
Lantai 40
Dua puluh hari berlalu semenjak mereka menyelesaikan Dungeon Lt.20, dan sudah satu bulan dunia berubah menjadi sangat kacau seperti ini. Dalam waktu itu, Natan sudah menaikkan levelnya dan mengambil semua sumber daya di setiap lantai yang mereka lewati selama ini.
Saat ini mereka sedang beristirahat setelah membunuh Dungeon Boss lantai 40 yang merupakan Cyclops berlevel 200, yang sangat mudah mereka kalahkan karena level mereka yang sekarang.
Natan membuka tiga layar interface, membandingkan peningkatan mereka bertiga, mengecualikan Kuro yang ia biarkan, karena statistik Kuro tidak terlalu ditingkatkan dengan Point Status.
[Nama : Natan Alexander]
[Ras : Manusia]
[Usia : 18 Tahun]
[Level : 215 (640/1.550.000)]
[Job : Assassin/Mage/Archer]
[HP : 116.950 [113.000/116.950] [13.413/m]
[MP : 28.800] [26.500/28.800] [1255/m]
[STR : 965 (+109+78+675)]
[VIT : 300 (+90+80+90)]
[AGI : 340 (+98+22+68)]
[INT : 250 (+95+60+50)]
[DEX : 270 (+117+44)]
[LUCK : 150 (+87+44)]
____________________________________________
[Nama : Tanaka Ayumi]
[Ras : Manusia]
[Usia : 14 Tahun]
[Level : 207 (422.250/1.200.000)]
[Job : Sorcerer/Healer/Blacksmith]
[HP : 74.650] [74.200/74.650] [7475/m]
[MP : 113.725] [99.000/113.725] [4677/m]
[STR : 520 (+50+52+125)]
[VIT : 258 (+40+43)]
[AGI : 150 (+50+20)]
[INT : 1020 (+80+60+918)]
[DEX : 150 (+33+40)]
[LUCK : 100 (+38+40+40)]
____________________________________________
[Nama : Erina Adriani]
[Ras : Manusia]
[Usia : 14 Tahun]
[Level : 206 (1.076.000/1.175.000)]
[Job : Paladin/Alchemist]
[HP : 110.000 [98.400/110.000] [10.420/m]
[MP : 15.600 [13.005/15.600] [553/m]
__ADS_1
[STR : 995 (+30+60+597)]
[VIT : 400 (+35+60+80)]
[AGI : 220 (+35+20)]
[INT : 150 (+15+30)]
[DEX : 200 (+45+45)]
[LUCK : 150 (+35+40+20)]
Natan mengamatinya dengan saksama. Ia menyadari peningkatan level mereka berdua sangat cepat, terutama untuk Erina yang hampir sejajar dengan Ayumi.
Erina benar-benar mengambil posisi sebagai barisan depan, dan jika aku tidak mengambil pencapaian pertama, mungkin kekuatanku akan didahului oleh Erina.
Namun, aku masih memiliki dua puluh persen Point Exp yang belum aku gunakan. Setidaknya aku akan menggunakannya di atas lantai lima puluh. Lalu Ayumi mendapatkan sembilan puluh persen tambahan INT.
Ngomong-ngomong, mengapa Job ketiga Erina belum terbuka?
Natan mendongak melihat Ayumi dan Erina yang menyerang satu sama lain, berlatih ketahanan maupun daya serang. "Kita bertiga menjadi Player teratas, bersama dengan Kuro. Setelah kita keluar dari sini, jangan sampai ada yang mengetahui jika kita Top Player ..."
"Karena kita bisa diburu, aku sudah pernah melihatnya di Forum saat sudah mencapai level seratus. Banyak yang ingin membunuh Top Player."
Ayumi dan Erina menghentikan pertarungan keduanya, kemudian berjalan menghampiri Natan. "Baik, Kakak!"
Natan terdiam seraya menepuk wajahnya, ia tidak menyangka jika keduanya datang padanya hanya untuk berteriak. Ia mendongak menatap Ayumi. "Ayumi, apakah kau merasa tersaingi saat Erina hampir mencapai level yang sama denganmu?"
Pastinya ada suatu kecemburuan antara satu sama lain tentang hal ini, terlebih Ayumi sudah mencapai level yang lebih tinggi sejak lama.
Ayumi menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab, "Tidak ada, Ayu malah senang karena kami berdua bisa mencapai level yang sama." Ia memeluk Erina, begitupun sebaliknya.
Natan tersenyum hangat melihat kedekatan keduanya. Ia berdiri dari tempat duduknya yang dibuat oleh Ayumi menggunakan sihir tanah. Ia mengangkat kedua tangannya, dan mengusap lembut puncak kepala Ayumi dan Erina. "Apakah kita harus pergi sekarang?"
Keduanya terkekeh kecil dan menganggukkan kepalanya, kemudian mereka pergi melewati gerbang yang menghubungkan antara lantai 40 dan 41.
Untuk hadiah setiap Dungeon Boss, tidak terlalu banyak yang berharga. Hanya Dungeon Boss Cyclops saja yang berguna bagi mereka, lebih tepatnya untuk Erina, karena Item Drop yang didapat berhubungan dengan Job Paladin.
Monster yang dilawan dari lantai 22 sendiri dimulai dengan Tenggiling Batu, Giant Zombie, Sapi Kulit Baja, Imps, Ogre, Giant Rats, Serigala Gunung, Toxic Spider, Skeleton, Golem Kayu, Golem Batu dan lain sebagainya.
Natan menyadari setiap lantai Dungeon Boss akan ditransfer ke dalam ruangan, kemudian kembali lagi ke alam bebas.
[Dungeon Tower Lantai 41]
[Bunuh Giant Crab (0/125)]
[Reward : 3.000.000 Point Exp tambahan, mengecualikan Point Exp yang didapat dari membunuh Giant Crab, dan membuka Portal Cahaya untuk pergi ke lantai 42]
"Kakak, Giant Crab memiliki gelembung racun yang mematikan. Bisa mengurangi seribu HP setiap detiknya dalam keadaan normal," ucap Erina.
"Terimakasih." Natan mengusap lembut puncak kepala Erina. Ia benar-benar tidak berharap Medical Knowledge Lv.Max akan benar-benar memiliki pengetahuan tentang racun dari monster berlevel tinggi, beserta cara membuat obat penawarnya.
Ayumi menghentakkan Magic Wand miliknya di atas tanah, kemudian membusungkan dadanya. "Hum! Tenang saja, Area Healing Ayu sudah mencapai level maksimal!"
Natan tersenyum tipis dan mengusap lembut puncak kepala Ayumi. "Baik, baik. Ayumi memang hebat."
Jika dipikir lagi, kami memang berbeda. Menurut informasi dari NPC Shop, jumlah Player Aktif tidak lebih dari lima puluh juta, dan populasi manusia terus berkurang.
Menurut Player List, Top 5 diambil oleh tim mereka, dan jarak Player Keempat dan Kelima sangat jauh. Perbedaan level mereka adalah 48 level, yang artinya Player Kelima dalam Player List berlevel 158.
Perbekalan mereka juga sangat banyak, setidaknya bisa memberi makan 10.000 orang, dan itu masih bertahan sampai satu atau dua tahun.
Tanpa berlama-lama lagi, ketiganya melompat naik ke atas punggung Kuro yang tubuhnya sudah sangat tinggi, setinggi lima meter dan dapat membawa lima orang.
Ketika mereka sudah melompat turun dan mendarat di pasir putih, tiba-tiba pasir putih itu mulai bergetar dan naik membentuk sebuah bukit pasir. Hingga tak lama, pasir itu turun, memperlihatkan kepiting merah dengan ukuran yang sangat besar, setidaknya setinggi dua puluhan meter.
Bukan hanya satu, ternyata ada empat Giant Crab yang mengepung mereka di tengah-tengah.
Tanpa diberikan aba-aba atau perintah, Ayumi dan Erina mulai bergerak sesuai tugas masing-masing.
Erina menarik bilah pedang dari dalam perisai di tangan kirinya, kemudian ia mengangkat pedangnya setinggi mungkin. "Absolute Defense!"
Ujung pedangnya memancarkan cahaya kuning keemasan. Cahaya itu melesat naik ke langit, kemudian meledak dan menyebar membentuk pelindung yang cahaya membentuk setengah bola, melindungi serangan dari luar.
Bang!
Dentuman keras yang memekakkan telinga terdengar saat empat capit Giant Crab menyerang Absolute Defense, membuat pasir bergetar dengan air laut yang bergejolak.
__ADS_1
Ayumi meletakkan Magic Wand di depannya, menancapkan pada permukaan pasir. "Ice Arrow!"
Mana berwarna biru mulai berkumpul di atas Ayumi, kemudian mulai membentuk panah, tapi lebih seperti bentuk jarum yang memiliki dua mata. Panas itu memiliki panjang sekitar tujuh meter, dan setelah benar-benar terlihat, panah itu melesat tajam dengan arahan Ayumi.
Panah itu menembus kulit kepiting yang sangat keras, kemudian membekukan Giant Crab secara menyeluruh.
Kuro berdiri dengan kedua kaki belakangnya, kemudian menghentakkan kedua kaki depannya ke permukaan pasir. Seketika itu juga bayangan milik Giant Crab mulai bergerak-gerak, dan membentuk tangan bayangan yang keluar dari dalam bayangan, mengikat Giant Crab untuk menahan gerakannya.
Erina yang masih mengangkat pedang itu melepaskan kemampuan yang lain. "Sword of Judgment!"
Pedang cahaya setinggi 35 meter muncul di langit, membuat tangan bayangan hampir menghilang. Namun sebelum membiarkan Giant Crab kembali bergerak, Erina mengayunkan pedangnya, membuat Sword of Judgment jatuh dari langit dan menembusnya.
Natan berlari keluar dari Absolute Defense, dan menghindari setiap serangan Giant Crab, entah menggunakan capit maupun kaki-kakinya yang tajam bagaikan pedang. Ia melalukan serangan yang normal, tidak mencolok seperti Ayumi dan Erina.
Sangat mudah baginya untuk dapat berada di bawah tubuh Giant Crab. Ia berencana mengincar kelemahan monster yang dilawan, yang mana bagian bawah tubuh tidak memiliki cangkang yang keras. Ia mengangkat Sako TRG ke atas, dan menarik pelatuknya.
Peluru Mana yang sudah menembus perut Giant Crab itu tidak menimbulkan damage yang signifikan, meski berhasil masuk.
"Bullet Explosion!"
Duarr!
Peluru yang sudah masuk ke dalam tubuh Giant Crab itu meledak di dalam, kemudian terlihat tujuh peluru yang menyebar keluar, dan membunuh Giant Crab.
"Kakak! Satu kepitingnya kabur!"
Natan berlutut seraya mengarahkan snipernya pada Giant Crab yang melarikan diri ke arah tebing tinggi. Ia menarik pelatuknya, membuat peluru Mana melesat sangat cepat. Namun, saat peluru hampir mengenai bagaikan belakang, Giant Crab itu melompat.
"Eh?" Natan tidak bisa menahan suaranya, ia tidak pernah tahu jika kepiting bisa melompat. Tapi ia sudah membeli skill untuk mengatasi hal-hal seperti ini. "Curved Shot!"
Peluru Mana yang sudah melesat itu melengkung naik, mengarah pada bagian bawah Giant Crab.
"Increase Shot!"
Delapan peluru tambahan muncul mengelilingi peluru utama yang melesat, dan membunuh Giant Crab yang memiliki Health sebanyak 139.000 Point.
Item Drop mulai bermunculan saat empat Giant Crab itu menghilang. Crab Shell, Meat, Inti Monster, Eye's.
Bukankah capit kepiting ini terlalu besar? Dua kali tinggiku, dan untuk kaki-kakinya hampir tiga kali. Persediaan kami semakin banyak.
"STR Ayumi hanya tujuh ratus empat puluh tujuh, namun dapat membunuh Giant Crab dalam sekali serang. Ini semua karena kemampuan skill, dan Wizard Book's yang menambah daya serang."
Natan berbalik, kemudian pergi menghampiri Ayumi, Erina dan Kuro yang sudah berada di atas tembok tanah setinggi sembilan puluhan meter. Melawan musuh dengan ukuran besar maupun banyak, mereka lebih memutuskan bertarung di tempat yang lebih tinggi.
"Mungkin kita harus membutuhkan dua minggu lagi untuk berada di Dungeon Tower. Kita tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, kemudian aku berencana untuk meninggalkan Indonesia, setelah kita mendapatkan satu anggota tambahan."
Ayumi dan Erina tertegun saat mendengar perkataan Natan yang tidak pernah mereka duga.
"Mengapa kita harus meninggalkan Indonesia?" tanya Ayumi keheranan.
Natan mengeluarkan peda dunia sebelum kehancuran. "Wilayah terluas di Bumi adalah Rusia, Antartika, Canada, China, Amerika, Brazil. Di sana, mengecualikan Antartika, tentunya banyak sekali monster-monster, mengingat luasnya dan tidak terbagi menjadi ribuan pulau ..."
"Alasan aku ingin pergi, untuk meningkatkan kekuatan kita. Bagaimanapun, kita tidak tahu mengapa dunia berubah seperti ini, tapi yang pasti, lebih kuat lebih baik."
Natan tidak mengerti mengapa negara-negara besar di sana tidak memiliki Top Player, tapi ia sangat yakin di sana banyak sekali monster. Ia mendapatkan informasi mengenai monster dari NPC Shop, jumlah monster yang muncul bergantung dari jumlah populasi manusia di suatu wilayah.
Erina yang memakan Buah Bintang Merah itu terdiam sejenak, kemudian berucap, "Bukankah kita akan terkendala dengan bahasa? Erina hanya bisa sedikit berbahasa Inggris, Ayumi pandai bahasa Jepang. Kakak, memahami bahasa Inggris ..."
Erina terdiam kembali, memakan buah dengan rasa seperti apel. "Tapi, negara terdekat adalah China. Pastinya Kakak berencana untuk pergi ke sana, jadi bahasa Inggris kita tidak terlalu berguna jika ke sana."
"Bahasa bukanlah kendala, aku sudah mencoba berkomunikasi di Forum menggunakan bahasa Indonesia, dan ada balasan menggunakan bahasa Inggris. Aku menduga, setiap bahasa yang kita tulis, akan berubah menjadi bahasa Inggris," jelas Natan.
"Namun, jika yang membuka atau mengecek itu berasal dari negara yang sama, maka bahasa yang dilihat adalah bahasa dari negara itu."
Ayumi menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti, kemudian ia membuka suaranya, "Yang jadi masalah, bagaimana cara untuk pergi ke sana. Membuat jalan dengan menaikkan tanah di dasar laut?"
"Itu bisa dilakukan, tapi monster lautan tidak akan membiarkan kita pergi dengan mudah." Natan sudah melihat banyak monster darat, yang seharusnya lemah menjadi sangat kuat, dan mungkin saja akan ada Megalodon yang kembali bangkit dari kematian.
Suasana kembali hening, tidak ada yang berbicara. Hingga puluhan detik berlalu, Natan kembali berucap. "Sudahlah, kita akan memikirkannya nanti. Yang jadi tujuan utama kita saat ini adalah menyelesaikan Dungeon Tower."
"Baik!"
...
***
*Bersambung...
__ADS_1