
Natan terengah-engah dan duduk di rumput dengan memegang pedang yang berlumuran darah. Dia telah membunuh semua anggota Earth of Eternity, ini memang kejam, tapi inilah dunia.
Dia melihat mayat-mayat yang tergeletak di depannya dan aliran darah yang membentuk sungai. Tidak ada rasa bersalah, bahkan tidak ada gangguan psikologis saat melihat ini, seolah ini semua adalah hal biasa.
Sejauh ini, Natan sudah membunuh manusia lebih dari 8.000 nyawa dan masih merasa tenang.
Natan menundukkan kepalanya melihat pedang di tangannya. "Sampai kapan aku harus membunuh manusia? Jika aku mengingatnya, hari pertama kehancuran dunia adalah hari pertama aku membunuh manusia. Di mana, sekelompok mahasiswa ingin merampokku."
Dia tidak merasa takut dengan membunuh manusia, hanya saja dia takut menjadi contoh buruk bagi adik-adiknya, terutama Xia Feiya yang masih berusia delapan atau sembilan tahun.
Adalah hak buruk membiarkan gadis kecil melihat tindak kekerasan seperti ini, dan bahkan bergabung untuk membunuh. Dimulai dari menghancurkan 10 Guild Utama di Chengdu, kemudian Skull Guild dan sekarang Earth of Eternity.
Natan menghela napas. Dia berdiri, berbalik menghampiri Xia Feiya yang duduk di samping Jia Meiya. "Maaf, kau masih muda tapi harus bergabung bersama kami, harusnya kau tetap di rumah, bersantai dan bermain-main dengan anak seusiamu." Ia mengusap lembut kepalanya.
Xia Feiya terdiam sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak! Dari awal, Fei'er sudah berjanji akan membantu Kak Natan. Fei'er sudah tahu pasti akan ada pembunuhan, tapi Fei'er sudah siap!"
Natan tidak merasa bahagia saat mendengarnya, melainkan merasa sakit karena harus membawa gadis kecil di tempat seperti ini. Dia bahkan merasa bersalah saat membawa Ayumi dan Erina yang berusia 15 tahun, apalagi membawa Xia Feiya.
Alangkah baiknya mereka bisa hidup normal di Kota Armonia, berkumpul dengan penduduk di sana tanpa memikirkan hal semacam ini seperti membunuh monster maupun manusia. Jika mereka terus melakukan hal semacam ini di usia yang terbilang muda, meski tidak terlihat sekarang, mungkin di masa depan emosi mereka tidak stabil.
Natan menghela napas berat penuh emosi, tetapi dia tidak mengatakan sepatah kata pun lagi dan memilih berbalik setelah mengusap kepala Xia Feiya. Dia melihat pemandangan keras di mana mayat berada, dia melemparkan bom molotov.
Mayat-mayat mulai terbakar, mengeluarkan aroma tidak sedap. Asap hitam naik ke udara, membawa aroma yang disukai monster-monster.
Natan tahu bahwa ini bisa menarik monster, tapi itulah tujuannya, dia ingin naik level, tapi bukan dia yang turun tangan, dia bisa membiarkan Skeleton Squad menyerang dan membunuh, kemudian dia beristirahat.
Natan tersenyum tipis, berbalik menuju rumah.
Saat dia melangkah, dia bertemu dengan Vely. Dia merenung sejenak, kemudian menangkap tangan Vely dan membawanya. "Malam ini giliranmu, mari lakukan sampai pagi."
Secara tidak sengaja, suara Natan sedikit keras, dan itu didengar oleh wanita-wanita di sini yang sudah memasuki usia pernikahan. Mereka paham, sehingga wajah mereka memerah dan menundukkan kepala.
Brianna mendengar itu, lalu dia tersenyum. Dia menghampiri Olivia yang tertinggal. "Besok adalah giliranmu, kau sangat cantik, dan ..."
Brianna terdiam saat melihat dada Olivia yang sangat besar, tapi tidak sebesar miliknya.
Olivia menundukkan kepalanya, kemudian menyilangkan kedua tangannya, menutupi dadanya.
__ADS_1
Brianna tertawa kecil. Dia melihat sekeliling mengamati semua wanita dan tersenyum. "Masih muda, kecuali Jia Meiya, yang tertua berusia dua puluh lima tahun ..."
"Tidak, tidak!" Brianna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia berpikir bahwa Natan harus menikahi semua wanita di sini, tapi dia langsung membuang ide gilanya.
***
—Keesokan Harinya—
"Ibu, haruskah kita kembali sekarang?" Natan menyerahkan cangkir berisikan kopi kepada Brianna.
Brianna menerimanya. "Terima kasih, Sayang." Ia menyesap kopi, menghela napas dan berkata, "Tunggu sebentar, karena kita di sini, mengapa tidak menaikkan level? Cobalah untuk naik ke Level 700."
Natan terdiam ketika mendengarnya. Level 700, dia ingin mencapainya, tapi sulit untuk mencapainya dalam waktu dekat. Apalagi exp yang dibutuhkan sangat banyak, mungkin berbulan-bulan atau bahkan tahun.
"Tapi, Bu. Aku baru naik ke Level 600, bukankah target ke Level 700 dalam waktu dekat itu terlalu berat? Mungkin jika ada jutaan zombie di satu tempat, aku bisa naik level." Menurutnya, zombie adalah monster yang mudah dibunuh, tapi tentu hanya zombie biasa, bukan zombie yang menyerang Armonia Guild sesaat setelah dia keluar dari Dimensional Cave.
"Ketidakpercayaan membatasi pandanganmu. Dengan adanya Ibu, Natan bisa naik level lebih mudah, Ibu jamin itu!"
Melihat ibunya yang bangga, Natan hanya bisa menganggukkan kepala. Dia tahu dia tidak bisa berdebat, dan rencana untuk kembali ditunda terlebih dahulu. Padahal, dia ingin kembali karena Keluarga Alexander menunggu di Armonia Guild.
Natan duduk di samping ibunya dengan kepala tertunduk. "Ibu, selain Summoner, Job apa lagi yang Ibu miliki?"
"Heem..." Brianna melirik ke atas seraya menepuk-nepuk bibirnya dengan jari telunjuk, lalu menatap Natan dan berkata dengan bangga, "Ibu Rumah Tangga dan Ibu Penyayang!"
Natan terdiam, mulutnya terbuka tidak tahu harus berkata apa. Ibunya selalu bercanda, tapi dia tidak kesal ataupun marah.
Brianna mencubit pipi Natan. "Jangan menatap Ibu seperti itu, kau bisa tahu setelah levelmu mendekati Ibu ..." Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Mungkin."
Brianna berdiri dan meletakkan cangkir di atas meja. "Ayo bersiap-siap, kali ini Ibu akan membawa kalian ke Canada. Mari kita berburu Centaur dan Undead! Keduanya bisa menjadi pasukan baru putra tercintaku!"
Natan tersenyum hangat dan sangat bahagia. Dia berdiri, mendekatkan bibirnya di pipi Brianna dan mengecupnya.
...
Setelah semua orang selesai bersih-bersih dan sarapan, akhirnya mereka berkumpul di satu tempat.
Brianna memanggil Elang Langit dan menghampirinya. Dia mengusap wajah Elang Langit. "Kali ini kita terbang lebih lama dari sebelumnya, kau akan kelelahan, tapi aku harap kau bisa bertahan dan membawa kami ke sana."
__ADS_1
Elang Langit menjerit sebagai ungkapan.
Natan melihat Kori yang berada di bahunya. Dia bisa membawa semua orang di atas Kori, tapi sayangnya Kori termasuk sombong, tidak ingin membawa orang lain selain dirinya dan rekan-rekan awalnya.
Mungkin ini karena Kori sudah menganggap Ayumi dan yang lain sebagai satu keluarga, karena bagaimanapun dari awal bertarung bersama. Tapi meski demikian, Kori masih belum terlalu dekat dengan Jia Meiya dan Xia Feiya.
Hal itu bisa dimengerti, karena Jia Meiya dan Xia Feiya bergabung terlambat.
Brianna memberi makan Elang Langit dengan tiga sapi utuh, kemudian naik ke atasnya. Dia menunduk melihat semua orang di bawah, lalu mengangkat kepalanya ke kiri sebagai tanda. "Cepat naik, kita akan berangkat sekarang."
Semua orang naik ke atas Elang Langit dengan hati-hati. Meski sudah naik sebelumnya, tapi masih belum terbiasa, karena ini adalah hewan hidup, emosinya bisa berubah-ubah. Jujur, mereka lebih senang menaiki Ksatria Lebah karena tanpa emosi.
Secara alami, Natan duduk di samping Brianna, itu karena permintaan Brianna.
Setelah semua orang duduk dengan baik, Elang Langit mengepakkan sayapnya. Angin kencang bertiup di bawahnya, menerbangkan rerumputan, bebatuan kecil naik ke udara, debu membentuk asap tebal.
Elang Langit yang sudah terbang, melesat ke arah utara menuju Canada.
"Ibu, apakah Ibu tidak ingin bertemu dengan yang lain? Aku sudah bercerita tentang kedatanganku ke Inggris, tapi aku belum bilang kalau Ibu sudah kembali. Haruskah aku memberi tahu mereka kalau Ibu masih hidup? Atau harus kubilang hidup kembali?"
Ainsley merenung sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak perlu, biarkan saja. Setelah aku membawa kalian menaikkan level sampai ketingkat tertentu, baru kita pulang."
Natan mengangguk kecil, dia membuka mulutnya hendak berbicara, tapi menundanya saat melihat Ayumi yang merangkak.
"Ibu, bisakah Ayu duduk di sini?" Ayumi melihat pangkuan Brianna.
Brianna tersenyum, mengusap kepala Ayumi. "Tentu."
Ayumi tersenyum bahagia, dia duduk di pangkuan Brianna dan bersandar.
Erina ingin ikut, tapi tidak jadi dan memilih duduk di pangkuan Natan.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1