
Sudah tiga bulan lamanya Bella koma dan sampai sekarang masih belum ada perkembangan tentang kondisi Bella.
Sedangkan Al dirinya disibukkan dengan pekerjaan kantornya dan mengharuskan Al untuk kembali masuk kantor. Tapi Al masih menyempatkan dirinya untuk melihat wanita yang di cintai nya di rumah sakit.
Sedangkan Mila dan Bima kini sedang mencari keberadaan Mika karna saat Mika berangkat ke Jakarta, Mika tidak mencari rumah teman Abangnya Mika memutuskan untuk tinggal sendiri dan mencari pekerjaan sendiri.
Bima sangat menyesal karna tidak mengantar Mika ke Jakarta. Kalau dirinya yang mengantarkan Mika ke Jakarta semua ini tidak akan terjadi, Mika tidak akan hilang seperti ini.
"Bang kita udah cari Mika tapi kita tetap tidak menemukannya Bang. Aku khawatir Mika kenapa-kenapa Bang." ujar Mila yang cemas akan kondisi sahabat kecilnya itu.
"Ini semua salah Abang Mil, coba saja Abang yang mengantar Mika ini semua tidak akan terjadi. Abang gagal jagain adik Abang, Abang nggak becus jagain Adik Abang sendiri. Ini semua gara-gara Abang Mila, Mika jadi hilang kayak gini." ujar Bima yang merasa gagal menjadi seorang Abang.
"Bang ini semua nggak salah Abang kok, Kita nggak pernah mikir kalau Mika akan ngelakuin hal ini. Mungkin Mika punya alasan sendiri kenapa dia ngelakuin ini semua Bang. Jadi Abang jangan nyalahin diri Abang kayak gitu." ujar Mila pada Bima.
Sedangkan di tempat lain..
"Mika kamu hari ini boleh pulang lebih awal, karna semua pekerjaan kamu sudah beres. Jadi Ibu izinkan kamu pulang lebih awal hari ini." ujar Kepala OG tempat Mika bekerja.
"Ibu serius Mika boleh pulang lebih awal." tanya Mika lagi.
"Ibu serius Mika, kinerja kamu selama bekerja di sini sangat memuaskan. Dan Ibu suka itu, makanya Ibu kasih kamu hadiah dari kerja keras kamu ya walaupun bukan uang, tapi setidak dengan Ibu menyuruh kamu pulang lebih awal kamu bisa istirahat di rumah. Dan besok kamu bisa lebih semangat kerjanya." ujar Ibu Kepala OG itu kepada Mika.
"Terima kasih Bu, ya sudah kalau gitu Mika siap-siap dulu ya Bu. Sekali lagi terima kasih Bu, Mika permisi dulu Bu." ujar Mika yang merasa sangat senang dengan hasil kinerjanya sampai Ibu Kepala OG tempatnya bekerja memperbolehkan dirinya pulang lebih awal.
Mika langsung bersiap-siap untuk pulang, tapi saat akan jalan keluar menuju lobby Mika tidak sengaja menabrak seseorang.
Brukkk..
"Awww.." rintih Mika karna sakit di pergelangan tangannya saat berusaha menahan tubuhnya agar tidak terbentur keras ke lantai.
"Maaf kan saya Nona, mari saya bantu berdiri."ujar laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih." ucap Mila setelah berdiri.
"Anda baik-baik saja Nona, apa ada yang terluka."tanya laki-laki itu.
"Tidak ada Tuan." ujar Mika sambil mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang dia tabrak.
Seketika laki-laki itu langsung terpana dengan kecantikan Mika yang natural.
*Cantik sekali, ternyata benar kata orang kalau bidadari tak bersayap itu ada.*batin laki-laki itu saat melihat wajah Mika.
"Syukurlah kalau Anda tidak apa-apa Nona, perkenalkan nama saya Samuel Nona bisa memanggil saya Sam." ucap Samuel sambil mengulurkan tangan untuk memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Mika Anjani, Tuan bisa memanggil saya Mika." ucap Mila yang juga memperkenalkan dirinya.
"Mika." ulang Samuel.
"Iya Tuan, memangnya ada apa Tuan. Apa ada masalah dengan nama saya." ucap Mika.
"Tidak ada Nona, hanya saja nama Nona sama dengan Nama yang sedang di cari oleh sahabat dari Nona Muda saya." ujar Samuel pada Mika.
"Mungkin saja hanya kebetulan sama Tuan." ujar Mika.
"Nona betul, mungkin hanya kebetulan." ulang Samuel pada Mika.
"Sam, kita ke rumah sakit sekarang dokter bilang alat bantu Bella akan segera di cabut. Dan gue bakalan gagalin itu karna Bella harus bisa bangun lagi. Lo hubungin Mila sama Bima untuk segera ke rumah sakit." ujar Al pada Samuel setelah menemukan Samuel sedang berbicara dengan seorang gadis di depan lobby.
"Baik gue bakalan hubungin mereka, Lo mau gue anterin atau nggak." tanya Samuel pada Al.
"Nggak usah elu nyusul aja nanti, elu urus dulu kerjaan gue yang masih numpuk di atas meja. Kalau udah selesai elu baru pergi ke rumah sakit, satu lagi elu gantiin gue meeting di Restoran xx jam 10 nanti." ujar Al pada Samuel.
"Ya udah elu hati-hati di jalan, setelah ini semua beres gue langsung nyusul elu ke rumah sakit." ujar Samuel.
"Gue duluan." ujar Al dan langsung berlari keluar keluar menuju dimana letak mobilnya terparkir.
"Maaf Nona saya harus segera pergi, semoga kita bisa bertemu lagi." ujar Samuel pada Mika.
"Semoga saja Tuan." jawab Mika.
Akhirnya Samuel dan Mika memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka hari ini. Samuel melanjutkan kerjaan yang di berikan oleh Al padanya sedangkan Mika masih memikirkan nama yang di ucapkan oleh atasannya tadi.
*Kenapa nama mereka sama dengan nama sahabat kecilku dan juga Abangku. Apa itu benar mereka atau hanya nama mereka saja yang sama. Lebih baik aku tunggu saja Tuan tadi keluar dan meminta untuk bisa ikut bersamanya. Daripada aku harus penasaran seperti ini.* batin Mika yang memutuskan untuk menunggu Samuel yang sedang menyiapkan kerjaannya.
Sudah 2 jam lamanya Mika menunggu Samuel, tapi orang yang di tunggu-tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Kenapa Tuan itu lama sekali, apa aku pulang saja dan besok aku akan mendatanginya lagi untuk menanyakan nama orang yang sudah membuatku penasaran setengah mati seperti ini." ucap Mika yang hendak melangkah kakinya menuju tempat parkir motor moge kesayangannya.
Tapi saat akan melangkah seseorang memanggilnya namanya.
"Nona, kenapa Nona masih di sini apa Nona tidak pulang." tanya laki-laki itu pada gadis yang sedang berada di hadapannya.
"Ahhh i.tu Tu..an sa..ya sedang me..nanti Tuan." ujar Mika gugup saat berhadapan dengan Samuel.
*Tampan sekali laki-laki ini, sungguh ciptaan Tuhan yang sangat sempurna yang pernah aku lihat.* batin Mika saat memandangi wajah laki-laki itu.
"Nona apa Nona baik-baik saja." ujar Samuel yang heran dengan sikap Mika.
"Ahhh. sa..ya ba.ik-baik sa.ja Tuan." ujar Mika gugup.
"Kenapa Nona masih di sini, apa Nona tidak pulang." tanya Samuel.
"Begini Tuan, tadi saya memang berniat untuk pulang tapi ketika saya mendengar nama orang yang sama dengan sahabat kecil saya dan nama Abang saya, jadi saya memutuskan untuk menunggu Tuan karna saya ingin meminta izin untuk ikut ke rumah sakit tempat Nona Muda di rawat Tuan. Apa boleh saya ikut Tuan, kalau Tuan tidak mengizinkan juga tak apa saya tidak akan memaksa Tuan." ujar Mika yang menjelaskan maksudnya menunggu Samuel.
"Saya tak punya hak untuk melarang Nona ikut bersama saya, Nona bisa ikut bersama saya tapi maaf saya tidak bisa memberi Nona tumpangan. Karna Tuan Al paling tidak suka ada orang lain yang masuk ke dalam mobilnya kecuali orang-orang yang memang sengaja di ajak oleh Tuan Al sendiri Nona." ucap Samuel pada Mika.
"Tak apa Tuan, saya bisa sendiri Tuan kebetulan saya membawa motor kesini. Terima kasih Tuan sudah mengizinkan saya untuk ikut bersama Tuan." ucap tulus Mika.
"Sama-sama Nona, mari kita keluar dan langsung berangkat saya takut Tuan Al terlalu lama menunggu saya. Dan Nona bisa mengikuti saya dari belakang, atau tidak Nona bisa langsung ke rumah sakit keluarga Alexander dan Nona bisa tunggu saya di depan lobby rumah sakit." ujar Samuel.
"Baik Tuan." jawab Mika.
"Mari Nona." ucap Samuel.
Samuel dan Mika akhirnya melangkah kakinya untuk keluar dari perusahaan dan menuju tempat kendaraan mereka masing-masing terparkir.
"Tuan saya ambil motor saya dulu Tuan, permisi." ucap Mika pada Samuel.
"Baik Nona." jawab Samuel.
Samuel terus memperhatikan Mika yang berjalan menjauh darinya, karena letak tempat parkirnya dan Mika cukup jauh. Samuel terkejut saat Mika menaiki motor moge, Samuel pikir Mika hanya memakai motor biasa saja. Tidak pernah terpikirkan oleh Samuel kalau Mika bisa membawa moge motor yang berbodi besar itu.
*Gadis yang sangat menarik.* batin Samuel.
"Tuan kenapa Tuan tidak masuk." tanya Mika saat sudah berhenti di depan Samuel yang tak kunjung masuk ke dalam mobil.
"Ahhh tidak Nona kalau begitu saya masuk dulu Nona." ucap Samuel gugup.
Samuel masuk ke dalam mobil dan langsung menyalakan mobilnya. Perlahan-lahan Samuel mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit dan di ikuti oleh Mika dari belakang. Bahkan Samuel terus memperhatikan Mika lewat kaca spion yang berada di dalam mobilnya. Rasa kagum Samuel pada Mika semakin bertambah saat melihat cara Mika membawa motor berbodi besar itu.
*Cantik.* batin Samuel.
Entah kenapa sejak bertemu dengan Mika, Samuel sering senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Mika menjadi candu
baginya dengan melihatnya saja jantung Samuel terasa mau copot, apalagi saat berbicara dengannya. Tapi bukan Samuel namanya kalau tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Sekitar 30 menit menempuh perjalanan ke rumah sakit, akhirnya Samuel dan Mika sudah sampai di rumah sakit terbesar di kota Jakarta.
Samuel langsung turun dari mobilnya begitu juga dengan Mika.
"Waahhh rumah sakitnya besar sekali dan tinggi lagi." ujar Mika spontan.
"Apa Nona belum pernah masuk ke dalam rumah sakit ini." tanya Samuel.
"Belum Tuan ini baru pertama kali saya menginjakkan kaki saya di rumah sebesar ini Tuan, maklum saya kan dari kampung Tuan." ujar Mika jujur.
"Nona tidak perlu memanggil saya Tuan panggil saja Sam, saya lebih nyaman di panggil seperti itu dari pada di panggil Tuan Nona." ujar Samuel yang ingin mengenal Mika lebih dekat.
"Baiklah kalau itu mau kamu Sam dan kamu harus manggil aku dengan Mika saja, tak usah pakai embel-embel Nona. Karna aku bukan orang kaya seperti orang-orang, aku hanya gadis miskin yang mengadu nasib di kota ini." ucap Mika pada Samuel.
"Baiklah kalau begitu, mari Mika kita masuk." ucap Samuel.
"Baiklah Sam." jawab Mika.
Akhirnya Samuel dan Mika masuk ke dalam rumah sakit. Samuel dan Mika langsung menuju lift untuk menuju ke lantai ruang rawat Bella.
"Hmmmmm Sam apa aku boleh tanya sesuatu sama kamu." tanya Mika hati-hati pada Samuel.
__ADS_1
"Mau tanya apa." jawab Samuel.
"Apa orang yang akan kita kunjungi di rumah ini orang kaya, aku jadi malu kalau memang orang yang kita lihat nanti adalah orang kaya sedangkan aku hanya gadis biasa saja." ujar Mika yang langsung berubah menjadi sedih karna perbedaan status mereka yang sangat jauh.
"Kenapa harus malu, memangnya kau ke sini akan mencuri." tanya Samuel.
"Tidak, aku tidak pernah ada niatan untuk mencuri lebih aku bekerja keras daripada harus mencuri. Karna yang di dapat dari mencuri itu semuanya haram." ucap Mika dengan tegasnya.
"Makanya kau tidak usah malu, walaupun derajat mu berbeda jauh. Kau harus tau tidak semua orang hanya mandang harta, buat apa kita kaya kalau kita tidak bisa menghargai orang lain." ujar Samuel pada Mika.
"Terima kasih Sam, kau berikan aku nasehat yang sangat bermanfaat untukku." ucap Mika.
"Itu tidak nasehat Mika." ujar Samuel.
"Baiklah baiklah terserah apa katamu saja, aku lagi malas buat debat." ucap Mika.
Mika dan Samuel diam tanpa ada yang mengeluarkan suara sampai pintu lift terbuka pun mereka masih belum ada yang mengeluarkan suara.
Samuel langsung melangkah kakinya tapi tidak dengan Mika yang hanya berdiri di depan pintu lift.
Samuel yang merasa aneh langsung membalikkan badannya dan benar saja Mika tidak mengikutinya dan malah berdiri di dekat pintu lift. Akhirnya Samuel menghampiri Mika untuk mengajaknya bertemu dengan Nona mudanya.
"Kenapa kau malah berdiri disini." tanya Samuel.
"Aku takut kalau nanti mereka menghinaku karna derajat ku tidak sebanding dengannya." ucap Mika dengan takut sampai-sampai tangan Mika bergetar karna ketakutan.
Samuel yang dapat melihat tangan Mika bergetar langsung mengandeng tangannya.
"Kau tak perlu takut ada aku yang akan menjagamu, kalau mereka menghinamu aku akan membelamu, jangan takut lagi ya. Sekarang kita ke sana dulu untuk bertemu Mila dan Bima untuk menanyakan keadaan Nona Muda." ujar Samuel pada Mika dan Samuel langsung menggenggam tangan Mika.
*Hangat sekali tangan laki-laki ini, andai saja yang sedang menggenggam tanganku adalah orang yang aku cintai, mungkin aku akan merasa sangat senang kalau jari-jari tangan ini dengan di genggam oleh jari-jari tangannya. Tapi sayang itu semua hanya akan jadi halusinasi ku bahkan orang aku cinta tidak pernah melirikku untuk sekali saja.* batin Mika.
Samuel berjalan ke arah Mila dan Bima sambil mengandeng tangan Mika. Sedangkan Al sedang berada di dalam ruang rawat Bella untuk mencegah para Dokter untuk mencabut peralatan yang ada di tubuh Bella.
"Nona Mila, bagaimana keadaan Nona Muda." tanya Samuel saat sudah berada di depan Mila dan Bima.
"Kami berdua belum tau Tuan, karna dari tadi belum ada yang keluar dari ruang rawat Bella Tuan." ucap Mika.
Mika yang terhalang oleh punggung kokoh Samuel mengenali suara orang yang di ajak oleh Samuel berbicara.
"Bagaimana dengan adik Anda apa sudah ketemu." tanya Samuel pada Bima.
"Belum Tuan, kami bahkan sudah mencarinya kemana pun tapi kami tidak menemukannya. Saya jadi khawatir Tuan takut terjadi apa-apa dengan Mika adik saya." ucap Bima dengan lesuh karna belum menemukan adiknya.
"B..ang Bima." gumam Mika di balik punggung Samuel.
"Jangan sedih mungkin belum saatnya Anda bertemu dengan adik Anda. Tetaplah berusaha untuk mencari adik Anda." ucap Samuel menyemangati Bima.
"Saya tidak becus saya gagal menjaga adik saya, kalau saja saya sendiri yang mengantarnya ke Jakarta ini semua tidak akan terjadi. Mika tidak akan hilang seperti ini." sesal Bima.
"Siapa bilang kalau Abang tidak becus menjaga adik Abang." ucap Mika dan menggeser sedikit tubuhnya dari tubuh Samuel.
"Bahkan Abang sudah sangat baik menjaga Adik Abang, cuman Adik Abang aja yang nggak mau dengerin kata Abang. Maafin Mika Bang udah bikin Abang khawatir, Mika cuma nggak mau ngerepotin teman Abang disini." ucap Mika yang melepaskan tangannya dari genggaman tangan Samuel dan langsung berlari ke pelukan Bima. Orang yang selama ini sangat dia rindukan, orang yang sudah menjaganya dari kejahatan kedua orang tuanya.
"Mika ini sungguh kamu, Mika adik Abang." tanya Bima saat Mika semakin erat memeluknya.
"Iya Bang ini Mika adik Abang, Adik yang sangat nakal karna tidak mau mendengarkan ucapan Abang." ucap Mika sambil menangis di pelukan Bima.
"Abang kangen sama kamu, apa kamu baik-baik saja di sini. Apa kamu hidup dengan layak di kota ini. Abang sangat mengkhawatirkan kamu Dek, Abang takut terjadi sesuatu sama kamu. Kenapa kamu nggak bilang sama Abang kalau kamu nggak tinggal di rumah teman Abang."tanya beruntun Bima pada Mika.
"Mika tidak mau merepotkan teman Abang, Mika tau di kota ini sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Makanya Mika tidak mau tinggal di rumah teman Abang, Mika takut nanti teman Abang merasa keberatan dengan kehadiran Mika di dalam rumahnya." ucap Mika yang masih setia memeluk Bima.
"Kalau kamu tidak mau tinggal di rumah teman Abang kamu bisa bilang sama Abang jangan bikin Abang khawatir kayak gini dong Dek. Kamu itu adik perempuan Abang satu-satunya Abang takut ada orang yang jahatin kamu di sini. Abang nggak bisa nolongin kamu Abang mohon jangan lakuin ini lagi Dek. Abang takut kamu kenapa-kenapa Dek." ucap Bima yang merasa lega karna sudah bertemu dengan Mika.
"Tuan kenapa Anda bisa datang dengan Mika Adik saya."tanya Bima pada Samuel karena merasa heran kenapa Mika bisa datang dengan Samuel.
"Jadi Mika yang Anda cari adalah dia." tanya Samuel yang masih bingung.
"Iya Tuan dia adik saya yang saya cari." ucap Bima.
"Saya tidak tau, saya baru bertemu dengannya tadi pagi di perusahaan Tuan Al. Karna saya tidak sengaja menabraknya di depan lobby perusahaan. Saya juga baru tau namanya tadi pagi, saya juga sempat berfikir karna namanya sama dengan nama Adik Anda. Saat saya sedang berbicara dengannya Tuan Al menghampiri saya untuk mengatakan kalau saya harus menggantikannya untuk meeting karna Tuan Al harus ke rumah untuk menghentikan Dokter untuk mencabut alat yang ada di tubuh Nona Muda. Tuan Al juga menyuruh saya untuk menghubungi Anda dan Nona Mila untuk ke rumah sakit. Setelah itu saya langsung menyelesaikan pekerjaan saya dan Mika menunggu saya sampai menyelesaikan kerjaan saya dan meminta izin untuk ikut dengan saya ke rumah sakit karna mendengar nama Anda, Mila dan Bella. Dia bilang kalau namanya sama dengan Abangnya dan sahabat kecilnya, jadi saya izinkan dia untuk mengikuti saya ke rumah sakit." ujar Samuel menjelaskan semuanya.
"Apa itu benar Dek." tanya Bima yang melihat ke arah Mika. Dan Mika menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Terima kasih Tuan karna sudah mengizinkan Mika untuk ikut bersama Tuan untuk ke sini, kalau tidak mungkin saya tidak akan bisa bertemu dengan Mika secepat ini." ucap Bima pada Samuel.
"Ekkkhmmmm, kayaknya nggak ada yang mau peluk gue setelah sekian lama nggak bertemu." ucap Mila yang merasa di abaikan oleh Mika sahabat kecilnya.
"Milaaaaaa aku kangen banget sama kamu." ucap Mika dan langsung memeluk Mila dengan erat.
"Baru kangen sekarang dari tadi kemana aja, aku udah nungguin kamu buat meluk aku dari tadi. Tapi kamu malah asik meluk Abang kamu terus dan aku malah kamu abaikan saja. Tapi aku juga sangat kangen sama kamu, seharusnya kita bertiga bisa kumpul kayak dulu lagi tapi sekarang kita hanya berdua." ucap Mika yang ikut membalas pelukan Mika.
"Maksud kamu apa, kita masih bisa berkumpul bertiga lagi sekarang kita bisa ke Mojokerto untuk menemui Bella dan kita akan bersenang-senang sesuai janji kita dulu." ucap Mika yang melepaskan pelukannya karna Mika tidak tau tentang keadaan Bella.
"Bella udah nggak tinggal di Mojokerto lagi, dia tinggal di kota ini sama dengan kamu dan juga satu perusahaan sama kamu Mik." ucap Mila.
"Ya bagus dong kalau gitu, kita nggak perlu jauh-jauh ke Mojokerto lagi. Kita tinggal temuin Bella di perusahaan tempatnya bekerja dan aku tau dimana letak perusahaannya. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang aku udah nggak sabar ketemu sama Bella." ucap Mika yang langsung menarik tangan Mila untuk berjalan keluar dari rumah sakit itu dan langsung menjemput Bella di perusahaan tempatnya bekerja.
"Mika dengerin aku dulu, Bella udah nggak kerja di situ lagi. Apa kamu nggak tau ngapain Aku sama Abang kamu di sini." ucap Mila pada Mika.
"Tadi kata Samuel akan mengunjungi Nona Muda Tuan Al. Terus apa urusannya dengan Bella." tanya Mika yang masih belum paham arah bicara Mila.
"Apa kamu tau nama dari Nona muda Tuan Al." tanya Mila lagi.
"Iya aku tau namanya Bella kan. Be..lla jangan bilang kalau orang yang di rawat di rumah sakit ini Bella sahabat kita." tanya Mika.
"Iya dia Bella, orang yang di rawat di rumah sakit ini Bella sahabat kecil kita, orang yang selama ini aku dan kamu rindukan sedang terbaring koma di dalam dan mungkin kita tidak akan bisa berkumpul lagi karna Bella sudah koma selama 3 bulan lamanya. Dan hari ini, hari di mana Dokter akan mencabut semua alat bantu Bella untuk bisa bertahan hidup Mika. Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan Bella secepat ini, aku nggak akan kuat Mika hikss..hikss." ucap Mila yang langsung menangis saat membayangkan kalau dirinya harus kehilangan salah satu sahabatnya.
"Kamu jangan becanda Mila dia bukan Bella sahabat kita kan. Bella orang yang kuat tidak mungkin dia akan koma selama itu. Jawab aku dia bukan Bella sahabat kita kan Mila, pasti kamu sedang bercanda kan Mila." ucap Mika dengan tubuh yang sudah gemetar saat mengetahui kalau orang yang sedang dirawat itu adalah sabahat kecilnya.
"Aku tidak becanda Mika dia Bella sahabat kecil kita, aku sudah melihatnya sendiri." ucap Mila dengan suara serak karna menangis.
"Bang apa yang di katakan Mila itu benar Bang, apa benar orang yang di rawat itu adalah Bella Bang." tanya Mika pada Bima.
"Kamu harus kuat Dek, kamu nggak boleh lemah kayak gini dan yang di ucapkan sama Mila itu benar. Bella memang sudah mengalami koma selama 3 bulan lamanya. Dan hari para Dokter akan mencabut alat bantu yang menempel di tubuh Bella." ucap Bima yang merasa kasihan dengan Adiknya, baru bertemu setelah sekian lama tidak pernah bertemu dan sekarang malah mendapat kabar buruk tentang sahabat kecilnya.
"Kita harus gagalin itu semua Bang, Bella harus bisa bangun lagi Bella nggak boleh ninggalin aku sama Mika. Kita udah janji untuk bersama-sama terus. Bang ayo kita harus gagalin itu semua Bang hikss..hikss." ucap Mika yang sudah tak sanggup lagi dan akhirnya menangis karna mendengar keadaan sahabat kecilnya. Tubuh Mika hampir merosot ke lantai kalau saja Bima tidak sigap menangkap tubuh adik kesayangannya itu.
"Sekarang Tuan Al sedang berada di dalam kita do'akan saja semoga Tuan Al bisa menggagalkan itu semua Dek." ucap Bima sambil memegang pergelangan tangan Mika karna Mika sudah lemas saat mengetahui keadaan sahabatnya.
Di dalam ruang rawat Bella.
"Maaf Tuan kami harus segera melepas alat bantu yang melekat di tubuh Nona Muda. Kita tidak boleh memaksa Nona Muda untuk kembali Tuan. Kalau seperti ini terus tubuh Nona Muda tidak akan senang Tuan, jadi kami mohon izinkan kami untuk mencabut semua alat yang menempel pada tubuh Nona muda."ucap Dokter pada Al.
"Berani sekali kau berbicara itu pada Nona Muda, apa kau mau di pecat dari rumah sakit ini Haaa." bentak Al pada Dokter yang menangani Bella.
"Maafkan saya Tuan, tapi ini sudah lewat dari ketentuan kami para Dokter Tuan. Hari ini kami akan mencabut semua alat yang masih menempel di tubuh Nona muda Tuan." ucap Dokter itu lagi.
"Siapa kau berani sekali mencabut alat itu dari tubuh wanitaku, kau bekerja di sini dan yang mengaji kau itu aku. Jadi apapun yang aku katakan kau harus patuhi, kalau kau tak mau di pecat dari rumah sakit ini." bentak Al lagi.
Dokter itu diam tidak berani lagi untuk menjawab ucapan Al.
Di luar ruangan.
"Tuan siapa yang berteriak seperti itu." tanya Mika pada Samuel.
"Lebih baik kita masuk, mungkin ini yang terakhir kali kalian bisa melihat sahabat kecil kalian." ucap Samuel karna Samuel sudah bisa menebak kenapa Bossnya berteriak seperti itu.
"Apa maksudmu haa, kau bilang untuk yang terakhir kali. Kau pikir kau siapa haa kenapa kau seperti Tuhan yang dapat menentukan hidup mati seseorang. Kau hanya manusia biasa jadi kau jaga ucapanmu itu, jangan asal bicara kau." bentak Mika pada Samuel.
"Heii Nona kau yang seharusnya jaga ucapanmu kalau saja aku tak mengijinkanmu untuk ikut bersamaku, kau tak akan bisa bertemu Abang dan juga sahabatmu. Begini rasa terima kasih kau padaku." bentak Samuel karna tak habis pikir dengan Mika. Kalau saja dirinya tak mengijinkan Mika untuk ikut bersamanya, Mika tidak akan bertemu dengan Abang dan juga sahabatnya.
"Sebaiknya kau pulang saja percuma kau disini kalau kau hanya membuat keributan." ucap Samuel pada Mika dan Samuel langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang rawat Bella.
"Lebih baik kau diam Mika, kau selalu saja emosian. Jika bukan karena dia kau tidak akan bisa bertemu dengan kami, ayolah untuk kali ini saja cobalah kau kontrol emosi kau. Jangan sampai dia benar-benar mengusirmu dari rumah sakit ini." ucap Mila pada Mika.
"Maaf aku hanya tidak terima dengan ucapannya barusan." ujar Mika yang merasa bersalah karna sudah membentak Samuel.
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku seharusnya kau meminta maaf sama pemuda tadi. Karna berkat dia kita semua bisa bertemu. Lebih baik sekarang kita masuk dan kau harus meminta maaf padanya nanti." ucap Mila dan langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang rawat Bella.
Di dalam ruang rawat Bella..
"Tuan." panggil Samuel.
"Apa." ucap dingin Al.
"Biarkan Nona muda pergi dengan tenang Tuan. Kalau seperti ini sama saja kita menyiksa tubuh Nona muda kalau kita tetap memaksanya untuk kembali." ucap Samuel walaupun dalam hatinya sangat berat melepaskan orang yang sangat teramat di cintai oleh Tuannya sekaligus sahabatnya itu.
__ADS_1
"Gue nggak bisa kehilangannya secepat ini Sam, gue belum nyatain perasaan gue sama dia. Bahkan dia mengira gue punya pacar padahal itu tidak benar sama sekali dia cinta pertama gue Sam, gue belum sanggup kehilangan dia secepat ini Sam. Gue sangat teramat mencintainya, kalau dia pergi gue juga akan pergi bersamanya Sam." ujar Al yang saat ini sangat rapuh melihat kondisi wanita yang sangat teramat dirinya cintainya.
"Sayang bangunlah, jangan tinggalkan aku sendiri aku mohon bangunlah. Aku tak bisa hidup tanpamu kau nyawaku jika kau pergi aku juga akan ikut pergi bersamamu. Bukalah matamu sayang jangan buat aku serapuh ini aku tak bisa hidup tanpamu." ucap Al dengan deraian air mata yang tak pernah berhenti mengalir dari mata indahnya. Al terus menggenggam tangan wanita yang sangat dirinya cintai.
Semua orang yang melihat Al seperti itu ikut merasakan kesedihan yang sama dengan Al, mereka tak menyangka kalau Bella akan pergi secepat ini.
Saat semuanya tengah menangis karna harus mengikhlaskan sahabat dan orang yang di cintai oleh Al. Sampai mereka tak memperhatikan orang yang mereka tanggisi sudah membuka matanya secara perlahan.
Bella yang merasakan air menetes di kulitnya langsung melihat siapa orang yang sudah meneteskan air di kulitnya.
Bella dapat melihat orang itu adalah orang yang sangat dirinya cintai selama beberapa bulan terakhir ini.
Tangan Bella berusaha menyentuh rambut milik laki-laki yang sudah mengisi hatinya.
"Ke..na..pa ka..u me..na.ngis." ujar Bella terbata-bata.
Semua orang itu langsung mengalihkan pandangannya pada orang yang sedang mereka tanggisi termasuk Al. Mata indah itu langsung membulat saat melihat orang yang selama ini dia rindukan suaranya telah membuka matanya.
Tanpa pikir panjang Al langsung memeluk wanita yang sangat di cintainya itu. Al juga mencium setiap inci wajah orang yang di cintainya.
"Dokter dia bangun Dokter, cepat periksa keadaannya Dokter." ujar Al pada Dokter yang merawat Bella.
"Baik Tuan."ucap Dokter itu dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Bella.
"Bagaimana Dok, apa dia baik-baik saja."tanya Al yang tidak sabaran.
"Kondisi Nona Muda sudah mulai stabil Tuan, Nona muda hanya perlu melakukan terapi untuk saraf tubuhnya. Karna Nona Muda sudah lama koma."ucap Dokter itu pada Al.
"Lakukan yang terbaik untuk dia Dokter." ucap Al.
"Baik Tuan saya akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk Nona Muda Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan."ucap Dokter itu dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Bella.
Setelah kepergian Dokter, Al langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Bella dan langsung menggenggam tangan Bella sambil berkata yang menampakkan betapa terpuruk dirinya saat melihat kondisi wanita yang sangat dirinya cintai.
"Jangan tinggalkan aku, kau sangat berharga dalam hidupku kau semangat hidupku sayang. Ku mohon jangan tinggalkan aku sendiri di dunia ini, aku mohon." ucap Al dan air mata itu kembali menetes.
Samuel yang melihat sahabatnya menangis untuk yang kesekian kalinya merasa kalau Bossnya begitu mencintai wanita yang sedang terbaring lemah di depannya.
*Gue harap lo bisa sembuh seperti sediakala Bella karna Al tak pernah menangisi wanita seperti ini. Lo sangat berarti dalam hidup Al, semoga lo bisa melihat itu Bella kalau lo perempuan pertama yang sudah meluluhkan hati Al. Gue akan menjaga lo dengan nyawa gue karna lo wanita yang sangat di cintai sama Al. Gue janji bakalan menjaga lo sampai titik darah penghabisan gue.* batin Samuel.
"A..pa kau se..ruis den..gan uca..panmu baru..san Al." ucap Bella yang tak menyangka kalau dirinya begitu berarti untuk Al.
"Aku tak pernah bercanda sayang aku serius dengan ucapanku. Kau wanita pertama yang sudah mengisi seluruh hatiku. Kau sangat berarti untukku kau nyawaku tanpamu aku takkan bisa hidup. Dan perlu kau tau bahwa aku Aldebaran Mahesa Alexander sangat mencintai dirimu Bella Anastasya Florence dan itu berlaku untuk selamanya takkan ada yang bisa menggantikan dirimu, hanya kau satu-satunya wanita yang ada di hatiku dan kau yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Apa kau mau menjadi istri dari keluarga Alexander." ucap Al yang langsung menyatakan isi hatinya pada Bella, karna tidak mau menunda-nunda lagi untuk menyatakan perasaannya pada Bella.
Bella yang mendengar ucapan Al merasa senang sekaligus sedih karna perbedaan mereka yang sangat jauh berbeda.
"A..ku ha..us." ucap Bella dan dengan sigap Al langsung mengambil air yang berada di samping nakas Bella dan langsung memberikannya pada Bella.
"Pelan-pelan sayang kau baru bangun dari koma." ucap Al yang ikut menolong Bella untuk minum.
"Sudah atau kau mau tambah lagi." tanya Al dan Bella hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Kenapa kau memilihku untuk menjadi ibu dari anak-anakmu, masih banyak wanita di luar sana yang sederajat denganmu. Aku hanya gadis kampung yang mengadu nasib di kota ini, aku hanya gadis miskin dan tak memiliki orang tua. Tapi kenapa kau malah memilih wanita sepertiku untuk menjadi istrimu Tuan Al." ujar Bella dengan linangan air mata yang siap menetes dari mata indahnya.
"Aku tak pernah memandangmu dari materi sayang dan aku tak peduli jika kau gadis miskin dan tak mempunyai orang tua. Karna aku yang akan menjagamu, aku yang akan memberikan kasih sayang padamu, aku akan jadi pengganti kedua orang tuamu dan akan membahagiakanmu sampai kau lupa bagaimana kesedihan." ujar Al tanpa ada rasa ragu sedikit pun.
"Aku anak yatim piatu Al, apa kau tidak malu mempunyai seorang istri yatim piatu. Aku tak memilik orang tua Al." ucap Bella dengan air mata yang sudah jatuh dari pelupuk matanya.
"Kau masih mempunyai orang tua Bella walaupun mereka bukan orang tua kandungmu. Jangan pernah berbicara seperti itu lagi kau tidak sendiri di dunia ini banyak orang yang menyayangimu termasuk aku." ujar Mila yang merasa tidak terima dengan ucapan Bella yang mengatakan kalau dia anak yatim piatu.
Bella yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangan pada orang yang berbicara tadi. Bella sangat terkejut melihat orang yang berada di hadapannya saat ini. Sahabat masa kecilnya yang sangat dirinya rindukan sekarang berada di depannya bukan hanya satu tapi kedua sahabatnya berada di depannya sekarang.
"Mila, Mika apa itu benar kalian sahabat masa kecilku." ujar Bella dengan deraian air mata yang sudah tak terhitung berapa kali menetes.
"Iya ini kami sahabat masa kecilmu." ucap Mika yang sudah tak tahan lagi melihat Bella dan langsung berjalan ke arah Bella dan langsung memeluknya dengan erat begitu juga dengan Mila.
"Aku sangat merindukanmu Bella." ujar Mila dengan suara paraunya karna menangis.
"Aku juga sangat merindukan kalian berdua." ucap Bella.
"Apa kau tak merindukanku Dek." ujar Bima yang merasa di abaikan oleh Bella.
"Apa itu Bang Bima." tanya Bella pada Mika.
"Iya dia Bang Bima, Abang kita." jawab Mila.
"Aku juga rindu padamu Bang." ujar Bella dan langsung merentangkan tangannya pada Bima.
Saat Bima hendak memeluk Bella dengan sigap Al langsung berdiri dan menghadang Bima agar tidak memeluk wanitanya.
"Jangan pernah sentuh wanitaku." ucap dengan tatapan tajamnya pada Bima.
"Dia adikku jadi aku berhak dong buat meluk adikku." ujar Bima yang tidak terima dengan ucapan Al.
"Sekali saja kau sentuh dia akan ku buat kau tak bisa bernafas lagi Tuan Bima Saputra." ujar Al dengan dingin dan tak terbantahkan.
"Ba..baiklah aku tidak akan menyentuhnya." ujar Bima yang sudah pucat pasi mendengar ucapan Al.
Bima sangat tau siapa Al seorang ketua mafia yang sangat di takuti di dunia. Bahkan tidak segan-segan menghabisi nyawa orang lain apabila sudah berani membuat masalah dengannya.
"Kenapa kau melarang Bang Bima memelukku, dia Abangku jika kau tak memperbolehkannya memelukku kau juga tidak boleh bertemu denganku lagi." ujar Bella pada Al.
"Baiklah kau boleh memeluknya tapi untuk kali ini saja. Dan untukmu sayang jangan pernah berbicara seperti itu lagi, aku tak sanggup bila harus jauh darimu." ucap Al yang melemah saat Bella mengatakan kalau Al tidak boleh menemuinya lagi.
Semua orang yang berada disana di buat terkejut dengan sikap Al yang berubah 180° derajat saat berhadapan dengan Bella.
"Ayo sini aku ingin di peluk sama Abang." ucap manja Bella pada Bima.
Al yang mendengar itu langsung naik pitam saat Bella berbicara seperti itu dengan Bima. Tapi Al berusaha menahan amarahnya agar tidak memukul Bima saat ini juga.
"Sayang pelukkan udah dong, aku saja tak kau peluk masa dia kau peluknya begitu lama."ujar Al yang merasa tidak terima dengan sikap Bella.
"Apa kau juga mau aku peluk." tanya Bella pada Al dan Al langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ya udah sini." ucap Bella sambil memukul tempat tidurnya supaya Al bisa duduk di sampingnya.
Tanpa pikir panjang Al langsung duduk di samping Bella dan langsung memeluk Bella dengan erat.
"Jangan tinggalkan aku lagi." ujar Al dengan suara yang begitu lembut.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi asal kau tidak membuat aku terluka. Tapi jika kau membuat aku terluka jangan salahkan aku jika aku akan pergi dari sisimu untuk selamanya." ucap Bella pada Al.
"Itu tidak akan pernah terjadi aku tidak akan pernah melukai dirimu barang sedikit pun. Aku akan menjagamu dengan segenap jiwaku dan aku juga akan menjagamu dengan nyawaku sendiri. Tidak ada yang boleh melukaimu selama aku masih hidup, jika orang itu berani melukaimu, mereka akan aku habisi dengan tanganku sendiri karna sudah berani melukai wanita yang sangat aku cintai." ujar Al pada Bella.
"Apa aku bisa memengang ucapanmu barusan." ucap Bella yang berharap semoga ucapan Al itu bisa jadi kenyataan, Bella sudah lelah dengan semua penderitaan yang dia alami selama ini. Bella ingin merasakan bagaimana rasa bahagia, dan Bella berharap Al dapat mewujudkannya.
"Kau boleh pegang ucapanku barusan sayang, bahkan setelah kau keluar dari rumah sakit ini aku akan langsung melamarmu pada pamanmu yang ada di Mojokerto. Karna aku tak ingin kau di miliki oleh orang lain, bahkan di sentuh orang lain. Kau hanya milikku dan aku tak akan rela jika milikku di sentuh orang lain selain aku, apa kau paham honey. Jadi jangan pernah kau buat aku cemburu sayang, kalau sampai itu terjadi orang yang berani memelukmu tanpa seijin ku akan pergi dari dunia ini untuk selamanya." ucap Al sambil melirik tajam pada Bima yang berada di samping Bella.
Bima yang mendengar itu menelan ludahnya kasar karna takut akan ancaman yang di berikan oleh Al padanya.
"Baiklah aku tidak akan memeluk orang lain tanpa seizin mu sayang." ucap Bella yang malu-malu saat memanggil Al dengan sebutan sayang.
"Ba.."ucapan Al terpotong saat dirinya baru menyadari kalau Bella memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kau panggil apa aku barusan sayang." tanya Al yang ingin memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Sayang, apa kau akan marah jika aku memanggilmu dengan sebutan sayang." ujar Bella yang merasa takut saat Al menatapnya intens.
"Kenapa aku harus marah honey, aku bahkan sangat senang jika kau memanggilku dengan sebutan sayang. Aku sudah lama menunggu kata itu keluar dari mulut indahmu honey." ujar Al yang langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Bella.
"Khmmmm.. Kami masih disini bego, lu main nyosor aja." ucap Samuel yang merasa jengah dengan sikap bucin Al.
"Kalian semua keluar." ujar Al tanpa mengalihkan pandangannya dari Bella.
"Baiklah." jawab pasrah mereka semua.
Setelah mereka semua keluar Bella langsung melirik ke arah Al.
"Kenapa kau malah mengusir mereka." tanya Bella.
"Karna aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu honey." ucap Al.
"Tap...." ucapan Bella terpotong karna Al sudah membungkam mulut Bella dengan mulutnya.
Bella yang baru pertama kali melakukan itu hanya diam tanpa berniat membalas ciuman Al. Sedangkan Al dengan lihainya memainkan lidahnya di dalam mulut Bella. Al terus ******* mulut Bella tapi karna Bella tak kunjung membalas ciumannya, Al mengigit bibir bawah Bella sehingga Bella membuka mulutnya. Dan Al semakin memperdalam ciumannya dengan memengang tengkuk Bella dengan tangannya.
Al menyalurkan rindunya pada Bella, bahkan Bella yang awalnya kaku dalam hal berciuman mulai membalas ciuman Al walau masih sedikit kaku. Al yang mengetahui kalau Bella membalas ciumannya semakin memperdalam ciumannya. Bibir cerry Bella dapat membuat Al ketagihan untuk selalu menciumnya.
__ADS_1