
Natan memasuki kolam air panas terlebih dahulu dengan membawa handuk putih kecil untuk menutupi bagian bawah. Ia menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruangan, membayangkan bagaimana penampilan Calista.
"Natan..."
Natan menoleh ke kanan depan melihat ke arah sumber suara, terlihat Calista yang memegangi handuk putih kecil untuk menutupi dada maupun bagian bawahnya.
Calista melangkah perlahan memasuki kolam air panas, dan duduk di samping Natan. "Hangat dan sangat nyaman."
Tatapan Natan terfokus pada dua pelampung yang mengambang di permukaan air. Ia merangkul bahu Calista, kemudian tangan kanannya turun perlahan dan meremas pelampung itu.
"Coba pegang." Natan menggenggam pergelangan tangan kiri Calista dan membawanya ke pangkal pahanya.
Calista mengencangkan bibirnya dan menutupinya dengan tangan kanan, menahan agar suaranya tidak keluar. Lalu tangan kirinya juga sedikit gemetar saat memegang milik Natan yang besar, dan sepertinya memiliki panjang sejengkal tangan.
Natan mengubah posisinya dan duduk berhadapan dengan Calista. Ia menundukkan kepalanya untuk menghisap dua tombol kecil secara bergantian.
"Aaahhh..." Calista tidak bisa menahan suaranya lagi dan membiarkannya benar-benar keluar.
Natan mendongak tanpa melepaskan hisapannya, dan terus melihat wajah Calista yang semakin memerah. Hingga belasan menit kemudian, Calista mulai kehilangan kesadaran dan pingsan di pelukannya.
"Ini ..." Natan tidak bisa berkata-kata lagi saat mengetahui bahwa ia terlalu berlebihan memainkan dua gunung seperti melon itu, hingga membuat Calista sampai tidak sadarkan diri.
Harusnya ia mengetahuinya, sangat tidak baik melakukan hal semacam ini di air panas, karena dapat membuat aliran darah menjadi lebih cepat dan membuat pandangan sedikit buram.
Natan membawa Calista keluar dari dalam kolam dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk kering yang sudah disiapkan. Tubuh orang yang sepertinya mulai ia cintai ini benar-benar halus dan lembut, tanpa ada luka sama sekali.
"Mungkin saat ini aku tidak bisa melakukannya, tapi tidak akan lama lagi sampai aku benar-benar memakan mu." Natan membisikkan kata-kata itu di telinga Calista seraya memakaikan jubah handuk.
Natan menggendong Calista dengan kedua tangan untuk ia bawa ke kamar dan mengistirahatkannya. Ia juga membantunya untuk mengganti pakaian yang biasa digunakan Calista saat malam hari.
Ini adalah kesempatan yang sangat baik karena ia bisa melakukan apa pun yang ia mau saat Calista tidak sadarkan diri. Namun ia memilih untuk menahannya, ketimbang hubungan mereka berdua menjadi berantakan hanya karena ia memaksa kehendaknya.
Natan mengecup kening Calista, kemudian meninggalkannya seorang diri di dalam kamar, dengan dirinya yang pergi ke balkon depan untuk melakukan pemantauan.
Vely dan Olivia menaikkan sebelah alisnya saat melihat Natan yang keluar sendirian tanpa Calista bersama.
"Di mana Calista?" Olivia menghampiri Natan.
__ADS_1
Natan yang sudah duduk di sofa balkon itu menoleh ke kiri menatap Olivia. "Kamar, dia pingsan karena terlalu lama berendam." Ada rasa berasal yang terlihat jelas di wajahnya.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah?"
Natan terdiam sejenak melihat Vely yang memandanginya dengan tatapan penasaran, dan Olivia juga memiliki pandangan yang sama. Ia memutar bola matanya, memalingkan wajahnya dari tatapan mata keduanya seraya mengembuskan napas panjang. "Kalian itu perempuan, tidak sepatutnya sangat penasaran dengan hal ini ..."
"Jika kalian benar-benar ingin tahu, tanyakan saja pada Calista." Natan menoleh ke kiri dan tidak ada lagi mereka berdua.
Natan menoleh ke belakang melihat ke dalam ruangan melalui jendela kaca, terlihat Vely dan Olivia yang memasuki kamarnya untuk melihat Calista. Ada juga Ayumi dan Erina yang bermain PlayStation bersama, lalu untuk dua orang lainnya, mereka pergi beristirahat.
"Lebih baik aku pergi ke atas saja, karena jarak pandang di sana lebih baik." Natan berdiri dari sofa, kemudian pergi ke atap rumah melalui tangga di bagian belakang.
Karena tempat ini sangat panas dengan Matahari yang bersinar sangat terik, Natan memasang tenda parasut yang biasanya ada di tempat pernikahan. Kemudian ia juga meletakan beberapa sofa dan meja di sana.
"Hutan ini benar-benar luas, meski sangat kering. Mungkin butuh satu hari untuk bisa keluar dari sini." Natan duduk di sofa dan melepaskan kaus hitam yang ia kenakan karena terlalu panas.
"Apakah kau sudah baikan?" Natan merasakan kehadiran Calista yang baru saja naik, dan ditemani oleh dua orang lain.
Calista tidak menjawabnya, melainkan terus berjalan menghampiri Natan yang membelakanginya. Lalu ia duduk di sebelah kiri dan menyandarkan tubuhnya di bahu Natan.
"Maaf, aku tidak terlalu tahan dengan panas. Apalagi Natan terlalu liar."
"Lalu, mengapa mereka berdua memandangiku dengan tatapan seperti melihat orang mesum?" Natan menoleh ke kanan melihat Vely dan Olivia yang duduk di sofa lain.
Calista memalingkan wajahnya menghindari tatapan Natan. "Itu, aku menceritakan semua yang terjadi di pemandian air panas," ucapnya pelan.
Natan terdiam tidak bisa berkata-kata lagi dan menutupi pangkuannya dengan selimut tebal. Ini benar-benar memalukan apabila Calista menceritakan semuanya sedetail mungkin.
Vely tertawa kecil melihat Natan yang mencoba menyembunyikan bagian bawahnya, kemudian dengan santainya ia berucap, "Percuma kau menyembunyikannya, aku dan Oliv sudah melihatnya saat kalian berdua mandi bersama ..."
Natan terdiam dengan ekspresi datar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Bisa-bisanya ia mengendurkan penjagaannya hanya karena berada di dalam Mammoth Castle, sehingga tidak menyadari jika ia diintip oleh Vely sedari awal memasuki pemandian.
"Hah..." Natan menghela napas panjang seraya memijat keningnya. Ia merasa ingin mati karena rasa malu yang harus ia tanggung.
Natan membuka Inventory Guild dan mengambil air mineral dalam kemasan botol, kemudian meneguknya sampai habis dalam sekali minum. Tidak ada ketenangan pada dirinya, ini seperti bukan Natan yang biasanya, yang mana selalu memperlihatkan ekspresi dingin dan tersenyum seperlunya saja.
Calista berdiri untuk bertukar tempat duduk dengan Natan. Kemudian menatap tajam Vely dan Olivia seperti mengatakan 'Natan adalah milikku'.
__ADS_1
Vely mendengkus dingin dan menaikkan sudut bibirnya, kemudian membuka mulutnya hendak berucap, namun dihentikan oleh Natan terlebih dahulu.
"Kakak, jangan memancing Calista." Natan memiliki firasat buruk tentang apa yang akan dikatakan Vely.
Walaupun sudah diminta untuk tetap diam, Vely membuka mulutnya dan berucap, "Kalian berdua belum melakukannya. Jadi, dia bukan milikmu." Ia tertawa kecil menggoda Calista.
Calista terpancing karena provokasi dari Vely. Dengan tangan kiri yang memegang perut Natan, ia menarik celananya hingga turun dan memperlihatkan sebuah senjata yang belum tegak. "Aku akan melakukannya di sini!"
"Pffftt!" Natan menyemburkan air dalam mulutnya yang baru saja ia ambil dari Inventory Guild.
Natan menahannya agar tidak berdiri, tapi Calista terus menggerakkannya dan memperlihatkan salah satu gunung tanpa pelindung.
Vely melihatnya tanpa berkedip dengan wajah yang memerah. Begitu pun Olivia yang juga melihat meski menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Natan mencoba untuk menutupi tongkatnya dengan kedua tangan, tapi benar-benar tidak bisa disembunyikan karena sudah berdiri tegak.
Boom!
Ledakan yang tidak terlalu keras namun bisa terdengar oleh telinga mereka, terlihat jauh di depan ada asap cokelat yang membumbung tinggi ke langit, dan di tengah-tengah asap itu ada monster cacing tanpa mata yang memiliki gigi-gigi tajam.
Worm.
Monster mengerikan yang biasanya hanya ada di gurun pasir dan memakan apa pun yang melewati permukaan pasirnya. Ini adalah musuh alami untuk monster-monster darat, dan karena Worm inilah Natan tidak melihat satu pun monster meski sudah beberapa jam berjalan.
Vely, Calista dan Olivia berdiri dari tempat masing-masing, kemudian turun ke lantai dua untuk membuat persiapan bersama dengan Ayumi serta Erina. Ketiganya pergi tanpa memedulikan keadaan Natan saat ini.
Natan mengepalkan kedua tangannya erat, kemudian menundukkan kepalanya dengan dahi yang ditopang oleh kedua tangan. Ia menunduk melihat tongkat yang bangkit, seraya menggerutu kesal, "Dua kali, dua kali. Pertama di pemandian karena Calista yang pingsan, dan sekarang ada monster yang menganggu di saat aku seperti ini?"
Bukan hanya harus menahan malu karena celananya yang terbuka di hadapan Vely dan Olivia, tapi ada monster yang menganggu di saat sedang berdiri tegak.
Aura membunuh yang kuat keluar dari dalam tubuh Natan, menguatkan Intimidasi terhadap monster yang masih jauh di depannya.
Natan mendongak menatap tajam Worm Lv.345. "Aku akan membunuhmu!"
...
***
__ADS_1
*Bersambung...