
Natan sudah berkumpul dengan yang lain dan kembali melanjutkan perjalanan dengan masuk ke dalam Mammoth House. Ia tidak perlu repot-repot dalam pemasangannya, karena ada Skeleton Knight yang memiliki fisik kuat dan mampu membawa Mammoth House.
Banyak pepohonan yang menghalangi jalan, karena itulah Skeleton Knight bertugas di depan untuk menebang semua pohon yang menghalangi.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia dalam radius 400 meter Natan. Ia menduga semua manusia di sini sudah mati, entah terbunuh karena monster, atau karena kehabisan persediaan dan tidak bisa meninggalkan pulau.
Dengan adanya Megalodon yang menguasai lautan, tentunya sangat tidak mungkin untuk bisa meninggalkannya.
"Apakah nyaman?" Ayumi menoleh menatap Natan seraya memijat kaki Natan. Begitu pun dengan Erina yang memijat bagian pundak.
Natan tersenyum lembut. "Tentu, itu nyaman." Keduanya berinisiatif untuk memijatnya, anggap saja sebagai rasa terimakasih.
Ayumi dan Erina tersenyum bahagia saat mendengar itu.
"Sudah cukup, ini sudah memasuki waktu makan siang. Bisakah aku meminta kalian memasakkan nasi goreng?"
Keduanya tersentak dan menghentikan pijatan mereka, kemudian bergegas menyiapkan makanan di lantai bawah.
Vely yang melihat Ayumi dan Erina sangat bersemangat itu tersenyum tipis, kemudian memalingkan wajahnya ke arah Natan. "Bagaimana mereka berdua selalu mendengarkan perintahmu?"
Natan tersenyum tipis dan berdiri dari tempat duduknya di lantai. "Mungkin karena aku menyelamatkan mereka? Kemudian aku sudah mengenal Ayumi dan Erina saat usia mereka baru dua tahun, aku sudah menjadi seorang Kakak yang melindungi ..."
"Bayangkan saja, aku menjadi Kakak keduanya selama enam tahun. Jadi tidak ada yang aneh tentang itu." Natan menoleh ke kanan menatap Vely yang duduk di sofa.
Vely mengangguk kecil, entah mengapa ia bisa mengerti perasaan Ayumi. Ia juga menganggap Natan sebagai adik kandungnya, meski baru mengenal selama satu tahun saat di sekolah menengah pertama dulu.
Kemudian saat penyelamatan di Pangkalan Militer, ia merasa sangat tersentuh dan berterimakasih. Vely telah bertekad akan melakukan apa saja agar bisa membalas kebaikan Natan, tapi tentu saja hanya sampai batas saudara.
Puluhan menit kemudian, dari arah tangga terlihat Ayumi dan Erina yang membawa nampan yang di atasnya terdapat empat piring. Serta beberapa makanan pelengkap lainnya.
Waktu terus berlalu dan puluhan menit lainnya terlewat, mereka sudah menghabiskan makanan yang ada. Mammoth House juga sudah berada di sisi lain Pulau Sangiang.
"Apakah kita akan pergi hari ini juga?" Vely mencoba memastikan apakah pikirannya benar.
"Iya ..." Natan menganggukkan kepalanya. "Hari ini belum memasuki pertengahan hari, dan karena di sisi timur tadi terjadi pertarungan singkat, pastinya akan menarik banyak perhatian monster apabila terlalu lama di sini."
Natan melompat turun dari Mammoth House malalui teras depan atau balkon lantai dua. "Alangkah baiknya jika pergi saat ini juga, sebelum monster laut bertambah banyak. Jaraknya sekitar lima belas kilometer. Berlari di permukaan es, dua menit. Kita harus sampai dalam dua menit."
__ADS_1
Ketiganya melompat dari Mammoth House dan sudah berada di punggung Kuro. Mammoth House juga telah disimpan saat mereka bertiga melompat dari sana.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka berempat berlari lagi di atas permukaan es yang licin. Tapi dalam pelarian kedua ini mereka tidak melakukannya seperti tadi, Natan menciptakan ledakan di langit dengan bahan peledak.
Ledakan itu menciptakan bayangan, dan membuat Kuro menggunakan kemampuannya untuk menyingkat jarak. Natan juga mempercepat langkah kakinya dengan Shadow Movement, dan sebelum ledakan menghilang, mereka akan kembali lagi ke permukaan.
Karena melakukannya dengan cara ini, mereka bisa sampai ke Pulau Sumatera hanya dalam kurun waktu kurang dari satu menit. Mereka tidak beristirahat di pulau-pulau kecil, dan memutuskan untuk langsung pergi ke Dermaga 3.
Setelah sampai pun, mereka tidak bisa mengambil napas untuk beristirahat, karena saat mereka datang sudah disambut oleh Ogre Salju yang membuka kontainer.
Vely melompat turun dari punggung Kuro dan mendarat dengan posisi berlutut. "Assize!"
Jeritan monster yang menyakitkan terdengar dari berbagai arah, dan membuat monster dengan HP dibawah 50.000 Point terbunuh dalam sekejap.
Natan mengangkat tangan kanannya perlahan dan mengarahkannya pada monster-monster di depannya yang berlari untuk menyerang. "Bone Arrow."
Mana berkumpul di belakang Natan dan menciptakan tulang tajam dengan bentuk yang tidak sama seperti panah, melainkan seperti jarum besar.
Lama tulang tajam itu melesat dan menembus kepala monster dan membunuhnya langsung. Serangan Bone Arrow memberikan damage tambahan sebesar 10% dari total STR.
"Fire Tornado!"
Erina yang belum bertindak itu terdiam dengan mulut sedikit terbuka, kemudian berbalik menatap Ayumi. Ia menatap sedih karena belum menunjukkan kekuatannya setelah berhasil menaikkan level.
Ayumi tertawa kecil dan memeluk Erina sembari meminta maaf.
Natan tersenyum hangat melihat kedekatan keduanya. Jika saja dunia tidak berubah seperti ini, mungkin akan lebih menyenangkan lagi.
Vely memalingkan wajahnya dari Ayumi dan Erina, kemudian menatap Natan. "Untuk selanjutnya kita akan pergi ke mana?"
"Pulau Burung, dengan kecepatan kita apabila tidak ada hambatan. Setidaknya akan membutuhkan satu hari," jawab Natan yang menggantung Sako TRG Mana di belakang punggungnya.
Vely menganggukkan kepalanya meski tidak tahu di mana itu Pulau Burung. "Mengapa kau bisa mengetahui tempat-tempat itu dan mengetahui arah jalannya? Bahkan memperkirakan waktu sampai."
Ayumi dan Erina juga menoleh ke Natan karena rasa penasaran.
Natan tersenyum tipis dan mengeluarkan handphone yang masih berfungsi, meski tidak ada sinyal sama sekali. "Sebelum dunia berubah kacau, aku memiliki hobi yang bisa dikatakan aneh. Banyak yang mempertanyakan hal ini, aku senang sekali membuka Google Earth dan mencari hal-hal kecil di sana."
__ADS_1
Vely menyipitkan matanya menatap Natan. "Benar-benar aneh."
"Iya, aneh." Ayumi dan Erina menganggukkan kepala menyetujui ucapan Vely.
Natan terdiam dan berbalik seraya menyimpan handphone. Ia merasa menyesal memberitahu hobinya itu, dan Ayumi maupun Erina juga semakin kompak saja setiap waktunya, ini seperti mereka berdua adalah kembaran yang terpisah.
"Jika kita pergi dan bertemu manusia yang masih selamat, apa yang akan Natan lakukan?"
Natan menghentikan langkah kakinya saat mendengar pertanyaan yang tidak ingin didengarnya. Ia berbalik menatap Vely. "Jika kita benar-benar bertemu karena tidak bisa menghindarinya, aku akan memberikan pertanyaan padanya. Dan Kak Vely sebagai Psycholog harus memastikan apakah dia menyimpan niat jahat ..."
"Jika memiliki niat jahat, tidak terbiasa dengan monster, dan pengecut. Berikan beberapa persediaan dan tinggalkan. Aku tidak ingin membawa orang yang akan mencelakai kita."
Vely menganggukkan kepalanya, kemudian kembali bertanya, "Apakah itu alasanmu membawaku?"
Natan mengangguk kecil dan menundukkan kepalanya. "Mungkin kejam, tapi itu memang benar salah satu alasannya. Begitu pun Ayumi dan Erina, awalnya aku sempat berpikiran ingin bunuh diri setelah dunia kacau. Namun karena mengingat pesan Ibuku, aku mencoba untuk tetap hidup ..."
"Aku membawa Ayumi karena memiliki Job Blacksmith, tapi alasan sebenarnya karena kau adalah adikku. Erina, dia memiliki Job Paladin, tapi saat melihat Erina yang hampir dicelakai, dibunuh di depan mataku. Aku bergerak sendiri, mungkin karena aku sudah merawat kalian selama enam tahun, jadi perasaan mengalahkan niat awal ..."
Tidak ada balasan atas pernyataan sebenarnya dari Natan.
Hingga akhirnya Natan terkejut saat ada rasa hangat di dadanya. Ia membuka matanya perlahan, melihat Ayumi dan Erina yang memeluk tubuhnya dengan kepala ditengadahkan.
Matanya bertemu dengan mata Ayumi dan Erina yang air mata sudah terbendung.
"Ayu tidak masalah jika itu adalah niat awal Kakak. Bahkan jika Ayu harus bekerja keras, Ayu sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan Kakak Natan lagi."
"Erina juga begitu, setelah kematian Ayah dan Ibu. Erina hanya berdoa supaya bisa bertemu dengan Kak Natan, bahkan jika Kakak telah berubah, Erina akan selalu mematuhi perintah Kakak, asalkan Erina bisa selalu bersama Kak Natan."
Natan tidak bisa menahan emosinya yang selama ini ia tahan, ia berlutut dan memeluk erat kedua Adiknya dan mulai menangis. Ini adalah tangisan kedua semenjak terakhir kali ia menangis saat kehilangan orangtuanya.
Ayumi dan Erina memandang satu sama lain, kemudian mengusap belakang kepala Natan secara bersamaan.
Vely hanya diam dengan ekspresi datar, kemudian tersenyum hangat dan memeluk Natan dari belakang. Terimakasih, kau sudah jujur dengan perasaanmu selama ini. Menangislah sampai perasaanmu yang tertahan, perasaan yang menyakiti hati terlepas.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...