Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 024 : Membunuh Manusia


__ADS_3

Lantai 13


Natan sudah melewati dua lantai dan apa yang lihatnya adalah mayat manusia tanpa perlengkapan, tidak ada satupun monster yang masih hidup. Ia menduga jika Guild Elang Hitam tidak akan bertahan lama, mungkin sampai lantai 14 atau 15, mereka akan berakhir.


Benar saja, saat ia sudah berada di lantai 15, ia melihat delapan Player yang sedang beristirahat di dinding Dungeon maupun di lantai dan pilar-pilar. Delapan orang itu teruka parah dan banyak darah yang membasahi pakaian yang dikenakan mereka.


Tiga Warrior, tiga Mage, dan dua Archer. Tidak ada Healer, lalu sepertinya mereka tidak mempersiapkan potion yang cukup untuk menaiki Dungeon Tower.


Erina yang berada di belakang Natan memalingkan wajahnya ke sisi lain agar tatapannya tidak bertemu dengan delapan orang itu.


Salah seorang pria berusia tiga puluhan tahun yang bersandar di pilar, mengenakan jirah kuning mulai bergerak mengambil pedangnya yang tergeletak di lantai.


Natan yang mendengar pergerakan itu menghentikan langkah kakinya dari menaiki anak tangga ke lantai 16. "Jangan mengambil tindakan yang tidak perlu, atau kalian semua akan ku bunuh."


Pria berambut hitam acak-acakan itu menyeringai. "Apakah kau pikir bisa mengalahkanku? Aku sudah naik sampai level sembilan puluh, dan ada tujuh level delapan puluh bersamaku."


"Coba saja kalau kau bisa." Natan sengaja memprovokasi mereka, untuk digunakan sebagai pengajaran bagi Ayumi dan Erina.


Pria paruh baya itu menekan kakinya di lantai, kemudian melesat sangat cepat menuju Erina dengan mengangkat pedang menggunakan kedua tangannya. "Mati kau bocah!"


Natan berbalik, berlari dengan sangat cepat ke samping kanan Erina. Ia mengangkat pedangnya secara horizontal, menangkis pedang yang diarahkan pada Erina, kemudian mendorong pedangnya ke atas, membuat pria paruh baya itu kehilangan keseimbangan.


Pria paruh baya yang terjatuh itu hendak bangkit kembali, namun saat ia mendongak, di depan kepalanya sudah ada sniper yang mengarah pada dahinya. "Tu- Tunggu—"


Tanpa ragu, Natan menembak mati pria paruh baya itu, hingga kepalanya meledak menjadi daging giling. Ia tidak akan ragu lagi, keraguan hanya akan membahayakan nyawa adik-adiknya.


Masih tidak cukup, Natan mengarahkan senjatanya pada dua Warrior yang tersisa, menembak tepat di kepala keduanya hingga terbunuh dalam satu tembakan.


Dua pria dan tiga wanita yang tersisa bergidik saat melihat Guild Master dan Wakilnya yang terbunuh. Dengan cepat mereka berlima melepaskan serangan masing-masing mengarah pada Ayumi dan Erina.


Natan berbalik dan membuka mantelnya selebar mungkin, melindungi Ayumi serta Erina dari serangan. Ia meringis berpura-pura seperti menahan rasa sakit yang menyerangnya secara membabi-buta.


"Ka- Kakak ..." Keduanya hampir menangis saat melihat Natan yang terluka.


Natan mencoba tetap tersenyum meski wajahnya terlihat seperti merasakan rasa sakit akibat serangan tembakan anak panah maupun serangan sihir. Hingga terlihat darah yang mengalir di sudut bibirnya, darah ini bukan berasal dari serangan, melainkan dari gigitannya sendiri.


Ayumi mulai menangis saat melihat darah itu, kemudian ia berteriak keras sembari menyelipkan tangan kanannya di antara pinggang Natan. "Magic Barrier! Earth Wall! Water Wall! Fire Chain!"


Mana berwarna biru mulai terlihat di telapak tangan Ayumi, dan membentuk pelindung yang berada di belakang punggung Natan, dilanjutkan dengan getaran di lantai yang kemudian terlihat tembok batu sebagai pelindung tambahan.

__ADS_1


Masih belum cukup, lantai di depan tembok batu mulai retak memperlihatkan celah yang tidak terlalu besar, kemudian dari dalam celah itu terlihat air yang menyembur naik menciptakan sebuah dinding.


Cahaya merah terlihat dari bawah kaki Ayumi, yang kemudian terlihat rantai dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya melesat. Rantai-rantai itu bergerak melengkung, mengindari dinding tanah dan air, yang kemudian mengikat lima orang di sisi lain dari dua pelindung.


Natan melonggarkan pelukannya saat merasakan dua tangan yang mendorong dadanya, dan ketika ia melepaskan pelukannya, Ayumi maupun Erina berlari ke arah yang berbeda menyerang lima orang yang telah terikat.


"Light Stab!" Erina yang berlari itu menusukkan pedangnya ke udara kosong di depannya.


Dari tusukan pedang Erina itu, terlihat cahaya kuning keemasan yang melesat menghantam pria paruh baya lain, dan menghancurkan perlengkapannya. Ketika perlengkapan itu hancur, Erina terus berlari dan menusukkan pedangnya pada perut pria itu. "Aaahhh!" Ia berteriak dengan air mata yang mengalir deras.


Erina menarik pedangnya, membiarkan pria itu mengalami pendarahan. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada wanita yang berada di barisan belakang. "Kalian selalu saja menyiksaku! Akan ku balas kalian!"


Empat orang yang tersisa itu memperlihatkan raut wajah yang tidak enak dipandang, mereka sangat panik saat melihat rekannya yang sangat mudah dibunuh. Terlebih lagi rantai api yang sangat panas, menurunkan darah mereka setiap detik dan tidak bisa dilepaskan.


"Kalian menyerang Kakakku!" Ayumi juga berteriak dengan air mata yang mengalir di kedua matanya. Jika tidak ada Kakaknya, ia tidak akan selamat, dan apabila Kakaknya meninggalkannya, ia tidak tahu harus berbuat apa. "Erina! Menjauh!"


Erina yang sudah membunuh dua manusia itu melirik ke kanan belakang, melihat Ayumi yang mempersiapkan serangan. Dengan segera, ia pergi menjauh meninggalkan tempatnya.


Ayumi mengangkat Magic Wand dari Cyclops Boss yang memiliki penampilan sama seperti White Magic Wand, seraya menyentuh Wizard Book's di pinggang kirinya. "Fire Tornado!"


Lingkaran sihir berwarna merah terlihat di bawah tiga orang yang masih hidup, dan kemudian percikan api terus bermunculan di dalam lingkaran, yang kemudian api berdiameter sepuluh meter itu melonjak naik, sampai menyentuh langit-langit Dungeon dan berputar bagaikan tornado.


"Aaarrrgghh!" Suara teriakan saling bersahutan di dalam api, mengungkapkan rasa yang sangat menyakitkan.


Ketika sudah membunuh, Ayumi dan Erina memuntahkan isi perut mereka di lantai. Mereka sangat mual karena telah membunuh untuk kali pertama.


Napas keduanya terengah-engah, masih mencoba untuk menenangkan diri dari apa yang baru saja mereka berdua lakukan.


Natan berjalan menghampiri keduanya, berdiri di depan dinding air yang telah menghilang. "Ayumi, Erina ..."


Ayumi dan Erina menoleh ke belakang, melihat Natan, kemudian mereka berlari seraya melemparkan senjata mereka. Keduanya memeluk Natan, lalu menangis kembali sejadi-jadinya sampai sesenggukan.


Natan mengusap puncak kepala keduanya, mencoba untuk menenangkan mereka berdua. Ia tahu apa yang dirasakan Ayumi dan Natan saat ini, karena ia juga mengalami hal yang sama saat membunuh manusia untuk kali pertama.


"Ayo kita beristirahat di sini dulu, kita akan melanjutkannya besok pagi. Lagi pula, di luar sudah mulai petang."


Dengan keadaan Ayumi dan Erina saat ini, yang terbaik memanglah beristirahat. Jika memaksakan untuk melanjutkannya, maka hanya bahaya yang akan menanti. Terlebih lagi di lantai selanjutnya, monster yang akan dihadapi berlevel 80.


Ayumi dan Erina menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Natan membawa Ayumi dan Erina ke bawah tangga spiral, setelah ia menyimpan perlengkapan yang dilempar tadi. Ia membeberkan kain sebagai alas, dan ia duduk di sana, dengan Ayumi maupun Erina yang tidur, menggunakan pahanya sebagai bantal.


Kuro yang melingkar di belakang Natan juga tertidur dan menggunakan tubuhnya sebagai bantalan maupun penghangat.


Natan bersandar pada perut samping Kuro yang lembut dan hangat, kemudian ia menutup matanya perlahan setelah menyelimuti kedua Adiknya.


***


Keesokan Paginya


Natan terbangun dari tidurnya, membuka matanya perlahan. Sudah tidak ada lagi Ayumi dan Erina di kedua pahanya, dan saat ini ia telah diselimuti dengan dua selimut yang ia gunakan untuk kedua Adiknya sebelum tertidur.


Natan melihat waktu pada jam di tangan kirinya, terlihat waktu telah menunjukkan pukul 05.30. "Benar-benar sulit menghitung waktu jika tidak membawa jam tangan." Ia berdiri dari tempatnya bersandar seraya menyimpan selimut maupun alas.


"Kalian berdua mau makan apa? Aku masih memiliki persediaan makanan selama empat bulan untuk tiga bertiga makan ditambah Kuro." Natan menghampiri Ayumi dan Erina yang sedang bermain sihir tidak jauh darinya.


Keduanya berbalik dan berdiri. "Mie instan!"


Natan tersenyum tipis, dan mengeluarkan beberapa kardus mie instan maupun cup mie instan, dengan makanan pelengkap lainnya.


Ayumi dan Erina mulai mengambil cup mie instan kesukaan masing-masing, kemudian menuangkan air panah yang berasal dari gabungan sihir air dan api Ayumi.


"Tersisa empat puluh lantai lagi. Jika satu hari berhasil membersihkan tiga lantai, setidaknya kita akan berada di Dungeon Tower selama dua minggu."


Natan meneguk air mineral dalam kemasan botol. "Setelah kita meninggalkan Dungeon Tower, ayo kita cari lahan kosong dan membangun markas di sana."


Keduanya mengangkat tangan kanan, kemudian mengangguk semangat sembari berbicara tidak jelas karena penuhnya mulut mereka.


Natan tersenyum tipis, kemudian mengeluarkan sepuluh kilogram daging segar yang berasal dari daging serigala, dan ia berikan pada Kuro.


"Kakak, apa arti dari Armonia?" tanya Ayumi.


"Armonia memiliki arti Harmoni dalam bahasa Yunani. Harmoni di sini bukanlah alat musik dari Barat, melainkan tempat yang tenang dan damai, aku ingin menciptakan tempat yang dapat membuat semua orang bahagia ..."


Natan terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya dengan raut wajah serius, "Tentu saja untuk mereka yang pantas, jika kita menemukan Player seperti Guild Elang Hitam, maka kita akan mengangkat senjata dan menghadapi mereka semua!"


Ayumi dan Erina tidak bisa berkata-kata, keduanya hanya diam dan menganggukkan kepala sebagai balasan.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2