga ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan"ucap Erland mengelus kepala Jasmine.
"Anak-anak tidur"tanya Erland di angguki Jasmine.
"Kau tidak ke kantor"tanya Jasmine.
"Aku bekerja dari rumah saja agar bisa membantu menjaga dedek"ucap Erland membuat Jasmine tersenyum.
"Suami ku yang terbaik"ucap Jasmine memeluk Erland.
"Kau baru sadar suami mu ini yang terbaik"ucap Erland.
"Ck aku menyesal mengatakan nya"ucap Jasmine kesal membuat Erland terkekeh.
"Aku ke ruang kerja ku dulu"ucap Erland di angguki Jasmine.
Erland pergi ke ruang kerja milik nya sedangkan Jasmine kembali ke kamar nya menemani kedua putri nya yang masih tertidur.
Sementara di bandara keluarga kecil mereka sudah masuk ke dalam jet masing-masing untuk kembali ke tempat mereka tinggal saat ini.
"Kita pulang"ajak Jessica pada mereka saat kedua jet tersebut lepas landas.
Mereka pun akhir nya meninggalkan bandara untuk kembali ke rumah mereka juga. Dalam perjalan pulang mobil yang di kendarai mereka di hadang mobil hitam membuat mereka berhenti.
"Tunggu di sini jangan keluar"ucap Aksa pada Jessica.
"Hati-hati"ucap Jessica di angguki Aksa.
Sama hal nya dengan mobil Samuel yang berhenti di belakang mobil Aksa juga keluar dari dalam menghampiri Aksa.
"Ck semut-semut ini mengganggu saja"dengus Samuel.
"Anggap saja latihan sudah lama kita tidak menggerak kan tubuh dengan cara seperti ini"ucap Aksa menyeringai.
__ADS_1
"Boleh juga"ucap Samuel ikut menyeringai.
"Siapa yang menyuruh kalian"tanya Samuel langsung kepada enam orang yang berdiri di hadapan mereka.
"Ternyata anda pintar juga tuan tahu jika ada yang menyuruh kami"ucap salah satu dari mereka membuat yang lain tertawa.
"Katakan saja"ucap Samuel dingin.
"Aku akan mengatakan nya agar kau tidak penasaran siapa yang telah menyuruh kami karna hari ini hari terakhir mu melihat dunia ini"ucap yang lain.
"Siapa"tanya Aksa penasaran.
"Anda pasti mengenal tuan Austin bukan dia yang telah menyuruh kami untuk membuat kalian meninggalkan dunia ini"ucap nya tertawa sombong karna yakin bisa mengalahkan kedua nya.
"Cih tua bangka itu ternyata"dengus Samuel mengenali siapa yang di katakan orang di depan nya.
"Bagaimana menurut mu jika kita ambil kepala mereka dan mengirim nya ke tua bangka itu"ucap Aksa.
"Aku sejutu bukah kah dia menyukai hadiah kita akan kirim saja pada nya lagi sebagai hadiah"ucap Samuel.
Mereka yang mendengar ucapan kedua nya mengeram marah karna di remehkan kedua nya.
"Kita lihat saja kepala siapa yang akan menjadi hadiah untuk tuan Austin"ucap satu nya lagi.
"Habisi mereka"ucap salah satu orang yang seperti nya ketua dari mereka.
Aksa dan Samuel menyeringai menatap mangsa di depan mereka seperti saat mereka menjadi mafia dulu.
Tak jauh dari mereka Jessica dan Dea menatap khawatir ke arah Samuel dan Aksa apa lagi saat mereka mengeluarkan senjata.
"Bagaimana ini"ucap Dea pada Jessica.
"Aku juga tidak tahu"ucap Jessica menatap perkelahian di depan meski pun Jesaica tahu mereka berdua adalah mafia dulu namun ia beru pertama kali melihat aksi perkelahian di depan mata nya secara langsung bahkan menggunakan senjata.
"Bagaimana kalau kita telpon polisi saja"ucap Dea pada Jessica.
"Jangan"ucap Jessica cepat.
"Itu akan mampu membuat mereka berhenti dan polisi dapat mengangkap para penjahat itu"ucap Dea.
Saat kedua nya berdebat antara menghubungi polisi atau tidak nya,di depan Aksa dan Samuel sama-sama menghajar keenam orang tersebut hingga babak belur dengan tangan dan kaki mereka tanpa menggunakan senjata.
__ADS_1
"Jadi kepala siapa yang akan di kirim"tanya Samuel menginjak kuat dada orang yang terkapar di tanah.
"Maaf kan kami tuan"ucap nya kesakitan.
"Maaf tidak ada arti nya untuk ku"ucap Samuel semakin menginjak kaki nya membuat orang tersebut berteriak kesakitan.
"Aku suka teriakan mu sudah lama aku tidak mendengar suara merdu seperti itu"ucap Samuel membuat Aksa terkekeh.
"Seperti nya melukis sedikit juga tidak masalah"ucap Aksa mengambil pisau yang di bawakan mereka.
"Aku ingin ingin lihat apakah lukisan mu masih seindah dulu"ucap Samuel.
"Aku rasa akan sedikit jelek karna sudah lama tidak melukis"ucap Aksa mulai menggerak kan pisau di tangan nya di tubuh mereka satu persatu karna sudah tidak bisa lagi berdiri, Aksa dan Samuel mematah kan kaki mereka satu persatu agar tidak bisa lari.
Kembali suata teriakan menggema di sana bahkan bersahutan karna sayatan yang di buat Aksa di tubuh mereka.
"Jangan berisik suara mu jelek sekali"ucap Aksa menampar keras wajah di depan nya.
"Bagaimana rasa nya menyenang kan bukan"ucap Aksa lagi dengan tangan nya ke sana ke mari menjalan kan pisau tajam tersebut.
Saat mereka berdua asyik dengan kegiatan nya hingga lupa jika ada dua wanita yang mereka cintai menatap ngeri ke arah mereka.
"Apa begitu menyenang kan"tanya Dea menatap mereka berdua membuat kedua orang tersebut berhenti dan menoleh ke belakang.
"Sayangg"ucap kedua nya kompak dengan wajah sedikit pucat.
"Kalian terlihat mengerikan jika seperti itu"ucap Jessica.
"Kami pulang lebih dulu selesaikan urusan kalian dan jangan kembali jika tidak dalam keadaan sudah bersih aku tidak ingin mencium darah orang di rumah"ucap Jessica.
"Sayangg"panggil kedua nya ingin mendekat.
"Jangan mendekat"ucap Dea menatap ngeri ke arah Samuel.
"Aku takut melihat kalian"ucap Dea lagi masuk ke dalam mobil di ikuti Jessica.
Mobil tersebut segera meninggal kan mereka semua di sana, Aksa san Samuel menatap kepergian mobil tersebut dengan perasaan tak karuan.
"Kita kejar mobil mereka"ucap Aksa di angguki Samuel.
Kedua nya juga masuk ke dalam mobil mengejar mobil yang di kendarai Dea yang lebih dulu melaju kencang meninggal kan mainan mereka yang sudah tidak bernyawa lagi yang akan di urus anak buah Aksa.
__ADS_1