
Walaupun meyakinkan dirinya untuk tetap tenang dan jangan berontak, insting prianya mengatakan lain. Tapi sebanyak mungkin ia mencoba untuk menahan diri, ia tidak bisa membiarkan dirinya lepas kendali, karena itu bisa melukai Calista.
"Hiks..."
Natan membuka matanya saat mendengar Calista yang mulai menangis, dan menurutnya itu adalah hal yang wajar karena teringat orangtua yang telah tiada. Ia membalikkan posisi tidur Calista secara perlahan, agar mereka saling berhadapan.
"Tenang..." Natan memeluk erat pinggang Calista yang tidak tertutupi oleh kain, dan menggunakan lengan kanannya untuk bantalan Calista tidur.
"Aku akan terjaga sampai kau tertidur." Natan mengusap lembut tengkuk Calista, dan mendekatkan wajahnya ke arah lehernya. "Kau bisa menangis dengan bebas, aku tahu kesedihan saat kehilangan orangtua."
Calista mengangguk kecil dan menangis, dengan membenamkan wajahnya di dada kanan Natan.
Natan tersenyum hangat melihat wajah Calista, kemudian membelai rambut panjang yang menghalangi wajah dan kembali memeluk erat pinggangnya. Ia tahu apa yang dilakukannya saat ini benar-benar kurang ajar dan mungkin saja akan terjadi masalah jika Vely atau Olivia mengetahuinya, atau bahkan Calista akan memukulnya saat pagi hari.
Biarlah, aku tidak peduli apa yang akan terjadi di akhir, tapi setidaknya aku harus menemani Calista malam ini sampai dia tertidur.
Calista menangis untuk waktu yang cukup lama, mungkin sekitar tiga menit barulah kembali tenang, dan tidak protes saat Natan memeluknya.
"Apakah kau sudah tenang?" Natan menunduk menatap Calista yang sudah berhenti menangis, dan matanya terlihat bengkak. "Haruskah aku mengantarmu kembali?"
Calista yang wajahnya menekan dada Natan itu mencoba menggeleng, kemudian menjawabnya pelan, "Ti- Tidak, aku ingin tidur di sini. Ju- Juga, peluk aku lebih erat lagi ..."
"Ta- Tapi ..." Natan benar-benar panik dan tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya. Memang ini adalah berkah tersendiri karena bisa merasakan aroma harum rambut Calista, tapi tetap saja jika terlalu dekat, akan ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan.
Calista kembali menggelengkan kepalanya. "Ti- Tidak apa, meski sedikit menakutkan karena ini pertama kalinya aku mengetahui milik pria bisa sekeras itu ..."
Wajah Natan benar-benar memerah saat mendengar itu. Bagaimana ia tidak mengeras di saat ada wanita cantik di tempat tidur yang sama, mengenakan pakaian terbuka dan sepertinya tidak mengenakan dalaman. Aroma shampo yang harum juga tercium, dan ia merasakan kulit Calista yang halus.
"Baiklah. Tapi, pastikan nanti kau bangun sebelum yang lain bangun." Natan memeluk lebih erat pinggang Calista dan menekan lebih dekat lagi kepala Calista ke pelukannya.
Calista menganggukkan kepalanya, dan mulai menutup mata agar bisa tidur.
Berbeda dengan Natan, ia masih saja terjaga karena sampai saat ini masih belum bisa tenang.
***
Senin, 21 Juli 2025. Pukul 03.55 (GMT+7)
__ADS_1
Natan masih saja terjaga agar tetap sadar dan tidak ingin melakukan hal-hal aneh saat tertidur. Siapa yang tahu saat ia tidur, ia bermimpi aneh dan tanpa sadar menyerang Calista yang saat ini benar-benar tanpa ada penjagaan.
"Sepertinya dia sudah tidur pulas." Natan berucap sangat pelan agar tidak membangunkan Calista.
Kemudian Natan menarik lengan kanannya yang dijadikan bantal oleh Calista dengan pelan, cukup pegal dan sedikit sakit karena lebih dari tiga jam harus mempertahankan posisi yang sama.
Natan beranjak turun dan pergi menuju pintu keluar, setelah ia memberikan selimut untuk Calista yang sedang tidur. Ia memutuskan untuk berjaga malam di luar, yang ditemani oleh Skeleton Mage dan Magic Archer.
"Tadi itu benar-benar berbahaya. Bagaimana jika aku lepas kendali ..."
Natan menundukkan kepalanya, melihat pangkal pahanya yang mulai kembali tenang.
Karena ia terjaga dan tidak melakukan apa pun, monster-monster yang mendekat juga selalu dibasmi oleh Skeleton Magic Archer. Akhirnya Natan memilih untuk membakar sate yang sudah disiapkan beserta dengan bumbu-bumbunya, dan mengambil pemanggang dengan batok kelapa untuk apinya.
Natan tidak berencana untuk memasuki kamarnya lagi, paling tidak sampai Calista keluar dari kamarnya, barulah ia kembali untuk tidur.
Natan mendongak menatap langit malam berbintang. "Kami hampir memasuki wilayah Laos ..."
"Karena kami hampir sampai ke Tiongkok, kami harus mencari anggota yang bisa mengurus tanaman, agar persediaan makanan kami selalu terjaga. Tidak hanya dari monster atau NPC Shop." Natan membalik daging sate yang ia bakar, dan langsung memakannya.
"Kelinci Tanah benar-benar memiliki daging yang sangat lembut. Mungkin ini bisa disandingkan dengan Wagyu."
Natan menyantap hidangan dengan tenang dan selalu mengambil yang baru dari Inventory Guild. Ia juga mengambil penggorengan, meletakkannya di samping tempat membakar sate atau daging tusuk untuk menggoreng telur.
Hingga langit mulai jingga di bagian kirinya atau timur, menandakan bahwa Matahari sudah mulai terbit. Namun Natan masih saja menyantap makanan tanpa henti.
"Natan ..."
Natan menoleh ke kiri, melihat Calista yang berjalan keluar dengan membawa selimut yang melindungi tubuhnya. "Apakah kau tidur dengan nyenyak?"
Calista mengangguk ringan dan duduk di samping Natan, kemudian bersandar pada bahunya. "Terima kasih. Bukan hanya membantuku untuk tidur, tapi kau juga tidak melakukan hal aneh padaku saat tidur."
Natan tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Ayumi dan Erina sudah bangun, tapi tidak langsung keluar menghampirinya Natan, melainkan menguping di balik pintu. Keduanya ingin mendengar pembicaraan antara Natan dengan Calista yang terlihat sangat dekat.
"Apakah aku boleh tidur bersamamu lagi?"
__ADS_1
Natan menoleh ke kiri menatap Calista yang tertunduk. "Jika kau ingin, aku tidak masalah, kau boleh datang ke kamarku seperti tadi malam."
Ayumi dan Erina tertegun dengan menatap satu sama lain, kemudian terkekeh bersama.
Ayumi berlari dari tempat persembunyiannya, pergi menuju balkon depan dan naik ke sofa panjang di sebelah kanan Natan. "Hoya-hoya, ada apa ini? Apakah kalian berdua berpacaran?" Ia tersenyum aneh seraya mengusap dagunya.
"Pfft! Gulp! Uhuk!" Natan hampir menyemburkan air minum di dalam mulutnya saat mendengar pertanyaan Ayumi. "Kami tidak memiliki hubungan yang seperti itu."
Ayumi berdiri di atas sofa dan terus menatap Natan. "Oho? Benarkah?"
Natan mengambil daging tusuk di depannya dan memberikannya pada Ayumi. "Iya, daripada Ayumi terlalu banyak bertanya, lebih baik makan ini."
Ayumi meneriakinya dan masih saja menatap Natan dengan pandangan menggoda. Begitu pun dengan Erina yang juga menggoda Calista.
Calista menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Natan kembali menoleh ke kiri menatap Calista, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. "Untuk beberapa hari ke depan, kita akan menggunakan Mammoth Castle untuk perjalanan. Monster-monster yang mendekat bisa diambil alih oleh Skeleton Squad ..."
"Drop monster juga langsung masuk ke Inventory Guild, jadi kita tidak perlu bersusah payah. Setelah memasuki Tiongkok atau China, barulah kita akan berjalan kaki."
Ketiga orang yang berada di samping Natan menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Mereka juga menyadari level mereka tetap naik, meski hanya tidur tanpa melakukan apa pun, ini semua karena Skeleton Magic Archer yang menyerang dari kejauhan.
Skeleton Magic Archer dengan total 41 unit karena ada penambahan 26 unit dari jumlah awal yang sebelumnya hanya 15 Skeleton.
Natan berdiri dari sofa meski di depannya masih banyak daging tusuk yang di bakar. Ia mengusap wajah kepala Ayumi, Erina dan yang terakhir Calista. Ia juga mendekatkan bibirnya di telinga Calista. "Datanglah jika benar-benar ingin tidur bersama ..."
Calista terdiam, kemudian menundukkan kepalanya di antara dua lutut. Ia benar-benar melalukan hal yang memalukan, apalagi meminta untuk tidur bersama lagi untuk nanti malam. Tapi, di dalam hati kecilnya, ia benar-benar ingin tidur bersama dan dipeluk lagi oleh Natan.
Natan yang berjalan masuk itu langsung pergi ke kamarnya dan beristirahat, tanpa mengunci pintunya. Ia membiarkannya begitu saja, karena sangat jarang yang memasuki kamarnya. Jika pun ada, itu adalah Ayumi dan Erina yang membangunkannya dengan cara berteriak.
"Tidur bersama ..." ucap Natan pelan yang kemudian tersenyum cerah dan menutup matanya. "Aku menantikannya."
Ngomong-ngomong, apakah aku jatuh cinta?
...
***
__ADS_1
*Bersambung...