Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 106 : Kota Beijing


__ADS_3

Kamis, 18 September 2025


Hanya tersisa sepuluh hari lagi untuk dunia memasuki masa kehancuran yang ke enam bulan. Tidak tahu apa yang akan berubah lagi nanti, karena sudah sejak tiga bulan terakhir semenjak ada pemberitahuan.


Ada fitur Safe Zone, tapi sampai saat ini Natan masih belum melihatnya, bahkan meski hanya sekali.


Dari Kota Chongqing ke Beijing membutuhkan satu hari satu malam, itu juga menaiki mobil dan saat dunia masih baik-baik saja. Tapi karena Natan terbang di langit, ia tidak sampai lima jam untuk sampai di daerah Kota Beijing, meski tidak di pusatnya.


Dalam perjalanan di langit, Natan melihat banyak monster maupun manusia yang cukup banyak. Ia menduga populasi manusia di Bumi masih tersisa 25% dari jumlah total populasi.


Saat ini Natan berada di Xiangshan Park setelah terbang memutar, ia berada di dataran tinggi, melihat ke arah Kota Beijing.


"Aku tidak menduga akan menjadi seperti ini."


Banyak lautan monster yang memenuhi Kota Beijing. Jika populasi manusia di Kota Beijing sebelumnya berkisar antara 21,54 ~ 23,02 juta, maka jumlahnya kali ini adalah dua kali lipat, itu bukan manusia, melainkan monster.


Natan menduga akan mendapatkan banyak Point Exp yang membuatnya naik sampai level 500 jika mampu menghilangkan semua monster di Kota Beijing, hanya saja, apakah ia mampu atau tidak.


"Apakah aku mampu membunuhnya dari jarak ini? Dari sini ke pusat Kota Beijing, setidaknya tiga puluhan kilometer." Natan menutup mulutnya dengan tangan kiri, tatapannya tertuju pada tanah yang terdapat denah kota.


Natan mendongak melihat dahan pohon, ia melompat ke atasnya dan bersiap-siap untuk menyerang dari kejauhan. "Sniper Rifle, dengan keahlian pasif Shooting Range, harusnya aku bisa menggapai monster dalam radius empat kilometer."


"Untuk yang berada di pusat kota, aku akan memerintah Fire Dragon, atau tikus bunuh diri."


Ia bisa menggunakan bom jarak jauh yang dikendalikan dengan Inti Sihir. Ia akan memerintahkan tikus yang sudah dibangkitkan untuk pergi ke tengah-tengah monster, kemudian meledakkannya.


"Apakah di sana ada Zombie King? Sangat aneh melihat semua Zombie berkumpul di satu tempat, bahkan Zombie Mutan juga terlihat terperdaya."


Jika benar-benar ada Zombie King, maka akan sangat sulit untuk dilawan, bukan hanya mampu memerintah semua Zombie dari berbagai tingkatan, tapi juga bisa menciptakan Zombie dari mayat monster yang disentuh.


Walaupun demikian, Natan tetap mengambil tindakan yang bisa dikatakan tidak masuk akal. Ia mengeluarkan Sako TRG Mana, mengaktifkan keahlian Stealth, dan lain sebagainya yang membantunya untuk menembak dalam jarak lima kilometer.


"Meski kemampuanku tidak cocok untuk melawan mereka, tapi, aku tetap melawannya."


Natan menembak ke arah Zombie yang berada di pinggiran, karena yang memiliki kesadarannya sendiri berada di tengah-tengah. Karena itu, lebih baik menghilangkan bawahannya terlebih dahulu.


"Pergi." Natan memerintahkan belasan Skeleton Rat untuk berjalan di bawah Gelombang Zombie.


Setiap Skeleton Rat sudah membawa bom jarak jauh, dan siap diledakkan setelah sampai di tempat yang sudah Natan tetapkan.

__ADS_1


Baru mengangkat Sniper Rifle, ia menurunkannya lagi saat teringat dengan Calista. "Aku merindukannya, setelah selesai, aku akan kembali."


Ia kembali mengangkat Sniper Rifle, melihat keadaan Gelombang Zombie melalui scope. Ia juga sudah bersiap-siap mengalirkan Mana ke Alat Sihir yang merupakan remote untuk meledakkan bom jarak jauh.


Booom! Booom! Booom!


Ledakan beruntun terjadi dengan api yang menyala dari belasan tempat yang berbeda, menimbulkan asap tebal yang membumbung tinggi ke langit, serta membunuh ribuan Zombie dalam sekejap mata.


Namun, jumlah yang dibunuh seperti setetes air di dalam gelas.


Setelah Skeleton Rat hancur, ia membuatnya kembali bangkit di sebelahnya dan ia pasang bom jarak jauh, yang kemudian ia kirimkan kembali.


Natan terus melakukannya berulang kali, bukan hanya lebih aman karena tidak mengungkapkan keberadaannya melalui jalur tembak, tapi juga monster yang dibunuh bisa lebih banyak.


***


Jum'at, 19 September 2025


Natan tidak berpindah dari tempatnya, bahkan ia juga tidak tidur sama sekali hanya untuk membunuh semua monster. Zombie yang ada di Kota Beijing mulai tidak terkendali sejak ia meledakkan mereka, tapi mereka tetap tidak beranjak dari Kota Beijing, seperti sedang menjaga sesuatu.


Ia duduk di dahan pohon dan bersandar. Ia membuka layar interface, melihat peningkatan levelnya yang sudah mencapai 480. Dengan ini, levelnya kembali lebih tinggi dari Ayumi dan Erina, yang mana level mereka bertiga pernah sama.


Natan yang bersandar di batang pohon, menoleh ke kiri melihat nyala api yang terus membesar dan meluas, membumihanguskan Kota Beijing. Tidak terasa setelah berjuang hampir 22 jam, ia berhasil membunuh setengah dari Gelombang Zombie.


"Kota Beijing sudah berubah menjadi lautan api, gedung-gedung pencakar langit juga mulai runtuh. Tapi, aku merasa tidak sesederhana ini. Aku merasa ada monster lain selain Zombie King yang bersembunyi."


Natan berbalik dan melompat turun dari dahan pohon, mendarat di punggung Skeleton Fire Dragon yang sudah menunggu di bawah. Kemudian terbang menjauh dari Xiangshan Park, pergi ke tempat lain yang lebih aman karena apinya hampir mendekatinya.


Bukan hanya karena api, tapi karena dua monster yang bersembunyi terlalu kuat untuk dilawan. Kemungkinan ada Zombie King dan Queen, dengan Lv.500, melawan keduanya dengan levelnya yang sekarang, sama saja dengan bunuh diri.


Walaupun mengatakan ingin berpindah, Natan malah terbang di langit Kota Beijing.


Ia menunduk melihat setiap sudutnya tanpa meninggalkan satu tempat pun, mengamati semuanya dari reruntuhan dan monster yang berdiri terbakar, yang kemudian mati menjadi abu.


"Sharp Eyes."


Natan mulai melihat ada tanda merah di tengah-tengah reruntuhan gedung, dan saat mengaktifkan Appraisal, ia mendapatkan dua informasi tentang monster yang sedang dalam proses evolusi.


Zombie King dan Zombie Queen!"

__ADS_1


Natan mengigit kuku ibu jarinya sendiri seraya mengepalkan salah satu tangannya. "Sial! Aku hanya asal menebaknya, dan ternyata benar-benar ada."


Natan mengarahkan RPG ke titik merah yang terlihat, kemudian menembakkannya. Ia ingin menganggu evolusi Zombie King dan Queen, yang mana setidaknya bisa membuat keduanya setengah evolusi atau gagal.


Whooooosh! Booom!


Granat roket melesat sangat cepat, membelah udara panas mengarah pada reruntuhan, yang kemudian meledak sangat keras dengan angin kencang yang menyingkirkan apa pun di sekitarnya dalam radius sepuluh meter.


Terlihat dari ketinggian, di dalam ledakan akibat granat roket, ada lubang di tanah dan di dalamnya ada dua kepompong berwarna merah darah yang berdenyut-denyut seperti jantung.


Natan tidak berhenti, ia kembali mengisi ulang granat roket, dan menembakkannya.


"Terlalu lama." Natan mengganti senjatanya dengan Sako TRG Mana.


Klik!


Ia menarik pelatuk Sako TRG Mana, melepaskan tembakan Peluru Mana.


"Increase Shot. Bullet Explosion!


Peluru Mana yang sudah jatuh di tengah-tengah lubang di tanah, mulai bersinar dengan warna merah oranye, yang kemudian meledak secara beruntun hingga melukai kepompong tempat tinggal Zombie King dan Queen.


Sebelum keberadaannya diketahui, Natan pergi meninggalkan Kota Beijing dengan senyum tipis. Ia menikmati Point Exp yang terus ia dapatkan dari membunuh Gelombang Zombie yang terbakar di tempat tanpa bergerak.


Belasan menit setelah Natan meninggalkan Kota Beijing, salah satu kepompong darah mulai robek, memperlihatkan pemuda berambut hitam panjang dengan mata merah menyala seperti bola lampu.


Pemuda itu seperti manusia biasa, kulitnya tidak berwarna abu-abu seperti mayat, tapi ada perbedaan pada taringnya yang tajam dan kukunya yang juga tajam seperti pedang.


Mo Xiyang adalah nama dari Zombie King yang baru saja terlahir setelah membunuh monster dan menyantap Inti Sihir, dan tidur selama satu bulan.


Mo Xiyang menoleh ke kiri melihat kepompong lain yang sudah hancur terbakar. "Brengs**! Siapa yang membunuh istriku!?"


"Aku bersumpah akan membunuhnya!" Mo Xiyang berteriak lantang, menimbulkan badai angin di sekitar dan menghempaskan lautan api yang membakar.


Mo Xiyang melompat keluar dari dalam lubang, melihat Kota Beijing yang sudah luluh lantak dan rata dengan tanah. Semua bawahannya sudah mati tanpa meninggalkan seorang pun, membuat kebencian dan kemarahan mulai bangkit di hati.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2