
Natan duduk memangku Hannah dan Xiaoai, dia membuka album foto, meletakkannya di atas rumput. "Lihat ini, foto kakak tertua kalian saat dia masih bayi."
Kakak tertua di sini adalah Xia Feiya, Natan meminta bantuan Brianna untuk mengambil sedikit ingatan Jia Meiya mengenai masa kecil Xia Feiya, lalu merekamnya dan mengubahnya menjadi foto. Tentu, mantan suami Jia Meiya dulu dihilangkan.
"Lihat ini, ini adalah Charles saat masih kecil. Dulu dia terus berteriak “Ayah, Ayah, Ayah”, dia sangat menggemaskan." Natan membalik album foto, memperlihatkan berbagai foto Charles dari usia satu bulan sampai tiga tahun.
Charles terdiam, dia menutup wajahnya karena malu.
Xiaoai mengulurkan tangannya yang kecil, meraih lembaran album dan membalik halaman. "Ini Kakak Vela? Cantik!"
Vera melihat foto masa kecilnya, dia tersenyum manis, dia ingin kembali ke masa-masa itu lagi. "Ayah, malam ini, apa Vera bisa tidur bersama Ayah?"
Natan tertegun, malam ini dia memiliki rencana lain, tapi melihat semua anak-anaknya memandangnya dengan mata berbinar. Akhirnya, dia mengangguk dan berkata, "Tentu, ayo kita semua tidur bersama. Ibu kalian biar tidur di kamar lain, kalian semua tidur bersama Ayah."
Para istri terdiam, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa.
"Yay!" Celine melompat, dia merangkul leher Natan dari belakang. "Tidur bersama Ayah lagi!"
Natan mengusap pipi Celine yang bersandar di pundaknya. "Celine, hati-hati."
"Ah!" Natan tiba-tiba memiliki ide, dia melihat anak-anaknya, mengeluarkan kumis dan janggut palsu, kemudian dia memakainya. "Apa kalian suka jika Ayah menumbuhkan rambut di wajah seperti ini?"
"Tidak!" Hannah berteriak, dia berdiri, menarik kumis dan janggut palsu yang dipakai Natan, dan kemudian menyerahkannya pada Xia Feiya. "Kak Fefei, tolong bakal ini."
Xia Feiya mengambilnya dan membakarnya tanpa meninggalkan sisa sedikit pun.
Vera menatap wajah Natan. "Vera lebih suka Ayah seperti ini, terlihat halus. Jika Ayah menumbuhkan kumis, Vera tidak ingin Ayah memeluk Vera lagi!"
Natan membalas tatapan mata Vera. "Benarkah? Tidak ingin pelukan Ayah?"
Vera terdiam, dia tampak bermasalah, dia menundukkan kepala dan mengeluh, "Ayah... Menyebalkan ..."
Natan tertawa, tidak lagi menggoda putrinya. Dia menunduk, melihat Hannah dan Xiaoai yang selalu memegang dagu dan pipinya. "Sayang, apa ada yang salah dengan wajah Ayah?"
Hannah dan Xiaoai menggelengkan kepala, tidak menjawab, tapi tangan mereka masih mengusap-usap pipi Natan.
Natan juga tidak mengatakan apa-apa, dia membiarkan putri-putrinya mengusap wajahnya, dan Celine maupun Orla, mereka berdua memanjat tubuhnya dan duduk di pundaknya.
Natan melihat Verdinand dan bertanya, "Mau naik?"
Verdinand menggelengkan kepalanya, lalu dia menghampiri Vera dan duduk di pangkuannya. "Verdi duduk di sini saja."
Natan tersenyum tipis, dia mengulurkan tangannya, mencubit pipi Verdinand yang duduk di pangkuan Vera di depannya.
Verdinand membuka mulutnya seraya menggelengkan kepalanya, lalu menggigit jari Natan.
__ADS_1
Natan tersenyum tipis, tidak merasakan sakit sama sekali. "Verdi masih sama seperti saat bayi dulu, selalu suka menggigit jari Ayah. Bahkan saat tidur dulu, Verdi baru bisa tenang setelah menggigit jari Ayah."
Verdinand membuka mulutnya, memiringkan kepalanya dan bertanya, "Benarkah?"
Vera mengangguk, dia mengusap kepala Verdinand. "Iya, Verdi sangat menggemaskan saat masih kecil."
Verdi mendongak menatap Vera. "Apa sekarang Verdi sudah tidak menggemaskan?"
Vera tersenyum, dia memeluk erat Verdi. "Tentu saja adikku sangat menggemaskan, bahkan saat Verdi setua Ayah nanti, Verdi tetap menggemaskan."
Bibir Natan berkedut ketika mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Vera, tapi dia menahannya, dia tidak marah, dia hanya tersenyum.
Dia juga mendengar ocehan anak-anaknya dengan penuh perhatian, dia juga menjawab semua pertanyaan anak-anaknya tentang apa yang dilakukannya selama ini ketika pergi ke luar. Kemudian dia memberikan mereka semua harta benda yang didapatnya, dan anak-anak yang mendapat hadiah, mereka sangat senang.
Anak-anak melompat ke arah Natan, mencium wajah Natan sampai wajahnya basah. Untuk anak laki-laki, mereka hanya memeluknya dengan ringan.
Natan sangat bahagia, dia memeluk mereka bersama-sama, lalu merebahkan diri di atas rumput. "Ayah mencintai kalian semua."
...***...
—7 Hari Kemudian—
Natan duduk di kursi utama saat makan bersama-sama. Semua istri duduk di kursi kirinya, berbaris dari Calista sampai ke Erina. Di samping kanan ada Xia Feiya sampai Jiang Shuya, dan untuk Celine, Verdinand, Orla, Hannah dan Xiaoai, mereka duduk di pangkuan ibu mereka.
Calista memotong steak, lalu menusuknya dengan garpu dan mengarahkannya ke mulut Celine.
Hannah dan Xiaoai memandangi makanan kakak-kakak mereka dengan ekspresi kesal. Kemudian melihat makanan milik mereka berdua, makanannya sama, tapi ukurannya berbeda, lebih kecil, ini karena menurut anjuran, untuk usia mereka berdua hanya diperbolehkan makan daging sebanyak 28 gram untuk satu hari.
Namun karena pencernaan mereka yang kuat, mereka dapat makan sebanyak 124 gram. Tapi dibandingkan dengan kakak-kakak mereka yang sehari bisa makan 500 gram, mereka sedikit tidak puas.
"Cetelah Hannah becal, Hannah mau makan daging capi utuh!"
"Xiaoai uga!" Xiaoai mengangkat tangannya setinggi mungkin saat memegang garpu plastik.
Natan tertawa kecil melihat dua bayinya yang lucu. "Tentu, Ayah akan menangkapnya untuk kalian berdua setelah besar nanti. Tapi, bukankah kalian berdua ingin kecil selamanya?"
Hannah terdiam dengan kepala tertunduk saat menggenggam garpu. Dia diberikan pilihan yang sulit, dia ingin makan daging sapi sebanyak mungkin, tapi juga ingin kecil selamanya.
Natan tertawa lagi, dia memandang Hannah. "Baiklah, baiklah, kalian cepat besar. Ayah tetap mencintai kalian meski kalian dewasa, bukankah kalian berdua melihatnya sendiri? Ayah masih memanjakan kakak-kakak kalian."
Hannah dan Xiaoai menghela napas, kemudian melanjutkan makannya dengan senang hati.
***
Setelah selesai serapan, mereka pergi ke kota dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Celine, Verdi, Orla, Hannah dan Xiaoai naik kereta dorong dengan formasi dua di depan dan tiga di belakang.
Natan adalah orang yang bertugas untuk mendorongnya, dan kali ini mereka pergi ke Jalan Tradisional di mana semua hal di sana dibangun menggunakan kayu, tidak seperti distrik-distrik lain yang semuanya dibangun menggunakan beton.
Walaupun dibangun menggunakan kayu, tapi kebersihannya terjamin, dan banyak orang menjajakan dagangannya di gerobak kayu. Teriakan-teriakan penjual juga terus terdengar dari segala sudut.
Ini adalah pasar yang hanya dibuka sebulan sekali, pasar ini ada di sepanjang Jalan Tradisional yang memiliki panjang satu kilometer.
"Ayah! Celine mau udang bakar!" Celine berteriak, menunjuk kios kecil di kiri jalan.
"Baik." Natan berbelok ke samping kiri, tepat di depan kios di mana bibi yang memakai celemek sedang mengipas udang bakar. "Bibi, udang bakarnya 18 porsi."
Bibi yang memanggang udang, menganggukkan kepalanya. "Iya, tentu..." Tiba-tiba, dia mendongak saat mengingat berapa porsi yang dipesan. "Delapan bela— Ah! Yang Mulia Alexander?!"
"Di mana, di mana?!"
Tiba-tiba area di sekitar Natan heboh karena kedatangan Natan.
Natan menarik ujung topi, menekannya lebih bawah untuk menutupi identitasnya. Tapi, itu semua sia-sia karena Celine melambaikan tangannya seraya memegang topi.
Natan menghela napas, dia melepas topi dan melambaikan tangannya. "Jangan pedulikan kami, kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian dengan santai."
Meski mengatakan itu, tapi warga tidak menjauh, meski masih menjaga jarak beberapa meter. Semua warga yang ada di sini heboh, mereka menyanjung Natan karena membangun Kerajaan Armonia yang makmur.
Natan tersenyum canggung, dia tidak terbiasa dengan pujian ini yang mana sangat memalukan.
"Yang Mulia."
Natan mendongak, dia melihat bibi yang memegang kotak kayu berisikan udang bakar dengan tangan yang gemetar. Dia tersenyum, mengambil kotak itu, lalu membayarnya dengan harga 900 Coin Tembaga.
Mata uang Kerajaan Armonia adalah mata uang khusus yang dikeluarkan tanpa bisa memalsukannya. Di Kerajaan Armonia memiliki tiga mata uang 1 Emas : 10 Perak : 100 Tembaga. Adapun uang yang didapat dari membunuh monster, itu hanya bisa digunakan di tempat tertentu seperti Bangunan NPC Shop.
Alasan mengapa Natan mengeluarkan mata uang baru ketimbang menggunakan yang lama, itu karena keadilan. Jika mata uang yang digunakan dari membunuh monster dibelanjakan, maka yang terus membunuh akan semakin kaya, dan yang tidak, akan terus miskin. Penggunaan mata uang dari membunuh monster juga dapat berdampak pada ekonomi yang menurun, karena banyaknya uang yang beredar, tapi kurangnya bahan yang dijual, sehingga dapat membuat banyak harga barang menjadi naik.
Natan kembali mendorong kereta, dan pada saat itu juga, warga yang mengelilingi mulai membuka jalan untuknya.
Natan mendongak memandang langit biru, lalu menghela napas. "Minggu depan adalah jadwal pertemuan."
Dia ingin sekali turun tahta, tapi anak-anaknya tidak ingin mengambil alih. Ah... Ada satu yang ingin mengambil alih, itu Jiang Shuya, karena itulah Jiang Shuya selalu ikut pembelajaran tentang politik dan strategi, termasuk manajemen wilayah, tapi di usianya yang masih sembilan tahun, belum bisa mengambil alih kekuasaan.
Tapi meski masih sangat muda, Jiang Shuya sangat cerdas dan sering membantu Natan dalam mengurus dokumen. Natan sangat senang, dan tentu saja, karena putrinya yang masih menjadi sekretarisnya.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...